Saya mau jadi apa, sih? Saat banyak teman saya sudah pergi ke luar negeri untuk pertukaran mahasiswa, saya berdiam diri sendiri di kamar kos saya, menyanyi dan melamun seperti orang gila kebanyakan. Saat teman-teman saya sudah akan lulus kuliah, saya baru semester tiga karena kebiadaban saya selama ini. Saat teman-teman saya sudah berada di jurusan yang mereka cintai, saya masih terseok-seok memikirkan saya ingin jadi apa dan bagaimana caranya meraih itu semua dan berakhir dengan racauan-racuan seperti ini yang saya yakin sudah menjadi khas kelabilan saya!
Saat teman-teman saya sudah menjadi bintang yang bersinar terang di langit, saya bahkan tidak tahu sekarang saya sedang berada di mana. Saat teman-teman saya sudah terbang tinggi di langit mereka, saya tidak tahu saya mengapung-apung di lautan mana; apakah saya kapal yang terseok-seok di lautan tanpa sampan dan tujuan?
Saat semua orang sudah tahu apa yang akan dia lakukan untuk hidup mereka esok hari; saya sungguh-sungguh khawatir apakah saya tidak mengambil langkah yang salah sekali lagi? Saat semua orang sudah bisa memastikan bahwa matahari akan terbit dari timur pada pukul sekian-sekian, saya tidak bisa memastikan kapan saya akan bangun dari mimpi saya untuk memastikan secara langsung matahari yang terbit di langit sebelah timur itu.
Saya seringkali berpikir, memang siapa, sih, saya? Sepenting apa, sih, saya sampai mesti mengeluh terus menerus karena merasa capek menjalani kehidupan saya?
Saya memang pembosan. Saya berhenti menonton film bagus di tengah-tengah. Saya tidak membaca sebuah novel sampai bab satunya selesai. Saya melewatkan banyak kesempatan. Saya memutuskan untuk tidak cepat-cepat berlari mengejar dunia yang terus berputar berlari. Saya bisa tidur santai seharian. Tetapi suatu ketika saya bisa meledak-ledak karena sikap pembosan saya ini.
Siapa yang membuat saya menjadi seorang pembosan? Tuhankah? Karakterkah ini? Ataukah dari darah yang mengalir di dalam pembuluh darah saya?
Kalau saya memang menentukan segalanya, tidakkah mungkin faktor-faktor genetis yang ada di dalam diri sayalah yang lebih mengatur cara kerja otak saya?
Saya seringkali seperti ini! Dan ini seperti deja vu bagi saya. Di mana saya bisa mengetikkan apapun yang saya inginkan tanpa saya tahu pasti darimana datangnya semua pemikiran ini. Dan saya berakhir dengan saya tidak bisa mengerti siapa sebenarnya diri saya!
Tadi saya bilang apa?
Ya, saya merasa tidak kuat. Saya capek. Saya lelah. Kepala saya sakit. Dada saya juga. Bagaimana rasanya jiwa yang tercerabut dari tubuh?
Mengapa saya mesti punya mata untuk saya pejamkan sehingga saya mesti tidur selama delapan jam sehari?
Mengapa saya mesti punya otak untuk memikirkan hal-hal ini?
Mengapa saya mesti punya mulut untuk makan?
Tidakkah manusia adalah alien? Tidakkah saya telah tersesat dan saya tak kunjung sadar?
Teman-teman kuliah saya berbicara mengenai politik, ekonomi, segala hal yang mereka pelajari di kampus. Saya berbicara sesuatu yang hanya bisa menjelaskan kepada orang-orang tentang betapa saya bosan menjalani hidup saya.
Kenapa, sih, orang-orang bisa begitu bersemangat menjalani hidup mereka? Kenapa, sih, orang-orang bisa bahagia dengan hidup mereka? Kenapa, sih? Apa, sih, yang membuat mereka puas akan hidup mereka?
Saya pusing.
Dan saya merasa sakit.
Saya merasa lemah.
Tapi saya mau bahagia.
Saya mau bisa mewujudkan cita-cita saya.
Saya mau bisa memanfaatkan semua talenta saya.
Saya mau meraih hidup saya.
… … …. … … … …
Apa, sih, yang terjadi dengan saya?
