Wednesday, June 29, 2011

[Online's Info] Virginia Apgar



Pernah melihat bayi yang baru saja lahir langsung dibawa ke sebuah tempat khusus, dimandikan, disterilkan, dan dicek keadaannya oleh suster yang ditugaskan untuk menanganinya? Ternyata itu memang adalah prosedur standar yang akan dilakukan oleh tiap petugas kesehatan di seluruh dunia saat mendapati seorang bayi lahir ke dunia pasca proses persalinan.

Proses evaluasi keadaan bayi tersebut sering dikenal sebagai Apgar System, Apgar Test, atau yang umumnya di Indonesia juga dikenal sebagai Nilai Apgar. Nama untuk tes ini, Apgar, diambil langsung dari nama penemunya, seorang dokter wanita spesialis bedah dan anestesi, Virginia Apgar. Apgar System sendiri merupakan serangkaian tes yang digunakan untuk mengecek kondisi bayi yang baru saja dilahirkan. Tes ini dipercayai adalah penemuan yang sangat penting dalam bidang Kedokteran karena sebelum diterapkannya tes ini pada tahun 1949, para dokter ketika itu masih terpaku pada kepentingan untuk mengetahui kondisi keadaan si ibu daripada bayi yang baru saja dilahirkan. Padahal penting diketahui bahwa kematian bayi sebelum 24 jam pasca kelahiran salah satunya bisa jadi disebabkan okeh faktor kurangnya pengetahuan petugas tentang cara mengevaluasi keadaan si bayi.

Apgar, yang ketika itu menempati posisi sebagai dosen dan peneliti dengan targetnya untuk memberikan kontribusi terbaiknya di bidang anestesi, menemukan bahwa pada masa itu para dokter yang menangani proses persalinan seringkali lebih berkonsentrasi kepada keadaan sang ibu pada pasca melahirkan daripada kepada bayi yang baru saja dilahirkan.

Padahal menurut Apgar, satu menit setelah kelahiran sang janin, diperlukan evaluasi lagi untuk menentukan keadaan si bayi. Untuk memenuhi hal ini, Apgar lantas menemukan cara termudah dan terefisien untuk mengevaluasi kondisi sang bayi yang biasanya dilakukan satu menit pasca kelahiran. Dia membuat lima rangkaian tes yang menjadi standar penilaian (berkisar antara nilai 0, 1, 2) untuk mengetahui kondisi sang bayi, dan menurutnya hal-hal yang perlu diperhatikan adalah detak jantung bayi, pernafasan, gerak vibrasi otot, warna pada tubuh sang bayi, dan gerak refleksnya. Hal-hal tersebut sering dikenal dengan singkatan:

A=  Appearence (warna kulit)
P=  Pulse rate ( denyut jantung bayi)
G=  Grimace (respon terhadap refleks)
A=  Activity (kekuatan otot)
R=  Respiratorion (pernafasan)

[Daily's] Pertanyaan pada Masa Depan

Saya mau jadi apa, sih? Saat banyak teman saya sudah pergi ke luar negeri untuk pertukaran mahasiswa, saya berdiam diri sendiri di kamar kos saya, menyanyi dan melamun seperti orang gila kebanyakan. Saat teman-teman saya sudah akan lulus kuliah, saya baru semester tiga karena kebiadaban saya selama ini. Saat teman-teman saya sudah berada di jurusan yang mereka cintai, saya masih terseok-seok memikirkan saya ingin jadi apa dan bagaimana caranya meraih itu semua dan berakhir dengan racauan-racuan seperti ini yang saya yakin sudah menjadi khas kelabilan saya!

Saat teman-teman saya sudah menjadi bintang yang bersinar terang di langit, saya bahkan tidak tahu sekarang saya sedang berada di mana. Saat teman-teman saya sudah terbang tinggi di langit mereka, saya tidak tahu saya mengapung-apung di lautan mana; apakah saya kapal yang terseok-seok di lautan tanpa sampan dan tujuan?

