Tuesday, April 21, 2009

[Cerpen] Sebuah Kenangan





21/04/2009 12:23:31

dunia dengan dua sisi
Kau tatap Ia dari pikir-Mu
kadang nyata kadang maya
mendua pada Satu

dan pada-Nya
Kita bergenggaman
Kita berjalan berputar
pada Ia yang menyata Satu
pada bumi yang melingkar mentari

lihat perjalanan Kita kini
adakah Kita
mengiyakan tiada
mengenggankan nyata
seperti halnya Ia meloncatkan Satu ke dua

menjadi setan dan malaikat
Ia menjadi tanah dan langit
menjadi Aku dan Kamu
nyatakah pada-Mu
senyata pada-Ku
bahwa Kita Satu

bahwa Kita adalah Ia
seperti Ia adalah Kita
seperti Aku adalah Kamu

nyatakah pada-Mu
Kita adalah Satu

bahkan pada maya
bahkan pada tiada

karena Kita

: menyatu Alam Semesta


Rohnya berjalan di kegelapan. Gelap yang menjelaskan gelombang yang dulu ketika hidup tak pernah dimengertinya. Jika dulu dia pernah mempelajari eter sebagai missing-link dari penjelasan mengenai pengantar gelombang di ruang hampa, jika dulu dia pernah diberi tahu bahwa benda padat yang berikatan kuat mampu menabrak-nabrak gas yang berpencar-pencar, kini ia baru memahami semuanya.

Dia tertabrak oleh segala benda. Oleh mobil yang melintasinya, tidak ada bunyi klakson ketika mobil itu menabrak tubuhnya. Seperti halnya tidak ada orang yang meminta maaf ketika berlari melewatinya. Dia tertabrak segala. Bahkan oleh gas yang berpencaran.

Jika dulu ketika hidup dia tak pernah tahu di mana tempat tinggal jiwanya kelak ketika mati, maka seperti halnya kini dia juga tak pernah tahu ke mana ia akan menuju. Ia pikir bahwa mungkin banyak jiwa yang sama berjalan pada gelap. Pada gelombang yang entah apa. Namun mereka tak saling melihat, tak saling menyadari.

Ketika pun mereka harus berpapasan, mungkin tidak akan ada yang saling menatap. Mereka berjalan tanpa wujud. Kalaupun keberadaan mereka mampu dijelaskan oleh teori atom di Fisika atau di Kimia, meski juga pada teori kuantum yang merajalela pada otak-otak brilian, apakah mereka sungguh perlu melihat diri masing-masing melalui mata yang berkekuatan mikroskop elektron? Sedang mereka, berjalan tanpa mata. Berjalan tanpa alat indera.

Dia tak tahu dia lepas dari tubuh siapa. Dia hanya masih mengingat bahwa dia pernah bergerak-gerak cepat pada sebuah tangan. Dia pernah berada pada ujung telunjuk seseorang. Pernah digunakan sebagai sesuatu untuk mengetik. Pernah diperintah oleh elektron-elektron pada sel saraf untuk bergerak menunjuk-nunjuk. Namun dia tak tahu ke mana bagian-bagian lain darinya. Entah bagian ibu jari, kelingking, atau jari manis. Entah bagian tangan, kaki, atau kepala.

Dia hilang dari sesuatu dan menjadi bagiannya sendiri. Dia hanya masih mengingat bahwa dia dulu pernah memiliki tempat lain untuk tinggal. Dia pernah mengisi bagian tubuh seseorang dan hidup di sana. Atau terserahnya.

Seperti halnya ekor cacing yang masih bergerak-gerak bahkan ketika kepalanya diputus. Dia menjadi bagian pada jari telunjuk yang masih hidup ketika jantung orang itu berhenti. Namun akhirnya dia lepas.

Pada kesadarannya, dia bertanya-tanya, di manakah sebenarnya letak jiwa? Diakah jiwa?

*

“Mama nggak mungkin mati!” seorang gadis berteriak-teriak di depan sebuah kamar, “Apa yang bisa Callista lakuin tanpa Mama? Mama jangan mati. Karena cuma Mama satu-satunya yang Callista punya!”

Orang-orang di rumah sakit itu mengelilinginya. Setiap orang yang ada di setiap kamar di sekitarnya keluar untuk menonton gadis itu menangis, berteriak.

Di depan gadis itu, sebuah kamar telah kosong. Sebuah ranjang bersprei putih tanpa penghuni. Tidak ada tiang infus di sana. Kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang.

“Mama...” dia terus menangis, menelungkupkan kepalanya di lututnya. Tidak ada yang peduli. Mereka hanya menonton, iba.


“Mama janji untuk terus hidup. Mama janji untuk selamanya hidup. Kenapa Mama pergi?”

“Kakak kenapa nangis?” Bocah yang biasa diajaknya bermain mendekatinya.

