**
Tidak ada seorang pun yang memercayaiku sewaktu aku bilang aku pernah hidup sebelumnya. Sebelum kelahiranku sebagai manusia.
Waktu aku bilang aku pernah menjelma menjadi anjing di kelahiranku sebelumnya dan di saat kemudian aku memeragakan bagaimana tingkahku sewaktu menjadi anjing, orang-orang di sekitarku hanya mencibir ke arahku.
Aku bilang lagi pada mereka bahwa di salah satu kelahiranku aku juga pernah menjadi burung-burung yang terbang bebas di angkasa. Di saat musimnya tiba, aku akan terbang dari utara ke selatan bersama burung-burung yang lain. Kemudian aku menunjukkan di hadapan orang-orang itu bagaimana bebasnya terbang di angkasa dengan sayapku sendiri. Kukepak-kepakkan tanganku dan berlari sekencang-kencangnya dari satu gang ke gang lainnya. Sebenarnya saat itu aku masih juga berharap aku akan bisa terbang lagi.
Tak ada yang terjadi. Selain ternyata aku tak bisa terbang lagi, mereka tetap tak percaya sama sekali. Dengan gigih setelahnya aku bilang aku juga pernah menjelma menjadi semut. Aku terangkan bahwa para semut pekerja harus tunduk kepada sang ratu. Kuperlihatkan pada mereka bagaimana caranya membungkuk hormat pada sang ratu dan bagaimana caranya memanggil sekawanan semut lainnya sewaktu aku menemukan gula-gula di tengah perjalananku. Aku tunjukkan caraku meliuk-liuk membawa bongkahan gula-gula besar di atas punggungku dan bagaimana biasanya aku bertikai dengan semut-semut lainnya saat gula-gulaku hendak direbut oleh mereka.
Makin hari aku makin kerasan mempertontonkan semua itu di depan mereka. Aku mendapatkan uang dari apa yang kulakukan. Receh demi receh memenuhi jalanan di sekitarku. Mereka melempar begitu saja uang-uang logam itu dari kantong mereka. Mereka pikir aku membadut. Mereka sebut itu atraksi. Padahal aku tidak beratraksi. Aku hanya ingin membuktikan kebenaran dari kata-kataku. Tapi sudahlah.
Yang penting, bagaimanapun, aku terus berusaha. Kulakukan beragam cara agar mereka percaya. Aku meloncat dari satu genteng rumah tetanggaku ke genteng tetanggaku yang lainnya dan mengaku bahwa aku pernah hidup menjadi kera di tengah hutan di Kalimantan. Anak-anak kecil di sekitar rumahku memasang wajah tak paham sewaktu aku sebut nama daerah itu. Maka awalnya mereka sering bertanya bagaimana rasanya hidup di berbagai tempat dan mengapa aku bisa menjelma menjadi hewan-hewan berbeda di tiap kelahiranku. Mereka bilang itu tidak diajarkan di agama mereka. Kata mereka, hal itu punya istilah. Namanya reinkarnasi. Mereka tahu itu, tapi mereka tidak percaya. Itu menentang agama mereka, katanya. Maka lantas aku jawab itu juga tidak diajarkan di agamaku.
Binatang-binatang lahir dan tumbuh tanpa agama, begitu kubilang. Meski aku sempat sedikit berfilosofi ketika menghadapi anak-anak kecil itu, setelahnya aku kembali memeragakan gerakan-gerakan dan suara-suara binatang di hadapan mereka. Mereka bertepuk-tepuk riang, tertawa-tawa, sesekali meminta naik ke punggungku sewaktu aku beratraksi menjadi simpanse. Lantas mereka memberikanku roti bekal mereka ketika jam istirahat sekolah telah berakhir. Kadang ada yang memberiku permen, kadang juga ada yang hanya menepuk-nepuk kepalaku dan mengelus-elusnya dengan sayang sebelum kembali belajar ke kelas.
Binar mata mereka begitu cerah. Senyum dan tawa yang begitu lugu. Kadang sempat aku berpikir, di kehidupan yang lalu apakah mereka juga menjelma menjadi binatang? Menjadi binatang apakah mereka? Apakah kami pernah bertemu sebelumnya? Sehingga mereka bersedia memberiku sisa makanan mereka sekedar kugunakan untuk bertahan hidup dari hari ke hari.
