Sunday, May 23, 2010

[Cerpen] Siklus Bumi

Sesuatu bergerak dari dasar reruntuhan.

Tuhan, rasanya sepi sekali.

Orang-orang yang dia kenal tiba-tiba tidak ada di sekelilingnya. Bahkan dirinya sendiri tiba-tiba tidak dia kenali, entah siapa sebenarnya. Dia tengkurap lemas di bawah bebatuan, darah mengucur dari segala penjuru tubuhnya. Dengan nafas terengah dia mencoba bergerak namun anggota tubuhnya tak dapat dia gerakkan. Dia merasa telah mati.

Dipejamkannya matanya, rasa perih datang dari tiap jengkal anggota tubuhnya dan menolak perintahnya untuk memejamkan mata. Maka kemudian dia terjaga dan tidak melakukan sesuatu halpun selain mencoba menjangkau pemandangan jauh di depan matanya. Sejauh apa yang dia lihat, tidak ada tanda-tanda kehidupan didapatinya di sekitarnya.

Mayat-mayat bergelimpangan, dia bahkan tidak tahu dia berada di mana.

Mayat-mayat yang tidak dikenalnya dan tempat yang begitu amat asing.

Langit kelabu, asap tertebar, tubuhnya masih menindih bebatuan dan bebatuan masih menindih tubuhnya. Adalah tiada harapan lagi untuk bertahan hidup. Namun demikianlah dia tetap hidup bahkan setelah rasanya telah berminggu-minggu lamanya dia terjerembab tak berdaya di sana. Logikanya, seharusnya dia telah mati. Namun hujan ternyata turun setiap hari. Sehingga dia bisa mengandalkan air hujan agar lidahnya tetap basah, sehingga dia bisa memakan mentah-mentah daging mayat-mayat sesamanya yang mengapung ke arahnya dibawa oleh limbah air hujan.

Pada suatu hari, tiba-tiba reruntuhan yang ditindihnya bergerak, mengguncang-guncang tak karuan. Lalat-lalat yang awalnya bermukim pada mayat-mayat yang membusuk di sekitarnya kemudian beterbangan ke langit, berputar-putar dari atas sana sejauh apa yang dia tangkap dengan matanya yang sudah tak awas lagi. Sisanya adalah belatung-belatung yang masih membungkusi tulang-tulang separuh daging tersebut. Dia sendiri terkena pengaruh juga. Dia terpelanting, merosot ke berbagai arah.

Kalau ada sesuatu yang dia syukuri dari guncangan yang mengejutkan itu adalah bahwa dia tiba-tiba sudah tidak tertimbun lagi oleh bebatuan. Adalah ketika dia ternyata kembali bisa mengerakkan anggota tubuhnya setelah untuk beberapa saat seharusnya sangat mungkin mereka mengalami disfungsi. Yang ternyata tidak.

Bahkan ketika dia tidak menemukan manusia lainnya berada di sekitarnya, dengan bisa kembali bangkit dan berdiri tegak sudah membuat dadanya penuh. Perasaan yang diduganya barangkali juga dialami oleh setiap bayi yang baru terlahir ke muka bumi.

Sesendiri inikah rasanya menjadi manusia pertama di muka bumi?

Luka-lukanya akibat kejadian ini sudah pasti akan meninggalkan bekas. Barangkali hal yang sama juga dialami manusia pertama di muka bumi. Dengan bekas-bekas luka yang tersisa di sekujur tubuh akibat dari pemendekan ekor, pemotongan sayap, patahnya tanduk... dia, sang manusia pertama, masih tetap berjalan tegap di atas bumi. Tapi tunggu, tiba-tiba terlintas di kepalanya, jadi apakah manusia adalah hewan yang tiba-tiba berubah menjadi manusia, menjadi dirinya yang sekarang? Hewan yang tiba-tiba terkucil dari seluruh keluarga hewannya dan tidak dikenali lagi bahkan oleh orangtua-hewannya sendiri? Hewan yang kemudian karena nalurinya untuk bertahan hidup, masih akan berjalan tanpa kesadaran atau sekedar dengan kesadaran palsu. Berketurunan, yang lantas bermigrasi dari Afrika kemudian ke seluruh benua.

Apa yang telah terjadi yang menyebabkan dunia runtuh dan setiap orang binasa kecuali dirinya. Dia mencoba mengingat-ingat. Dia tidak lupa segalanya. Dia yakin dia pernah dan masih memiliki identitas.