“Mamanya Kakak ini baru saja meninggal. Ayo, Dito, jangan ganggu..” orangtuanya menarik bocah itu. Seolah pada diri seseorang yang baru saja ditinggal mati kerabatnya, masih tersisa bekas-bekas sentuhan malaikat kematian.

“Mama..” isak tangis terakhir darinya.

Awalnya dia tak percaya. Namun ketika orang-orang di sekelilingnya meyakinkan bahwa memang ada yang meninggal, bahwa orang yang meninggal itu adalah orang terpenting dalam hidupnya, dia hanya mampu terdiam. Tidak mengucap sepatah kata. Tidak menangis, tidak berteriak. Seolah ada bagian jiwanya yang lepas yang mencari jiwa dia yang telah meninggal.

Tanpa kesadaran penuh, dia berjalan. Seolah ada yang ingin mengantarnya pada suatu tempat, dia menerobos kerumunan yang sebelumnya menontoninya. Tanpa ditemani siapapun, dia menerobos kegelapan lorong, berpapasan dengan orang-orang yang berjalan. Tanpa seorangpun yang berpapasan dengannya menyadari bahwa dia adalah seorang gadis yang baru saja kehilangan seseorang. Kehilangan sesuatu dari dirinya.

Setelah melewati lorong yang panjang, dia sampai ke sebuah tempat. Ada orang-orang yang dia kenal. Ada yang ribut dan menangis. Ada yang menenangkan yang menangis. Ketika melihat dia hadir di sana, orang-orang itu hanya bisa menatap. Seolah masih ada bekas-bekas nafas malaikat kematian di sekitar orang-orang terpenting yang pernah hadir dalam hidup seseorang yang baru saja meninggal, mereka tak mendekat selangkah pun. Mereka hanya menonton.

Dia menghampiri kerumunan, semakin dekat. Untuk dipeluk, untuk ditenangkan, untuk disadarkan. Untuk dipanggil jiwanya agar berhenti mencari-cari jiwa seseorang yang baru saja mati. Agar jiwa itu kembali lagi ke tubuhnya, agar ia tak ikut mati.

“Memang sudah jalannya.” Dia dipeluk, tapi dia tak merasakan sebuah pelukan.

“Ke mana perginya Mama?” bukan pikirannya yang bertanya, tapi bagian terdalam dari dirinya, bagian yang tak digerakkan oleh kesadaran kepala.

“Beliau meninggal sejam yang lalu.”

Sejam yang lalu. Tanpa menunggu dia hadir untuk mendengar kata-kata terakhir.

Hatinya terlalu sakit untuk harus menangis. Saraf-saraf di kepalanya bekerja semakin rumit. Membantunya agar tidak menangis, untuk menghentikan kerja saraf-saraf perasa di bagian dadanya, karena seolah ada banyak hal mendesak-desak di dalamnya.

“Kenapa?” Dia tidak menginginkan penjelasan medis.

“Kankernya.”

“Kenapa?” Dia masih bertanya.

Orang di depannya memeluknya semakin erat, meraih kepala gadis itu dan meletakkannya di bahunya, “Callista masih punya tante di sini.”

*

Orang-orang berbisik. Semakin ribut. Bermain kartu. Mengobrol satu sama lain, sibuk menawarkan minuman dan makanan. Beberapa sibuk membungkus peti jenazah dengan kain panjang dan menempel hiasan-hiasan keemasan rata di sekitarnya.

Dia tidur di sebelah jenazah yang terbungkus kain. Bercerita di sana.

Ketika siang, dia membawa makanan dan minuman yang dulu ketika hidup menjadi kesukaan dari jenazah itu dan meletakkannya di sisinya. Kembali bercerita.

Dalam masa-masa itu, dupa panjang terus menyala. Tidak dibiarkan berhenti. Ketika mati, dupa itu diganti dengan yang lain. Terus hidup sampai saatnya jenazah dikremasi.

Sesungguhnya dia berharap jenazah itu akan hidup, lagi.

“Callista, jangan tidur di sini. Nanti bau formalinnya merusak kerja tubuh Callista.”

Sudah dua hari dia tidur di sana. Hidungnya jadi tidak peka lagi terhadap bau, matanya terkadang perih. Kepalanya makin sering pusing.

“Biarlah.”

*

Jenazah dimandikan. Tubuh yang telanjang. Dulu jenazah itu pernah bercerita pada Callista. Pernah bilang sesuatu di acara permandian jenazah orang lain, bahwa jenazah itu mungkin akan malu jika suatu saat tubuhnya dimandikan telanjang di depan umum.

