Pagi itu Laudita duduk sendirian di sebelah jendela. Di luar sedang hujan. Seisi rumah kelihatan sibuk sekali. Mama sedang membuat roti bersama nenek. Ayah mengecat tembok ruang tamu dan kakek membantu merapikan barang-barang yang berantakan. Semuanya disiapkan untuk menyambut tamu yang akan datang nanti malam. Kata Mama, Kakak Amel akan dilamar malam ini. Mama bilang, itu artinya sebentar lagi Kakak Amel akan menikah dan hidup bahagia. Dan tinggal di rumah yang baru.
Laudita membayangkannya seperti main rumah-rumahan. Kakak Amel akan punya rumah dan tidak tinggal lagi bersama mereka. Rasanya sedih sekali.
Kakak Amel sering mendongeng untuk Laudita. Juga biasanya dengan pakaian lucu, selesai mendongeng, dia akan mengajak Kakak Lulu menari-nari di depan Laudita. Kak Amel dan Kak Lulu sangat pandai menari mengikuti irama musik. Dua kakaknya itu sangat suka menyanyi dan menghadiahi Laudita kotak musik setiap ulang tahunnya. Dan nanti mungkin mereka tidak akan menghadiahi Laudita kotak musik lagi. Rumah pasti akan sepi sekali.
Laudita berjalan ke arah kamar Kak Amel dan berdiri di pintu. Di dalam kamar, kedua kakaknya sedang mengecat kuku. Rambut mereka bergelombang indah, tidak biasanya. Di atas ranjang Kak Amel ada banyak pakaian-pakaian indah. Warna-warni. Dan mereka berdua tersenyum ketika melihat Laudita berdiri di sana.
Laudita ingin menangis. Nanti dia akan besar seperti kakak-kakaknya. Dia akan menjadi secantik mereka. Dan akan tinggal di rumah yang baru juga suatu saat. Tapi bagaimana kalau Mama pergi lebih dulu? Bagaimana kalau rumah sudah kosong sebelum dia pergi? Kalau kakek, nenek, dan ayah meninggal karena usia tua?
”Sini Klaudi, masuk. Klaudi mau hadiah apa untuk Natal?” Kak Amel memanggilnya
Mau hadiah apa? Untuk terakhir kali?
Laudita tidak bisa membayangkan kakak-kakaknya pergi meninggalkannya. Dia tidak mau ditinggal pergi. Oleh siapapun.
Laudita berlari ke kamarnya dan membenamkan kepalanya ke bantal. Dipeluknya bonekanya erat-erat, dibukanya kotak-kotak musiknya yang diletakkannya di pinggiran jendela. Beragam musik mengalun indah bercampuran di udara, dan Laudita tertidur pulas. Begitu lelap. Setitik air mata terjatuh di bantal.
*
Sudah sore, Laudita hampir saja tidur sepanjang hari. Laudita menggeliat seperti kucing kecil di atas ranjangnya, mengusap-usap matanya. Pendingin ruangan rasanya telah membekukan tubuh Laudita. Dingin sekali. Ketika dia membuka selimutnya dan bangkit berdiri, dia sadar hujan masih belum reda juga di luar sana. Tidak terdengar suara apapun dari luar kamarnya. Laudita membuka pintu kamar dan aroma kue-kuean yang dibuat Mama sudah tercium begitu harumnya. Laudita seketika membayangkan kue-kue manis kesukaannya. Bentuk yang lucu-lucu dengan krim berwarna pelangi. Tapi entah kenapa dia tidak berselera, dia tidak mau pergi ke dapur dan mencicipinya. Dan Laudita menutup pintu kamarnya lagi.
“Laudita, sayang, ayo ikut makan malam.” Laudita merasakan tubuhnya begitu berat untuk bangun, Mama memegang dahi Laudita dan Mama tahu putri bungsu kesayangannya itu sedang demam. Maka Mama mengambilkan jaket tebal untuk Laudita dari dalam lemari, dimatikannya pendingin ruangan, dan digendongnya putrinya itu keluar kamar.
