Wednesday, June 30, 2010

[Sajak] Aku Ingin Kau Mencintaiku

Aku ingin kau mencintaiku
...sampai
kau tidak akan pernah
...menyerah untuk melakukannya.

Aku ingin kau mencintaiku
...karena
kau tidak akan pernah
...bisa menolak perasaan itu.

Aku ingin kau mencintaiku
...seperti
kau tidak akan pernah
...menemukan orang sepertiku lagi.

Aku ingin saat kau mencintaiku
...kau
kau tidak akan pernah
...berubah menjadi orang lain.

30/06/2010
14:35:15

Saturday, June 19, 2010

[Cerpen] Hadiah untuk Kejujuran Mira

Sore itu saat aku pulang dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, ibu masih berkutat dengan bacaannya di rang tamu. Aku sudah menghafal kebiasaannya. Yang seumur hidup ibu akan lakukan adalah mencari sebuah novel yang menuliskan kisah tentangnya, dia percaya kisah semua orang yang hidup di dunia ini sudah pernah tertulis sebelumnya.

Seperti kisah pertemuan kakek dan nenek, misalnya. Lalu pertemuan ayah dan ibu. Ibu bilang dia pernah baca kisah percintaan yang sama dengan kisah percintaan mereka, entah di mana. Kupikir, memang ada-ada saja cara orang mencari pertanda.

Setelah kutaruh tasku di atas meja belajar, aku menuju ke arah dapur. Meja makan kosong, hari ini ibu tidak memasak. Setelah pulang kantor, ibu pasti mampir ke toko buku langganannya dan membeli buku baru. Kalau tidak, dia pasti mampir ke percetakan dan mengambil pesanannya, cetakan buku elektronik yang diunduhnya dari internet. Dan sudah bisa ditebak dia akan membacanya sampai sore begini.

“Mira, buatkan Ibu mie goreng telur mata sapi, ya!”

Herannya, ibu masih selalu peka untuk memenuhi naluri kehidupannya. Dia bahkan tidak sadar saat aku pulang tadi dan melintas di depannya di ruang tamu. Tapi dia tahu aku kelaparan dan mencari makan di dapur dan dia minta dimasakkan mie juga!

“Kardus mie ada di sebelah karung beras. Oh ya, masakkan nasi juga buat ayah. Tadi ibu sudah sms ayah untuk beli cap cay dan lalapan di luar. Tapi ibu pesan biar ayah nggak usah beli nasi.” Lanjutnya. Setelahnya, suasana kembali sunyi. Aku memasak nasi, mie, dan telur mata sapi. Aku alergi telur.

“Ibu, besok ada pertemuan orang tua dengan wali kelas.” Kataku sambil meletakkan sepiring mie goreng dan sepiring telur mata sapi di atas meja.

Ibu melipat tepi atas buku yang sedang dibacanya lalu diletakkannya di sofa di sebelahnya. “Wah, dalam rangka apa?”

“Mira ranking dua enam, Bu. Urutan dua empat dari bawah. Nilai rapor Mira banyak yang merah. Kata wali kelas, kalau nggak masuk dua puluh besar, harus orang tua wali yang mengambil rapornya ke sekolah.”

“Memangnya Mira nggak bisa di pelajaran apa?” Ibu memutar-mutar mie-nya, seperti biasa ia tidak terlalu mempermasalahkan prestasi akademisku yang payah.

“Biologi, Fisika, Kimia, sama Matematika. Bahasa Prancis juga, sih.”

Ibu tertawa mendengar jawabanku, “Ya sudah, nanti kelas dua Mira pilih jurusan IPS.”

Bagaimana bisa? Ibu dan ayah, kan, jurusan IPA! Kok bisa-bisanya, sih, ibu bilang begitu?

“Iya, Mira nanti kalau besar mau jadi pelukis.” Tidak peduli apapun yang akan dibilang ayah nantinya, batinku.

Ibu tertawa sampai batuk-batuk, “Air, air...” ujarnya sambil menepuk-nepuk dada. Aku pergi ke dapur untuk mengambil dua gelas air.