Callista ikut memandikan. Ritus yang panjang. Termasuk akhirnya melapisi jenazah itu dengan kain beragam warna. Termasuk menutupi kemaluan jenazah dengan kain hitam. Termasuk menutupi rasa malu jenazah itu. Termasuk, ingin sekali memandikan jenazah itu secara personal, supaya tidak ada orang lain menonton jenazah itu telanjang, supaya hanya dia dan jenazah itu. Supaya hanya mereka. Seperti saat-saat mereka dulu mandi bersama. Berdua.

Orang-orang hanya menonton. Orang-orang hanya ingin menonton. Tidak ingin berakting bersamanya. Seolah dalam skenario kehidupannya, hanya ada sedikit tokoh. Bahwa tokoh utama hanya tinggal satu saja. Bahwa tidak ada lagi temannya untuk beradu peran.

*

Katanya, jiwa jenazah itu telah pindah pada sebuah simbol, pada wujud seorang wanita yang dipatungkan. Callista membawanya di atas kepala. Ibu-ibu lainnya membawa benda-benda lain sebagai simbolisme. Entah sebagai simbolisme pengantar yang telah meninggal, entah sebagai iring-iringan yang kelihatan indah.

Sebelum menuju tempat kremasi, ada sebuah ritual khusus yang harus dilakukan. Untuk memutus keterikatan, untuk tidak pernah memimpikan dia yang telah meninggal. Tali dan logam cina dan beras kuning dan beras putih dan mungkin kunyit dan rempah-rempah lainnya, dilempar ke langit, dibenturkan ke telapak tangan, dijatuhkan ke tanah. Ketika itu selesai, katanya, semua keterikatan pada yang telah meninggal seketika.. musnah.

Setelahnya, Callista memimpin di depan. Orang-orang berjalan di belakang. Jenazah diangkat di belakang di dalam sebuah wadah. Orang-orang lainnya memegangi kain putih panjang di atas kepala.

Beberapa kerabat memotret dengan kamera. Turis-turis berniat mengabadikan sebuah momen. Callista mengabadikannya dalam hatinya.

Di tempat kremasi, di tempat dulu dia dan jenazah itu pernah datang ke acara kremasi jenazah lain, dia sampai di sana. Wadah diletakkan. Jenazah dipindahkan, dia disibukkan dengan panggilan orang-orang. Beberapa orang menyibukkan diri dengan memanggil-manggil dirinya sendiri.

Beberapa orang datang untuk menghiburnya. Beberapa orang tersenyum padanya. Beberapa lagi ikut menemaninya terus di sisinya. Semua ritual khusus dilakukan. Jenazah diletakkan di dalam sebuah kotak yang dibentuk dari pelapah pisang. Selang gas dimasukkan dari celah-celah bawah. Orang-orang melempar bunga, daun, banten, uang, dan pakaian ke atas jenazah. Callista melempar sebuah buku gambar.

Di dalam buku gambar itu, ada gambar-gambar rumah. Di dalam buku gambar itu, ada kenangan-kenangan. Pernah ada seseorang yang memuji gambar-gambarnya, warna-warnanya, dan membantunya mewarnai. Dan orang itu telah mati. Dia berharap orang itu akan tinggal di rumah-rumah yang dia gambar di buku gambarnya. Dia berharap orang itu mendapatkan tempat yang layak untuknya di alam sana.

Meski gambar-gambarnya, tidak pernah sebagus pujian orang itu. Karena dia tahu, orangtua yang baik memang selalu memuji anak-anaknya. Orangtua yang baik, selalu ingin berkorban lebih untuk anak-anaknya. Seperti jenazah itu. Yang melakukan apapun untuk Callista, untuk dia bisa mewujudkan cita-citanya.

“Hanya itu saja yang mau diberikan?”

Dianggukkannya kepalanya. Dia tidak mungkin membakar semua baju milik jenazah itu, seperti dia tidak mungkin ikut membakar televisi, mobil, rumah, ijazah-ijazah, dan lainnya. Apa yang dimiliki ketika hidup, tidak mungkin dibawa seluruhnya ke alam kematian.


Dan api mulai dinyalakan. Api mulai membakar. Callista tidak ingin menjauh, tapi dia terus ditarik-tarik untuk menjauh.

Di kejauhan, dia berdoa, menyanyikan doa-doa sekeras-kerasnya. Orang-orang hanya menonton. Tidak ada yang merasa pandai berakting dan mendekatinya.

Dalam tiap baris doa, api semakin berkobar. Hingga yang tersisa hanya tinggal tengkorak dan tulang-tulang. Hingga akhirnya, seluruhnya menjadi abu dan tulang-tulang kecil. Selama itu, dua orang menggenggam tangannya di sisinya. Dua orang, sahabat kentalnya di bangku sekolah.

Beberapa orang pulang. Beberapa lainnya membantunya mengumpulkan abu-abu dan tulang-tulang, menyaring abu dan tulang-tulang. Memunguti tulang-tulang besar, memisahkannya dengan abu-abu, memisahkannya dengan kelam kehidupan.

