Sunday, May 23, 2010

[Cerpen] Pantai Cermin

“Pak, sudah ketemu kuncinya?”

Saya sering mendengar orang-orang yang bersyukur atas hidupnya berkata bahwa setiap hari dalam hidup ini memberikan anugerahnya sendiri.

“Nak, itu koper-kopermu masukkan ke dalam mobil. Aduh, kenapa semuanya mesti perlu tunggu disuruh. Mana adikmu?”

Seperti halnya orang-orang selalu mengagumi misteriusnya waktu, semestinya begitu juga berlaku pada ruang.

“Kalau misalnya kita berangkatnya sekarang, apa masih sempat lihat matahari terbit, Pak?”

Setiap tempat pasti mempunyai sesuatu yang berharga dan hanya dapat dirasakan oleh mereka yang terikat dengan tempat tersebut.

“Ah, kenapa mesti merayakannya di laut lagi, Ayah!”

Saya sendiri selalu terikat dengan hari dan tempat kelahiran saya. Saya terikat pada lautan. Saya terlahir di atas kapal. Tepat hari ini, empat puluh delapan tahun lalu.

“Itu karena Ayah hobi memancing, kak!”

Saya pernah membaca di suatu tempat bahwa kita mencintai kehidupan, bukan sebab kita sudah biasa hidup. Tetapi karena kita biasa mencintai. Saya bersyukur telah diberikan tempat dan waktu yang tepat hingga membuat saya betah mencintai kehidupan.

“Ih, anak kecil ingusan. Baru lahir kemarin, juga. Sok tahu aja. Ayah lahir di atas kapal, tahu! Pasti karena alasan itu. Iya, kan, Ayah? Ah tapi kalau tiap tahun selalu dirayakan di atas kapal, kan, jadi bosan juga, Ayah!”

Di saat orang seusia saya telah berada di puncak karir mereka, saya juga sedang berada di puncak saya.

“Kalian ini. Kata-kata Bunda keluar masuk telinga kanan-kiri terus, ya? Masukin dulu barang-barang kalian ke dalam bagasi! Sudah beres-beresnya lama, sekarang masih pakai acara ribut dulu di sini. Sana, sana.”

Saya tidak tahu puncak seperti apa yang dominan di dalam hidup saya. Namun saya sadar betul betapa Tuhan telah begitu murah hatinya kepada saya sehingga saya dipertemukan dengan istri yang begitu mencintai saya dan kami dititipi anak-anak yang saya yakin bisa menjadi lebih baik dari saya sekarang.

“Bagaimana, Pak? Sudah ketemu, kan, kuncinya?”

Selama ini saya memiliki kehidupan yang menyenangkan. Tatapan mata istri saya begitu indah untuk membuat saya berpaling dari nikmat kehidupan. “Sudah, Bu. Ayo kita berangkat. Semuanya sudah beres?”

Kalau ada hal lain yang mengisi hidup saya sekarang mungkin itu adalah petualangan-petualangan yang masih saya lakukan hingga saat ini. Memancing, berinteraksi dengan orang-orang... menghilang dalam keterasingan.

Laut adalah keterasingan itu.

*

Pantai dan matahari di ufuk timur. Barang-barang bawaan kami masih di dalam mobil. Kami membawa begitu banyak barang dari Jakarta. Beberapa hari belakangan kami telah singgah di penginapan-penginapan berbeda. Barang-barang itu masih di dalam mobil karena seusai berlayar saya akan melanjutkan perjalanan ke rumah keluarga. Dan perjalanan tibalah pada tujuannya.

Kalau saya pikir-pikir, sebenarnya setiap saat laut selalu berwujud seperti ini. Seperti benda-benda langit yang tidak pernah hilang di atas sana, seumpama planet-planet yang berpusar pada matahari. Hanyalah letaknya yang berubah-ubah.

Saya selalu menganalogikan kejadian di muka bumi ini seperti halnya lautan. Sebenarnya semua ciptaan-Nya telah terasing di lautan-Nya. Semua orang tenggelam di laut semesta. Bergoncangan, beradu dengan ombak. Kita menangis saat bahagia dan kita tertawa saat bersedih. Dan pada akhirnya orang-orang yang kita cintai akan pergi. Sampai nanti kita sendiri juga pergi.

