Sunday, May 23, 2010

[Cerpen] Siklus Bumi

Sesuatu bergerak dari dasar reruntuhan.

Tuhan, rasanya sepi sekali.

Orang-orang yang dia kenal tiba-tiba tidak ada di sekelilingnya. Bahkan dirinya sendiri tiba-tiba tidak dia kenali, entah siapa sebenarnya. Dia tengkurap lemas di bawah bebatuan, darah mengucur dari segala penjuru tubuhnya. Dengan nafas terengah dia mencoba bergerak namun anggota tubuhnya tak dapat dia gerakkan. Dia merasa telah mati.

Dipejamkannya matanya, rasa perih datang dari tiap jengkal anggota tubuhnya dan menolak perintahnya untuk memejamkan mata. Maka kemudian dia terjaga dan tidak melakukan sesuatu halpun selain mencoba menjangkau pemandangan jauh di depan matanya. Sejauh apa yang dia lihat, tidak ada tanda-tanda kehidupan didapatinya di sekitarnya.

Mayat-mayat bergelimpangan, dia bahkan tidak tahu dia berada di mana.

Mayat-mayat yang tidak dikenalnya dan tempat yang begitu amat asing.

Langit kelabu, asap tertebar, tubuhnya masih menindih bebatuan dan bebatuan masih menindih tubuhnya. Adalah tiada harapan lagi untuk bertahan hidup. Namun demikianlah dia tetap hidup bahkan setelah rasanya telah berminggu-minggu lamanya dia terjerembab tak berdaya di sana. Logikanya, seharusnya dia telah mati. Namun hujan ternyata turun setiap hari. Sehingga dia bisa mengandalkan air hujan agar lidahnya tetap basah, sehingga dia bisa memakan mentah-mentah daging mayat-mayat sesamanya yang mengapung ke arahnya dibawa oleh limbah air hujan.

Pada suatu hari, tiba-tiba reruntuhan yang ditindihnya bergerak, mengguncang-guncang tak karuan. Lalat-lalat yang awalnya bermukim pada mayat-mayat yang membusuk di sekitarnya kemudian beterbangan ke langit, berputar-putar dari atas sana sejauh apa yang dia tangkap dengan matanya yang sudah tak awas lagi. Sisanya adalah belatung-belatung yang masih membungkusi tulang-tulang separuh daging tersebut. Dia sendiri terkena pengaruh juga. Dia terpelanting, merosot ke berbagai arah.

Kalau ada sesuatu yang dia syukuri dari guncangan yang mengejutkan itu adalah bahwa dia tiba-tiba sudah tidak tertimbun lagi oleh bebatuan. Adalah ketika dia ternyata kembali bisa mengerakkan anggota tubuhnya setelah untuk beberapa saat seharusnya sangat mungkin mereka mengalami disfungsi. Yang ternyata tidak.

Bahkan ketika dia tidak menemukan manusia lainnya berada di sekitarnya, dengan bisa kembali bangkit dan berdiri tegak sudah membuat dadanya penuh. Perasaan yang diduganya barangkali juga dialami oleh setiap bayi yang baru terlahir ke muka bumi.

Sesendiri inikah rasanya menjadi manusia pertama di muka bumi?

Luka-lukanya akibat kejadian ini sudah pasti akan meninggalkan bekas. Barangkali hal yang sama juga dialami manusia pertama di muka bumi. Dengan bekas-bekas luka yang tersisa di sekujur tubuh akibat dari pemendekan ekor, pemotongan sayap, patahnya tanduk... dia, sang manusia pertama, masih tetap berjalan tegap di atas bumi. Tapi tunggu, tiba-tiba terlintas di kepalanya, jadi apakah manusia adalah hewan yang tiba-tiba berubah menjadi manusia, menjadi dirinya yang sekarang? Hewan yang tiba-tiba terkucil dari seluruh keluarga hewannya dan tidak dikenali lagi bahkan oleh orangtua-hewannya sendiri? Hewan yang kemudian karena nalurinya untuk bertahan hidup, masih akan berjalan tanpa kesadaran atau sekedar dengan kesadaran palsu. Berketurunan, yang lantas bermigrasi dari Afrika kemudian ke seluruh benua.

Apa yang telah terjadi yang menyebabkan dunia runtuh dan setiap orang binasa kecuali dirinya. Dia mencoba mengingat-ingat. Dia tidak lupa segalanya. Dia yakin dia pernah dan masih memiliki identitas.

Dan hal terakhir yang ditemukannya masih tersimpan di kepalanya adalah dirinya yang berganti piyama dan mengambil tempat untuk tidur bersisian dengan istrinya yang telah lebih dulu terlelap. Hal terakhir yang dilakukannya adalah memadamkan lampu meja di sisi ranjangnya. Hal terakhir yang dirasakannya adalah tangan dingin istrinya yang beberapa saat kemudian menggenggam erat tangannya di ruang ber-AC itu.

Maka seharusnya ketika dia terbangun di reruntuhan itu, reruntuhan yang telah ditinggalkannya di belakang adalah reruntuhan kamarnya. Maka seharusnya salah satu mayat yang ada di sana adalah mayat istrinya. Namun mengapa mayat-mayat itu tercampur aduk satu sama lain? Bukankah di rumahnya hanya ada mereka berdua, dia dan istrinya.

Rasanya percuma berjalan terus menerus. Yang dia temukan hanya mayat-mayat yang membusuk terbenam lumpur, dan sisanya adalah amis yang menyengat. Juga reruntuhan. Juga langit yang di mana-mana masih sama saja hitam kelabunya. Dan yang dia lakukan dengan terus berjalan hanyalah untuk berulang-ulang kembali menginjak hal-hal itu. Mayat-mayat, reruntuhan bumi, dan langit yang hitam membayang pada lumpur yang kental.

Dia tidak percaya dunia yang sebelumnya selalu dipenuhi merdunya alunan musik dan alam yang begitu indah dan sastra yang bercerita tentang kehidupan semesta dengan rendah hati tidak dapat menyelamatkan dunia dan umat manusia. Dia tidak percaya kejahatan dan ketamakan manusia yang tercela mampu mengalahkan kebaikan dan kemuliaan para manusia penjaga semesta.

Kalau dunia memang harus berakhir, seharusnya saatnya bersamaan dengan semesta yang berakhir. Bersamaan dengan tiadanya sang pencipta. Tetapi semesta tidak mesti berakhir dan sang pencipta tidak mesti tiada. Bukan?

Bahkan samudera yang membentang seluas cakrawala langit pun tidak lagi sebiru di masa lalu. Bangkai ikan-ikan besar terdampar di pasiran pantai. Menemukan banyak hewan-hewan yang juga mati, seolah benar-benar menunjukkan bahwa saat itu sudah tidak ada lagi kehidupan yang tersisa selain dia. Tidak ada burung beterbangan di langit, tidak ada semut yang mengintai gula-gula. Tapi bukankah belatung juga lalat masih dapat dihitung sebagai bentuk kehidupan? Seandainya saja dia bisa berbicara dengan bahasa Lalat dan Belatung.

Kalau saja dia hanya bermimpi, dia tidak mengerti mengapa mimpinya tidak kunjung berakhir. Bagaimana perasaan para dinosaurus yang tersisa ketika kaum mereka sudah hampir punah? Apakah seperti ini rasanya? Apakah para dioesius itu sama tidak putus asanya seperti dirinya untuk menemukan dioesius lainnya, yang dapat mereka ajak menciptakan keturunan baru, meski itu artinya mereka akan mengkhianati pasangan awal mereka?

