Saturday, January 30, 2010

[Cerpen] Jo

Malam itu di musim berhujan, dia kembali mengetuk pintu. Aku datang menghampirinya seperti biasa, membukakan pintu, menyambutnya dengan senyuman. Dia seperti biasa terjatuh di lantai, muntah.

Pria yang kukencani malam itu memanggilku dari arah atas. Kutinggal dia, berlari menyusuri anak tangga, dan menuju ke kamar tempat aku dan seorang pria sebelumnya bermesraan.

“Jim, tolong pergi.” Kataku.

Jimi yang sedang bertelanjang dada melotot, sedikit menaikkan tubuhnya. Pantulan sinar dari kalung salib di dadanya menyentuh retinaku.

“Suamiku pulang.” Lanjutku.

“Lima ratus ribu.” Dia melempar uang dengan nominal yang disebutnya itu ke lantai.

“Tolong, Jim. Aku tidak mungkin membiarkan suamiku membeku di bawah.”

“Kau tidak mungkin menyuruhku pulang, hujan lebat begini?” dia menukas.

“Kau membawa mobil.”

“Suamimu juga sudah di dalam rumah, dia tidak mungkin kehujanan.”

“Dia mabuk, Jim.”

“Oh, Lara.. aku juga mabuk!” matanya merah. Ada sesuatu yang meradang di matanya, mungkin kemarahan.

“Aku istrinya.”

“Fine,” Dia beranjak dari ranjang dengan kilat, dikenakannya celana bahannya, kemejanya, dan kaos kakinya. Lalu dia berjalan melewatiku, “Lain kali jangan suruh aku datang kalau pulangnya harus dengan cara kau usir seperti ini.” gumamnya di telingaku dan memaksa mengecup bibirku sebelum akhirnya kudorong dia ke arah pintu.

*

Dia menuruni tangga, aku mengikutinya dari arah belakang.

Diludahinya suamiku yang sedang terkapar di lantai, tak sadarkan diri. “Oh, Jim!” aku berteriak. Dia pergi, tak peduli.

Setelah kepergiannya, kututup pintu rumahku.

Lalu kutatapi dia. Seseorang yang tidur di lantai itu, pria yang sepuluh tahun lalu kunikahi. Dia yang jarang pulang ke rumah, dia yang tak kuketahui kapan bisa hadir menemaniku. Jikapun dia ada di rumah, lebih sering tak ada sepatah kata yang mampu keluar dari bibirku. Lebih sering kami terdiam. Atau aku terdiam, menatapinya merokok, minum-minum.

Tubuhnya begitu berat. Susah untuk kupindahkan. Maka seperti biasanya, kuambil selimut di kamarku, kubiarkan dia tertidur di depan pintu. Aku duduk menemaninya di tangga. Menontoninya tidur pulas, seperti itu, seperti bocah kecil.

*


Aku duduk menontoninya sampai pagi. Sampai cahaya matahari masuk lewat ventilasi. Sampai tukang loper koran melempar koran pagi dan mengenai pintu rumahku, tapi tak mungkin kubuka pintu untuk mengambil koran itu karena suamiku masih tertidur di sana.

Dia masih persis seperti di saat aku melihatnya tertidur pulas di hadapanku untuk pertama kalinya. Maksudku, bibirnya yang sedikit terbuka ketika dia tertidur dan raut wajahnya masih seperti raut wajah remaja tujuh belas tahun... seandainya saja tidak ada kerut-kerut ataupun bekas luka di sana.

Dia tiba-tiba terbatuk, mencoba bangkit dari lantai, dan kembali muntah. Aku kemudian menuntunnya ke arah dapur. Di sana lalu dia duduk dengan polosnya seperti seorang bocah pria yang menanti sarapan omelet dari ibunya.

“Siapa pria tadi malam?”

Aku menoleh ketika dia mengucapkan kalimat itu. Di sana dia sudah mengambil roti tawar dan mengunyahnya dengan rakus, “Itu Jim. Langgananku.”