“Walau sebenarnya Mira mau jadi seperti ayah,” Jawabku sambil menyerahkan segelas air kepada ibu, “Kerja di kantor, di ruang kerja juga serius baca-baca buku tebal. Dan ayah kelihatan menyukai apa yang dia kerjakan. Sampai pulang malam karena itu pun, nggak jadi masalah buat Ayah. Ayah hebat.”

Lagi-lagi ibu tertawa mendengarkan penjelasanku. “Yang bisa menjadi seperti ayah cuma ayah sendiri. Nggak ada seorang pun di dunia ini yang bisa jadi orang lain selain dirinya sendiri. Coba bayangin kalau yang menjadi Mira itu bukan Mira, apa Mira masih seperti Mira yang sekarang?”

Dengan garpu masih tergantung di udara, aku menatap tubuhku sendiri atas-bawah. Coba kalau idola di sekolahku yang jadi aku, mana mungkin dia jadi idola sekolah. Kurus dan tinggal tulang, rambut berminyak, muka pucat. Mirip zombie. Terus, kalau juara umum di sekolahku punya otak seperti aku yang cuma suka mengkhayal dan menulis cerita, menggambar komik, menyanyi dan joget-joget aneh di kamar, mana mungkin dia jadi juara umum paralel satu sekolah! Tapi kalau aku yang jadi mereka, mana mungkin aku bahagia dengan jadi seperti mereka! Amit-amit.

“Ayah, kan, nggak punya jiwa seni samasekali. Ngambar saja nggak bisa. Ayah paling cuma bisa melihat gambar preparat di bawah mikroskop. Pokoknya ayahmu pasti nggak bisa kritik lukisan Mira, deh, kalau nanti Mira punya kesempatan ngadain pameran di galeri.”

Tiap kali mengobrol personal begini dengan ibu, rasanya aku jadi tidak punya pegangan. Orangtua biasanya punya patokan pasti yang harus dicapai oleh anak-anaknya. Dan ini, sepertinya kalau aku tidak menjadi apa-apapun takkan menjadi masalah besar.

“Setiap orang punya perannya sendiri.” Tambah ibu seolah bisa membaca pikiranku.

“Kalau gitu, harusnya yang tadi masak mie itu ibu.” Keluhku.


“Kalau Ibu yang masak, jadinya nggak akan seenak buatan Mira, dong. Jadi gimana tadi di sekolah?”

Mendengar kata sekolah, yang teringat bukan tentang mata pelajarannya, tapi cowok itu. Uh, aku tak mungkin cerita pada ibu. Nanti ibu pasti akan bilang kalau cowok mengesalkan itu memang punya perannya sendiri untuk hidup sebagai cowok usil yang tidak tahu malu.

“Fisikaku remed lagi, Ibu. Ah, yang ranking satu aja juga nilainya ngepas, enam tujuh.”

Ibu mengangguk seolah paham, “Terus nilai Mira berapa?”

“Tujuh belas.” Jawabku sambil meringis. Tapi ada beberapa orang di kelasku yang nilainya masih di bawahku, kan? Lagipula aku memang tidak pernah menyukai pelajaran itu.

Ibu mengelus rambutku. Ah menyebalkan, ibu makan cepat sekali, sekarang pun mie-nya sudah habis. Dan mie-ku masih tertinggal sepiring penuh. Nanti pasti aku akan dibiarkan bicara dengan angin dan dia kembali berkonsentrasi dengan bacaannya. Oh, tidak!

“Coba kamu baca buku-buku ini.” Ibu memberikan beberapa buku tebal kepadaku.

Aku menarik nafas sambil memutar bola mata, tentu saja. Aku tidak pernah punya hobi baca buku. Buku yang bisa kubaca hanya komik. Komik, manga, novel grafis, manga, komik, novel grafis.

“Semua hal itu harus seimbang, Mira. Sekarang Mira harus tahu semua hal. Supaya Mira bisa benar-benar tahu hal apa yang Mira benar-benar sukai dan ingin tekuni.”

