Monday, January 23, 2012

[R] Jalan Metamorfosis Goenawan Mohamad

Puluhan tahun silam, seorang juru warta meliput pemakaman agung Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Cerita pemakaman tersebut ia kisahkan dalam artikelnya dengan judul Duh Gusti, yang judulnya menjadi sampul majalah Tempo pada 1989. Jelaslah pengalaman saat itu masih ia rekam dalam memori karena hampir seperempat abad kemudian ia menuangkannya dalam naskah orasinya, “Hujan yang tumben turun, teja bewarna putih yang tampak di langit Imogiri, dua burung hitam di tembok makam. Apa yang dilihat para reporter saat itu barangkali kini akan dibaca sebagai sebuah fantasi atau ilusi.


Petikan itu tertulis dalam naskah orasi yang ia bacakan pada malam penganugerahan penghargaan Hamengku Buwono IX dari Universitas Gadjah Mada pada acara puncak Dies Natalis ke-62 UGM. Setelah sebelumnya, pagi (19/12), rektor UGM, Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., memberikan penghargaan tersebut di Grha Sabha Pramana UGM.




Juru warta, sastrawan, budayawan, yang juga merupakan salah seorang pendiri Majalah Tempo itu memperoleh penghargaan tersebut untuk kategori tokoh kebudayaan dan merupakan penerima ke-15 sejak 1991. Dengan demikian, ia—Goenawan Soesatyo Mohamad—menjadi jurnalis pertama dalam daftar penerima, setelah sebelumnya daftar diisi oleh mereka yang berlatar belakang sains, lingkungan, dan sejarah.


Acara pada malam penganugerahan diawali dengan sambutan dari Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X yang diwakili oleh GBPH Prabukusumo. “Pembaca harus menggunakan ketajaman batin untuk menangkap arti simbolik di balik Catatan Pinggir,” komentar Prabukusumo. Senada dengan Prabukusumo, rektor UGM menyatakan apresiasinya. “Catatan Pinggir GM dapat memotret dan memberikan inspirasi untuk solusi terhadap persoalan universal bangsa,” ujar Sudjarwadi.


Untuk orasinya, pria yang akrab disapa GM dan terkenal dengan akun twitter @gm_gm itu mengangkat tulisan bertajuk 'Metafor dan Metamorfosis, Membaca Kembali Malangsumirang'. Pada masanya, kisah dalam babad Joko Tingkir itu digunakan oleh Sultan Panggung untuk meramalkan bagaimana masyarakat menghadapi perubahan dan pembangkangan. Sama dengan yang terjadi 22 tahun lalu ketika Goenawan meliput pemakaman agung, hujan gerimis mengiringi pembacaan orasi.


Kisah Malang Sumirang yang ia bacakan malam itu merupakan kisah paradoksal tokoh yang heroik, Ia menempuh rimba yang angker, melewati jurang—pengembaraan itu disebut mulia, jalan manusia unggul,” yang di lain pihak adalah anti-hero, Di sana ia digambarkan sebagai perusuh, ngugu karepe dewe. Ia tidak mau bersembahyang bersama di masjid, ia congkak dan tidak segan kepada siapapun, dan provokatif”.


Diceritakan bahwa kekolotan pemikiran para wali dan ulama atas sikap anti-hero Sumirang menyebabkan ia mesti menerjunkan diri ke dalam api. Sebelum terjun ke api, ia meminta kertas dan tinta untuk menuliskan wasiat. Anjingnya yang setia lantas ikut terjun dan membawakan tinta untuknya.


Sumirang tak terbakar api. Ia lantas menyerahkan apa yang ia tulis di dalam api kepada Sunan Drajat. Selain proses metamorfosis hero dan anti-hero dalam perjalanan hidup Sumirang, naskah orasi Goenawan menunjukkan betapa metafor atau bahasa dapat mempengaruhi pemaknaan cerita. Dalam kisah Joko Tingkir, ialah juru pamoco yang menyebabkan itu terjadi, di mana ia memanipulasi kisah Malang Sumirang yang dibacakannya kepada sang raja sehingga Sumirang terkesan sebagai seorang pendobrak aturan dan kurang ajar.


Benarlah yang diungkapkan Romo Magnis-Suseno bahwa lawan utama Goenawan adalah pemikiran monodimensional. Dengan mengangkat kisah tersebut, Goenawan menunjukkan ia berpikiran terbuka dan liberal; betapa baginya kitab suci seringkali dianggap sebagai rumusan hukum yang konsep-konsepnya berlaku umum. “Pada dasarnya orang yang berpikir secara legalistis lebih menerima keagamaan sebagai struktur sosial, dengan semangat untuk mengukuhkan konsolidasi terus-menerus,” ujar Goenawan.


Pidato penerimaan ditutup dengan pertunjukan tari yang memukau penonton dengan terbangnya burung gereja, menandakan suatu kebebasan. Di mana kebebasan pun layaknya api dengan dua pasemon—pemaknaan,  dapat menjadi hal destruktif yang menghancurkan dan dapat pula menjadi terang yang menunjukkan jalan. Sama halnya dengan perjalanan hidup Sumirang, ia menolak untuk berhenti, menolak menjadi satu hal saja—ia bermetamorfosis.


Maka demikian pula Goenawan memiliki kapasitas sebagai sastrawan, jurnalis, budayawan, dan juga cendekiawan. Di akhir acara, ketika ditemui Balairung, ia memaparkan pandangannya menyoal dunia pendidikan tinggi. Menurutnya, problema dari komersialisasi pendidikan adalah pemerintah yang tidak mampu memanajemen sistem pendidikan sehingga universitas menjadi agak disepelekan. Baginya, universitas-universitas di Indonesia sedang dalam masa mencari bentuk. “Komersialisasi terjadi tapi susah diatasi sebelum ada dana yang cukup. Kadang-kadang jurusan yang tidak laku diabaikan, itu bertentangan dengan semangat keilmuan, enggak pakai perhitungan. Tapi apa mungkin ada dana yang cukup bila universitas menjadi tujuan semua orang?” pungkasnya. [Azis Pratama, Dewi Kharisma Michellia]

0 komentar:

Post a Comment