“Berapa dia membayarmu biasanya?”

“Uang darinya kupakai untuk langganan koran juga tagihan listrik, air, dan telepon.”

Dengan santainya dia menambahkan, “Lalu uang untuk roti tawar dan selai ini,” dia mengangkat selai blueberry di tangannya tinggi-tinggi, “Kau dapat dari mana?”

Entahlah. Seolah baginya istrinya bekerja sebagai pelacur adalah sebuah lelucon. Tidak berkeinginan menjawab pertanyaannya, aku meletakkan nasi goreng pedas beserta telur dadar gulung kesukaannya di atas meja, “Lalu kau minggu lalu ke mana saja?”

Aku lalu mengambil nasi goreng untuk diriku sendiri dan kemudian duduk di hadapannya. Ketika dia mulai menyuapi dirinya sendiri sendok demi sendok nasi goreng yang baru saja kumasak, aku memerhatikan telinganya yang bergerak-gerak. Aku tersenyum dalam hati, telinga itu selalu menjadi pertanda bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikannya.

“Sampai kapan kau akan biarkan aku tidur dengan pria lain, Jo?”

Dia tertawa terbahak-bahak di hadapanku, aku menarik nafas lagi, “Kau sudah mulai ketagihan tidur dengan banyak pria, ya?” responnya seraya menyuap sendoknya lagi. Sungguh suamiku sudah sinting. Dia lalu bangkit dan mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas.

“Kapan kau akan mulai bekerja lagi, Jo?”

“Selesaikan dulu nasi gorengmu, baru kita mulai makan yang lain. Sudah kubilang berulang kali, nasi goreng tidak pernah cocok dicampuradukkan dengan masalah pekerjaan.” Jawabnya sambil bersendawa.

Rasanya selera makanku tiba-tiba hilang ketika mendengar itu. Aku bangkit dan menumpahkan nasi gorengku ke dalam keranjang sampah lalu mengambil bekas piring Jo di meja dan kemudian merapikan dapur.

Ketika aku menuju ke arah ruang tamu, Jo sedang menyetel siaran berita di televisi. Aku merutuk kenapa dia tidak menyetel berita infotainment saja, supaya bisa kumirip-miripkan kisah rumah tangga kami dengan kisah cinta artis-artis yang saling berselingkuh itu di hadapannya.

Aku melewatinya begitu saja dan lalu mengambil koran di luar. Setelahnya aku kembali menemaninya di ruang tamu. Kali ini dia sedang menonton program anak-anak, kartun-kartun yang biasanya ditayangkan setiap hari Minggu.

“Seharusnya ibu rumah tangga sepertimu tidak perlu membaca koran.” Dia mengomentariku yang sedang menutupi pandangannya ke seluruh wajahku dengan koran yang kupegang di tanganku. Ketika kuturunkan koran itu dari wajahku, di hadapanku dia tepat sedang menatap ke arahku. Lekat.

“Koran hari Minggu isinya tidak begitu berat untuk dibaca, Jo.” Kujawab santai, “Aku suka membaca cerita pendek-cerita pendek yang disuguhkan. Rasanya seperti ada sesuatu yang bisa kunikmati dari tulisan orang-orang yang tidak pernah kukenal.”

Dia menaikkan alisnya lalu kembali menatap ke arah televisi, “Seorang pelacur biasanya tidak akan pernah punya ide untuk menjawab seperti itu.

Ah, tapi barangkali memang akan pernah ada seseorang menuliskan kisah kita menjadi cerita pendek. Dan kau ditakdirkan membaca cerita itu. Tapi prosesnya, kau harus memulai ketertarikanmu jauh sebelum itu terwujud. Jauh sebelum cerita kita ditulis.” Dia menjawab sendiri pernyataan retorisnya. Aku tersenyum kecil.