Aku melihat-lihat sampul buku-buku yang diberi ibu. Buku tentang pohon ilmu pengetahuan, Epistemologi, Filsafat Ilmu, ...tokoh-tokoh besar dunia, tokoh-tokoh kreatif, tokoh-tokoh pemenang nobel, “Lalu kalau ternyata peran Mira hanya sebatas jadi pelukis yang tidak terkenal?”

“Kalau begitu Mira memilih jalan hidup yang keliru.”

“Ibu dan ayah juga tidak terkenal.” Cetusku asal.

“Berarti ibu dan ayah sudah salah memilih jalan hidup.” Jawaban ibu santai sekali!

Aku terkesima. “Lalu ibu tidak masalah dengan itu?”

“Kalau seseorang benar-benar menyukai hal yang dia lakukan, dia pasti akan melakukan yang terbaik dalam hal itu. Tapi kalau dia benar-benar sangat menyukai bidangnya, menjadi terkenal itu bonus.”

Kepalaku sakit, “Ibu, mie-ku nggak habis. Aku pusing. Aku ke kamar, ya.”

“Jalan hidup yang benar itu... pilihan yang akan mengantarkan banyak hal-hal positif lainnya ke dalam hidup seseorang. Sepanjang apapun perjalanan yang ditempuhnya untuk itu.” Ujar ibu ketika aku berjalan ke arah kamar.

Dari dalam kamar, kudengar suara ibu sedang mencuci piring. Kupeluk bantalku. Apa aku akan bisa sehebat Pablo Picasso? Atau Affandi?

Tapi aku tidak punya bakat besar apa-apa lagi selain melukis. Dan juga, tidak ada orang-orang yang tahu kalau aku bisa melukis apabila aku tidak memberitahu terlebih dulu. Itu pun hanya segelintir teman dekatku saja yang tahu mengenai kesukaanku melukis. Guru-guru di sekolah hanya mengenalku sebagai murid biasa yang selalu mendapatkan nilai jelek di mata pelajaran IPA. Di kelas bahasa pun aku tidak begitu bagus, padahal aku suka mengarang cerita.

Apa, sih, mauku sebenarnya? Aaaa, aku harus hebat di bidang ini!

Aku bangkit dari ranjangku dan menuju ke arah meja belajar. Kunyalakan lampu belajarku dan aku mulai menggambar.

Aku menggambar banyak gambar dalam beberapa menit. Namun kupikir, apa bedanya gambarku dengan gambar orang-orang lain? Kalau ini semua hanya masalah jam terbang, lalu kenapa ada orang jenius yang di usia mudanya saja sudah bisa menggambar dengan brilian? Aku tidak boleh iri! Tapi bakatku di mana, sih, sebenarnya?! Kalau masalah kesabaran, aku hanya memboroskan waktuku dengan hal ini, kan? Sekolahku kubuat berantakan.

Seharusnya aku serius seperti si ranking satu. Bahkan dari kelas satu pun dia sudah ikut bimbingan belajar untuk masuk universitas. Seharusnya aku seberani top model di sekolahku, ikut banyak ajang lomba dan menang. Kalau aku laki-laki, para gadis sepertiku pasti sudah menyebut diriku pecundang!

Tapi aku tidak boleh mengeluh! Kalau aku sudah suka, apapun risikonya harus kuambil.

Ponselku bernyanyi dan lampunya berkedip-kedip. Oh, nomor ponsel ayah.

“Iya, Ayah? Tumben telepon ke ponsel?”

“Apa Ayah nggak salah lihat, ya?” Ayah justru balik bertanya. Aku tidak mengerti.

“...salah lihat apa?”

“Nama Mira, kok, bisa ada di ajang pameran yang bekerjasama dengan perusahaan Ayah.”

Namaku ada di ajang pameran yang berkerjasama dengan perusahaan pemerintah asing yang bergerak di bidang Mikrobiologi?