Dan seperti itulah hari demi hari berlalu. Bersama mereka, hari-hariku tidak pernah punya siang dan malam. Tidak ada matahari terbit dan matahari tenggelam. Di saat mereka ada, saat itulah hariku baru saja dimulai.
Hingga suatu saat aku pernah lupa bahwa aku ingin orang-orang di lingkunganku memercayai kalau aku pernah hidup sebelum kelahiranku ini. Aku melupakan apa tujuanku. Pada suatu saat, aku merasa aku terus menerus melakukan hal yang sia-sia. Di pagi hari, aku hanya duduk di depan teras rumahku. Di saat jam istirahat sekolah, aku akan berlarian ke arah gerbang sekolah dasar di sebelah rumahku. Aku akan bertemu dengan Rahmat, Anto, Leli, Dewi, Asih, dan banyak lagi nama-nama lain yang aku tak begitu ingat. Tapi aku hafal wajah mereka. Aku menghafal tatapan mereka terhadapku.
Aku suka anak-anak kecil. Merekalah yang selalu membuatku lupa bahwa aku masih memiliki cita-cita besar untuk membuktikan kepada orang-orang bahwa aku pernah memiliki kelahiran sebelum kelahiranku ini. Bagiku, bisa dipercayai oleh para bocah manis yang sering mengajakku bermain petak umpet dan congklak rasanya sudah cukup. Dan aku terus menanamkan kepada diriku sendiri. Barangkali ketika mereka sudah besar nanti, mereka akan memberi tahu pada orang-orang di seluruh dunia bahwa kata-kataku selama ini benar.
Jadi aku tidak perlu melakukan banyak hal lagi. Aku hanya perlu mendongengi mereka setiap harinya. Dan aku akan bertemu dengan mereka setiap harinya. Hidup yang menyenangkan. Meloncat-loncat, meliuk-liukkan tubuh, merayap di tanah, semuanya kulakukan. Menggonggong, menjerit, mencicit, mendesis, tiap hari kusiarkan bunyi apapun yang bisa kuperdengarkan kepada mereka. Mereka menyayangiku lebih dari apapun. Aku ingat, ada seorang gadis berambut sebahu yang suka sekali menggelantung di leherku. Kalau tidak salah namanya Putri.
Suatu saat ketika mereka sudah duduk di kelas lima, mereka memintaku mendongengi mereka. Dengan setumpuk buku bacaan di tangan mereka. Aku menatap pilu ke arah mereka. Aku tak pernah bisa membaca. Saat aku bilang yang sejujurnya, mereka tertawa. Tertawa hebat. Tatapan mata mereka berubah seperti tatapan-tatapan yang selama ini kuperoleh dari orang-orang di sekitarku. Mereka lantas bilang, sudah sepantasnya aku tidak bisa membaca, bukankah aku hanya sekedar kelahiran kembali dari seekor binatang? Lalu beberapa dari mereka menyanggah, tidak, bukan, kata mereka aku adalah kelahiran dari binatang-binatang. Mereka menambahkan, binatang-binatang tidak pernah bisa membaca. Binatang-binatang itu bodoh.
Pada suatu senja di kala itu, ketika langit mendung dan mereka menertawaiku dengan sepenuh hati seperti itu, hari-hariku seolah terhenti.
Setelah saat itu, aku mengurung diri di rumahku. Berhari-hari. Aku hanya makan saat ada tetanggaku yang menaruh piring nasi di depan pintu rumahku dan mengetuknya dengan sopan sebelum pergi. Aku tidak keluar dan tidak menunjukkan muka, tapi kuambil piring makanan itu ketika mereka sudah beranjak. Nasi, tahu-tempe, dan sayur isinya. Tidak setiap hari piring-piring itu diletakkan di depan pintu. Kadangkala mereka lupa hingga pernah selama seminggu aku dibuatnya berpuasa dan meminum air sumur di belakang rumahku.
Begitulah. Sampai berhari-hari aku terus melalui siklus hidup seperti itu. Aku merasa takut untuk keluar rumah. Aku takut anak-anak itu mengata-ngataiku. Aku takut mereka bilang lagi bahwa aku ini binatang yang bodoh dan idiot.