Dan hal terakhir yang ditemukannya masih tersimpan di kepalanya adalah dirinya yang berganti piyama dan mengambil tempat untuk tidur bersisian dengan istrinya yang telah lebih dulu terlelap. Hal terakhir yang dilakukannya adalah memadamkan lampu meja di sisi ranjangnya. Hal terakhir yang dirasakannya adalah tangan dingin istrinya yang beberapa saat kemudian menggenggam erat tangannya di ruang ber-AC itu.

Maka seharusnya ketika dia terbangun di reruntuhan itu, reruntuhan yang telah ditinggalkannya di belakang adalah reruntuhan kamarnya. Maka seharusnya salah satu mayat yang ada di sana adalah mayat istrinya. Namun mengapa mayat-mayat itu tercampur aduk satu sama lain? Bukankah di rumahnya hanya ada mereka berdua, dia dan istrinya.

Rasanya percuma berjalan terus menerus. Yang dia temukan hanya mayat-mayat yang membusuk terbenam lumpur, dan sisanya adalah amis yang menyengat. Juga reruntuhan. Juga langit yang di mana-mana masih sama saja hitam kelabunya. Dan yang dia lakukan dengan terus berjalan hanyalah untuk berulang-ulang kembali menginjak hal-hal itu. Mayat-mayat, reruntuhan bumi, dan langit yang hitam membayang pada lumpur yang kental.

Dia tidak percaya dunia yang sebelumnya selalu dipenuhi merdunya alunan musik dan alam yang begitu indah dan sastra yang bercerita tentang kehidupan semesta dengan rendah hati tidak dapat menyelamatkan dunia dan umat manusia. Dia tidak percaya kejahatan dan ketamakan manusia yang tercela mampu mengalahkan kebaikan dan kemuliaan para manusia penjaga semesta.

Kalau dunia memang harus berakhir, seharusnya saatnya bersamaan dengan semesta yang berakhir. Bersamaan dengan tiadanya sang pencipta. Tetapi semesta tidak mesti berakhir dan sang pencipta tidak mesti tiada. Bukan?

Bahkan samudera yang membentang seluas cakrawala langit pun tidak lagi sebiru di masa lalu. Bangkai ikan-ikan besar terdampar di pasiran pantai. Menemukan banyak hewan-hewan yang juga mati, seolah benar-benar menunjukkan bahwa saat itu sudah tidak ada lagi kehidupan yang tersisa selain dia. Tidak ada burung beterbangan di langit, tidak ada semut yang mengintai gula-gula. Tapi bukankah belatung juga lalat masih dapat dihitung sebagai bentuk kehidupan? Seandainya saja dia bisa berbicara dengan bahasa Lalat dan Belatung.

Kalau saja dia hanya bermimpi, dia tidak mengerti mengapa mimpinya tidak kunjung berakhir. Bagaimana perasaan para dinosaurus yang tersisa ketika kaum mereka sudah hampir punah? Apakah seperti ini rasanya? Apakah para dioesius itu sama tidak putus asanya seperti dirinya untuk menemukan dioesius lainnya, yang dapat mereka ajak menciptakan keturunan baru, meski itu artinya mereka akan mengkhianati pasangan awal mereka?

Tapi kalau hal-hal di dunia ini tidak diciptakan berpasangan, berarti tidak akan ada yang berlangsung di muka bumi. Maka berarti akan ada seseorang yang menjadi pasangannya bahkan di sisa-sisa reruntuhan bumi yang baginya masih seperti mimpi, maka dengan dia dapat menemukan pasangannya itulah kehidupan akan berlanjut.

Maka setelah bertahun-tahun pencarian yang tanpa akhir, dan ketika bumi berubah gersang, di saat seluruh perairan mengering seolah tersedot ke inti bumi, dan masih tak ada tanda-tanda kehidupan, seharusnya dia menyerah dan berhenti melakukan perjalanan. Membiarkan dirinya turut mati bersama mereka yang telah mati sebelumnya.

Seiring waktu berlalu, dia melupakan bagaimana caranya berbicara dan terutama bagaimana caranya berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Dan ketika dia telah akan melupakan segalanya, sesosok makhluk yang tidak dia kenali menghampirinya dan menyatu dengan tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, lantas mereka membelah, menjadi bentuk-bentuk baru.#23:50:14

p.s.: i must have been drunk enough tonight for i make sort of a mad piece.
Cetak Halaman Ini

2 komentar:

  1. bagus euy.. tapi koq endingnya gt.. ky blm slese ya?? q bingung

    ReplyDelete
  2. menarik..... tiada menjadi ada yang kembali tiada untuk menjadi ada dan tiada....

    ReplyDelete