“Menurutmu kelak kalau kita sudah tua, siapa yang akan paling direpotkan?” Dia mulai bertanya lagi. Kuturunkan lagi koranku dan di sana dia menatapku. Lekat, seperti sebelumnya.

“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana wujudku sebagai nenek-nenek, Jo. Aku tidak akan memiliki pelanggan lagi dan aku tidak tahu kita akan bisa mendapatkan uang untuk bertahan hidup dari mana.”

“Begitu, ya?” dia kelihatan merenung namun kemudian mengalihkan perhatiannya kembali ke arah televisi.

Aku melanjutkan membaca koranku. Cerita pendek kali ini tidak begitu menarik. Entahlah, rasanya belakangan ini proses penyaringan cerita untuk layak dibaca semakin menurun saja kualitasnya. Atau memang karena cerita-cerita kehidupan di dunia sudah semuanya pernah tertulis? Rasanya tidak pernah ada cerita yang baru lagi.

“Kau sedang baca cerita apa?”

Kali ini aku menjawab dengan tidak memandang ke arahnya, “Hm, entahlah. Tentang kisah cinta beda agama, pertentangan dari keluarga mereka, dan cinta yang berakhir tragis. Kedua-duanya bunuh diri.”

“Kau suka kisah-kisah begitu?”

“Aku berharap akan ada seseorang yang menuliskan kisahku. Kurasa kisah hidup kita lebih menarik untuk ditulis.”

Dia lalu tertawa, “Kau sejak kecil memang naif sekali ya, Lara.” Entahlah itu pujian atau bukan. Aku sudah tidak bisa membedakan apa maksud dari kalimat-kalimatnya. Selalu saja begitu akhirnya. Aku tidak peduli lagi yang mana hinaan, ledekan, ejekan, candaan, pujian, atau entah apapun. Selama kalimat itu keluar dari mulutnya, rasanya tetap sama saja. Sama pahitnya. Karena bagaimanapun aku tetap tidak akan pernah tahu siapa dia.

“Bagaimana ceritanya kau bisa menemukanku enam belas tahun lalu, Jo?” kulipat koranku dan kuletakkan di atas meja. Kami kemudian saling berhadapan dan dengan lugunya dia mengorek upil di hidungnya dan meninggalkanku ke arah dapur.

Sambil masih menuangkan botol air dingin pada gelasnya, dia menjawab pertanyaanku tadi. “Jadi ceritanya Jo si pria tiga puluh tahun menemukan seorang gadis kecil terlantar di jalan. Gadis itu tidur di atas kursi taman.

Kurasa kau masih ingat pagi itu. Saat itu aku kelaparan, betul-betul kelaparan. Tidak ada yang bisa kumakan. Maka aku mengamen saja pagi hari itu di sekitar taman. Setelah uangku cukup, kubelikan sebungkus nasi goreng dan telur dadar. Lalu kutemukan kau tidur di sana. Lara yang baru berusia enam tahun, menatap kelaparan ke arahku. Dan seharusnya aku yang tanya, karena sampai sekarang aku tidak tahu dari mana asalmu.”

Aku mengangkat kakiku dan melipatnya di atas kursi, tanganku kusandarkan di pahaku dan daguku tertopang di atasnya, “Aku pagi itu baru saja kabur dari panti asuhan. Hidup yang tidak nyaman. Kau dijadikan pembantu dan kau dipaksa berpura-pura bahagia di depan para pengunjung panti.”

Jo menatapku lekat, “Kau tidak pernah cerita sebelumnya.”

“Aku tidak punya orang tua, Jo. Aku tidak pernah tahu siapa orang tuaku. Sampai akhirnya aku menemukanmu dan mengenalimu sebagai ayahku.”

“Sampai lalu kita menikah enam tahun kemudian di usiamu yang kedua belas dan aku memaksamu melacurkan diri, kau masih menganggapku ayahmu?”