Tapi kalau hal-hal di dunia ini tidak diciptakan berpasangan, berarti tidak akan ada yang berlangsung di muka bumi. Maka berarti akan ada seseorang yang menjadi pasangannya bahkan di sisa-sisa reruntuhan bumi yang baginya masih seperti mimpi, maka dengan dia dapat menemukan pasangannya itulah kehidupan akan berlanjut.

Maka setelah bertahun-tahun pencarian yang tanpa akhir, dan ketika bumi berubah gersang, di saat seluruh perairan mengering seolah tersedot ke inti bumi, dan masih tak ada tanda-tanda kehidupan, seharusnya dia menyerah dan berhenti melakukan perjalanan. Membiarkan dirinya turut mati bersama mereka yang telah mati sebelumnya.

Seiring waktu berlalu, dia melupakan bagaimana caranya berbicara dan terutama bagaimana caranya berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Dan ketika dia telah akan melupakan segalanya, sesosok makhluk yang tidak dia kenali menghampirinya dan menyatu dengan tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, lantas mereka membelah, menjadi bentuk-bentuk baru.#23:50:14

p.s.: i must have been drunk enough tonight for i make sort of a mad piece.
Cetak Halaman Ini

[Trans] Sang Pangeran Katak

Pada suatu senja yang cerah, seorang putri muda mengenakan topi dan sandal bakiaknya, lalu berjalan-jalan sendiri ke arah hutan. Dan saat dia menemukan mata air yang teduh dengan setangkai bunga teratai tertanam kokoh di sana, dia lantas duduk dan beristirahat sejenak memperhatikan keindahan kolam tersebut. Ada sebuah bola emas di tangannya, permainannya sejak kecil, dia selalu melemparkannya ke udara dan menangkapnya lagi ketika bola tersebut jatuh.

Saat itu dia melemparnya terlalu tinggi hingga dia tidak bisa menangkapnya ketika bola tersebut kembali ke arahnya, sampai bola tersebut jatuh ke tanah dan bergelinding, dan akhirnya terbenam di kolam. Sang putri melihat ke kedalaman mata air tersebut mencari-cari bolanya, tetapi nampaknya bola tersebut telah jatuh ke dasar kolam. Begitu dalamnya sehingga tidak terlihat oleh pandangannya. Sang putri mulai menangis, “Sial! Kalau saja aku bisa mendapatkan bola itu lagi, aku akan memberikan semua pakaian terindahku dan perhiasanku, bahkan segala hal yang aku miliki.”

Sementara dia berkata begitu, kepala seekor katak muncul dari dalam kolam, bertanya kepada sang putri, mengapa dia menangis.

“Sial,” maki sang putri, “apa yang bisa kau lakukan untukku, katak dekil? Bola emasku terjatuh ke mata air.”


Katak itu menjawab, “Aku tidak mengharapkan mutiaramu, dan perhiasanmu, dan pakaian mewahmu; tetapi kalau kau mau mencintaiku, dan mengijinkanku tinggal bersamamu dan makan dari piring emasnmu, juga tidur di ranjangmu, aku akan mengambil bola emasmu untukmu.”

“Ah, omong kosong,” pikir sang putri, “apa yang dibilang oleh katak ini! Dia bahkan tidak akan bisa keluar dari kolam untuk mendekatiku, meski mungkin dia bisa mengambil bolaku kembali. Lebih baik kubiarkan saja dia menyampaikan apa yang dia inginkan.”

Maka sang putri bilang pada sang katak, “Baiklah, kalau kau bisa mengambilkan bolaku, aku akan mengabulkan segala permohonanmu.”

Katak tersebut lalu menenggelamkan kepalanya, menyelam ke kedalaman air; setelah beberapa saat dia muncul kembali, dengan bola emas sang putri di dalam mulutnya, kemudian dilemparnya ke arah tepi kolam.

Segera setelah sang putri melihat bolanya, dia berlari untuk mengambilnya; saking bahagianya mendapati bolanya kembali, sehinga dia tidak ingat lagi tentang si katak. Dia berlari kembali pulang ke istana secepat yang dia bisa.

Sang katak berteriak meminta sang putri untuk kembali, “Tunggu, putri, bawalah aku seperti apa yang kau janjikan.”

Tetapi sang putri tidak berhenti untuk mendengarkan permohonan sang katak.

*
Keesokan harinya, ketika sang putri sedang menyantap makan malam, dia mendengar suara aneh – tap, tap, plas, plas – seperti sesuatu datang melangkah di tangga marmer, dan beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan dari arah pintu, dan suara kecil meringis berkata:

“Buka pintunya, putriku sayang,
Buka pintunya untuk cinta sejatimu di sini!
Dan ingat janji yang kita sepakati,
Pada air mancur, di bawah naungan hutan hijau”

Sang putri berlari ke arah pintu dan membukanya, di sana dia melihat si katak yang sebetulnya sudah dia lupakan. Sang putri sangat ketakutan, dia mengunci pintunya secepat kilat dan kembali ke dalam.

Sang raja, ayahandanya, melihat ada sesuatu yang membuat sang putri takut, menanyakan kepada sang putri ada apakah gerangan.

“Seekor katak menjijikkan,” ucapnya, “ada di pintu, dia yang mengembalikan bolaku sewaktu jatuh ke dasar kolam. Aku bilang dia boleh tinggal bersamaku di sini, kupikir dia tidak akan bisa keluar dari kolam tempatnya tinggal; tetapi dia di pintu, dan dia ingin masuk.”

Sementara sang putri masih bercerita, si katak mengetuk lagi di pintu dan berkata,

“Buka pintunya, putriku sayang,
Buka pintunya untuk cinta sejatimu di sini!
Dan ingat janji yang kita sepakati,
Pada air mancur, di bawah naungan hutan hijau”

Sang raja menasihati putrinya, “Karena kau telah berjanji maka kau harus menepatinya; jadi ke sanalah dan biarkan dia masuk.”

Sang putri melakukannya, katak tersebut masuk ke dalam ruanan, lurus ke dalam – tap, tap plash, plash – dari bawah ke arah atas, hingga dia dapat menjangkau tempat sang putri duduk.

“Angkat aku ke kursi,” ujarnya kepada sang putri, “dan biarkan aku duduk di sebelahmu.”

Segera setelah itu, sang kotok berujar, “Letakkan piringmu lebih dekat kepadaku, sehingga aku bisa makan dari sana.”

Sang putri melakukannya, dan ketika si katak telah makan sebanyak yang dia sanggup, dia berujar lagi, “Sekarang aku lelah; bawa aku ke atas; letakkan aku di ranjangmu.” Dan sang putri, meskipun kesal, membawa si katak di dalam tangannya, dan meletakkannya di bantalnya di ranjang tempatnya tidur sepanjang malam.

*

Pada tengah malam, si katak loncat dari ranjang, menuruni tangga, dan keluar dari istana.

“Nah, sekarang,” pikir sang putri, “akhirnya dia pergi, dan aku tidak akan menemukan masalah lagi dengannya.”

Tetapi sang putri salah, di saat malam datang lagi, dia mendengar suara loncatan dari arah pintu dan si katak datang kembali, berkata:

“Buka pintunya, putriku sayang,
Buka pintunya untuk cinta sejatimu di sini!
Dan ingat janji yang kita sepakati,
Pada air mancur, di bawah naungan hutan hijau”

Sang putri membukakan pintu dan si katak masuk, kembali tidur di bantalnya seperti sebelumnya, hingga pagi menjelang. Sampai hari ketiga, si katak masik melakukan hal serupa. Tetapi ketika sang putri terbangun keesokan harinya, dia dibuat kaget, bukannya katak, melainkan seorang pangeran tampan, menatap ke arahnya dengan mata terindah yang baru sekali itu dilihatnya seumur hidupnya, berdiri di bagian atas ranjangnya.

