Satu kalimat ini mungkin adalah kalimat keseribu yang kutulis selama delapan jam aku di sini. Kurasa kau bisa membayangkan apa yang telah kulakukan sedari delapan jam lalu. Ketik, hapus, menangis, ketik, hapus, menertawakan diri sendiri, ketik, hapus, terkantuk-kantuk.
Mungkin dengan menulis di sini, aku tak akan melanjutkan kekonyolan semacam itu. Lagipula memang lebih enak menulis di atas buku jurnal, dan juga laptopku sudah akan habis daya beberapa menit lagi.
Ah. Cukup lama aku tak menulis di jurnal ini.
Ada jutaan hal di belakang berlalu begitu saja. Dan jangan kaget. Pemberimu telah meninggal. Tepat seratus hari lalu ia dimakamkan. Aku memang kekasih yang menjengkelkan, tak pernah meluangkan waktu untuk orang yang kukasihi. Sejak beberapa bulan lalu, aku menjanjikan akan datang pada tanggal ini untuk menemuinya. Akan lucu, bila ternyata kini aku menggunakan tiket yang dulu pada awalnya kupesan guna menikmati liburan dengannya—untuk kini datang ke kotanya dan melayat di makamnya.
Dan mungkin karena aku terlalu lemah, maka begitulah, kubiarkan tiket kereta jurusan Yogyakarta–Jakarta untuk keberangkatan pagi tadi—yang kupesan dari jauh-jauh hari kemarin—kadaluarsa bersamaku dan kini menjadi tatakan gelas kopi.
Di dalam hatiku rasanya masih begitu sepi, meski potret kesibukan malam telah mulai bertampilan dari balik jendela kafe. Seratus hari belakangan ini aku mengambil cuti kerja, orangtuaku agak khawatir di luar kota tetapi kubilang aku akan baik-baik saja, dan setelah-setelahnya aku tak lagi menerima panggilan telepon mereka.
Aku kemudian mengasingkan diri ke beberapa pedesaan. Mengambil foto, berjalan kaki sendirian mengelilingi tempat-tempat yang tak pernah kuketahui sebelumnya, tetapi menghindar dari hampir semua orang yang kutemui.
Belakangan ini aku takut bila ada orang yang memandang ke dalam mataku, aku tak berani memberi alasanku mengasingkan diri. Dan seolah setiap orang selalu akan bertemu dengan refleksi dirinya dalam tiap perjalanannya, pagi tadi ada seorang nelayan di Pantai Wediombo yang menghampiriku dan bilang ia dulu juga hanya berniat mengasingkan diri ke tempat itu. Sama sepertiku, ia tidak tahu ia hendak ke mana setelahnya. Dan yang lebih parah, ia lupa darimana ia berasal.
Kurasa ia adalah satu-satunya orang yang bisa mengobrol denganku selama seratus hari ini, dan ia dapat merelakan lawan bicaranya lebih banyak melamun selama berbincang. Ia tahan berada di depanku selama sekian jam meski aku hanya bisa menatap nanar ke arah laut. Seandainya saja ia tahu bahwa sejak pagi tadi aku berencana mati. Apakah ia akan berbelas kasihan dan melarangku pergi, berhenti terlalu banyak bercerita tentang dirinya dan berusaha menjadi pendengar setiaku?
Aku tak tahu kalimat seperti apa yang akan paling baik menggambarkan kondisi suicidal semacam ini.
Sendiri. Mengenang kebodohan-kebodohanku sebagai manusia. Membayangkan kebodohan-kebodohan manusia lainnya yang memenuhi keseharianku. Hidup yang kubuang, hidup yang kupilih.
Aku tahu aku masih teramat muda untuk menyesali segala sesuatunya, jalan yang kulalui pada belasan tahun di belakang mungkin bukanlah hidup yang kupilih sendiri hingga tak patut aku merasa kecewa terhadapnya.
Segala hal berlangsung di hidupku sesederhana kesan yang akan kau dapatkan dari orang-orang lain seusiaku. Kau sudah tahu, cukup lama aku menulis di sini dan aku tahu kau tahu bahwa tak ada yang istimewa dariku. Aku pergi ke Gereja, aku bersekolah dari SD hingga tamat sarjana, dan mengenai pilihan jurusanku di universitas, atau kegiatan-kegiatan yang kugeluti, bahkan hingga pria yang menjadi tunanganku; bukankah selama ini semua itu bukan pilihanku?
Aku merasa hidupku kosong. Selama ini selalu ada tali kekang yang akan mengontrolku dan mengatur segala hal dalam hidupku. Ke manapun aku pergi akan sama saja, jadi apapun aku kelak tak akan mengubah kematianku setelahnya. Dan lagipula, tak ada salahnya bila orang lain yang menentukan jalan hidupku—setelah kini aku tak tahu mau ke mana lagi. Bukankah apapun yang kuperjuangkan, apapun yang kemudian gagal kudapatkan atau berhasil kumenangkan, semua hal itu kemudian juga akan menggumpal menjadi pengalaman?