“Sampai akhirnya kita duduk berdua di sini, bernostalgia, dan mengobrolkan hal-hal aneh. Apa yang terjadi padamu selama seminggu ini, Jo?”

“Serahkan tanganmu padaku, Lara.” Pintanya, entah oleh sebab apa. Dia mengulurkan kedua telapak tangannya dan kuletakkan telapak tanganku di atasnya.

“Seorang peramal yang kutemui di taman hiburan beberapa hari lalu ketika aku berjalan-jalan dengan istri dan anakku mengatakan bahwa hanya akan ada satu gadis yang mencintaiku selamanya, seumur hidupnya.” Ujarnya sambil membalikkan telapak tanganku dan menyusuri garis tanganku dengan jemari tangannya yang kasar, “Ciri-ciri gadis itu persis sekali denganmu, Lara.”

“Ah, dan lalu bagaimana reaksi istrimu?”

“Kupikir dia tidak begitu peduli dengan ramalan itu.

Dia bertambah cantik saja setiap hari dan aku seolah bermetamorfosa menjadi monster dari hari ke hari. Aku malu setiap kali berkencan berdua dengannya. Tapi untung ada anak-anak kami yang selalu membuatku nyaman. Istriku akan selalu bersama anak-anakku dan entah bagaimana, aku selalu bisa memisahkan diriku dari mereka di tengah keramaian. Berjalan sendirian seperti Beast si buruk rupa.” Jo menumpahkan perasaannya padaku.

Kugenggam tangannya erat, “Kau pasti akan pergi lagi malam ini. Lalu kapan kau akan pulang ke sini lagi, Jo?”

“Setelah mengetahui ramalan itu, aku seperti ingin tinggal selamanya denganmu di sini, Lara.” Entahlah, tatapannya memang agak berbeda kali ini, “Ketika kau akhirnya tahu siapa yang akan mencintaimu untuk selamanya dan berada di sisimu sampai kapanpun juga, apa hatimu tidak akan tergerak untuk menghabiskan sisa hidupmu dengan orang itu sampai ajal menjemputmu?”

“Kau masih butuh istrimu, Jo. Kau sudah tidak bekerja, kan?”

“Dan istriku kaya raya. Yeah.” Dia melepaskan genggaman tangan kami, “Kupikir aku memang tidak bisa percaya pada ramalan.”

“Kau mau ke mana, Jo?” tanyaku ketika dia beranjak dari kursinya dan menuju ke atas, barangkali ke arah kamarnya.

“Mengambil barang-barangku dan pulang ke tempat istriku.” Kubiarkan dia membereskan barang-barangnya di atas. Kudengar banyak barang-barang yang dibanting olehnya.

“Lalu kapan kau akan kembali?” aku menghadang langkahnya ketika dia berjalan ke arah pintu rumah kami. Dia berdiri di hadapanku dan menggendong ransel besar.

“Mungkin kau harus mencari ayah yang lain untukmu, Lara. Kau sudah besar sekarang.” Dia memegang hidungku dan menciumnya. Dahiku persis menempel dengan dahinya, “Aku akan merindukanmu, putri kecilku.”

“Bukankah aku istrimu, Jo?” tukasku.

Dia lalu memelukku, “Istri yang tidak pernah kusentuh. Iya, kau istri yang akan selalu memiliki tempat di hatiku, Lara. Jaga dirimu baik-baik. Pilihlah laki-laki yang baik.”

“Jo..”

“Dan ingat gunakan pengaman.”

Ada air mata di pelupuk mataku dan aku hanya bisa tertawa kecil, dia membalas tawaku dan mengecup dahiku lembut.

“Jo..” dia menatap ke arahku ketika kupanggil namanya, “Aku suka membaca apapun. Aku sangat suka membaca... karena kaulah yang mengajariku membaca. Karena saat aku membaca sesuatu, aku selalu ingat bagaimana tanganmu memegang tanganku dan menunjukkan huruf-huruf latin itu satu-satu. Bagaimana kau mengajariku menulis..”