Dia bilang kepada sang putri kalau dia telah dikutuk oleh peri jahat, yang lalu mengubahnya menjadi katak; dan dia telah ditakdirkan tetap seperti itu hingga seorang putri mau mengambilnya dari kolam, dan membiarkannya makan dari piringnya, dan tidur di ranjangnya selama tiga hari.

”Kau,” ucap sang pangeran, “telah menghancurkan kutukan jahat itu, dan kini aku tidak punya permohonan selain kau pergilah bersamaku ke kerajaan ayahmu, aku akan menikahimu, dan mencintaimu sepanjang usiamu.”

Sang putri, tentu saja, tidak menunggu lama untuk berkata ‘iya’ atas permohonan ini. Selama mereka berbicara, sebuah kereta kencana mendekati mereka; dengan delapan ekor kuda yang berhiaskan bulu-bulu dan perlengkapan kuda berwarna emas; di belakangnya sebuah kereta kencana lainnya membawa bawahan sang pangeran, tangan kanan yang begitu setia, yang ikut meratapi nasib buruk sang tuan selama menjalani kutukannya, hingga selama itu hatinya hampir-hampir meledak melihat keadaan sang pangeran.

Mereka kemudian meninggalkan sang raja; dengan kereta kencana yang ditarik oleh delapan ekor kuda. Mereka begitu bersukacita tinggal di kerajaan sang pangeran, di sana mereka hidup bahagia selama bertahun-tahun lamanya.


#

Sumber asli:

http://www.eastoftheweb.com/short-stories/UBooks/FrogPrin.shtml
Cetak Halaman Ini

[Cerpen] Bocah Adopsi Paman dan Bibi

Belakangan ini, setiap orang bertanya kepadaku.

Sebenarnya aku tak begitu mengenal mereka. Namun ketika mereka melewati pagar rumahku yang pendek dan melihatku sedang menyirami kebun, mereka lantas berhenti dan menyapa. Kemudian terjadilah percakapan yang senada.

Apa kau ingat gadis yang diadopsi tiga puluh tahun lalu itu? / Yang mana, ya? / Itu, yang diadopsi karena keluarga itu tidak bisa memiliki keturunan. / Oh, maksudmu yang kemudian keluarga itu mengadopsi dua orang anak? / Iya, anak perempuan dan laki-laki. Jadi kau masih ingat, kan? / Barangkali. Tapi memangnya ada apa dengan mereka?

Maka kemudian mereka akan menceritakan hal yang serupa.


Awal kisah ini telah lama lewat begitu saja. Waktu itu aku masih belia. Masih adalah seorang gadis remaja yang mengikuti masa tenarnya rambut dikeriting. Paman dan bibi yang menanam mangga di depan rumahnya dan sering aku panjati bersama teman-temanku ketika muda kudengar memang sudah lama ingin memiliki keturunan.

Waktu itu kami suka mampir ke rumah mereka dan duduk di teras rumah sambil makan rujak mangga bersama dengan bibi. Aku lupa nama bibi itu, tapi memang kami selalu memanggilnya Bibi saja, tanpa embel-embel yang lain lagi. Mungkin karena dia begitu menginginkan memiliki seorang anak maka dia selalu menerima kami dengan tangan terbuka. Pagar rumahnya tidak pernah dikunci.

Sepulang sekolah, aku seringkali lebih dulu singgah ke rumah bibi dan paman daripada pulang ke rumahku sendiri. Aku pun tak heran saat teman-teman seusiaku melakukan hal yang sama. Tas-tas plastik berisi buku sekolah yang kami bawa akan kami taruh pada meja bundar di teras, lalu kami berlomba-lomba memanjat pohon mangga.

Salah seorang temanku yang perawakannya mungil dan gerakannya selincah kera adalah yang biasanya mengumpulkan mangga paling banyak. Aku dan bibi biasanya membuat bumbu untuk rujak. Saat itu, kata bibi, paman sedang bekerja di kantor. Paman bekerja di kantor penyiaran berita.

Setiap hari selalu seperti itu. Tidak pernah ada pertengkaran terjadi di rumah paman dan bibi pemilik pohon mangga besar itu. Mereka hidup rukun bahkan sampai aku pindah dan tidak lagi menjadi tetangga mereka.

Waktu itu mereka sudah akan hampir menikah selama lima belas tahun saat aku telah lulus sekolah menengah dan berkemas akan pindah melanjutkan kuliah ke luar negeri. Mereka menikah muda namun setelah lima belas tahun berumah tangga, mereka masih belum juga dikaruniai keturunan. Mereka tidak memutuskan untuk berpisah, aku begitu kagum akan keputusan ini.

Aku tak heran. Paras bibi begitu ayu dan bercahaya layaknya bulan purnama bahkan di hari-hari saat wajah orang-orang lain nampak begitu muram. Paman pasti tidak akan sanggup melepas bibi. Bibi juga tidak akan sanggup melepas paman. Kurasa tidak akan ada lagi laki-laki sesabar paman yang bisa bibi temukan di luaran sana.

Maka karena itu, kabarnya, setelah aku pindah mereka kemudian mengadopsi dua bayi dari rumah sakit. Bayi laki-laki dan perempuan. Aku bersyukur dan membayangkan betapa bahagianya paman dan bibi ketika itu.

Ketika itu, aku tak menyangka ternyata ada kutukan yang dibawa oleh si bayi perempuan. Aku baru memikirkannya akhir-akhir ini.

Sudah tiga puluh tahun berlalu setelah saat itu. Aku tentu sudah tidak bisa melihat paman dan bibi duduk bersama-sama di teras lagi. Terakhir kali aku berkunjung ke rumah mereka saat aku pertama kali kembali ke kota kelahiranku ini, bibi sedang duduk di kursi roda dan ketika itu dia tidak bisa menggerakkan sejengkal pun dari bagian tubuhnya lagi. Lain halnya dengan paman. Prostatnya membengkak sehingga tidak bisa bangun dari tempat tidur.

Aku sedih ketika melihat putri yang paman adopsi. Sebelum menjenguk paman dan bibi di rumahnya, aku sudah mendengar banyak desas-desus yang tidak begitu menyenangkan tentang gadis itu.

Jadi secara singkat, sebelum berkunjung ke sana, tetangga-tetanggaku sudah menceritakan kisah tiga puluh tahun yang menjadi bagian hidup dari paman dan bibi. Kisah yang tentu saja tidak kuketahui sebelumnya.

Dan setelah mengetahui kisah itu, kusimpulkan bahwa gadis yang diadopsi oleh paman dan bibi itu bukanlah manusia. Banyak orang berpendapat sama denganku.

Tiga puluh tahun lalu, paman dan bibi mengadopsi gadis itu dari rumah sakit. Namanya sederhana, orang-orang memanggil gadis itu Alya.

Di saat Alya berusia lima belas tahun, dia berhenti sekolah. Ketika itu dia hamil. Lantas beberapa saat kemudian dia melahirkan tanpa seorang suami yang mengaku sebagai ayah dari putrinya. Setahun kemudian, dia melahirkan lagi. Begitu seterusnya hingga dia memiliki lima orang anak. Anaknya yang pertama, namanya Ayu, lima belas tahun kemudian, meniru jejak yang sama. Ayu hamil dan telah memiliki seorang anak di usia lima belas.