Sejenak aku memutar isi kepalaku. Tapi aku tahu itu sama dengan membiarkan Ayah boros pulsa. “Mira nggak mengerti.”

“Ada dua puluh tiga lukisan atas nama Mira Cahya Puspita.”

Namaku? Tapi jumlah lukisan sebegitu banyak, siapa yang mengirim? Aku tidak pernah melukis di sembarang tempat. Aku jarang melukis di kanvas... apalagi dalam jumlah sedemikian banyaknya.

“Cetakan digital. Aslinya gambar sketsa ukuran A3.” Lanjut ayah.

Ugh. Itu gambarku. Tiga bulan lalu aku iseng ikut teman sekelasku masuk klub melukis di sekolah. Tiga kali pertemuan setiap minggu. Jadi dua puluh tiga gambar tentu adalah jumlah yang wajar dan berarti gambar-gambar itu sudah melalui proses seleksi. Dan itu gambarku!

Aku berteriak girang. “Iya itu gambarkuuuu!! Tapi bagaimana bisa? Maksud Mira, kok gambar Mira masuk ke sana?”

“Lho, seharusnya kan Ayah yang tanya. Sejak kapan Mira suka melukis?”

Aduh. Ayah mana tahu aku suka melukis. Yang tahu, kan, hanya ibu. Lukisan-lukisanku tidak pernah menetap di dalam kamarku atau di rumah. Setelah kuselesaikan, lukisan-lukisanku kemudian langsung kujual ke pemilik galeri dekat sekolahku dengan harga anak sekolah. Ayah yang IPA tulen mana mau menerima anaknya punya jiwa seni. Tapi ini...? Ah, ayah sudah tahu!

Aku menggigit permukaan bibirku. “Mira nggak pernah dapet beasiswa dari sekolah, Ayah. Mira membiayai sekolah Mira sendiri dengan hasil jualan lukisan. Mira nggak pernah jadi tiga besar di kelas. Mira sama Ibu sudah bohong sama Ayah. Soalnya Mira...”

Tiba-tiba pembicaraan terputus. Ayah pasti marah.

Tapi aku senang sekali karena... hei, apa ini bukan keajaiban namanya? Baru saja aku merasa aku tidak akan menjadi apa-apa dengan bakat melukisku... dan sekarang lukisanku dipajang di ajang pameran berskala internasional! Berkaitan dengan bidang ayah pula! Berarti bakatku bisa mensejajarkan kemampuanku dengan ayah.

Air mata mengalir di pelupuk mataku. Rasa bahagia yang muncul seperti aku telah berlari sejauh ratusan kilometer. Semoga ini bukan mimpi. Tiba-tiba aku merasa lelah sekali dan ingin tidur. Kubenamkan wajahku di atas buku sketsaku. Kalau mimpi, aku tidak akan mau bangun. Ini mimpi terindah.

**

“Mira, Nak...” Ibu membelai rambutku. “Mira, ayah mau bicara.”

Kuusap mataku. Rasanya masih mengantuk. Ibu menggenggam tanganku dan tersenyum. Aku masih mengenakan seragam sekolah sore tadi. Kulirik jam dinding di kamarku, sudah pukul sembilan malam.

Ayah duduk di kursi di meja makan. Tadi sore ibu bilang dia hanya memesan cap cay dan lalapan untuk dibeli ayah sebagai makan malam kami malam itu. Tapi di atas meja makan ada banyak jenis makanan. Dan ada kue tart. Siapa yang berulang tahun?

“Ayah ulang tahun?” tanyaku takut-takut. Berarti kalau ini hari ulang tahun ayah, setidaknya ayah tidak akan marah atas masalah di telepon sore tadi. Dia akan menahan kemarahannya sampai besok pagi. Waktu dulu aku berulang tahun dan kesal dengan hadiah dari pamanku, ayah yang bilang kalau orang yang sedang berulang tahun tidak boleh memiliki perasaan negatif di hari ulang tahunnya.

“Anggap saja semua hidangan ini sebagai hadiah untuk kejujuran Mira.” Jawab ibu. Ayah tidak menjawab apa-apa. Sepertinya dia menunggu penjelasan dariku.