Dia tersenyum di hadapanku, “Itulah sebabnya aku tidak pernah berani menyentuhmu, Princess. Seorang ayah tidak akan pernah punya nyali melukai putrinya. Ah, sudahlah.”

Dia lalu pergi. Dan tidak pernah ada kabar lagi darinya setelah itu meski aku selalu menunggu ketukannya di pintuku. Selama itu, berkali-kali pria lain telah mengetuk pintuku. Kutemukan, tidak ada seorang pun yang akan muntah sepertinya ketika pintu kubuka. Dan mungkin tidak akan ada seorang pun yang akan menyerupai dia. Seumur hidupku.

*



Cetak Halaman Ini

Thursday, January 7, 2010

[Books] Kitchen - Banana Yoshimoto





Menyelesaikannya dalam 5 hari. Bahkan sesungguhnya tidak berniat menyelesaikannya dan justru ingin membuat alur kisahnya yang sudah terlanjur ada dalam benakku menggantung saja. Karena, sebetulnya apa yang bisa diharapkan dari kalimat-kalimat indah yang memiliki akhir?

Entah penulisnya atau penerjemahnya yang memiliki kosa kata indah memabukkan. Yang jelas, yup, itu terjadi dalam novel 'Kitchen' ini. Saking sukanya dengan kalimat-kalimat dalam novel ini, aku bahkan bertekad untuk mulai 'belajar memberi highlight dengan stabilo' untuk kata-kata indah yang kutemukan dalam buku bacaan di rakku ini. Berikut adalah list kata-kata yang kusukai dari novel (edisi Bahasa) ini:

"Kamu tipe orang yang menilai seperti apa? -- Orang sering bilang, kita bisa menilai tipe pemilik rumah hanya dengan melihat toiletnya."

"Dapur."

Oh, sungguh, sweet.

'Aku tak punya saudara di dunia ini. Mengejutkan rasanya, menyadari bahwa aku bisa pergi ke mana saja dan melakukan apa saja.'

Begitulah yang kurasakan untuk tumbuh besar sebagai seorang anak tunggal.

'Sikapnya yang sama sekali tidap hangat maupun tidak dingin justru membuatku merasa dekat.'

Aku selalu merasa begitu kepada orang yang kukenal. Aku senang merasa asing di hadapan orang yang sangat kusayangi sekalipun. Pada dasarnya, tiap orang terasing dalam pemikirannya sendiri, kan?

'Melihat pakaiannya yang tidak biasa dan dandanannya yang tebal, aku langsung tahu bahwa ia bekerja pada malam hari.'

Untuk yang ini, aku suka dengan cara novelisnya menggambarkan seorang wanita transeksual pekerja malam dengan begitu lembutnya. Tiap orang memiliki banyak pilihan kata untuk interpretasi berbeda. Pilihan kata Banana Yoshimoto begitu cantik dan penerjemahnya rasanya sangat mahir memilih padanan kata dalam bahasa Indonesia. Aku salut!

Beberapa hal di bagian awal novel ini bisa menambah gairahku untuk googling tentang beberapa informasi yang diselipkan. Nuansa Jepangnya kental karena banyak memasukkan nama daerah Jepang dan makanan khas Jepang meskipun banyak kritikus mengakui novel ini terlalu condong bergaya western-dengan-urbanismenya. Sebetulnya, tidak heran, sih. Mengingat Banana Yoshimoto sendiri memang sempat kuliah Sastra dan Kebudayaan Inggris (?) jadi pasti secara tidak langsung pengaruh apa yang dia pelajari semasa kuliah terus dibawanya dalam kesehariannya (bahkan berdampak pada apa yang dia tulis, kalau menurutku).

'Kemudian dia memutuskan untuk menjadi perempuan. Dia bilang, dia sudah tidak bisa mencintai siapa-siapa lagi.'