Warga sekampung geger ketika mengetahui Alya menjual anaknya yang paling bungsu. Konon kabarnya bayi itu dijual seharga tiga juta rupiah. Bayi itu dijual untuk membiayai persalinan Ayu dan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Aku antara menganggap kisah ini sebagai lelucon dan ingin muntah ketika mendengarnya. Ketika kisah tiga puluh tahun itu berhasil diselesaikan intisarinya, aku bertanya-tanya siapa pria yang menghamili Alya hingga bahkan ketika dia memiliki lima orang anak pun dia masih belum bersuami. Warga di kampungku awalnya mempertanyakan hal itu jua, namun mereka dibuat bosan dengan rasa penasaran mereka sendiri.

Aku ingin menduga bahwa kisah ini hanya dongeng tetangga sinis yang diceritakan turun temurun, tetapi setiap kali melihat Alya dan Ayu menggendong anak-anak mereka berjalan-jalan dan melintas di depan rumahku, rasa mual yang sama tetap kurasakan.

Bahkan ketika aku pagi ini sedang mengobrol dengan tetanggaku, Alya berjalan bersisian dengan Ayu, dia menggendong cucunya dengan tali gendong. Ayu menuntun adik-adiknya di sisinya. Tinggi Alya dan Ayu sepantaran dan Alya, kulihat, sejujurnya masih mirip bocah berusia lima belas tahun yang tidak tumbuh besar.

Sampai sekarang aku masih ketakutan melihat dua bocah itu. Entahlah mereka sadar atau tidak bahwa mereka telah menjadi bahan pergunjingan warga sekampung siang-malam.#14:39:31
Cetak Halaman Ini

[Cerpen] Hujan Setiap Malam di Bulan Mei

Kucoba memperhatikan segalanya dengan lebih teliti lagi. Nyatanya segala kejadian di hidup kita selama ini tidak ada yang terurai menjadi untaian kosong. Awalnya semuanya memang mengendap tanpa kita pahami dan kemudian pada satu waktu mereka tiba-tiba meledak. Memecah belah pada suatu ketidakseimbangan. Namun bukankah lantas mereka kembali membentuk harmoni?

Yang adalah kita. Pertemuan sepasang manusia. Seperti pertemuan pasangan manusia lainnya, keberbedaan yang menyeragam. Berpencaran ke sana kemari saling mencari dan kemudian saling menemukan satu sama lain. Dua kutub yang pada akhirnya menyadari bahwa kita tercipta untuk saling melengkapi.

Ahli cinta manapun di dunia ini bisa bilang bahwa kita tidak akan jatuh cinta pada orang yang kita temui di jalan raya sekilas saja. Tetapi kita akan selalu bisa tertawa terguling-guling di lantai saat menyadari bahwa pertemuan kita dulu terjadi di jalan raya. Sekilas lalu saja.

Saat itu pada siang yang panasnya tidak menentu, kita bertemu di tikungan itu. Kau si jurnalis yang tidak pernah tahu tempat untuk meliput berita dan aku si aktivis yang selalu tidak peduli tempat tiap kali menggiring massa untuk berdemo. Kita sama-sama salah tempat saat kemudian kau duduk merokok di sana dan aku tiba-tiba berlari ke arahmu sambil membawa massa yang berlarian mengejarku dan melempariku kaleng. Salahku sehingga kau ikut juga dilempari kaleng oleh mereka.

Akan tetapi kita hanya bertemu sekilas lalu karena aku kemudian berlari melewatimu. Sementara kau masih merokok di sana tanpa menyadari bahwa seseorang yang baru saja melewatimu barangkali adalah calon istrimu di masa depan.

Kita menikah bertahun-tahun kemudian. Setelah aku pergi ke sana kemari, setelah kau berkencan dengan seribu gadis lain. Aku bahkan tak pernah menyangka kita digariskan untuk bertemu lagi. Tinggal di bawah satu atap, tidur di atas ranjang yang sama.

Tanganmu malam ini dingin sekali saat kugenggam.

Di luar hujan. Kau masih terlelap dalam mimpimu. Matamu yang terpejam seperti itu membuatku ingin tahu hal apa yang sedang kau mimpikan. Aku bisa cemburu pada siapa saja yang ada di mimpimu malam ini karena hanya di alam mimpi saja aku tidak bisa memilikimu. Tapi sudahlah, aku bisa menunggunya nanti ketika kau sudah terbangun dan kita duduk di meja makan. Aku akan selalu bisa mendengar segalanya langsung darimu. Mimpimu, masalahmu, rahasiamu.

Aku bangkit dari ranjang dan memilih untuk duduk di meja baca di pinggir jendela. Termenung di pinggir jendela sudah menjadi kebiasaanku belakangan ini, tanpa kau ketahui. Malam-malam belakangan ini tidurku tak pernah tuntas. Aku tak ingat bunga-bunga tidur seperti apa saja yang kulihat di alam mimpi. Barangkali mimpi buruklah yang selalu membuatku terjaga. Tetapi sepertinya aku bahkan tidak bermimpi samasekali.

Waktu cepat sekali berlalu. Tiba-tiba saja aku sudah merasa begitu tua. Malam-malam dengan hujannya yang lebat seperti ini, aku justru memikirkan siapa yang kelak akan mendahului mati, ataukah kau ataukah aku. Tetapi kemudian aku tiba-tiba ingat bahwa kita masih begitu muda. Kita sama-sama belum genap berkepala empat. Jadi aku tidak boleh memikirkan mengenai kematian.

Namun bukankah kita sama-sama tahu bahwa tujuan hidup kita adalah untuk orang lain. Jadi sebenarnya tidak masalah kapan saatnya kita menghembuskan nafas terakhir kita di dunia ini. Kita selalu membicarakan banyak hal-hal penting sebelum menikah. Kalau boleh jujur mungkin diskusi-diskusi itu yang membuatku mencintaimu. Aku tahu apa yang bisa kuobrolkan denganmu dan apa yang tidak. Selama ini pembicaraan mengenai kematian bukan hal yang tabu.

Meski awalnya aku selalu memikirkan tentang hidup dan mati, malam ini seperti malam-malam sebelumnya, ujungnya pikiranku selalu mengembara ke gudang pertanyaan yang sama. Apakah sebenarnya kau masih mencintaiku?

Seandainya malam ini kau tidak pulang terlalu larut Kau mungkin akan merayakan hari ulang tahunku bersamaku Mungkin kita akan makan kue tart bersama Karena aku sudah membeli kue tart-ku sendiri Aku membelinya sendiri karena aku tahu kau pasti tidak akan membelikanku tart seperti yang terjadi di tahun sebelumnya Tahun lalu aku kecewa karena aku hanya merayakan ulang tahunku bersama dengan teman-temanku di jalan raya Bersama buruh-buruh Aku bahkan tak menyadari keberadaanmu seutuhnya Saat itu kau pulang sama larutnya seperti malam ini dan mengecupku sekilas saja sambil bilang Selamat Ulang Tahun Setelah itu kau ijin tidur dan itu sangat mengecewakan andai saja kau menyadarinya

Meski tahun lalu sangat mengecewakan Ternyata tahun ini jauh lebih mengecewakan Karena ternyata kau bahkan melupakan hari ulang tahunku Tart yang kubeli pagi tadi kini berada di dalam freezer Besok ketika kau membuka kulkas untuk mengambil air minum barangkali kau baru akan ingat hari ulang tahunku