Aku duduk di kursi di hadapan ayah. Ibu duduk di sebelahku, masih menggenggam tanganku.

“Soalnya ayah selalu bilang ingin punya anak yang juara kelas. Ayah selalu cerita tentang masa sekolah ayah yang jadi juara kelas dan mendapatkan beasiswa dari SD sampai kuliah.” Kucoba menjelaskan apa yang kupikirkan tentang ayah selama ini. “Mira nggak mau mengecewakan ayah. Mira memang nggak mampu menjadi seperti Ayah. Mira nggak bisa menjadi juara kelas dan dapat beasiswa, tapi Mira bisa membiayai sekolah Mira sendiri.”

Ayah masih diam. Memang ayah tersenyum dan senyumnya selalu terlihat manis untukku. Tapi aku tahu aku telah mengecewakannya selama ini.

“Ibu memang bilang kalau Ayah nggak akan marah kalau Mira jujur. Mira nggak bisa di semua mata pelajaran IPA di kelas, Ayah. Mira juga nggak begitu bagus di IPS dan Bahasa. Mira cuma bisa menggambar, menyanyi, mengarang cerita. Tapi Mira nggak bisa berprestasi di bidang itu. Mira mau Ayah melihat Mira memiliki prestasi yang sama seperti Ayah. Jadi juara kelas dan mendapatkan beasiswa.” Sambil menjelaskan itu, air mata jatuh di pipiku. Rasanya sudah lama sekali aku menyimpan kebohongan ini. Selama ini rasanya sakit sekali membiarkan orang yang begitu senang mendengarkan prestasiku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak tahu kalau semua prestasi itu palsu dan aku telah berbohong.

“Ayah tahu.”

Dan Ayah hanya menjawab sesingkat itu meski aku menunggu lanjutannya selama sekian puluh menit setelahnya.

“Ibu juga tahu, Mira. Ibu yang mengandungmu.” Genggaman tangan ibu semakin erat.

“Mira nggak bisa jadi seperti ayah. Mira nggak seperti teman-teman Mira yang lain yang populer karena kecantikannya dan kecerdasannya. Mira nggak bisa membuat Ayah bangga.”

“Ayah tahu, Mira.”

“Mira nggak cantik seperti ibu, Ayah. Kalau ini faktor genetik, hanya pelajaran Genetika di kelas yang membuat Mira tertarik, Mira selalu bikin gambar peta silsilah keluarga. Kenapa Mira bisa suka seni, padahal nggak ada satu pun orang di keluarga kita yang menekuni bidang seni, kenapa Mira nggak pintar di akademis, padahal ayah dan ibu jago di bidang itu... Mira...”

“Mira, sekarang Ayah balik, bagaimana kalau Mira itu anak yang sangat baik sementara Mira punya Ayah seorang pecandu narkoba? Apa Mira nggak akan menganggap Ayah sebagai Ayah?”

Aku menatap mata ayah lekat.

“Seperti itulah, Mira. Ayah dan Ibu mencintaimu, seperti apapun Mira. Seandainya pun Mira nggak tumbuh seperti sekarang dan tetap menjadi gadis kecil yang dulu selalu minta Ayah gendong ke mana-mana, Ayah tetap menyayangi Mira seperti ini. Ayah bangga sekali punya anak yang jago melukis.” Ayah memotong kue tart di atas meja dan menaruhnya di piring kecil, menyerahkannya kepadaku.

“Tapi nanti, Ayah mau punya cucu yang jadi ilmuwan seperti Ayah.” Canda ayah.

Ibu tertawa mendengarnya dan bilang, “Kalau tidak salah Ibu pernah membaca kisah cerita seperti ini, entah di mana. Dan di akhir cerita, si anak memang memberikan cucu seorang ilmuwan.”

Giliranku dan ayah yang tertawa. Bersamaan kami menyahut, “Amin.”

***

CS#461
19/06/2010 10:16:30

Cetak Halaman Ini