Saat teman-teman saya sudah menjadi bintang yang bersinar terang di langit, saya bahkan tidak tahu sekarang saya sedang berada di mana. Saat teman-teman saya sudah terbang tinggi di langit mereka, saya tidak tahu saya mengapung-apung di lautan mana; apakah saya kapal yang terseok-seok di lautan tanpa sampan dan tujuan?
Saat semua orang sudah tahu apa yang akan dia lakukan untuk hidup mereka esok hari; saya sungguh-sungguh khawatir apakah saya tidak mengambil langkah yang salah sekali lagi? Saat semua orang sudah bisa memastikan bahwa matahari akan terbit dari timur pada pukul sekian-sekian, saya tidak bisa memastikan kapan saya akan bangun dari mimpi saya untuk memastikan secara langsung matahari yang terbit di langit sebelah timur itu.
Saya seringkali berpikir, memang siapa, sih, saya? Sepenting apa, sih, saya sampai mesti mengeluh terus menerus karena merasa capek menjalani kehidupan saya?
Saya memang pembosan. Saya berhenti menonton film bagus di tengah-tengah. Saya tidak membaca sebuah novel sampai bab satunya selesai. Saya melewatkan banyak kesempatan. Saya memutuskan untuk tidak cepat-cepat berlari mengejar dunia yang terus berputar berlari. Saya bisa tidur santai seharian. Tetapi suatu ketika saya bisa meledak-ledak karena sikap pembosan saya ini.
Siapa yang membuat saya menjadi seorang pembosan? Tuhankah? Karakterkah ini? Ataukah dari darah yang mengalir di dalam pembuluh darah saya?
Kalau saya memang menentukan segalanya, tidakkah mungkin faktor-faktor genetis yang ada di dalam diri sayalah yang lebih mengatur cara kerja otak saya?
Saya seringkali seperti ini! Dan ini seperti deja vu bagi saya. Di mana saya bisa mengetikkan apapun yang saya inginkan tanpa saya tahu pasti darimana datangnya semua pemikiran ini. Dan saya berakhir dengan saya tidak bisa mengerti siapa sebenarnya diri saya!
Tadi saya bilang apa?
Ya, saya merasa tidak kuat. Saya capek. Saya lelah. Kepala saya sakit. Dada saya juga. Bagaimana rasanya jiwa yang tercerabut dari tubuh?
Mengapa saya mesti punya mata untuk saya pejamkan sehingga saya mesti tidur selama delapan jam sehari?
Mengapa saya mesti punya otak untuk memikirkan hal-hal ini?
Mengapa saya mesti punya mulut untuk makan?
Tidakkah manusia adalah alien? Tidakkah saya telah tersesat dan saya tak kunjung sadar?
Teman-teman kuliah saya berbicara mengenai politik, ekonomi, segala hal yang mereka pelajari di kampus. Saya berbicara sesuatu yang hanya bisa menjelaskan kepada orang-orang tentang betapa saya bosan menjalani hidup saya.
Kenapa, sih, orang-orang bisa begitu bersemangat menjalani hidup mereka? Kenapa, sih, orang-orang bisa bahagia dengan hidup mereka? Kenapa, sih? Apa, sih, yang membuat mereka puas akan hidup mereka?
Saya pusing.
Dan saya merasa sakit.
Saya merasa lemah.
Tapi saya mau bahagia.
Saya mau bisa mewujudkan cita-cita saya.
Saya mau bisa memanfaatkan semua talenta saya.
Saya mau meraih hidup saya.
… … …. … … … …
Apa, sih, yang terjadi dengan saya?
on August 15, 2010
Pembosan ya? Kok sama? Tapi sesungguhnya banyak juga kok hal-hal yang dialami pembosan, yg tdk dialami orang2 yg jalannya menanjak mulus. Karena orang2 pembosan kadang melihat hal2 yg terlewatkan oleh orang lain.
ReplyDeleteMy favorite part: "seperti orang-orang gila kebanyakan"-->gw banget, hehe...
justru dengan pembosan.....ada hal yang beda dalam perjalanan hidup kita untuk menuju yang lebih baik dengan warna-warni yang beda......
ReplyDeleteBy : admin
http://www.rumahukir.com