Saat semua orang sudah tahu apa yang akan dia lakukan untuk hidup mereka esok hari; saya sungguh-sungguh khawatir apakah saya tidak mengambil langkah yang salah sekali lagi? Saat semua orang sudah bisa memastikan bahwa matahari akan terbit dari timur pada pukul sekian-sekian, saya tidak bisa memastikan kapan saya akan bangun dari mimpi saya untuk memastikan secara langsung matahari yang terbit di langit sebelah timur itu.

Saya seringkali berpikir, memang siapa, sih, saya? Sepenting apa, sih, saya sampai mesti mengeluh terus menerus karena merasa capek menjalani kehidupan saya?

[Daily's] Hal-hal Random tentang Penulisan

Seharian mengulik nama-nama menarik di Wikipedia. Penulis dari Prancis, Jerman, Rusia, dan Inggris. Dan ternyata yang paling menarik minat saya adalah mereka yang datang dari Rusia.

Tadi membaca Raumanen dan mendapati ketidaksukaan sang penulis kepada Jerman-dan segala yang terkait. Tetapi Inggris katanya adalah kaum yang terhormat; penulisnya nampak mengagumi Inggris dan kebudayaan mereka. Saya juga. Tetapi saya tetap juga menyukai Jerman, dll. Saya tidak bisa tidak menyukai sesuatu.

Mungkin saya hanya tidak suka dengan orang-orang yang membuat saya jijik? (orang-orang yang melukai orang lain, membodohi orang lain, menipu orang lain, dan bertindak jahat pun keji; orang-orang yang tidak mau belajar dan merasa dirinya sudah pula menjadi yang terpintar)

[Daily's] Dua Diri

Internet tidak menemukan Tuhan yang dicarinya. Dan malam itu dia menyadari dia bahkan tidak bisa menemukan dirinya sendiri di sana. Meski mungkin dia bisa menemukan ratusan entri namanya pada banyak jaringan kehidupan maya, tetapi yang ditemuinya malam itu, semuanya bukan dirinya.

Orang-orang mungkin berpikir gadis itu sedang menghabiskan waktunya. Mencari-cari Tuhan. Seolah tidak percaya bahwa keyakinan memang seharusnya untuk diyakini. Karena meskipun dia tak percaya asap timbul karena api, asap tetaplah memang muncul karena api. Dia tahu. Tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang bertentangan dalam segala hal dengannya. Sesuatu dalam dirinya yang bukan dia. Sesuatu yang tetap berusaha menjadi berbeda.

Semua orang mengagung-agungkan tentang meditasi, menenangkan diri dengan bertapa. Tetapi itu bukan sesuatu yang membuatnya tenang. Menulis atau menyanyi yang awalnya adalah terapi baginya pun sudah semakin menyiksanya. Dia tidak mengerti ke mana lenyapnya semua kesukaannya pada hobi-hobinya.

Dia tidak lagi menikmati apa yang dulu pernah dia sukai. Hal-hal yang pernah menjadi teman baiknya menjadi semakin jauh darinya. Buku, yang dulu adalah benda yang mampu membuatnya mengabaikan gangguan dari sekitarnya, kini hanyalah benda yang tak mampu menggugah apapun lagi dalam dirinya untuk bahagia. Minimal seperti dulu. Lagu, makin lama dia dengarkan, justru membuat kepalanya sakit. Keindahan, baginya hanya ilusi.

Atau mungkin itu bukan sepenuhnya darinya. Atau memang mungkin dia harus sekali lagi meminta maaf pada sesuatu di dalam dirinya yang menolak segala kebahagiaan yang datang padanya.

[Sweets] A Note Wishing You a Happy New Life

One of my friends is gonna get married this weekend! It is so damned… mad? Uh, I come to think… near, near, near in the future, might be just some years from my last teen age (yes, I am nineteen now), I would also get married! With someone now-I-don’t-know!

Oh my. Someday in the future, I will live with other person who now-I-don’t-know, sharing a room with him (be naked in front of him), having breakfast-lunch-brunch-dinner-anything with him (and even cooking for him?), (kissing him, hugging him, whispering to his ears, staring straight to his eyes, reading the same books, watching the same movies, going to the same places, sad for the same problems, happy in the same happiness), wearing a wedding ring on my ring finger? Oh my.