Seluruh keluarga sudah berkumpul di meja makan. Ada beberapa orang yang Laudita belum pernah jumpai. Mama duduk di sebelah Laudita. Orang-orang baru itu begitu ramah dan tersenyum ke arah Laudita. Tapi Laudita tahu orang-orang itulah yang akan merebut Kak Amel dari keluarga mereka.
“Adik bungsunya Amel, ya? Wah, cantik seperti kakaknya, ya. Matanya seperti boneka.”
Banyak orang melakukan hal yang sama, memuji mata Laudita. Tapi Laudita tidak pernah suka dirinya dibilang mirip boneka. Maka Laudita menggeliat ke arah pangkuan Mama dan pura-pura tertidur di sana.
Mama memang sangat menyayangi Laudita. Mama pindah duduk di atas sofa nyaman di ruang tamu, menyalakan televisi, sementara yang lainnya masih menyantap makanan di meja makan. Terdengar ribut sekali, orang-orang yang sedang bercerita dari kejauhan. Sayup-sayup Laudita mendengar banyak tawa sukacita. Tapi Laudita tidak bahagia. Setitik air mata lagi jatuh di pipinya.
Mama mengelus rambut Laudita dan mengecupnya. “Klaudi sedih mau ditinggal pergi Kak Amel, ya?” Mamanya berbisik di telinga Laudita.
Laudita membuka sebagian matanya, dan ketika melihat senyum Mama, dia kembali memejamkan kedua matanya. Mama tersenyum saja. Mama memeluk tubuh Laudita semakin erat dan lalu mendudukannya di sofa.
“Kak Amel pasti akan bahagia, Klaudi. Jadi Klaudi tidak boleh sedih, ya.”
Tapi Laudita justru menangis. Mama tersenyum simpul. Dan Laudita menangis semakin keras. Terisak-isak, lalu semakin menjadi-jadi, sampai suara tangisnya terdengar dari ruang makan. Laudita mengencangkan pelukannya di dada Mama. Mama menenangkannya dengan membelai-belai rambutnya.
“Klaudi sedih karena apa?” tanya Mama.
Tapi Klaudi tidak bisa berhenti menangis. Tangisnya semakin keras dan menjadi-jadi. Dia membayangkan, nanti kalau Mama mati, siapa lagi yang akan memeluknya? Siapa lagi yang akan mendengar tangisnya?
Saat itulah Ayah lalu datang dengan tergesa-gesa, diikuti oleh beberapa orang lainnya di belakangnya. “Klaudi kenapa, Ma? Kamu kenapa, sayang?” Ayah bertanya khawatir.
Mama hanya menggelengkan kepala dan memberi isyarat Ayah untuk duduk. Yang lainnya lantas juga menuruti perintah Mama dan ikut duduk di sebelah Ayah.
Laudita tidak tahu apa yang sedang ditakutkannya. Dia sekarang hanya takut kehilangan Kak Amel dan Mama. Dia lalu juga berpikir kalau dia mungkin takut mati. Kenapa orang-orang harus mati?
Beberapa saat berlalu, tangis Laudita akhirnya reda juga. Dia merasa kelelahan dan tubuhnya lemas sekali. Mama kembali mencium ubun-ubunnya dan bilang kalau semuanya akan baik-baik saja.
“Ma, kenapa Kakek harus mati? Kenapa Mama ditinggal sendiri?” tanya Laudita kemudian, sesaat sebelum Mama berniat mengembalikannya ke tempat tidur.
Mama ingat kejadian satu tahun lalu. Saat itu, Laudita menemani mereka sekeluarga melayat ke kampung halaman Mama. Dan Laudita melihat sendiri dengan mata kepalanya, kakeknya yang suka bercerita tentang kancil dan juga katak sudah tidak bisa diajaknya berbicara. Laudita waktu itu minta didongengkan tentang kisah putri dan pangeran yang belum selesai diceritakan oleh kakeknya. Dan dia menangis menjerit-jerit ketika tahu kakeknya sudah tiada.