Bahkan di saat hari kelulusan mereka, aku samasekali tidak berani menampakkan mukaku di depan mereka. Aku dari jendela rumahku memperhatikan mereka berkejaran mencoreti seragam menggunakan semprotan dengan tinta berwarna-warni. Di sana pada seragam-seragam mereka kemudian ada tulisan-tulisan yang tidak bisa kubaca. Warna-warni dan penuh.
Dalam hati aku berkata, akhirnya, enam tahun telah berlalu dan aku ditinggalkan oleh mereka. Seingatku, di hari kelulusan itu, di hari yang sama ketika aku melihat bocah-bocah itu saling menyemprotkan warna-warna pada seragam mereka, ada seorang gadis setinggi dadaku berdiri beberapa meter di depan pintu rumahku. Tidak jelas-jelas di depan pintu rumahku. Aku tidak berani memberi harapan pada diriku sendiri bahwa dia mungkin saja khawatir denganku. Atau bahkan merindukanku. Tetapi, siapa dia? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Dia bukan salah seorang dari bocah-bocah yang suka kuajak bermain selama enam tahun ini.
Di sana dia berdiri. Rambutnya sebahu dengan ujung melekuk ke dalam. Tatapannya kosong. Tangannya mengepal. Dia berdiri dari siang hingga senja tiba. Kami saling berhadapan. Aku berdiri di depan kaca jendela dari siang hingga senja tiba. Namun seperti dugaanku sepanjang hari itu, pada akhirnya aku tetaplah aku yang tidak berani keluar rumah untuk menemuinya. Tak kubukakan pintu rumahku barang sejejak untuk siapapun. Juga gadis itu. Maka di senja hari, gadis itu kemudian beranjak pergi dengan dituntun oleh seorang ibu bersanggul penuh.
Seperti itulah waktu enam tahun yang kulalui berakhir. Beberapa tahun setelahnya, aku mulai memberanikan diri untuk keluar. Aku mulai membiasakan diriku bercakap-cakap dengan tetanggaku yang berbaik hati menghidupiku beberapa saat lalu. Aku bilang makanannya selama ini enak dan aku berterima kasih sekali untuk itu. Untuk terlihat lebih tulus, aku bahkan bilang bahwa aku bersedia menjadi anjing peliharaan mereka yang setia semenjak saat itu.
Awalnya mereka menolak, mereka baik sekali, tapi aku tetap memaksakan diri. Aku tidur tertelungkup di depan pintu rumah mereka setiap malam. Di saat ada petugas setempat melewati rumah majikanku untuk berpatroli malam, aku menyalak-nyalak senang menyapanya. Kugerak-gerakkan buntutku seolah aku punya ekor di sana. Dia tertawa-tawa melihatku melakukan itu lantas kepalanya menggeleng dan bilang, ada-ada saja.
Di pagi hari, majikanku memberikanku semangkuk susu. Aku menjilat-jilatinya senang. Mereka tidak memberiku tulang kering seperti apa yang kuharapkan. Mereka bilang aku pasti tidak akan suka. Maka sarapanku selalu adalah nasi sayur beserta tahu dan tempe. Aku menggonggong-gonggong bahagia setiap makananku datang.
Sepanjang saat itu, aku masih lupa bahwa dulu aku punya tujuan untuk memperoleh pengakuan dari lingkungan sekitarku. Padahal aku bisa saja berlari dari satu gang ke gang lain dan mengepak-ngepakkan tanganku. Aku bisa saja mendongeng seperti dulu mengenai hidup di dalam tanah, di balik kulit pohon, di dedaunan, atau di dasar laut yang dalam. Menjadi anjing peliharaan kesayangan majikanku, aku melupakan segalanya.
Aku hanya tahu aku adalah anjing yang setia. Kujagai rumah tuanku sepanjang hari. Kadang-kadang, aku tengok juga rumah lamaku di sebelah rumah majikanku. Orang-orang tidak bilang itu rumah, mereka sebut rumahku itu gubuk. Temboknya tersusun dari papan dan triplek serta beratapkan papan yang datar dengan dua jendela kecil dan satu pintu kecil. Ada sebuah sumur di belakangnya dan tidak ada tembok yang mengelilinginya. Tidak beralaskan keramik dan hanya ada tanah yang bergunduk-gundukkan di beberapa tempat.