“Ah, untung kita bisa lihat matahari terbit!”

Tali pusar saya dibuang di lautan ini, kata paman saya, ayah saya dengan cekatan membersihkannya dengan air kelapa dan lalu menaruhnya dalam wadah kemudian melemparnya ke dalam laut.

“Kali ini aku pasti bisa menangkap ikan lebih banyak dari kakak.”

Cakrawala membentang luas, aroma pantai yang asin tidak lagi asing.

“Ah, ngaco kamu. Mana mungkin. Setidaknya kamu mesti minta restu dulu dari tali pusar ayah! Seperti aku, nih!”

Putra sulung saya berlari ke arah ombak.

“Kenapa tidak minta restu langsung ke ayah saja, sih? AAAH! Kakak curang! Jangan nyolong start duluan, dong!”

Adiknya menyusul di belakangnya. Berlari tidak kalah kencang daripada kakaknya.

“Salah sendiri. Hahaha. Larimu lambat sekali, sih, bocah!”

Beberapa jarak dari kami orang-orang yang saya kenal telah melambaikan tangan mereka ke arah saya. Orang-orang yang selalu tersenyum bukan karena bahagia namun karena telah terbiasa. Orang-orang pantai memang segigih itu. Seharusnya saya juga.

Kapal kecil di belakang mereka masih kapal yang tahun lalu kami gunakan berlayar. Kami selalu menggunakannya hanya untuk memancing saja. Meski anak-anak tidak pandai memancing, tetapi mereka laki-laki jadi saya selalu mengajak mereka ikut.

Istri saya akan menunggu di pinggir pantai dan berbincang-bincang dengan istri-istri para nelayan. Istri saya menyukai anak-anak kecil. Dia telah terbiasa diperhatikan oleh anak-anak nelayan itu. Tahun ini dia pasti menyiapkan sesuatu untuk bocah-bocah itu.

“Sini mana umpannya... Dasar ini bocah. Apa-apa lelet.”

“Tunggu dulu, kenapa.. Mengalah, dong, sama yang lebih kecil.”

“Idih pakai acara mengalah segala. Para pria bertarung tidak pandang umur, kecil!”

Kedua putra saya suka bercanda dan mereka menyukai musik. Kadang musik-musik yang mereka perdengarkan di acara kumpul-kumpul memang terdengar lucu di telinga saya. Maka saya selalu mengira musik-musik yang mereka dengarlah yang barangkali meningkatkan selera humor mereka. Adu mulut antara mereka pernah begitu sengit namun kesannya tidak seperti berkelahi.

Istri saya sedang berbicara dengan istri para nelayan di kejauhan. Tidak seperti biasanya karena bahkan dari jarak berapa ratus meter pun ada pancaran cemas dari gerak-geriknya. Saya tahu apa yang berbeda. Bocah-bocah kecil yang kami lihat tahun lalu tidak lagi bermain bersama ibunya di sana. Padahal istri saya pasti sudah membawakan sesuatu untuk dihadiahi kepada mereka.

“Anak kami meninggal beberapa bulan setelah kunjungan terakhir Bapak ke sini.” Nelayan itu menjelaskan. Meski dengan capingnya itu, samar-samar raut sedihnya masih juga kental saya lihat.

Padahal gadis itu, Pala, adalah gadis yang begitu lincah. Dialah yang membantu ayah ibunya menyiapkan tempat menginap untuk kami tahun lalu. Bocah di keluarga kami senang mengusili Pala, tetapi gadis itu selalu tersenyum. Dan jika gadis itu mati, maka senyum itu tidak akan pernah menyapa kami lagi kecuali melalui pigura.

“Meninggal kenapa?”

Si sulung dan bungsu yang sedang ribut di sekitar kami tiba-tiba terdiam. Mereka berusaha untuk menyimak. Saya merasa waktu seolah turut berhenti saat mata mereka melotot seperti itu untuk menanti penjelasan.