“Kan, ada Klaudita. Ada Kak Amel, Kak Lulu, masih ada Ayah, kakek dan nenek dari Ayah. Jadi Mama tidak sendiri.” Jawab Mama.
“Tapi kenapa Kak Amel menikah? Kenapa Kak Amel pindah ke rumah baru?”
Ayah sudah bangkit dari kursinya dan memberikan tanda supaya Laudita segera dibawa kembali tidur. Tapi Mama menggelengkan kepalanya, lalu menghadapkan wajah Laudita ke arah seluruh orang di sana. “Klaudi lihat Mama, Mama juga pindah ke rumah baru waktu menikah. Semua orang tidak tinggal di tempat yang sama lagi ketika sudah dewasa.”
“Kenapa harus pergi?” Laudita kembali merasa sedih.
“Kalau tidak pergi, tidak akan menjumpai orang baru. Tidak akan punya teman baru, tidak akan kenal siapa-siapa. Kalau Mama tidak pergi dari rumah, Mama tidak akan punya Klaudi. Klaudi tidak akan lahir.”
“Kenapa harus punya teman baru?”
“Supaya kebahagiaan hidup bertambah. Teman-teman yang baik selalu membawa kebahagiaan.” Jawab Mama.
“Tapi apa nanti Kak Amel lupa dengan kita? Kak Amel akan punya banyak teman baru. Kakek di surga juga tidak pernah mendongengkan cerita untuk Klaudi lagi.”
“Pasti, Klaudi. Tidak akan pernah ada yang lupa sama Klaudi.” Jawab Mama. “Asal Klaudi tidak sering bersedih. Dan selalu tersenyum bahagia. Mereka pasti akan tetap ingat sama Klaudi. Karena mereka selalu ingat Klaudi yang seperti itu. Klaudi yang manis dan ramah, juga suka tertawa. Kalau Klaudi ingin terus diingat, hati Klaudi jangan pernah berubah.”
Secercah sinar hadir di mata Laudita. Senyuman mengembang di wajahnya. Tidak akan ada yang melupakannya. Bahkan ketika itu, dilihatnya bayangan kakeknya yang sudah meninggal berdiri jauh di hadapannya. Tersenyum juga ke arahnya.
**
#sedanginginmenurutikatahatiuntukmenuliskanapasaja
14/09/2010 14:58:33
Cetak Halaman Ini
Laudita ingin menangis. Nanti dia akan besar seperti kakak-kakaknya. Dia akan menjadi secantik mereka. Dan akan tinggal di rumah yang baru juga suatu saat. Tapi bagaimana kalau Mama pergi lebih dulu? Bagaimana kalau rumah sudah kosong sebelum dia pergi? Kalau kakek, nenek, dan ayah meninggal karena usia tua?
”Sini Klaudi, masuk. Klaudi mau hadiah apa untuk Natal?” Kak Amel memanggilnya
Mau hadiah apa? Untuk terakhir kali?
Laudita tidak bisa membayangkan kakak-kakaknya pergi meninggalkannya. Dia tidak mau ditinggal pergi. Oleh siapapun.
Laudita berlari ke kamarnya dan membenamkan kepalanya ke bantal. Dipeluknya bonekanya erat-erat, dibukanya kotak-kotak musiknya yang diletakkannya di pinggiran jendela. Beragam musik mengalun indah bercampuran di udara, dan Laudita tertidur pulas. Begitu lelap. Setitik air mata terjatuh di bantal.