Aku hanya memilikimu di meja makan Dengan segala ceritamu yang tidak akan kau ceritakan di lain kesempatan Cerita-cerita itu selalu saja hanya bisa kudengar tiap sarapan Aku selalu bosan mengingatkan diriku sendiri bahwa kita selalu punya kehidupan kita masing-masing Kau sang jurnalis brilian dengan segala urusan kantor dan aku aktivis yang di usia senja begini masih bisa wara-wiri sesuka hati ke sana kemari Baru kusadari kini kita hidup di jalan berbeda Kita tidak salah tempat lagi Paling tidak kita tidak akan tiba-tiba bertemu di jalan raya dan saling menyapa Hai suamiku Hai istriku

Karena hal-hal itu isi pikiranku menjadi semakin rumit

Bagaimana kalau aku tidak menikah denganmu Aku selalu bisa menikah dengan pria lain yang tidak kutemui di jalan raya secara kebetulan Seharusnya bukan kamu yang kutemui waktu itu

Bagaimana kalau kita tidak saling jatuh cinta Kau seharusnya menikah dengan salah satu gadis yang kau hamili beberapa tahun sebelum bertemu denganku Gadis itu seharusnya tidak keguguran bayimu Dia seharusnya tidak putus asa menagih tanggung jawabmu untuk menikahinya Kau seharusnya bahkan tidak cerita tentang hal ini kepadaku Karena seharusnya kita tidak bertemu samasekali Seharusnya kau tidak berkencan denganku malam itu Seharusnya aku tidak menyanggupi permintaanmu untuk menonton ke bioskop Seandainya waktu itu aku tidak mabuk Aku tidak harus jatuh cinta kepadamu yang lebih memilih mengantarku pulang ke rumah daripada meniduriku di hotel Pria yang kelihatan alim di depanmu belum tentu seseorang yang tidak pernah meniduri gadis lain

Bagaimana kalau bahkan aku tidak pernah bertemu denganmu Barangkali itu lebih baik Seandainya saja hari itu aku tidak ikut berdemo Bodoh sekali aku karena memancing gara-gara sehingga dikejar massa dan membuatku berlari ke arahmu Seandainya saja hari itu kita tidak bertemu Mungkin hari-hari berikutnya tidak akan ada pertemuan lainnya Mungkin hari itu adalah pemicu takdir-takdir kita berikutnya Seharusnya aku tidur seharian di kamar dan tidak ikut berdemo

Bagaimana kalau aku tidak dibesarkan oleh keluargaku Mungkinkah aku tidak akan menjadi aktivis Seandainya aku terlahir di keluarga pemusik Barangkali aku menjadi pemusik Aku mungkin tidak terlalu kritis terhadap korupsi para pejabat tindak kriminal dan pemanasan global Kalau aku tidak menjadi aktivis Aku tidak akan ada di jalan itu siang itu Aku tidak akan bertemu denganmu

Bagaimana kalau aku tidak lahir dari rahim ibuku Aku tidak akan tumbuh besar di keluargaku sekarang Aku tidak akan mewarisi sifat idealis ibuku dan perfeksionis ayahku Aku tidak akan menyalahkan segala sesuatunya Aku tidak akan menjadi aktivis dan aku tidak akan bertemu denganmu

Mungkin seharusnya aku tidak perlu lahir supaya aku tidak akan pernah bertemu denganmu. Aku lelah mencintaimu. Hari demi hari, aku makin tidak mengerti apa hubungan kita. Tiap malam aku selalu bertanya-tanya siapa kamu yang tidur di sisiku. Mungkin ini sebabnya aku selalu terjaga belakangan ini. Barangkali aku khawatir kau tidak akan mengingat hari ulang tahunku. Dan nyatanya kau memang tidak mengingatnya. Karena itu aku merasa payah mencintaimu.

Seandainya saja hujan bisa turun setiap malam. Dengan begitu, rasa lelahku bukan benar-benar milikku lagi. Kupikir mungkin saja rasa lelahku berpindah ke titik-titik hujan di jendela.

Andai saja kau bisa dengar telepatiku malam ini. Kusarankan agar dalam mimpimu kau meminta kepada Dewa Hujan agar menurunkan hujannya setiap malam di bulan Mei ini supaya aku dapat melupakan kealfaanmu atas hari ulang tahunku.

Hujan mereda. Sepertinya segala masalahku telah sirna dan aku kembali ke ranjangku. Dengan bodohnya aku kembali tidur di sebelahmu. Besok pagi kita akan terbangun dan aku akan mendengarkan ceritamu di saat sarapan. Mungkin sebenarnya bukan hujan. Mungkin cintakulah yang membuatku selalu amnesia.

#Hujan Setiap Malam di Bulan Mei#
Kado ulang tahun yang terlambat.
Ivy, Happy Birthday, once again! Sorry cerpennya aneh. Haha.
p.s.: narasi tanpa titik meniru gaya monolog intrinsik James Joyce di Ulysses.
Cetak Halaman Ini

[Cerpen] Sketsa untuk Kakek di Surga

Di kamarnya berserakan warna-warna. Warna-warni itu telah melekat dengan citra kamarnya sejak lama. Jelasnya, kalau kerabatnya melihat sepintas kamarnya dari arah luar, karena mereka tidak pernah sekalipun diperkenankan masuk, mereka pasti akan berdecak kagum dengan cara warna-warna itu menjangkau dan melengkapi kehidupan gadis itu. Seni lainnya, adalah tentang bagaimana kemudian gadis itu mempertahankan warna-warni itu di kamarnya.

Lukisan, poster, foto-foto pajangan, sketsa yang ditempel-tempel di dinding, dan dinding-dinding yang penuh oleh grafitinya. Tidak hanya itu, beberapa barang kesayangannya pun turut digambarinya. Motif di sepatunya digambarinya sendiri, meja bacanya pun dicoretinya sampai dekil. Sprei, meja, kursi, dan segala benda di kamarnya berwarna senada: hijau pastel.

Dan tatkala hari-hari terkesan kosong seperti saat itu, dia pasti akan duduk di pinggir jendela dan memegang buku sketsanya... untuk menambah warna baru. Kalau bagus, mungkin akan dipajangnya lagi di dinding, menutupi sketsa-sketsanya sebelumnya. Rasanya bebas sekali ketika dia mulai berimajinasi untuk menggambar. Baginya barangkali tidak dibutuhkannya lagi hidup yang lebih indah daripada hidupnya saat ini.


Langit seolah setiap hari berwarna biru cerah. Dan matahari selalu ada di sana. Seperti dongeng-dongeng manis di masa kecilnya, hari Minggu adalah hari di mana burung-burung akan bertengger di pohon dan berkicau dengan merdunya dari sana. Dia beruntung karena hari Minggunya selalu mirip dengan hari Minggu dalam dongeng yang manis. Dia hanya tinggal menunggu episode pertemuannya dengan pangeran berkuda putih dan tujuh kurcaci.

Hari Minggu adalah hari di mana siapapun akan bebas sepanjang hari memandangi rumput hijau yang segar di taman. Kakeknya membangun kebun yang begitu indah, hijau yang natural dan bunga-bunga kecil dengan warna-warnanya yang cantik melingkupi sekitaran pagar putih pendek rumahnya. Kebun itu biasa dirawat bersama oleh seluruh anggota keluarga. Pada momen-momen khusus, salah satu dari mereka akan membeli satu jenis pohon atau bunga dan menaruhnya di dalam pot lantas memajangnya di kebun kakeknya. Tidak ada yang keberatan saat kebun itu kemudian dijuluki sebagai ‘Kebun Kakek’ oleh seluruh anggota keluarga kendati mereka pun selalu turut menjaganya bersama. Setiap hari tanpa diperintah, yang kemudian seolah sudah menjadi takdir harian, selalu ada saja yang secara sukarela menyirami kebun. Kecuali kakeknya, yang telah meninggal setahun lalu.

