Sunday, January 22, 2012

[Cerpen] Tentang Laki-laki dengan Semilyar Perbedaan dan Satu Kesamaan

 Aku dan temanku itu berbeda agama. Ia memandang rendah pers mahasiswa dan aktivis kampus, sekalipun aku menggeluti kedua peran itu. Ia kakak tingkatku yang menelantarkan jatah waktu kuliahnya hingga hampir di-DO, sementara aku tetap lebih mementingkan kuliahku di atas segala aktivitas kampus. Kalau kurangkum hal-hal yang selama setahun ini kami bicarakan, aku akan kembali mendapati bahwa hampir-hampir tak ada satu kesamaan pun di antara kami.

Kecuali, ternyata, ketika kami semestinya sama-sama diwisuda di periode yang sama, pada jam-jam di mana seharusnya kami menunggu di gedung kampus dengan aku berpakaian kebaya dan ia rapi dengan jasnya, untuk duduk lama menanti kesempatan pemindahan tali toga, aku justru bertemu dengannya di perpustakaan. Buku-buku lapuk bertumpuk di hadapannya.

Terlepas dari semiliar perbedaan dan satu kesamaan kami yang baru kutemukan hari itu, kami sebenarnya sangat akrab. Aku memiliki banyak panggilan untuknya. Ia bercita-cita menjadi penulis maka kupanggil ia Tuan Penulis, lahir pada Shio Kelinci maka kujuluki ia Kelinci, dan ia selalu mengaku sebagai alien dan kusebut ia Alien. Ia pun demikian, ia memiliki sejuta panggilan untuk peran-peran yang kulakukan dalam keseharianku: Nona Jurnalis, Nona Perdamaian, dan pernah satu kali ia memanggilku Nyonya Alien; meski saat itu ia bilang ia salah sebut.

“Membaca Wilde lagi?” tanyaku, mengambil tempat di hadapannya.

“Kamu tak wisuda hari ini?”

Beginilah bila kami berbicara, aku akan memulai dari A, namun ia tidak akan menjawab B, melainkan Z. Pernah satu kali kupikir hal seperti inilah kelak yang akan aku rindukan dari orang-orang yang kukenal, keunikan-keunikan yang tidak dimiliki oleh siapapun lagi.

“Oscar Wilde itu gay, lho,” ceplosku.

“Aku juga membaca Nietzsche,” tukasnya.

“Dan Nietzsche pemain wanita, meninggal karena raja singa. Kamu mencemooh orang-orang seperti mereka, kan, biasanya? Mereka yang membuatmu membenci humanisme, kan? Untuk apa kamu baca tulisan mereka?”

“Kamu memang lebih hobi membaca biografi, ya, daripada ide-ide besar orang-orang yang kau baca biografinya? Lebih suka menilai buku dari sampulnya, ya?” sahutnya telak.

Aku menyunggingkan senyum ketus untuk menudingnya. “Bukannya kamu yang begitu?”

Humanisme. Pria di hadapanku ini seperti halnya kamus berjalan, atau mungkin penghafal  istilah. Bicara dengannya, aku seolah perlu tahu makna-makna sebenarnya dari kata-kata yang seringkali spontan saja kuucapkan, seperti beda antara Cemetary dan Burial (aku lupa apa perbedaannya) atau loneliness (kesepian) dan aloness (kesendirian). Dan begitulah semua percakapan panjang lebar kami selalu bermula dari kata-kata yang salah kudefinisikan yang lantas ia betulkan. Pernah satu waktu—aku lupa kami sebelumnya membahas apa—dengan mengutip kamus, ia bilang ia bukan seorang humanis. Menurut manifesto para pencipta kata tersebut, makna asli dari kata humanis adalah suatu paham yang menganggap manusia berada di tingkatan kesadaran paling tinggi, di mana para humanis tidak mempercayai keberadaan hal-hal mistis dan juga bahkan tidak pula Tuhan.