Aku lupa siapa yang membangun rumah itu. Aku tidak ingat siapa saja pernah tinggal di sana. Sejauh yang kuingat, di suatu pagi aku terbangun dari tidurku yang nyenyak di atas jerami di dalam rumahku. Tidak ada orang yang kukenal di saat aku keluar rumah. Bahkan tidak ada yang tahu bahwa aku pernah punya nama. Mereka bahkan tidak sudi memberikan nama julukan untukku.
Dulu sekali, di awal masa hidupku, aku berjalan ke sana kemari tanpa nama. Aku menceritakan mimpi-mimpiku setiap malam dan ingatan-ingatan yang ada di kepalaku kepada orang-orang yang lewat di jalan. Banyak yang lewat karena di sebelah rumahku ada sebuah lapangan yang besar, tempat orang-orang bermain sepak bola di sore hari. Di pagi hari, aku selalu coba menyapa ibu-ibu yang lewat mengantar anak mereka sekolah.
Tapi itu semua tidak kuingat lagi selama aku menjadi anjing dari majikanku.
Sampai suatu hari, tidak kudapati lagi majikanku yang baik meletakkan mangkuk susu di depan pintu rumah. Mereka sekeluarga bahkan tidak keluar berhari-hari. Ayah, ibu, dan dua anaknya. Maka suatu hari ketika petugas malam lewat, aku menggonggong-gonggong panik. Sebagai anjing yang setia aku tidak bisa dengan mudah berbahasa manusia dan bilang kepada orang itu bahwa majikanku sudah beberapa hari tidak keluar-keluar juga dari dalam rumah. Aku hanya menggonggong-gonggong kesetanan.
Saat petugas itu tidak menghiraukanku, aku berlari ke arahnya, menjilat-jilati kakinya. Lantas aku mencakar-cakar celana bahannya lembut, menarik-narik celana bahan itu menuju ke arah rumah majikanku. Dia menurutiku.
Aku meloncat dan menggonggong di depan rumah. Membentur-benturkan tubuh ke pintu sambil mataku tetap menatap nanar ke arah sang petugas. Di sana di hadapanku dia berdiri tidak paham, menggaruk-garuk kepalanya bertanya-tanya. Aku menyahuti dengan gonggongan, aku harap dia paham aku adalah anjing yang khawatir dengan majikanku.
Esoknya, tubuh-tubuh mati para majikanku ditemukan di dalam rumah. Ibu yang begitu baik yang setiap pagi memberikanku semangkuk susu membusuk di atas kasur dengan usus memburai. Anak-anaknya memegang tangannya di sisinya. Kain panjang mengikat kencang leher mereka. Sementara tuan rumahku, sang suami, terduduk di lantai dengan mulut berbusa-busa dan cairan melimbah di sekelilingnya. Di sebelahnya ada sebuah botol racun.
Aku melolong sedih mendapati kejadian itu. Tapi orang-orang justru membawa sapu dan memukuli punggung dan buntutku. Aku mengaing-aing kesakitan dan berlari menjauh. Dari kejauhan aku masih melolong. Hari demi hari mereka bilang aku adalah binatang jadi-jadian terkutuk pembawa kutukan. Tidak ada yang berani mendekatiku atau memberikanku makanan lagi.
Aku mulai mengais-ngais sampah makanan dan membawanya pulang ke rumahku. Orang-orang melihatku dengan tatapan jijik. Sehari-hari aku tidak pernah bersentuhan dengan air terkecuali air hujan. Aku suka menggonggong-gonggong berputar-putar di tengah lapangan sewaktu hujan turun. Terkadang, seusainya hujan turun, aku pergi ke sungai dan menangkap ikan lantas memakannya mentah-mentah seperti yang dulu pernah kulakukan di kelahiranku sebelumnya ketika menjadi raksasa berbulu besar di daerah yang dingin.
Suatu hari, bocah-bocah kecil di masa laluku, mereka datang lagi dengan pakaian seragam yang tidak lagi putih-merah, mereka datang dengan celana panjang atau rok berwarna biru pucat. Saat melihatku, mereka mulai meledek-ledek. Padahal aku sebisa mungkin bersikap biasa saja. Aku masih bergerak-gerak seperti simpanse kesayangan mereka. Aku menggonggong-gonggong saat mereka tidak peduli lagi dan berlalu pergi.