Dan ada beberapa pengalaman yang akan dengan cepat kau lupakan, saking begitu lazimnya kau dapati muncul di hidupmu.
Dan ada beberapa pengalaman yang ingin mati-matian kau lupakan, maka dari itu kau harus punya satu ruang untuk menyimpannya, bila seandainya kau ingin mengenangnya suatu saat nanti.
Dan mungkin itulah sebabnya setiap tahun Alfian mengadoiku buku jurnal kosong; sesuatu yang aku dapatkan sejak lima tahun lalu ditunangkan dengannya, dan secara berkala diberikannya sejak empat tahun lalu aku berulang tahun didampingi olehnya. Kali pertama bertemu, mungkin ia pikir aku gadis clumsy; hingga di pertemuan selanjutnya ia kemudian membawakanku sebuah buku jurnal dan bilang padaku untuk bercerita padanya melalui buku itu.
Saat itu, aku bilang aku punya privasi, tetapi ia bersikeras. Ia bilang, bagaimana bisa mengenal lebih dekat bila setiap kami bertemu, aku tak pernah berbicara dengannya. Aku tak begitu suka konflik, dan karena ia adalah pria pilihan ayahku, maka kuturuti ia dan dengan demikian sudah genap lima tahun ini ia membaca apa-apa yang kutulis di jurnal.
Saat aku tulis sesuatu tentang Waktu—yang sempit, yang terbatas—dan aku bilang usia manusia terlalu singkat untuk berkesempatan mengetahui segala sesuatunya yang ada di dunia ini, ia justru bertanya, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Waktu, yang baginya hanyalah abstraksi—penyamarataan segala sesuatu.
Dengannya, aku punya teman untuk bertanya-tanya tentang segala sesuatu yang ada pada masa sebelum kelahiran dan juga apa yang mungkin akan menanti kami setelah kematian.
Mungkin ia bukan satu-satunya orang yang mengerti kesia-siaan yang kurasakan atas hidupku, tetapi ia satu-satunya yang—kendati memiliki pendalaman akan rasa-bosan-atas-hidup yang sama—tetap mengingatkanku dengan cara sekasar apapun bahwa hidupku adalah anugerah yang harus kusyukuri.
Maka kemudian darinya aku banyak belajar untuk berani menjadi diriku sendiri dan melakukan keputusan-keputusan hidup atas pilihanku sendiri karena, kelak ketika saatnya tiba, hal-hal itu akan menjadi pengalaman yang tidak akan kusesali.
Meski aku masih merasa hidup seperti bagaimanapun rasanya akan sama membosankan, paling tidak terasa jauh berbeda ketika aku menghidupi hidupku dengan sebaik-baiknya pada setiap detiknya.
Meski membosankan rasanya melihat orang-orang yang berperang hanya karena meributkan dongeng masa lalu, apalagi ketika mendapati kabar-kabar berita di sekitar yang membicarakan hal-hal dangkal, dan aku barangkali ikut juga menjadi badut ganjil yang jatuh-bangun bekerja di taman hiburan kehidupan ini, tetapi semua itu akan lebih menyenangkan seandainya ada lebih banyak orang yang dapat saling menguatkan. Karena pada akhirnya, tak ada yang keluar dari kehidupan ini hidup-hidup.
Akan ada jutaan orang yang kutemui sebelum aku mati. Begitu katanya. Akan ada begitu banyak tempat yang dapat kusinggahi. Seiring waktu, aku mulai mengenalnya dari kedekatan pikiran kami, pembicaraan mengenai Takdir, Hal-hal yang Dipercayai Manusia, hingga hal-hal kecil yang kurasa tak akan ada orang lain yang mengerti selain kami. Ada lebih banyak lagi yang aku percaya telah tersimpan dengan baik pada jurnal-jurnalku kemarin.
Dan karena itu. Mungkin aku memang sudah terlalu banyak merepotkannya, maka kini ia pergi untuk selamanya.
Mungkin ini adalah jurnal terakhirku. Jurnal ini mungkin akan kusimpan di dalam lemari, jauh di dasar lemari, dan kutimbun di bawah benda-benda lainnya.
Dan mungkin setelah itu, aku baru akan memutuskan untuk mengakhiri hidupku dengan bagaimana.
Seseorang yang kini duduk di depanku sepertinya akan pergi ke Jakarta malam ini. Ah, ia tak datang seorang diri. Ada wanita membawa dua piring nasi ke arahnya.
…
…
Tadi sebelum si wanita mendekat, aku bilang sesuatu pada si lelaki. Bahwa hanya pada satu orang saja si lelaki akan menjadi benar-benar berarti. Semoga ia mengerti.
Kurasa itu sedikit-banyak menggambarkan perasaanku belakangan. Dan sepertinya aku harus membeli tiket untuk keberangkatan malam ini.(*)
0 komentar:
Post a Comment