Dengan ketat pula, ia masih sangat percaya bahwa laki-laki diciptakan untuk wanita. Ia pernah bilang aku memberitahunya hal-hal tak berguna sewaktu dengan menggebu-gebu aku menjelaskan apa yang kuketahui mengenai QUILTBAG atau LGBT-IQ, Lesbian (orang dengan orientasi pasangan perempuan-perempuan) Gay (pria dengan pria) Bisexual (orientasi seksual bisa dengan wanita ataupun pria) Transexual (orang yang mengubah bentuk tubuhnya dengan gender yang ia harapkan; laki-laki menjadi wanita dan sebaliknya) Intersex (bentuk tubuh yang belum jelas terdeteksi; entah pria entah wanita)  Queer (mempertanyakan orientasi seksual). Ia percaya ungkapan Aristophanes sewaktu penulis Yunani bergenre Komedi itu memberi tanggapan menyoal ‘apa makna cinta’ dalam sidang Plato. Menurut Aristophanes, dahulu Zeus (Tuhan bagi bangsa Yunani) hanya menciptakan satu tubuh manusia dengan dua kepala empat kaki dan empat tangan, hingga kemudian (aku lupa oleh sebab apa) tubuh itu dihukum dan lantas terbelah menjadi pria dan wanita; hukumannya adalah agar tubuh pria dan wanita itu akan saling mencari seumur hidupnya. Dari sanalah kemudian lahir pengertian soul mate, belahan jiwa.

Lantas, pertanyaanku sekarang, kenapa ia masih membaca tulisan dari orang-orang yang ia benci?

 “Untuk apa kamu bawa buku-buku berat itu?” tapi justru ia yang kemudian mempertanyakan buku yang kubawa bersamaku.

Aku melihat apa yang kupegang di tanganku dan aku baru sadar aku mengambil dua buku itu. “Kamu bilang aku perlu membaca buku-buku Teologi lebih banyak?”

“Sudah kamu temukan kitab sucimu?”

Tripitaka, tiga keranjang. Teman seimanku bilang susah kemungkinannya untuk menemukan semua naskah itu, karena besar keranjang dalam kata Tripitaka belum tentu hanya sebuah keranjang kecil, bisa saja keranjangnya sebesar istana.

“Bukan urusanmu. Kenapa kamu tak wisuda hari ini?”

“Untuk apa membuang setengah juta? Aku bisa beli buku-buku yang kusuka dengan uang sebanyak itu, ketimbang ikut wisuda.”

“Jadi kamu selundupkan uang kiriman dari kedua orangtuamu?”

“Kamu masih berpikir aku semanja dirimu yang bahkan untuk kosmetik pun masih minta kepada orangtua?”

Bicara dengannya, aku selalu merasa akan meledak, lalu hancur berkeping-keping karena tak tahu bagaimana cara menyahuti sarkasmenya.


“Kamu pikir orangtuamu tak akan senang hadir di wisudamu?” tanyaku, “Bertahun-tahun mereka membiayai sekolahmu, dan lulus kuliah sudah menjadi semacam puncak pendidikan, kamu tidak mau membuat mereka bangga?”

“Aku tak sudi memperkaya para kapitalis, bagi mereka kuliah hanya sekadar formalitas agar bisa mendapatkan pekerjaan seperti dua persen penduduk lainnya dan wisuda hanya ajang pesta pora uang rakyat. Kamu sendiri kenapa tak wisuda?”

Aku menelan ludah. “Terlambat mengumpulkan berkas.”

“Nah, itu. Tak kasihan dengan kedua orangtuamu?” sahutnya.

Seketika aku mengangkat buku yang kubaca tinggi-tinggi sejurus dengan posisi wajahku.

“Kamu belum tahu aku yatim piatu?” aku menyahut dari balik buku.

Ia tidak menyahut. Sesaat kemudian, kudengar suara ia mendorong kursi. Ia sudah akan pergi. Menyebalkan.

“Lagipula itu memang bukan urusanmu,” bisikku sepelan-pelannya.

Tetapi kemudian ia sudah berdiri di belakang kursiku, “Ikut, tidak?” tanyanya.

“Ke?”

“Membelanjakan setengah jutaku,” jawabnya santai.

Aku menghela napas. “Kamu benar-benar melakukannya.”

“Perkataanku selalu sesuai dengan tindakanku. Ayo, kalau kamu ikut, kubelikan kamu satu buku sebagai hadiah wisuda.”

*

Hari itu kami masuk ke gang-gang sempit di wilayah Malioboro, tempat di mana warga asing biasa menginap. Ada banyak toko buku secondhand. Kuduga sebagian dari buku-buku di sana adalah sumbangan dari orang-orang asing itu, atau mungkin tanpa sengaja mereka tinggalkan.