*
Sudah sore, Laudita hampir saja tidur sepanjang hari. Laudita menggeliat seperti kucing kecil di atas ranjangnya, mengusap-usap matanya. Pendingin ruangan rasanya telah membekukan tubuh Laudita. Dingin sekali. Ketika dia membuka selimutnya dan bangkit berdiri, dia sadar hujan masih belum reda juga di luar sana. Tidak terdengar suara apapun dari luar kamarnya. Laudita membuka pintu kamar dan aroma kue-kuean yang dibuat Mama sudah tercium begitu harumnya. Laudita seketika membayangkan kue-kue manis kesukaannya. Bentuk yang lucu-lucu dengan krim berwarna pelangi. Tapi entah kenapa dia tidak berselera, dia tidak mau pergi ke dapur dan mencicipinya. Dan Laudita menutup pintu kamarnya lagi.
“Laudita, sayang, ayo ikut makan malam.” Laudita merasakan tubuhnya begitu berat untuk bangun, Mama memegang dahi Laudita dan Mama tahu putri bungsu kesayangannya itu sedang demam. Maka Mama mengambilkan jaket tebal untuk Laudita dari dalam lemari, dimatikannya pendingin ruangan, dan digendongnya putrinya itu keluar kamar.
Seluruh keluarga sudah berkumpul di meja makan. Ada beberapa orang yang Laudita belum pernah jumpai. Mama duduk di sebelah Laudita. Orang-orang baru itu begitu ramah dan tersenyum ke arah Laudita. Tapi Laudita tahu orang-orang itulah yang akan merebut Kak Amel dari keluarga mereka.
“Adik bungsunya Amel, ya? Wah, cantik seperti kakaknya, ya. Matanya seperti boneka.”
Banyak orang melakukan hal yang sama, memuji mata Laudita. Tapi Laudita tidak pernah suka dirinya dibilang mirip boneka. Maka Laudita menggeliat ke arah pangkuan Mama dan pura-pura tertidur di sana.
Mama memang sangat menyayangi Laudita. Mama pindah duduk di atas sofa nyaman di ruang tamu, menyalakan televisi, sementara yang lainnya masih menyantap makanan di meja makan. Terdengar ribut sekali, orang-orang yang sedang bercerita dari kejauhan. Sayup-sayup Laudita mendengar banyak tawa sukacita. Tapi Laudita tidak bahagia. Setitik air mata lagi jatuh di pipinya.
Mama mengelus rambut Laudita dan mengecupnya. “Klaudi sedih mau ditinggal pergi Kak Amel, ya?” Mamanya berbisik di telinga Laudita.
Laudita membuka sebagian matanya, dan ketika melihat senyum Mama, dia kembali memejamkan kedua matanya. Mama tersenyum saja. Mama memeluk tubuh Laudita semakin erat dan lalu mendudukannya di sofa.
“Kak Amel pasti akan bahagia, Klaudi. Jadi Klaudi tidak boleh sedih, ya.”
Tapi Laudita justru menangis. Mama tersenyum simpul. Dan Laudita menangis semakin keras. Terisak-isak, lalu semakin menjadi-jadi, sampai suara tangisnya terdengar dari ruang makan. Laudita mengencangkan pelukannya di dada Mama. Mama menenangkannya dengan membelai-belai rambutnya.
“Klaudi sedih karena apa?” tanya Mama.
Tapi Klaudi tidak bisa berhenti menangis. Tangisnya semakin keras dan menjadi-jadi. Dia membayangkan, nanti kalau Mama mati, siapa lagi yang akan memeluknya? Siapa lagi yang akan mendengar tangisnya?
Saat itulah Ayah lalu datang dengan tergesa-gesa, diikuti oleh beberapa orang lainnya di belakangnya. “Klaudi kenapa, Ma? Kamu kenapa, sayang?” Ayah bertanya khawatir.
Mama hanya menggelengkan kepala dan memberi isyarat Ayah untuk duduk. Yang lainnya lantas juga menuruti perintah Mama dan ikut duduk di sebelah Ayah.
Laudita tidak tahu apa yang sedang ditakutkannya. Dia sekarang hanya takut kehilangan Kak Amel dan Mama. Dia lalu juga berpikir kalau dia mungkin takut mati. Kenapa orang-orang harus mati?