Bicara mengenai kebiasaan menyirami kebun yang kemudian diwarisi oleh seluruh anggota keluarga bahkan setelah sang pencipta berpulang ke langit, apabila Rere berkesempatan menyirami kebun, dia biasa melakukannya sambil bersiul. Seperti saat dia duduk di pinggir jendela dan menggambar sketsa. Dia biasa melakukan hal-hal yang disukainya sambil bersiul atau bernyanyi kecil. Hari itu dia hanya memutar musik pop sepanjang hari, dari arah pemutar musiknya lagu-lagu itu kemudian mengalir lembut.

“Rere betul tidak akan ikut?” Terdengar suara dari arah luar pintu kamarnya setelah tiga kali ketukan lembut.

“Aha, Mama! Aku masih bergelantungan di jendela. Belum mandi dan bau. Dan aku malas sekali ke luar ke manapun.”

“Kamu tega untuk kesekiankalinya nggak ikut Mama dan keluarga ke makam kakek?”

Sesaat dia terdiam. Di posisinya, dia menggigit permukaan bibirnya. “Ya, aku nggak akan ikut. Tapi tunggu sebentar.”

“Ayolah, Rere. Jangan keras kepala. Mama nggak menyalahkanmu karena nggak mau pergi kemarin-kemarin. Tapi masa’ selama setahun kakek meninggal, kamu tidak pernah satu kali pun mengunjungi makamnya. Sana mandi, mama dan ayah masih akan tunggu di luar.”

Secepat kilat dia menggambar sesuatu di buku sketsanya. Setengah jam berlalu dan dia mengambil kotak yang sudah sejak pagi tadi diletakannya di atas selimut di ranjangnya. Di kotak itu sudah ada sketsa-sketsa lain yang telah dibakarnya dan dijadikannya abu.

Sketsanya yang terakhir kemudian dibakarnya juga. Menjadi abu, menjadi serbuk lembut berwarna abu-abu, yang menumpuk di atas abu sebelumnya.

Sesudah itu, Rere lalu membuka pintu kamarnya dan menuju ke arah ruang keluarga. “Nah, ini, Ma.” Ujarnya sembari menyerahkan kotak tadi kepada ibunya.

“Apa ini?” Gerak tangan ibunya sudah akan membuka kotak tersebut.

“Jangan dibuka di sini. Bukanya di makam kakek saja. Di dalam kotak ini ada abu, biar ditabur di makam. Bilang ke kakek, itu surat-surat dan sketsa dari Asti. Bilang ke kakek kalau Asti minta kakek baca surat-surat itu dan jangan sampai terlewat satu kalimat pun. Bilang ke kakek kalau Asti masih kesal ditinggal secara tiba-tiba seperti itu.”

“Rere! Kamu...” Kalimat dari ibunya tidak berlanjut lagi karena kemudian kakaknya memegang bahu ibunya dan menenangkan ibunya. Rere tertegun sejenak melihat dampak dari kata-katanya. Ayahnya tiba-tiba langsung keluar rumah dan menyalakan mobil. Sementara ibunya duduk di sofa sambil misuh-misuh. Di sebelah ibunya duduk Kak Nisa yang selalu bisa menarik ibu atau ayah dari emosinya kalau mereka sudah akan marah.

“Dasar unyil.” Tiba-tiba salah satu kakaknya yang lain menjontos ubun-ubun Rere.

“Sakit, tahu!”

“Sudah mau lulus kuliah tingkahnya masih saja kekanak-kanakan.” Sahut kakaknya. “Kapan besarnya kamu, Dek.”

Rere mendelik dan lalu menginjak kaki kakaknya. “Kak Sena cerewet!” Pekiknya sambil berlari ke kamar.

Berdiri di ruang tamu, Sena menggeleng-gelengkan kepalanya. Menyayangkan kelakuan adiknya yang masih jauh dari kata dewasa. Dan demikianlah beberapa saat kemudian seisi rumah pergi ke pemakaman kakeknya. Di beberapa bagian di rumah itu, kemudian tidak ada tanda-tanda kehidupan selama sekian jam.

Sampai Rere memutuskan keluar dari kamarnya setelah seharian penuh menggambar sketsa-sketsanya. Menyebarkan aura kehidupannya. Di salah satu kursi di ruang makan itu kemudian dia duduk sambil memegang gelas berisi air dingin di tangannya. Sesekali dia menyeruput isi gelasnya, selama itu air mata masih mengalir di pipinya.

Di dongeng-dongeng sepertinya tiap putri di kerajaan tidak perlu merisaukan siapa keluarganya. Di salah satu cerita masa kanak-kanaknya bahkan sepertinya setiap orang akan hidup bahagia hanya dengan tinggal di sebuah kastil besar yang terbuat dari coklat dan gula-gula, menetap di sana tanpa ditemani siapapun, dan akhir kisahnya selalu akan bertuliskan: hidup bahagia selamanya.

Dunia seolah baik-baik saja meski kakeknya pulang ke langit. Kebun yang setiap hari dilihatnya dari balik jendela kamarnya masih berseri gembira tiap pagi tiba. Koleksi buku kakeknya di ruang baca juga tidak tiba-tiba lenyap terbakar. Pagi itu di saat kakeknya berpulang untuk selamanya, dia mewanti-wanti apakah langit akan turut menangis. Nyatanya hari itu hujan tidak turun. Matahari bersinar dengan cerahnya dari pagi hingga petang. Hujan tidak turun selama sebulan.

Barangkali memang benar bahwa dongeng-dongeng tidak diperuntukkan bagi sebagian orang. Mungkin itu sebabnya orang dewasa berhenti membaca dongeng begitu mereka telah melalui jalan-jalan kehidupan selama sekian waktu. Mungkin saja mereka memang telah lebih dulu paham bahwa kisah-kisah berat nan mengerikan yang dibawakan oleh literatur-literatur melankolislah yang tepat untuk memberi gambaran umum tentang kehidupan manusia.

Mungkin itu sebabnya ayah, ibu, kak Sena, dan kak Nisa tidak menangis saat kakek berpulang. Mungkin itu sebabnya dia dipersalahkan saat dia masih menangis saat itu terjadi. Dia, kan, sudah dewasa. Bukankah sudah tiba saat baginya untuk melupakan dongeng-dongeng manis masa kecilnya.

Diperhatikannya seisi ruang makan sampai kemudian dia melintasi setiap ruangan di rumahnya, ketika kemudian akhirnya dia duduk di sofa di depan televisi, dia merenung lagi dan menyadari bahwa hanya kamarnyalah yang berwarna cerah jika dibandingkan dengan seluruh ruangan yang ada di rumahnya. Hanya kamarnyalah yang masih hidup bahkan ketika tidak seorang pun berada di dalamnya.

Sepertinya janggal. Sepertinya orang-orang sengaja membuat hidupnya untuk tidak berwarna lagi begitu mereka tumbuh dewasa. Zaman pun telah berubah. Saat dulu ketika kecil dia masih bermain layang-layang dengan kakeknya di lapangan di belakang rumah, kini anak-anak kecil di perkotaan hanya bisa bermain layang-layang di program permainan di dunia maya yang menawarkan dunia fantasi dengan keluarga fantasinya dan kakek fantasinya.