'Namun aku suka pada dapur mereka. -- Wajah mereka ketika tertawa bersinar seperti Buddha. Aku suka.'

"Dia orang yang hidup dengan dorongan impulsif. Tapi kukira kekuatan yang dia miliki untuk mewujudkan kehendak hatinya sungguh luarbiasa."

'Tentu menyakitkan rasanya jika tak punya tujuan saat sedang terluka.'

'Kuizinkan diriku hidup santai hingga bulan Mei tiba. Dengan demikian, setiap hari rasanya seperti di surga.'

'Selalu begitu. Aku selalu bergerak di saat sudah terjepit. ---aku berteimakasih kepada Tuhan yang entah ada atau tidak.'

'---sejak tak lagi ditinggali, tempat itu tak ubahnya seperti wajah orang asing.'

'Di dunia ini tidak ada tempat untuk bersedih. Tak ada satu tempat pun.'

'---aku teringat bahwa aku samasekali belum menangis sejak Nenek meninggal.'

'Tapi ketika akan meninggalkannya, entah mengapa aku jadi suka sekali warna itu.'

'Pada saat-saat seperti ini, pemuda yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh Eriko itu bagaikan seorang pangeran.'

'Di dalam mimpiku tadi, kau juga bilang ingin makan mi.'

'Kurasa siapapun yang sungguh-sungguh merasa ingin mandiri sebaiknya mencoba merawat sesuatu, entah anak atau tanaman. Soalnya kita jadi mengerti keterbatasan yang kita miliki. Dari situlah hidup bermula.'

"Begitulah, tapi kalau manusia samasekali tidak pernah merasa putusasa, kita tidak akan tahu bagian mana dari diri kita yang tak sunggup kita singkirkan. Lalu kita akan tumbuh dewasa tanpa benar-benar mengerti apa saja yang bisa membuat kita gembira. Aku bahagia karena bisa menderita,"

"Aku suka sekali karena hatimu begitu tulus. Nenek yang telah membesarkanmu itu pasti orang yang luarbiasa."

"---Maafkan aku... Bagaimanapun aku merasa tidak sanggup menyampaikan berita ini kepadamu."

'Sejujurnya aku ingin sekali berhenti berjalan. Berhenti melanjutkan hidup.'

"Hari-hari menjelang upacara kematian, aku merasa tak bisa memahami apa yang terjadi. Kepalaku kosong, pandangan mataku gelap. Bagiku, dia satu-satunya orang yang hidup bersamaku; sebagai seorang ibu sekaligus seorang ayah.---"

"Semua orang yang ada di sekitar kita pasti meninggal. Kedua orangtuaku, kakekku, nenekku... ibu yang melahirkanmu, lalu Eriko. Hebat, ya. Rasanya tidak ada dua orang yang sama sialnya dengan kita dalam semesta yang begitu luas. Bagaimana kita bisa berteman baik secara kebetulan adalah hal yang sungguh luarbiasa."

Yang lucu adalah jawaban dari pernyataan di atas, yakni:

"Kalau tinggal bersama orang yang ingin mati kita jadikan pekerjaan, mungkin kita akan laku. Kita sebut diri kita 'pembawa bencana.'"

'Untung dan sial adalah hal biasa, tapi mempercayakan diri kepada peruntungan semacam itu adalah sikap manja.'

'Karena watakku tidak sabaran, semula tak terpikir olehku bahwa hasil masakan akan sangat bergantung pada hal-hal kecil.'

'Aku berbeda dengan mereka yang tergolong manja. Mereka perempuan-prempuan yang menjalani hidup bahagia. Mungkin mereka diajari orangtua mereka yang penyayang untuk tidak perlu keluar dari istana kebahagiaan, terlepas dari apapun yang mereka lakukan. Mereka jadi tidak tahu apa kesenangan mereka sendiri. Mereka juga tidak mampu memilih mana yang baik dan mana yang tidak untuk diri sendiri. Meski begitu setiap orang berupaya untuk tetap bertahan hidup.'