Does that mean I will live together happily ever after and be beside that only person until forever—pardon me, is it really only him? Does that mean I will be his and he will be mine? My eyes roll and I still cannot think in a good way of it. It is now, still, I think very ridiculous. A bit strange, somewhat denial, and I cannot imagine I will marry this soon (if I were my friend who’s-gonna-get-married-this-weekend).

I cannot even imagine that I will work—I will have my children—I will be a mother. Um, will I be a good grandmother? Oh my. And later I will die—old.


[Daily's] Being Minority

Many things I learn by taking this course in university. No, I am not only studying English and its culture. I also learn from my friends in class, my lecturers, atmosphere of the city—things which I believe I would never find in other places.

I learn how to act as a minority, how to stand on my own feet and scream out loud—just to make people know that I am standing there. I learn how to care of small details—the composer of some songs, listening to national music all over the world, correcting my own writings—improving my writing skills by developing sentences, paragraphs, making a good topic idea, topic sentence with the supporting details.

I learn that human is a really fragile creature. That everyone might suffer from their own pain.

[Essay] Veneration of the Dead

There is an old saying that blood is thicker than water. It is probably the reason why some people are so intense to get their family bloodline as the priority in their life. Even some of them still strongly worship their ancestors or descendant family and they give some offerings in any special time for them.

There are actually many faiths encompassed the world. The matter is they are not really different from each other. Some cases, the human beings themselves are trying to look this neutral thing from different side and somewhat make it harder to be accepted, at least, for themselves. But the number of these skeptical people is also low, let we do not take much care of them.

Moreover, from those many faiths, there are certain numbers which categorize into some major religious groups. Some people have classified it into groups as follows: Abrahamic Religions, Indian Religions, Iranian Religions, Folk Religion, and new religious movements.

[Daily's] My Past Karma

Maybe this is what people called as karma. Pain I feel today perhaps is the result of pain I gave to someone else in the past. I think me in the past is a girl who loves to over judge someone else. I often measured people by their achievements, where they go to study, or something similar. (Well, I did not much care about appearance or wealth, even until now.)

Possibly this is due to the fact that both of my parents do well in academic life. They taught students in university (‘though not any longer these days). I was surrounded by that atmosphere—being around the professors, knowing better the rector in the university, and almost seeing every aspects of the university where my parents dedicate their remaining life to teach sciences. I was so familiar with the campus, the classes, the laboratory, the research they conducted, and the people they worked with.

But now I realize, that is my parents—not me.

Someone who born in a prosperous family, I could not say that the person who just born there and being part of the family will also be rich like his family.

And the same thing happens to this case. If my parents succeed in academic life, that is them—not me.


[Sweets] The Old Odd Thoughts

Negeri seperti apa yang kini sedang kita tempati?

Apa yang selama ini kita lakukan?

Bekerja untuk mencari makan, makan untuk dapat bekerja.

Mengapa orang suka membuat hidup menjadi lebih rumit? Dulu, rasanya benar ada orang-orang sakti yang dapat berkomunikasi hanya dengan telepati. Kini, kita semua butuh kabel charger untuk ponsel kita, hanya untuk berkomunikasi. Dulu, mereka yang sakti dapat hidup dengan hanya menghirup makanan di sekelilingnya. Kini, banyak orang mati kelaparan.

[Sweets] Inedia

Kemampuan hidup tanpa makan. Mungkin butuh makan, tetapi bentuk makanannya itu lebih menyerupai apa yang dimakan oleh tumbuh-tumbuhan. Yakni, sinar. Agak kurang jelas juga bagaimana prosesnya, karena bila pada tumbuhan ada organ-organ tertentu yang mengubah cahaya menjadi energi yang kemudian masuk ke dalam siklus metabolisme, saya tak tahu bagaimana halnya dengan proses Inedia yang dilakukan beberapa manusia ini.