Ia membelikanku Mimo življenja, atau Passing Past Live, oleh Ivan Cankar. Aku memilihnya karena suka dengan judulnya. Ivan penulis Slovenia yang kehebatannya sejajar dengan Kafka dan Joyce.

“Judulnya sangat melankolis,” komentarnya.

“Judulmu pun sama melankolisnya, tahu. Buku apa yang kamu pilih?” tanyaku.

This Kind of Bird Flies Backward, oleh Diane diPrima.

“Kenapa memilih itu?” tanyaku.

“Murah, sih,” jawabnya sambil tertawa lantang.

“Satu itu saja?”

“Yep, hanya ini yang kelihatan menarik hari ini. Seperti di travelator,”

“Ya?”

“Itu, lho. Eskalator yang bentuknya bukan tangga, tapi jalan datar. Ketika kamu di travelator, kamu masih bisa menghadap ke belakang sambil terus berjalan ke depan, atau kamu diam saja menghadap ke belakang hingga kamu sampai tujuan.”

“Tak ada bedanya dengan eskalator,” sahutku.

“Sensasi orang yang seringkali terpaku pada masa lalu hidupnya lebih bisa didapat dengan menganalogikan pada travelator. Judul buku ini mengingatkanku pada hal-hal kecil semacam itu,” ia kemudian berjalan menuju kasir dan membayar.

“Apa rencanamu selanjutnya?” tanyanya. Kami berjalan melintasi gang lagi, masih becek bekas hujan tadi siang.

“Sekadar juru warta,” jawabku, “dan yang akan kamu lakukan?”

“Menikah.”

Spontan aku mengarahkan pandang kepadanya. Bukan denganku? Rasanya ingin bertanya begitu.

“Sudah ada calon, ya?” tanyaku.

“Ada,” jawabnya singkat.

“Kamu suka cewek yang bagaimana?”

“Cewek yang menarik itu tinggi, proporsional, berambut pendek, ukuran dada A sampai B, niche, dan punya aura lembut.” Ia membeberkan kriterianya. Hanya kriteria ukuran dada yang menggambarkanku. Apa ia sengaja?

“Cewekmu seperti itu?”

“Tidak. Mungkin hanya ukuran dadanya yang seperti itu,”

Setelahnya kami bergeming selama berjalan menuju halte transjogja, di dalam bus, bahkan hingga tiba di halte koperasi mahasiswa.

“Setelah ini kita tidak akan bertemu lagi,” ucapnya. “Pasti sulit menemukan orang dengan semilyar perbedaan sepertimu.”

“Bodoh,” jawabku, “kita akan bertemu lagi.”

“Kamu selalu mengataiku bodoh,” ujarnya.

“Hanya karena kamu terlalu pintarnya,” sahutku. “Atau jangan-jangan, kamu bukan orang melankolis, kan—sampai kata-kata candaan pun masuk pikiran?”

“Sudahlah,” balasnya. “Sampai ketemu, kalau begitu. Semoga nanti kamu sudah jadi lebih menarik.”

Kami sudah di jalan kami masing-masing. “Ingat kirim undangan!” teriakku dari kejauhan.

“Tentu. Naraya?”

“Ya?”

Ia berlari-lari kecil ke arahku. “Saat kamu mendapati potongan-potongan puzzle, kamu bukan berusaha mencari kesamaannya untuk dapat menyatukannya. Tapi kamu mencari kecocokannya,”

“Menarik. Sayangnya, aku pelupa.”

“Nah, semoga kamu tidak lupa.” Setelah mengucapkan itu, ia kemudian berlari pergi, kali ini dengan cepat, berlawanan arah denganku.

Saat itu aku tak sepenuhnya tahu ke mana takdir akan membawaku. [*]

1 komentar:

  1. klo gue jadi elo, chel, rasanya gue bakal benci sekaligus suka dengan temen berantem loe...suka dalam artian akhirnya nemu cowok yg suka ngobrolin yg "berat2", kan susah juga nemuin temen sharing filosofi kayak gitu..dan secara topik bahasan nya berat tapi menantang dan kayak lagi debat ama dosen...nyebelin tp ngangenin. seru isi cerita loe...

    ReplyDelete