Sunday, May 23, 2010

[Cerpen] Bocah Adopsi Paman dan Bibi

Belakangan ini, setiap orang bertanya kepadaku.

Sebenarnya aku tak begitu mengenal mereka. Namun ketika mereka melewati pagar rumahku yang pendek dan melihatku sedang menyirami kebun, mereka lantas berhenti dan menyapa. Kemudian terjadilah percakapan yang senada.

Apa kau ingat gadis yang diadopsi tiga puluh tahun lalu itu? / Yang mana, ya? / Itu, yang diadopsi karena keluarga itu tidak bisa memiliki keturunan. / Oh, maksudmu yang kemudian keluarga itu mengadopsi dua orang anak? / Iya, anak perempuan dan laki-laki. Jadi kau masih ingat, kan? / Barangkali. Tapi memangnya ada apa dengan mereka?

Maka kemudian mereka akan menceritakan hal yang serupa.


Awal kisah ini telah lama lewat begitu saja. Waktu itu aku masih belia. Masih adalah seorang gadis remaja yang mengikuti masa tenarnya rambut dikeriting. Paman dan bibi yang menanam mangga di depan rumahnya dan sering aku panjati bersama teman-temanku ketika muda kudengar memang sudah lama ingin memiliki keturunan.

Waktu itu kami suka mampir ke rumah mereka dan duduk di teras rumah sambil makan rujak mangga bersama dengan bibi. Aku lupa nama bibi itu, tapi memang kami selalu memanggilnya Bibi saja, tanpa embel-embel yang lain lagi. Mungkin karena dia begitu menginginkan memiliki seorang anak maka dia selalu menerima kami dengan tangan terbuka. Pagar rumahnya tidak pernah dikunci.

Sepulang sekolah, aku seringkali lebih dulu singgah ke rumah bibi dan paman daripada pulang ke rumahku sendiri. Aku pun tak heran saat teman-teman seusiaku melakukan hal yang sama. Tas-tas plastik berisi buku sekolah yang kami bawa akan kami taruh pada meja bundar di teras, lalu kami berlomba-lomba memanjat pohon mangga.

Salah seorang temanku yang perawakannya mungil dan gerakannya selincah kera adalah yang biasanya mengumpulkan mangga paling banyak. Aku dan bibi biasanya membuat bumbu untuk rujak. Saat itu, kata bibi, paman sedang bekerja di kantor. Paman bekerja di kantor penyiaran berita.

Setiap hari selalu seperti itu. Tidak pernah ada pertengkaran terjadi di rumah paman dan bibi pemilik pohon mangga besar itu. Mereka hidup rukun bahkan sampai aku pindah dan tidak lagi menjadi tetangga mereka.

Waktu itu mereka sudah akan hampir menikah selama lima belas tahun saat aku telah lulus sekolah menengah dan berkemas akan pindah melanjutkan kuliah ke luar negeri. Mereka menikah muda namun setelah lima belas tahun berumah tangga, mereka masih belum juga dikaruniai keturunan. Mereka tidak memutuskan untuk berpisah, aku begitu kagum akan keputusan ini.

Aku tak heran. Paras bibi begitu ayu dan bercahaya layaknya bulan purnama bahkan di hari-hari saat wajah orang-orang lain nampak begitu muram. Paman pasti tidak akan sanggup melepas bibi. Bibi juga tidak akan sanggup melepas paman. Kurasa tidak akan ada lagi laki-laki sesabar paman yang bisa bibi temukan di luaran sana.

Maka karena itu, kabarnya, setelah aku pindah mereka kemudian mengadopsi dua bayi dari rumah sakit. Bayi laki-laki dan perempuan. Aku bersyukur dan membayangkan betapa bahagianya paman dan bibi ketika itu.

Ketika itu, aku tak menyangka ternyata ada kutukan yang dibawa oleh si bayi perempuan. Aku baru memikirkannya akhir-akhir ini.

Sudah tiga puluh tahun berlalu setelah saat itu. Aku tentu sudah tidak bisa melihat paman dan bibi duduk bersama-sama di teras lagi. Terakhir kali aku berkunjung ke rumah mereka saat aku pertama kali kembali ke kota kelahiranku ini, bibi sedang duduk di kursi roda dan ketika itu dia tidak bisa menggerakkan sejengkal pun dari bagian tubuhnya lagi. Lain halnya dengan paman. Prostatnya membengkak sehingga tidak bisa bangun dari tempat tidur.

Aku sedih ketika melihat putri yang paman adopsi. Sebelum menjenguk paman dan bibi di rumahnya, aku sudah mendengar banyak desas-desus yang tidak begitu menyenangkan tentang gadis itu.

Jadi secara singkat, sebelum berkunjung ke sana, tetangga-tetanggaku sudah menceritakan kisah tiga puluh tahun yang menjadi bagian hidup dari paman dan bibi. Kisah yang tentu saja tidak kuketahui sebelumnya.

Dan setelah mengetahui kisah itu, kusimpulkan bahwa gadis yang diadopsi oleh paman dan bibi itu bukanlah manusia. Banyak orang berpendapat sama denganku.

Tiga puluh tahun lalu, paman dan bibi mengadopsi gadis itu dari rumah sakit. Namanya sederhana, orang-orang memanggil gadis itu Alya.

Di saat Alya berusia lima belas tahun, dia berhenti sekolah. Ketika itu dia hamil. Lantas beberapa saat kemudian dia melahirkan tanpa seorang suami yang mengaku sebagai ayah dari putrinya. Setahun kemudian, dia melahirkan lagi. Begitu seterusnya hingga dia memiliki lima orang anak. Anaknya yang pertama, namanya Ayu, lima belas tahun kemudian, meniru jejak yang sama. Ayu hamil dan telah memiliki seorang anak di usia lima belas.

Warga sekampung geger ketika mengetahui Alya menjual anaknya yang paling bungsu. Konon kabarnya bayi itu dijual seharga tiga juta rupiah. Bayi itu dijual untuk membiayai persalinan Ayu dan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Aku antara menganggap kisah ini sebagai lelucon dan ingin muntah ketika mendengarnya. Ketika kisah tiga puluh tahun itu berhasil diselesaikan intisarinya, aku bertanya-tanya siapa pria yang menghamili Alya hingga bahkan ketika dia memiliki lima orang anak pun dia masih belum bersuami. Warga di kampungku awalnya mempertanyakan hal itu jua, namun mereka dibuat bosan dengan rasa penasaran mereka sendiri.

Aku ingin menduga bahwa kisah ini hanya dongeng tetangga sinis yang diceritakan turun temurun, tetapi setiap kali melihat Alya dan Ayu menggendong anak-anak mereka berjalan-jalan dan melintas di depan rumahku, rasa mual yang sama tetap kurasakan.

Bahkan ketika aku pagi ini sedang mengobrol dengan tetanggaku, Alya berjalan bersisian dengan Ayu, dia menggendong cucunya dengan tali gendong. Ayu menuntun adik-adiknya di sisinya. Tinggi Alya dan Ayu sepantaran dan Alya, kulihat, sejujurnya masih mirip bocah berusia lima belas tahun yang tidak tumbuh besar.

Sampai sekarang aku masih ketakutan melihat dua bocah itu. Entahlah mereka sadar atau tidak bahwa mereka telah menjadi bahan pergunjingan warga sekampung siang-malam.#14:39:31
Cetak Halaman Ini

0 komentar:

Post a Comment