Ritual ini hanya dilakukan oleh beberapa orang, lumayan terkesan esoteris. Di Wikipedia juga saya temukan list ini masuk ke dalam kumpulan ‘Masons’. Karena orang-orang ini ‘dapat memperoleh makanan mereka hanya dengan bernafas’, maka istilah yang juga sering digunakan untuk menggambarkan kekuatan orang-orang itu adalah: Breatharianisme.

Secara logika, tentunya kemampuan ini telah menentang beberapa fakta biologis mengenai tubuh manusia. Seharusnya diberikan penjelasan lanjutan mengenai fungsi kerja organ-organ dalam manusia ketika tidak digunakan untuk ‘memproses makanan’. Apa ususnya tidak mengerucut, mengalami disfungsi, dan berubah bentuk? Bagaimana sistem ekskresi dan sekresinya?

[Sweets] Melepaskan Identitas

Permasalahan paling utama umat manusia saat ini adalah sifat paradoks dari kehidupan yang mereka hadapi sehari-hari. Ketika mereka ingin keluar dari lingkar setan rutinitas, ternyata yang mereka hadapi ketika keluar justru rutinitas lagi.

Meski akan jadi jauh berbeda ketika, semisal, saya memilih menghidupi rutinitas itu di tempat berbeda. Kehidupan yang kita pilih sendiri.

To call each thing by its right name. – Into The Wild

Christ, tokoh utama dari Into The Wild, baru merasa menemukan dirinya ketika ia sudah terbebas dari segala identitas kemasyarakatan yang melekat padanya sejak kecil. Ia sobeki kartu-kartu identitasnya, ia bakar dokumen dan uang tabungannya. Ia berkelana mencari dirinya. Sampai mati.

[Daily's] Saya, Jurnalisme, dan Karakter-karakter Imajiner

Sepertinya—tentunya ini buat saya—nggak ada gunanya mengurusi permasalahan negara. Orang-orang yang mengurusi soal tahanan, koruptor, politik luar negeri, pertentangan agama, permasalahan-permasalahan semacam itu—kendati mereka tak terlibat di dalamnya—pastilah saking kurang kerjaannya. Nggak ada gunanya menulis tentang politik sana-sini, teori ini-itu, pemikiran begini-begitu, semuanya BASI, seriously. Di dunia yang banjir informasi seperti sekarang ini, kita harus menciptakan sesuatu yang benar-benar menggambarkan diri kita. Bukannya ikut-ikutan mainstream. Kita harus menggali benar-benar tentang siapa diri kita sebenarnya. Yah, yang semacam itu.

Ah, kata-kata saya (di atas dan di bawah) juga sebetulnya sama basinya. Anggap saja politik lama dari orang-orang yang bosan berkeluh-kesah soal politik.

Saya literally orangnya rada cuek, sih. Saya sejak dulu tak begitu tertarik dengan perseorangan dan hal-hal yang ‘terlalu’; terlalu dekat, terlalu memerhatikan, atau terlalu ‘tahu’. Yah, yang semacam menghafal nama pemeran di film A atau penyanyi lagu B atau presiden C dari negara D. Juga pada branding, menurut saya tak begitu penting. Saya tak pernah hafal nama dari barang-barang mewah, saya palingan cuma tahu Pepsodent atau Oral-B.

Tapi ketika sekarang saya masuk organisasi kemahasiswaan, Jurnalisme pula, di mana orang-orangnya sangat aktif memenuhi rasa ingin tahu mereka… sebenernya, saya merasa kehilangan diri saya sendiri. Sekaligus menemukan diri saya yang hilang. Saya sepertinya dituntut untuk pergi dari zona nyaman saya selama ini.

Q: Apa saya memang perlu tahu hal-hal yang terjadi di sekeliling saya?

A: Ah buat apa juga, sih? Segalanya, toh, berubah seiring waktu, dammit! Berita hari ini bakal basi untuk besok.

Q: Mengapa saya perlu tahu tentang Khadafi yang menjabat 42 tahun atau banjir di Jakarta dan Medan?

A: Toh, besok semuanya akan kembali lewat.

