Internet tidak menemukan Tuhan yang dicarinya. Dan malam itu dia menyadari dia bahkan tidak bisa menemukan dirinya sendiri di sana. Meski mungkin dia bisa menemukan ratusan entri namanya pada banyak jaringan kehidupan maya, tetapi yang ditemuinya malam itu, semuanya bukan dirinya.
Orang-orang mungkin berpikir gadis itu sedang menghabiskan waktunya. Mencari-cari Tuhan. Seolah tidak percaya bahwa keyakinan memang seharusnya untuk diyakini. Karena meskipun dia tak percaya asap timbul karena api, asap tetaplah memang muncul karena api. Dia tahu. Tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang bertentangan dalam segala hal dengannya. Sesuatu dalam dirinya yang bukan dia. Sesuatu yang tetap berusaha menjadi berbeda.
Semua orang mengagung-agungkan tentang meditasi, menenangkan diri dengan bertapa. Tetapi itu bukan sesuatu yang membuatnya tenang. Menulis atau menyanyi yang awalnya adalah terapi baginya pun sudah semakin menyiksanya. Dia tidak mengerti ke mana lenyapnya semua kesukaannya pada hobi-hobinya.
Dia tidak lagi menikmati apa yang dulu pernah dia sukai. Hal-hal yang pernah menjadi teman baiknya menjadi semakin jauh darinya. Buku, yang dulu adalah benda yang mampu membuatnya mengabaikan gangguan dari sekitarnya, kini hanyalah benda yang tak mampu menggugah apapun lagi dalam dirinya untuk bahagia. Minimal seperti dulu. Lagu, makin lama dia dengarkan, justru membuat kepalanya sakit. Keindahan, baginya hanya ilusi.
Atau mungkin itu bukan sepenuhnya darinya. Atau memang mungkin dia harus sekali lagi meminta maaf pada sesuatu di dalam dirinya yang menolak segala kebahagiaan yang datang padanya.
Yang mampu mengobati dirinya sekarang hanyalah dirinya sendiri. Namun semakin dia mendekati dirinya, semakin dia tidak tahu apa sebenarnya yang dirinya mau darinya. Dia meminta maaf setulus-tulusnya, dirinya tetap tidak mampu memaafkannya. Dia menemani dirinya bermalas-malasan, ditemaninya dirinya berjalan sendirian, dinyanyikannya lagu-lagu masa kecilnya untuk dirinya sendiri, tapi dirinya sendiri tetap membencinya.
Kalau ditemaninya dirinya sendiri untuk berlari semakin kencang—dia tahu dia tidak mampu. Kalau ditemaninya dirinya sendiri untuk membuat pesawat yang mampu menerbangkan mereka ke luar semesta dan mencari surga—dia tahu ilmunya tak sampai. Berkali-kali dia bilang pada dirinya sendiri untuk berhenti, tetapi dirinya sendiri menjadi semakin jauh darinya.
Kalau sebagian dari dirinya sudah menjauhi teman-temannya dulu karena tidak ada satu pun dari mereka yang sepaham dengannya, gadis itu masih coba untuk menemani kesepian yang dirasakan dirinya sendiri. Tetapi dirinya itu tetap tidak mau peduli.
Dia bilang pada dirinya untuk mempercayai sesuatu. Sesuatu dalam dirinya bilang segalanya palsu—bahkan sahabat, bahkan kekasih, bahkan keluarga. Lantas, apa dia masih bisa mempercayai sesuatu dalam dirinya itu? Apa sesuatu dalam dirinya bisa mempercayainya—atau dia hanya akan terus gagal meyakinkan dirinya sendiri bahwa ada dia (dirinya sendiri) yang bisa dia percayai sepenuhnya?
Dia bisa berbicara dengan orang lain. Tetapi dia bahkan tidak mampu berbicara dengan dirinya sendiri. Dirinya yang begitu kaku, bersembunyi di pojok, dan tidak pernah mau mendengarkan kata-katanya.
Dia tidak tahu sejak kapan dirinya terbagi menjadi dua bagian. Atau mungkin lebih. Tetapi dia sungguh membenci bagian dirinya yang tidak pernah mau bersahabat dengannya.
Sebagian dirinya tidak memiliki seorang pun sahabat, menolak setiap yang datang dan mengusir setiap yang singgah.
Meski dia menyukai sebagian dirinya yang angkuh itu. Meski dia pikir dia mampu bersahabat dengan dirinya sendiri yang pemilih itu. Tetapi tidak pernah bisa bagian dirinya itu menyambut tali persahabatan yang dia ulurkan.
Padahal mereka tinggal dalam satu tubuh, berbagi nafas yang sama. Tapi separuh bagian dirinya tidak pernah mampu menerima kehadirannya. Bahkan ketika dia menangis, sesuatu dalam dirinya bekerja semakin keras untuk membuat tangisnya makin keras.
Dirinya mungkin adalah bagian negatif. Yang menangis, yang ingin berhenti, yang realistis. Dan bagian dirinya yang lain, yang angkuh, yang berdiri di pojokan, yang enggan bersahabat dengannya itu mungkin adalah bagian positifnya. Yang terus berupaya, yang tidak pernah menangis, yang keras hati, yang merdeka, yang idealis.
Yang tidak pernah mau kalah.
Dirinya mungkin adalah bagian yang lemah. Yang seharusnya dimusnahkan.
Tetapi bukankah ketakutan dan tangis adalah bagian paling dasar dari dirinya? Ketika dia terlahir pertama kali, dia menangis, bukannya tertawa terbahak-bahak. Ketika dia mencoba mengenali dunia asing di sekitarnya, dia mengawalinya dengan perasaan takut.
Dan kini setelah sekian lama, telah ada dua bagian dalam dirinya. Dan mungkin lebih—karena dia tidak tahu, karena dia tidak kenal, karena dia dijauhi begitu saja. Yang dia ajak berbagi tubuh, tetapi terus menerus menyakiti. Yang dia ajak berbagi nafas, tetapi tak hentinya berlari seolah berniat menghabisinya juga.
Sebagian dirinya yang ingin mengajaknya mati. Meskipun tidak pernah berniat menjadi sahabatnya.
Mungkin saat ini sebenarnya dia tidak sedang mencari-cari Tuhan. Mungkin tidak mempertanyakan kepercayaannya. Dia hanya mempertanyakan separuh bagian dari dirinya. Bahkan saat berpikir begini pun dia tetap tidak menemukan jalan untuk bernegosiasi dengan dirinya yang angkuh itu.
Atau mungkin dialah yang angkuh. Atau mungkin mereka hanya berbeda bahasa.
2010-09-12
00:50
#ditemani lagu-lagu dari Backstreet Boys.
Dan separuh dirinya yang masih tidak dia mengerti.
0 komentar:
Post a Comment