Aku mengurung diri lagi di dalam rumahku setelah saat itu. Semalaman ada suara burung buruk rupa di belakang rumahku. Sepertinya dia bertengger di dekat sumur. Aku mengenali suara itu. Aku dulu juga pernah menjelma menjadi burung itu. Setiap kali aku berhinggap di rumah-rumah orang dan memperdengarkan suaraku, maka akan ada orang-orang berteriak histeris dan menangis di dalam rumah. Esoknya, rumah itu akan ramai didatangi orang-orang. Seseorang mati di dalam sana.
Ketika burung itu mulai memperdengarkan suara buruk rupanya dari arah belakang rumahku, aku membalasnya dengan suara yang sama buruk rupanya. Dia menyahut, bagaimana bisa aku mengerti bahasanya, bukankah aku seorang manusia dan bukan seekor burung sepertinya. Aku membalas, entah mengapa aku ingat semua kehidupanku sebelum kehidupanku sebagai manusia di kelahiranku sebagai manusia. Aku bercerita padanya bahwa aku pernah lahir menjadi banyak jenis binatang di kelahiran-kelahiranku yang lalu.
Dia bilang dia mengerti. Katanya baru saja di kelahiran lalu dia terlahir sebagai ular sawah yang mematuk petani di sawah dan lantas dia mati dibunuhi masyarakat karena itu. Dengan senang dia hinggap di atas bahuku. Kutanyai dia, apakah hari itu adalah saatnya aku akan mati.
Dia bilang dia tidak tahu, tapi bukankah memang selalu begitu, tambahnya cepat-cepat. Setiap kali dia datang ke rumah-rumah orang dan memperdengarkan suaranya, pasti saja selalu akan ada yang mati di dekat sana.
Jadi begitu, ya. Aku akan mati hari ini, ya. Begitu aku berujar dengan suara buruk rupa.
Di hari itu, di hari kematianku, seorang gadis berdiri di depan rumahku. Lebih tinggi dariku. Rambutnya sebahu dan melingkar-lingkar ikal. Tangannya mengepal dan kemudian dipergunakannya mengetuk pintu rumahku.
Apa kau tahu siapa dia, apakah dia yang akan menjemputku dan membawaku ke alam orang-orang mati. Kutanyai burung buruk rupa di bahuku.
Burung itu pergi dan terbang menjauh tanpa menjawab pertanyaanku. Di depan rumahku gadis itu terus menerus mengetuk pintu rumahku. Tatapan kosong di mata gadis itu seperti pernah kulihat sebelumnya.
Seseorang dari kejauhan berteriak memanggil nama gadis itu, “Asti!” begitu teriak orang itu pada si gadis.
Dan demikianlah hari itu aku mati sebagai seorang manusia yang kata-katanya tidak diakui. Tidak ada manusia yang akan tahu bagaimana rasanya lahir dan hidup sebagai binatang. Saat kau bilang kau adalah kelahiran kembali dari manusia hebat di masa lalu, mungkin saja mereka akan percaya. Saat kau ceritakan detail kematianmu sebagai manusia di kelahiran lalu, mungkin mereka merasakan pilu yang sama.
Tetapi saat kau bilang kau pernah terlahir sebagai anjing, kau adalah burung gagak, kau juga adalah siput, ular, kadal, serangga, semut, karena mereka tidak pernah merasakan rasanya menjadi binatang-binatang itu, apakah yang bisa mereka rasa? Apakah yang bisa mereka katakan dan lakukan? Selain mencibir dan meludah atau melempar receh merasa terhibur.
Jadi begitulah akhir hidupku sebagai manusia. Untuk terakhir kalinya di kelahiranku yang jauh sekali di masa lalu. Jauh, jauh, jauh sekali di seberang berpuluh kelahiranku setelahnya.
Begitulah aku kemudian mendongeng di depan sekawanan binatang di tengah hutan. Sebagai seekor singa yang selalu didengar. Dengan bahasa binatang yang selalu kukuasai.
Di pagi buta.
Jumat – Sabtu
12 Februari – 13 Februari 2010
*
Sudah pernah dipost di: http://www.kemudian.com/node/240422
Cetak Halaman Ini
paling suka bagian ini: Binatang-binatang lahir dan tumbuh tanpa agama.
ReplyDeletecerpennya bagus :)