Q: Akan jadi apa berita yang saya tulis hari ini tentang suatu kejadian?

A: Mungkin dibaca, dan besok dilupakan.

Q: Mengapa saya mesti belajar menulis berita dan terdaftar di organisasi kampus terkait dengan dunia jurnalisme ini? Mengapa?

Ah, alasan awal saya masuk ke sini sebenarnya sederhana. Simply karena saya KESULITAN memasukkan detail nama tokoh atau judul lagu atau nama pelukis atau hal-hal lainnya yang kental ‘branding’-nya ke dalam tulisan fiksi saya. Konon kabarnya, banyak penulis yang pendeskripsiannya keren; berlatar belakang jurnalistik. Ada pepatah yang terkait dengan itu. DAN begitulah, saya mendaftar di badan pers mahasiswa kampus saya ini juga sebenarnya murni karena alasan itu. Kalau ada yang mau bilang saya tolol, ya monggo.

Friday, June 17, 2011

[Cerpen] Jurnal Terakhir


Satu kalimat ini mungkin adalah kalimat keseribu yang kutulis selama delapan jam aku di sini. Kurasa kau bisa membayangkan apa yang telah kulakukan sedari delapan jam lalu. Ketik, hapus, menangis, ketik, hapus, menertawakan diri sendiri, ketik, hapus, terkantuk-kantuk.

Mungkin dengan menulis di sini, aku tak akan melanjutkan kekonyolan semacam itu. Lagipula memang lebih enak menulis di atas buku jurnal, dan juga laptopku sudah akan habis daya beberapa menit lagi.

Ah. Cukup lama aku tak menulis di jurnal ini.

Ada jutaan hal di belakang berlalu begitu saja. Dan jangan kaget. Pemberimu telah meninggal. Tepat seratus hari lalu ia dimakamkan. Aku memang kekasih yang menjengkelkan, tak pernah meluangkan waktu untuk orang yang kukasihi. Sejak beberapa bulan lalu, aku menjanjikan akan datang pada tanggal ini untuk menemuinya. Akan lucu, bila ternyata kini aku menggunakan tiket yang dulu pada awalnya kupesan guna menikmati liburan dengannya—untuk kini datang ke kotanya dan melayat di makamnya.

Dan mungkin karena aku terlalu lemah, maka begitulah, kubiarkan tiket kereta jurusan Yogyakarta–Jakarta untuk keberangkatan pagi tadi—yang kupesan dari jauh-jauh hari kemarin—kadaluarsa bersamaku dan kini menjadi tatakan gelas kopi.

Di dalam hatiku rasanya masih begitu sepi, meski potret kesibukan malam telah mulai bertampilan dari balik jendela kafe. Seratus hari belakangan ini aku mengambil cuti kerja, orangtuaku agak khawatir di luar kota tetapi kubilang aku akan baik-baik saja, dan setelah-setelahnya aku tak lagi menerima panggilan telepon mereka.

Aku kemudian mengasingkan diri ke beberapa pedesaan. Mengambil foto, berjalan kaki sendirian mengelilingi tempat-tempat yang tak pernah kuketahui sebelumnya, tetapi menghindar dari hampir semua orang yang kutemui.

Belakangan ini aku takut bila ada orang yang memandang ke dalam mataku, aku tak berani memberi alasanku mengasingkan diri. Dan seolah setiap orang selalu akan bertemu dengan refleksi dirinya dalam tiap perjalanannya, pagi tadi ada seorang nelayan di Pantai Wediombo yang menghampiriku dan bilang ia dulu juga hanya berniat mengasingkan diri ke tempat itu. Sama sepertiku, ia tidak tahu ia hendak ke mana setelahnya. Dan yang lebih parah, ia lupa darimana ia berasal.

Kurasa ia adalah satu-satunya orang yang bisa mengobrol denganku selama seratus hari ini, dan ia dapat merelakan lawan bicaranya lebih banyak melamun selama berbincang. Ia tahan berada di depanku selama sekian jam meski aku hanya bisa menatap nanar ke arah laut. Seandainya saja ia tahu bahwa sejak pagi tadi aku berencana mati. Apakah ia akan berbelas kasihan dan melarangku pergi, berhenti terlalu banyak bercerita tentang dirinya dan berusaha menjadi pendengar setiaku?