'Bagaimanapun, aku ingin terus merasa bahwa suatu saat aku pasti akan mati. Jika tidak demikian, aku tidak merasa hidup. Karena itulah aku menjalani kehidupan seperti ini.'

'Cahaya itu memenuhi hatiku.'

"----Di sini aku jarang makan. Sering aku berniat untuk memasak sendiri. Tapi bahan makanan pasti juga akan bersinar, seperti boks telepon itu. Sepertinya kalau kuamakan, cahayanya akan hilang."

"--. Besok pagi pasti aku sudah lupa dengan percakapan ini. Akhir-akhir ini aku selalu seperti itu. Hari demi hari seolah tidak ada hubungannya."

'Karena dia lemah terhadapku, seandainya saat ini aku berkata, "Ayo kita terbang ke Arab untuk melihat bulan," dia pasti akan menyanggupi.'

"--Cara bicaramu seperti kalimat terjemahan dari bahasa Inggris saja."

"--dunia ini ada bukan hanya untukku. Karena itu, rasio pertemuan dengan kejadian-kejadian buruk tetap tidak berubah. Bukan aku yang memutuskan. Jadi sebaiknya tetaplah bersikap ceria.---"

'Aku menyunggingkan senyum yang mengisyaratkan bahwa aku tidak akan pernah merasa malu dengannya, biarpun dia menunjukkan kegembiraan yang berlebihan di mana pun ia berada.---'

Uh, bukannya itu yang seringkali kita rasakan jika sudah sungguh dekat dengan seseorang? Penggambaran yang sungguh pas (aku yakin banyak novel romans bagus memahami ide ini).

"---Aku langsung sadar. Bukankah itu yang namanya cinta? Iya, kan? Itu pasti cinta!"

Aku suka sekali penekanan berulang-ulang seperti itu. :)

'Kusadari jauhnya jarak yang telah kulalui-dari masa lalu.'

***

Well, di atas itu beberapa kata yang betul-betul aku rasa... aku merasa dekat dan secara personal membuatku tersentuh akan jalinan cerita yang dirajut oleh Banana Yoshimoto dalam novelet Kitchen-nya.

Untuk edisi terjemahan Indonesianya sendiri, buku bersampul indah ini (aku suka kesederhanaannya) terdiri dari dua cerita. Novelet Kitchen [halaman 1-143] dan novelet Moonlight Sahadow [143-201].

Diawali dengan paragraf pembuka yang indah -langsung menuju dapur:

'Tempat yang paling kusukai di dunia ini adalah dapur.'

Kitchen menceritakan tentang seorang gadis bernama Mikage Sakurai yang kedua orangtuanya meninggal dan oleh karenanya dia tinggal bersama neneknya. Neneknya pun kemudian meninggal. Dia lalu hidup sebatang kara.

Namun kemudian muncul Yuichi Tanabe yang bersedia membantunya dalam upacara kematian neneknya. Merasa berhutang budi atas bantuan tersebut, beberapa hari kemudian, Mikage mengunjungi kediaman Yuichi untuk berterima kasih. Tanpa diduga, Yuichi justru mengajak Mikage untuk tinggal di kediaman keluarga Tanabe di apartemen yang letaknya cukup dekat dengan apartemen Mikage.

Yuichi entah kenapa begitu dekat dan sayang kepada nenek Mikage. Mikage mengetahui hal tersebut. Mungkin itu yang melandasi keputusannya untuk menyanggupi permintaan Yuichi.

Maka kemudian, Mikage akhirnya tinggal di apartemen keluarga Tanabe setelah sebelumnya diperkenalkan dengan Eriko Tanabe oleh Yuichi. Eriko adalah ayah kandung Yuichi yang setelah istrinya meninggal karena kanker memutuskan untuk mengubah jenis kelaminnya menjadi perempuan dan menjalani operasi kecantikan. Setelah itu, dia mendirikan bar dan membesarkan Yuichi seorang diri. Dia bekerja keras untuk bisa memberikan penhidupan bagi Yuichi.