“Hilang di laut ini. Dia bilang dia melihat sesuatu, ada orang yang tenggelam. Dia terjun dari sampan untuk menolong orang itu. Kami di sini tak melihat apa-apa saat itu. Tapi dia terus berenang menjauh, dan akhirnya hilang dari pandangan saya.”

Saya sudah menyangka demikianlah cara Pala akan kembali ke rumah sejatinya. Saya selalu berpikir bahwa orang-orang yang baik akan mati di tempat yang paling dicintainya. Saya pun akan mati di laut ini suatu saat nanti.

Tetapi... hilang?

“Sampai sekarang tubuhnya belum ditemukan.”

Dan percakapan tidak diteruskan lagi setelah itu. Nelayan itu berlayar dengan perahu berbeda. Saya dan dua putra saya bersama dengan nelayan lainnya memancing ke tengah, agak lebih jauh darinya.

Menurut desas-desus beberapa jam belakangan, katanya belakangan ini dia memang biasa menyendiri. Menatap permukaan air laut dan merenung. Kalau saya tidak tahu mengenai keadaan mentalnya saat ini, saya pasti tentu mengira dia sedang berkaca di perairan. Berkaca seolah siap tenggelam.

Setelah beberapa lama, dia mendahului kami kembali ke tepi. Perahu kami mengikutinya di belakang. Kakinya begitu kekar memijak di atas pasir pantai. Istrinya menyambutnya di sana. Ada seorang pria kecil menemaninya, sepertinya adalah anak bungsu mereka, yang berarti adalah adiknya Pala. Istri saya memegangi bahu bocah itu. Beberapa saat sebelum saya kembali ke daratan, keluarga nelayan itu telah pulang.

“Sudah kubilang aku yang akan menang, Nda. Anak kecil mana bisa menang dari yang lebih tua.”

Si sulung menunjukkan tangkapannya kepada ibunya. Si bungsu menimpali.

“Biar lebih banyak yang penting nggak lebih besar. Ikanku lebih besar-besar, Bunda! Lihat, deh!”

Ibu mereka hanya tersenyum. Wajah sendu itu sudah familiar selama beberapa jam belakangan ini. Wajah yang sama seperti yang kutemukan pada nelayan tadi.

*

“Pantas saja namanya Pantai Cermin, Pak.” Demikian lantas istri saya berujar di dalam mobil. “Orang-orang selalu bisa bercermin di pantai ini. Dari hasil tangkapan anak kita saja sudah kelihatan. Sulung yang selalu punya banyak cita-cita. Tertarik pada semua hal, kurang teliti. Bungsu yang selalu meniru si sulung, tapi selalu mengharapkan hal-hal yang lebih besar dari kakaknya.”

Saya merenungi perkataannya sejenak. Apakah saya tadi bercermin juga di pantai itu?

“Bapak nelayan tadi tiap hari bercermin. Kata istrinya, dia mencari sosok anaknya yang hilang di sana. Tiap hari dia bercermin di sana.”

Sulung dan bungsu yang sejak tadi diam di kursi belakang mobil tidak merespon sejak tadi. Mereka memang sudah tidur, barangkali karena kelelahan.

“Bapak juga selalu bercermin ke pantai itu, kan?” Saya tidak menyangka istri saya akan melanjutkan kalimatnya.

Sepertinya memang begitu. Saat saya bercermin, jika saya terlalu larut memandangi pantulan diri saya di cermin, saya tidak akan sadar bahwa saya sedang bercermin.

“Setiap tahun Bapak selalu datang ke sana untuk bercermin. Karena Bapak lahir di sana.”

*************
Ditulis pada 22 Mei 2010
Dengan bantuan spesial dari rekan saya, Tomtom, dan 2in saya.
Terima kasih!

Sebuah hadiah ulang tahun untuk Pamanda Heri Yanto. Dengan disertai doa ulang tahun. Semoga cerita ini berkenan di hati. ^^
23/05/2010 2:26:24
*************

0 komentar:

Post a Comment