Beberapa saat berlalu, tangis Laudita akhirnya reda juga. Dia merasa kelelahan dan tubuhnya lemas sekali. Mama kembali mencium ubun-ubunnya dan bilang kalau semuanya akan baik-baik saja.
“Ma, kenapa Kakek harus mati? Kenapa Mama ditinggal sendiri?” tanya Laudita kemudian, sesaat sebelum Mama berniat mengembalikannya ke tempat tidur.
Mama ingat kejadian satu tahun lalu. Saat itu, Laudita menemani mereka sekeluarga melayat ke kampung halaman Mama. Dan Laudita melihat sendiri dengan mata kepalanya, kakeknya yang suka bercerita tentang kancil dan juga katak sudah tidak bisa diajaknya berbicara. Laudita waktu itu minta didongengkan tentang kisah putri dan pangeran yang belum selesai diceritakan oleh kakeknya. Dan dia menangis menjerit-jerit ketika tahu kakeknya sudah tiada.
“Kan, ada Klaudita. Ada Kak Amel, Kak Lulu, masih ada Ayah, kakek dan nenek dari Ayah. Jadi Mama tidak sendiri.” Jawab Mama.
“Tapi kenapa Kak Amel menikah? Kenapa Kak Amel pindah ke rumah baru?”
Ayah sudah bangkit dari kursinya dan memberikan tanda supaya Laudita segera dibawa kembali tidur. Tapi Mama menggelengkan kepalanya, lalu menghadapkan wajah Laudita ke arah seluruh orang di sana. “Klaudi lihat Mama, Mama juga pindah ke rumah baru waktu menikah. Semua orang tidak tinggal di tempat yang sama lagi ketika sudah dewasa.”
“Kenapa harus pergi?” Laudita kembali merasa sedih.
“Kalau tidak pergi, tidak akan menjumpai orang baru. Tidak akan punya teman baru, tidak akan kenal siapa-siapa. Kalau Mama tidak pergi dari rumah, Mama tidak akan punya Klaudi. Klaudi tidak akan lahir.”
“Kenapa harus punya teman baru?”
“Supaya kebahagiaan hidup bertambah. Teman-teman yang baik selalu membawa kebahagiaan.” Jawab Mama.
“Tapi apa nanti Kak Amel lupa dengan kita? Kak Amel akan punya banyak teman baru. Kakek di surga juga tidak pernah mendongengkan cerita untuk Klaudi lagi.”
“Pasti, Klaudi. Tidak akan pernah ada yang lupa sama Klaudi.” Jawab Mama. “Asal Klaudi tidak sering bersedih. Dan selalu tersenyum bahagia. Mereka pasti akan tetap ingat sama Klaudi. Karena mereka selalu ingat Klaudi yang seperti itu. Klaudi yang manis dan ramah, juga suka tertawa. Kalau Klaudi ingin terus diingat, hati Klaudi jangan pernah berubah.”
Secercah sinar hadir di mata Laudita. Senyuman mengembang di wajahnya. Tidak akan ada yang melupakannya. Bahkan ketika itu, dilihatnya bayangan kakeknya yang sudah meninggal berdiri jauh di hadapannya. Tersenyum juga ke arahnya.
**
#sedanginginmenurutikatahatiuntukmenuliskanapasaja
14/09/2010 14:58:33
Cetak Halaman Ini
Hmm..., rasanya saya pernah dengar bahwa menambah teman = menambah pengeluaran, hi hi... :D.
ReplyDeletekenapa namanya panah hujan ?
ReplyDeleteMenulis artinya mengekspresikan gagasan, tindakan dan peristiwa...
ReplyDeleteI found your blog when I was looking for a different sort of information but I was very happy and glad to read through your blog. The information available here is great.
ReplyDeletehahaha iya mantep ne cerpen .....
ReplyDelete