Alur cerita berkembang. Mikage tinggal bersama Yuichi, aku suka keakraban yang terjalin di antara mereka. Nuansanya seperti dengan spontan menghiasi halaman-halaman cerita kebersamaan mereka. Tentang Migake yang sangat suka memasak (dia belajar memasak tiap hari), hingga tibalah saatnya Mikage memutuskan untuk kembali tinggal sendiri dan berpisah dari keluarga Tanabe... karena ingin menjadi lebih mandiri.

Beberapa saat kemudian setelah mereka terpisah cukup lama, Yuichi menghubungi Mikage dan menceritakan bahwa Eriko meninggal dibunuh oleh penggemarnya (laki-laki) yang tidak terima mengetahui kenyataan bahwa wanita cantik idolanya adalah seorang transeksual. Drama kedekatan mereka kembali muncul ke permukaan.

Aku suka ketika muncul pemikiran-pemikiran dan dialog-dialog tentang kehidupan, kematian, rasa kehilangan, kenangan tentang masa lalu serta orang-orang yang kita sayangi, orang-orang yang hadir dalam hidup kita betapa bisa begitu sangat berarti.... hadir pada hampir semua halaman di drama kehidupan mereka.

Bahkan, ending-nya pun masih begitu menggantung. Ini yang kusuka dari sebuah cerita. Cerita yang tidak betul-betul selesai. Seandainya semua cerita memiliki ending seperti ini, aku mungkin tidak akan keberatan disuruh membca berapa banyak buku pun dalam waktu singkat.

Itu untuk Kitchen.

Untuk Moonlight Shadow sendiri, ceritanya sederhana juga. Aku heran dengan materi yang begitu sederhana, kalimat-kalimat cantik, dan alur serta ending yang 'aneh',... cerita tipis pun bisa begitu meninggalkan jejak.

Moonlight Shadow bercerita tentang empat orang. Kakak-adik cowok yang memiliki pacar masing-masing dan mereka berempat sering mengadakan double date. Mereka berempat sama-sama dekat dan mengenal satu sama lain.

Moonlight Shadow juga bercerita tentang rasa kehilangan yang begitu pekat. Bagaimana seorang adik yang kehilangan kakak serta pacarnya dalam kecelakaan mobil dengan pacar kakaknya saling membantu menyembuhkan luka kehilangan itu.

Bagaimana seorang gadis serta bocah pria menyembuhkan luka mereka dengan caranya masing-masing. Si gadis dengan berlari tiap pagi melewati jembatan, si bocah pria dengan mengenakan pakaian seragam pacarnya (pakaian seragam perempuan) untuk bisa merasa dekat.

Sampai suatu hari, akhirnya orang-orang yang telah meninggal itu datang dalam kehidupan mereka lagi dan 'menyembuhkan' mereka dengan caranya.

Aku suka dengan plot ceritanya, bagaimana si gadis ini dipertemukan dengan pacarnya yang telah meninggal di sungai. Bahwa ada seseorang yang bilang tentang legenda: satu keajaiban dalam 100 tahun. Bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat.... bisa membuatku begitu tersentuh.

Ah, betulan. Rasanya dua cerita yang ditulis Yoshimoto di sini sungguh mengambarkan dengan baik tentang rasa kehilangan orang terkasih. Membantu kita merenungkan kembali arti kehidupan, membantu untuk mengingatkan bahwa kita harus menjalani hidup dengan sebaik-baiknya dan tetap ceria setelah apapun hal buruk menimpa.

Well, kurasa ini memang buku yang bagus dibaca untuk mengawali tahun. Aku merasa beruntung memulai tahun 2010 ini dengan membaca 'buku depresi' sekelas Kitchen.

Meski begitu, hanya bisa memberi 3/5. Liked it.
Cetak Halaman Ini