Aku tak tahu kalimat seperti apa yang akan paling baik menggambarkan kondisi suicidal semacam ini.

[Essay] Same Sex Marriage and the Development of LGBT-IQ Community in Indonesia


In Response to the Same Sex Marriage Problems

Introduction

Same sex marriage has been emerged ever since the ancient times. Furthermore, looking deep into History, it was even actually not emerged in America, because at that time States has not been recognized as a country, yet.

Thursday, June 16, 2011

[Esai] Bellum Iustum

Perdamaian tidak mesti membuat kita kehilangan jati diri. Sekalipun kita sebagai manusia Indonesia harus menyatu dengan seluruh dunia, ataupun kita dari ras-ras minoritas harus berkumpul dalam kesatuan NKRI, kita masih bisa membawa semangat kita yang sejati ke mimbar-mimbar itu. Semangat sebagai manusia yang utuh. Manusia yang memiliki jati diri tunggal dan ciri khasnya tersendiri.


Karena setiap manusia sudah berbeda sejak di dalam diri.


Kepribadian-kepribadian berbeda membentuk sosok-sosok yang kita kenal sehari-hari. Pada dasarnya, perbedaan adalah suatu hal yang lumrah dan alami.


Meski demikian, banyak orang masih menganggap ciri khas di dalam diri mereka belum cukup untuk membuat mereka dapat terlihat kuat dan menonjol di masyarakat. Banyak orang merasa kurang, dengan hanya membawa identitas 'Rina si periang' atau 'Ana si cerdas', sepanjang hidupnya mereka masih saja mencari-cari hal yang mencerminkan diri mereka. Mereka berafiliasi dengan organisasi-organisasi besar, hanya merasa bangga ketika gelar mereka dijejerkan dengan nama atau ketika orang mengetahui ke mana saja ia pergi menempuh pendidikan untuk mendapatkan gelar-gelar itu, bahkan banyak orang lebih bangga disebut sebagai profesor ketimbang sebagai seorang ayah atau ibu yang baik.


Identitas-identitas di luar diri tersebut kemudian membentuk mereka menjadi orang berbeda. Mereka lantas mengejar stereotypes, ketika profesor digambarkan harus mengenakan pakaian tertentu dengan gaya bicara dan senyum sedemikian, mereka mengejar ekspektasi itu.


Ketika hal-hal pada diri mereka juga masih belum kuat untuk menunjukkan siapa mereka, mereka lantas menyangatkan potensi diri mereka pada hal-hal yang bersifat kolektif. Dengan sengaja, dalam setiap hal yang mereka lakukan, mereka mengikatkan diri pada etnis atau kelompok nasional tertentu. Hanya jika membawa nama agama dan suku tertentulah mereka merasa memiliki identitas. Mereka menghidupi kehidupannya seolah pandangan dunia kepada mereka tidak boleh terlepas dari identitas-identitas tersebut.


Tidak salah untuk melakukan hal-hal semacam itu. Tidak salah memiliki perbedaan dan bangga atas perbedaan. Tetapi hal-hal yang berlebihan sifatnya menghancurkan. Bukan saja diri sendiri, tetapi keharmonisan seluruh dunia. Plenty corrupts the melody, demikian kata Alfred Lord Tennyson, seorang penyair berkebangsaan Inggris.


Dan benarlah persatuan-persatuan kolektif semacam itu seringkali menimbulkan konflik. Disebabkan masyarakat lebih bangga akan kedirian kolektif mereka, mereka mencoba menumbangkan kedirian-kedirian tunggal. Mayoritas selalu mencoba menggilas minoritas. Itulah yang terjadi bila sesuatu terlalu dimaknai berlebihan. Perbedaan yang awalnya melahirkan seorang individu menjadi individu berciri khas, justru pada titik jenuh akan menghancurkan individu lainnya.