Dia mungkin bisa saja memiliki seorang kakek fantasi. Tetapi kemudian apalah esensinya kehidupan itu sebenarnya? Dia tiba-tiba saja merindukan kakeknya yang mengajarinya menulis huruf latin bersama dan menontoninya membaca buku cerita bergambar setelahnya, kakeknya yang menggendongnya di sawah dan memegangi sepatu kecilnya sambil menyanyikan lagu tentang katak, dia rindu sekali dengan kakeknya yang mengajarinya mencintai anjing dan hamster.

Hanya kakeknya yang memanggilnya Asti. Tidak ada orang lain lagi boleh memanggilnya dengan panggilan itu. Kakeknyalah yang membaca surat pertama yang dia tulis di masa kecilnya, menilai sketsa pertamanya, dan apakah ketika dia tidak bersedia mengunjungi makam kakeknya kedekatan-kedekatan itu tiba-tiba musnah?

Dia bingung dengan ayah-ibunya. Mereka tidak pernah dekat dengan kakek. Mereka selalu bertengkar dengan kakek mempermasalahkan harta warisan. Kakak-kakaknya pun tidak sedekat itu dengan kakek. Namun mengapa baru ketika kakek meninggal seolah dialah yang jauh dari kakeknya dan orang-orang itu tiba-tiba dekat dan punya arti di kehidupan kakek setelah kematiannya?

Sambil mengganti-ganti tayangan televisi di depannya, dia tetap terus melebarkan pikirannya. Sepertinya semua pertanyaan di kepalanya sudah ditulisnya dalam surat untuk kakeknya. Mungkin sketsa-sketsanya sudah mewakili perasaan rindunya kepada kakeknya. Kakek pasti tidak akan lupa sketsa-sketsa yang menyimpan kenangan mereka.

Ketika tayangan televisi sudah tidak lagi begitu diperhatikan olehnya, matanya menutup perlahan dan dia mulai tertidur, dia ingat bahwa di suratnya dia telah meminta sesuatu jika saja kakeknya telah membaca surat darinya.

Dia ingin kakeknya hadir di mimpinya sekali lagi saja. Ada sesuatu yang harus mereka bicarakan bersama. Di sketsa terakhirnya dia sudah menggambarkan dengan jelas keinginannya.

Sebuah taman yang indah, lebih banyak rumput hijau, bunga berwarna-warni. Kastil yang besar. Jalan setapak dan sawah. Kakeknya sedang memegang payung sambil berjalan bersisian di sebelahnya.

Di ujung sebelah kanan bawah sketsa ditulisnya: Tunjukkanlah kepadaku kalau kakek masih bisa menemuiku. Ajaklah aku berjalan-jalan di taman yang kakek bangun di surga kalau surga memang benar ada. Setidaknya, berikanlah aku pertanda. Kalau benar ada kehidupan setelah kematian, ajaklah aku mati juga.

#22:00:00 - 23:23:07 06.05.10#
P.S.: aku ingin menulis cerita bahagia, ujungnya tetap cerita sejenis ini.
Kalau kau punya ending alternatif, aku mungkin bisa ubah cerita ini sebelum hari istimewa ini lewat. Selamat ulang tahun, kakak Rereasti. Selamat mendapati kepala eksternal! Haha.
Cetak Halaman Ini

[Cerpen] Pantai Cermin

“Pak, sudah ketemu kuncinya?”

Saya sering mendengar orang-orang yang bersyukur atas hidupnya berkata bahwa setiap hari dalam hidup ini memberikan anugerahnya sendiri.

“Nak, itu koper-kopermu masukkan ke dalam mobil. Aduh, kenapa semuanya mesti perlu tunggu disuruh. Mana adikmu?”

Seperti halnya orang-orang selalu mengagumi misteriusnya waktu, semestinya begitu juga berlaku pada ruang.

“Kalau misalnya kita berangkatnya sekarang, apa masih sempat lihat matahari terbit, Pak?”

Setiap tempat pasti mempunyai sesuatu yang berharga dan hanya dapat dirasakan oleh mereka yang terikat dengan tempat tersebut.

“Ah, kenapa mesti merayakannya di laut lagi, Ayah!”

Saya sendiri selalu terikat dengan hari dan tempat kelahiran saya. Saya terikat pada lautan. Saya terlahir di atas kapal. Tepat hari ini, empat puluh delapan tahun lalu.

“Itu karena Ayah hobi memancing, kak!”

Saya pernah membaca di suatu tempat bahwa kita mencintai kehidupan, bukan sebab kita sudah biasa hidup. Tetapi karena kita biasa mencintai. Saya bersyukur telah diberikan tempat dan waktu yang tepat hingga membuat saya betah mencintai kehidupan.

“Ih, anak kecil ingusan. Baru lahir kemarin, juga. Sok tahu aja. Ayah lahir di atas kapal, tahu! Pasti karena alasan itu. Iya, kan, Ayah? Ah tapi kalau tiap tahun selalu dirayakan di atas kapal, kan, jadi bosan juga, Ayah!”

Di saat orang seusia saya telah berada di puncak karir mereka, saya juga sedang berada di puncak saya.

“Kalian ini. Kata-kata Bunda keluar masuk telinga kanan-kiri terus, ya? Masukin dulu barang-barang kalian ke dalam bagasi! Sudah beres-beresnya lama, sekarang masih pakai acara ribut dulu di sini. Sana, sana.”

Saya tidak tahu puncak seperti apa yang dominan di dalam hidup saya. Namun saya sadar betul betapa Tuhan telah begitu murah hatinya kepada saya sehingga saya dipertemukan dengan istri yang begitu mencintai saya dan kami dititipi anak-anak yang saya yakin bisa menjadi lebih baik dari saya sekarang.

“Bagaimana, Pak? Sudah ketemu, kan, kuncinya?”

Selama ini saya memiliki kehidupan yang menyenangkan. Tatapan mata istri saya begitu indah untuk membuat saya berpaling dari nikmat kehidupan. “Sudah, Bu. Ayo kita berangkat. Semuanya sudah beres?”

Kalau ada hal lain yang mengisi hidup saya sekarang mungkin itu adalah petualangan-petualangan yang masih saya lakukan hingga saat ini. Memancing, berinteraksi dengan orang-orang... menghilang dalam keterasingan.

Laut adalah keterasingan itu.

*

Pantai dan matahari di ufuk timur. Barang-barang bawaan kami masih di dalam mobil. Kami membawa begitu banyak barang dari Jakarta. Beberapa hari belakangan kami telah singgah di penginapan-penginapan berbeda. Barang-barang itu masih di dalam mobil karena seusai berlayar saya akan melanjutkan perjalanan ke rumah keluarga. Dan perjalanan tibalah pada tujuannya.

Kalau saya pikir-pikir, sebenarnya setiap saat laut selalu berwujud seperti ini. Seperti benda-benda langit yang tidak pernah hilang di atas sana, seumpama planet-planet yang berpusar pada matahari. Hanyalah letaknya yang berubah-ubah.

Saya selalu menganalogikan kejadian di muka bumi ini seperti halnya lautan. Sebenarnya semua ciptaan-Nya telah terasing di lautan-Nya. Semua orang tenggelam di laut semesta. Bergoncangan, beradu dengan ombak. Kita menangis saat bahagia dan kita tertawa saat bersedih. Dan pada akhirnya orang-orang yang kita cintai akan pergi. Sampai nanti kita sendiri juga pergi.

“Ah, untung kita bisa lihat matahari terbit!”

Tali pusar saya dibuang di lautan ini, kata paman saya, ayah saya dengan cekatan membersihkannya dengan air kelapa dan lalu menaruhnya dalam wadah kemudian melemparnya ke dalam laut.

“Kali ini aku pasti bisa menangkap ikan lebih banyak dari kakak.”

Cakrawala membentang luas, aroma pantai yang asin tidak lagi asing.

“Ah, ngaco kamu. Mana mungkin. Setidaknya kamu mesti minta restu dulu dari tali pusar ayah! Seperti aku, nih!”

Putra sulung saya berlari ke arah ombak.

“Kenapa tidak minta restu langsung ke ayah saja, sih? AAAH! Kakak curang! Jangan nyolong start duluan, dong!”

Adiknya menyusul di belakangnya. Berlari tidak kalah kencang daripada kakaknya.

“Salah sendiri. Hahaha. Larimu lambat sekali, sih, bocah!”

Beberapa jarak dari kami orang-orang yang saya kenal telah melambaikan tangan mereka ke arah saya. Orang-orang yang selalu tersenyum bukan karena bahagia namun karena telah terbiasa. Orang-orang pantai memang segigih itu. Seharusnya saya juga.

Kapal kecil di belakang mereka masih kapal yang tahun lalu kami gunakan berlayar. Kami selalu menggunakannya hanya untuk memancing saja. Meski anak-anak tidak pandai memancing, tetapi mereka laki-laki jadi saya selalu mengajak mereka ikut.

Istri saya akan menunggu di pinggir pantai dan berbincang-bincang dengan istri-istri para nelayan. Istri saya menyukai anak-anak kecil. Dia telah terbiasa diperhatikan oleh anak-anak nelayan itu. Tahun ini dia pasti menyiapkan sesuatu untuk bocah-bocah itu.

“Sini mana umpannya... Dasar ini bocah. Apa-apa lelet.”

“Tunggu dulu, kenapa.. Mengalah, dong, sama yang lebih kecil.”

“Idih pakai acara mengalah segala. Para pria bertarung tidak pandang umur, kecil!”

Kedua putra saya suka bercanda dan mereka menyukai musik. Kadang musik-musik yang mereka perdengarkan di acara kumpul-kumpul memang terdengar lucu di telinga saya. Maka saya selalu mengira musik-musik yang mereka dengarlah yang barangkali meningkatkan selera humor mereka. Adu mulut antara mereka pernah begitu sengit namun kesannya tidak seperti berkelahi.

Istri saya sedang berbicara dengan istri para nelayan di kejauhan. Tidak seperti biasanya karena bahkan dari jarak berapa ratus meter pun ada pancaran cemas dari gerak-geriknya. Saya tahu apa yang berbeda. Bocah-bocah kecil yang kami lihat tahun lalu tidak lagi bermain bersama ibunya di sana. Padahal istri saya pasti sudah membawakan sesuatu untuk dihadiahi kepada mereka.

“Anak kami meninggal beberapa bulan setelah kunjungan terakhir Bapak ke sini.” Nelayan itu menjelaskan. Meski dengan capingnya itu, samar-samar raut sedihnya masih juga kental saya lihat.

Padahal gadis itu, Pala, adalah gadis yang begitu lincah. Dialah yang membantu ayah ibunya menyiapkan tempat menginap untuk kami tahun lalu. Bocah di keluarga kami senang mengusili Pala, tetapi gadis itu selalu tersenyum. Dan jika gadis itu mati, maka senyum itu tidak akan pernah menyapa kami lagi kecuali melalui pigura.

“Meninggal kenapa?”

Si sulung dan bungsu yang sedang ribut di sekitar kami tiba-tiba terdiam. Mereka berusaha untuk menyimak. Saya merasa waktu seolah turut berhenti saat mata mereka melotot seperti itu untuk menanti penjelasan.

“Hilang di laut ini. Dia bilang dia melihat sesuatu, ada orang yang tenggelam. Dia terjun dari sampan untuk menolong orang itu. Kami di sini tak melihat apa-apa saat itu. Tapi dia terus berenang menjauh, dan akhirnya hilang dari pandangan saya.”

Saya sudah menyangka demikianlah cara Pala akan kembali ke rumah sejatinya. Saya selalu berpikir bahwa orang-orang yang baik akan mati di tempat yang paling dicintainya. Saya pun akan mati di laut ini suatu saat nanti.

Tetapi... hilang?

“Sampai sekarang tubuhnya belum ditemukan.”

Dan percakapan tidak diteruskan lagi setelah itu. Nelayan itu berlayar dengan perahu berbeda. Saya dan dua putra saya bersama dengan nelayan lainnya memancing ke tengah, agak lebih jauh darinya.

Menurut desas-desus beberapa jam belakangan, katanya belakangan ini dia memang biasa menyendiri. Menatap permukaan air laut dan merenung. Kalau saya tidak tahu mengenai keadaan mentalnya saat ini, saya pasti tentu mengira dia sedang berkaca di perairan. Berkaca seolah siap tenggelam.

Setelah beberapa lama, dia mendahului kami kembali ke tepi. Perahu kami mengikutinya di belakang. Kakinya begitu kekar memijak di atas pasir pantai. Istrinya menyambutnya di sana. Ada seorang pria kecil menemaninya, sepertinya adalah anak bungsu mereka, yang berarti adalah adiknya Pala. Istri saya memegangi bahu bocah itu. Beberapa saat sebelum saya kembali ke daratan, keluarga nelayan itu telah pulang.

“Sudah kubilang aku yang akan menang, Nda. Anak kecil mana bisa menang dari yang lebih tua.”

Si sulung menunjukkan tangkapannya kepada ibunya. Si bungsu menimpali.

“Biar lebih banyak yang penting nggak lebih besar. Ikanku lebih besar-besar, Bunda! Lihat, deh!”

Ibu mereka hanya tersenyum. Wajah sendu itu sudah familiar selama beberapa jam belakangan ini. Wajah yang sama seperti yang kutemukan pada nelayan tadi.

*

“Pantas saja namanya Pantai Cermin, Pak.” Demikian lantas istri saya berujar di dalam mobil. “Orang-orang selalu bisa bercermin di pantai ini. Dari hasil tangkapan anak kita saja sudah kelihatan. Sulung yang selalu punya banyak cita-cita. Tertarik pada semua hal, kurang teliti. Bungsu yang selalu meniru si sulung, tapi selalu mengharapkan hal-hal yang lebih besar dari kakaknya.”

Saya merenungi perkataannya sejenak. Apakah saya tadi bercermin juga di pantai itu?

“Bapak nelayan tadi tiap hari bercermin. Kata istrinya, dia mencari sosok anaknya yang hilang di sana. Tiap hari dia bercermin di sana.”

Sulung dan bungsu yang sejak tadi diam di kursi belakang mobil tidak merespon sejak tadi. Mereka memang sudah tidur, barangkali karena kelelahan.

“Bapak juga selalu bercermin ke pantai itu, kan?” Saya tidak menyangka istri saya akan melanjutkan kalimatnya.

Sepertinya memang begitu. Saat saya bercermin, jika saya terlalu larut memandangi pantulan diri saya di cermin, saya tidak akan sadar bahwa saya sedang bercermin.

“Setiap tahun Bapak selalu datang ke sana untuk bercermin. Karena Bapak lahir di sana.”

*************
Ditulis pada 22 Mei 2010
Dengan bantuan spesial dari rekan saya, Tomtom, dan 2in saya.
Terima kasih!

Sebuah hadiah ulang tahun untuk Pamanda Heri Yanto. Dengan disertai doa ulang tahun. Semoga cerita ini berkenan di hati. ^^
23/05/2010 2:26:24
*************