“Sekarang kita ke laut,”

Sekarang ke laut. Membuang abu, membuang segala yang tersisa.

*

Di laut, semuanya hilang. Semuanya menyatu. Atom-atom pada tulang, atom-atom pada abu, menyatu dengan atom-atom pada air, atom-atom di udara.

Di laut itu, orang yang dia cintai berubah wujud untuk selamanya. Mungkin untuk berjuta atau bermiliar tahun ke depan, baru mereka akan bisa dipertemukan lagi dalam wujud manusia. Ketika atom-atom mereka mengisi lagi perut seorang ibu yang hamil. Ketika kesadaran mereka, dengan kemungkinan kombinasi penciptaan yang tak terhingga, bertemu pada satu titik waktu.

Mungkin kelak tidak sebagai ibu-dan-anak. Mungkin kelak sebagai kekasih.

Atau, mungkin saja mereka tidak akan pernah bertemu lagi.

Karena pada kehidupan yang sedemikian sebentarnya, entah ada misteri besar apa yang bisa dipecahkan oleh kepala.

***

21/04/2009 15:47:02
CLX7,
The last experiment.

: Selamat hari Kartini, Mama.


Cetak Halaman Ini

Friday, April 10, 2009

[Cerpen] Suami yang Kalah Pemilu






Mari kita pikirkan ulang tentang apa yang katanya demokrasi. Tentang orang-orang daerah yang berhak menentukan siapa pemimpin daerah mereka bahkan tanpa mereka pernah mengenal siapa-siapa saja orang yang mencalonkan diri.

Maka mereka tidak sepenuhnya peduli tentang siapa yang akan mereka buat jadi gila – saat mereka keluar dari bilik-bilik kayu TPS, seusai mereka mencontreng ngawur calon-calon legislatif yang dipampang foto-fotonya di (kebanyakan) hampir empat lembar kertas suara yang ada.

“Papa kenapa, Ma?” Anakku selalu menanyakan itu padaku akhir-akhir ini.

Ketika dia bilang begitu, matanya hampir-hampir tak pernah lepas dari ayahnya yang duduk di sofa, yang tidak mandi selama seminggu. Ayahnya yang kalah pemilu.

Kuakui dia terlalu berambisi. Dia bahkan menjual emas-emasku, menggadaikan akte rumah kami – hanya untuk menjadikan dirinya berada di peringkat dua calon legislatif di partainya, alasannya, supaya namanya mudah dilihat dan dicontreng.

“Ma, lihat, deh.. Papa muntah.” Anakku melanjutkan. Aku bahkan hampir tidak tahu bagaimana caranya menunjukkan kepanikanku.

Dia muntah. Dia minum-minum. Ratusan batang rokok telah dia hisap. Matanya merah dan rambutnya berminyak, kulitnya hitam kekusaman. Karena demokrasi, kami telah kehilangan uang, juga pemimpin keluarga.

Kubersihkan muntahannya. Betapa beratpun cobaan yang menimpa, aku sungguh tak rela jika dia sampai harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa, sama seperti calon-calon berambisi lainnya yang juga kalah.

“Papa mau makan?” kutanyai dia, “Atau Papa tidur saja, ya?”

Dia jarang tidur. Atau kemungkinannya, dia tidur kurang dari delapan jam sehari selama jam-jam tidur aku-dan-anak-anakku yang delapan jam. Tapi kadang-kadang saat aku terbangun karena mimpi buruk, kulihat dia masih belum juga tidur. Entah apa yang dia pikirkan.

Saat aku terbangun, dia masih mencoret-coret kertas. Sketsa-sketsanya selalu indah di mataku – seberapa kelam pun cerita yang tersimpan dalam tiap goresannya. Dia lebih pantas menjadi seorang seniman ketimbang orang yang berambisi jadi pemimpin.

Apakah orang-orang kami kurang dididik untuk mencintai diri sendiri yang apa adanya? Sehingga, orang-orang yang hebat di teknik justru berniat jadi dokter, atau yang hebat di seni justru berniat masuk teknik, dan seribu atau sejuta kemungkinan niat-niat lain yang mungkin.

Kemarin sebuah ambulans sempat berhenti di depan rumah kami. Aku dan anakku menyaksikan kejadiannya, saat Pak Ahmed meronta-ronta, berteriak, dan ditarik-tarik. Tangannya diikat. Dia disuntik di hadapan kami yang menonton.

Kata istrinya, dia menjadi gila karena hasil pemilu. Ratusan juta telah dia habiskan untuk bisa menang. Melihat kenyataan, ternyata banyak dari orang yang dia beri uang justru menjadi golput atau salah contreng dalam pemilu, dia jadi hilang kewarasan.

Padahal Pak Ahmed, seperti suamiku, adalah wirausaha yang sukses. Sehari, sepuluh juta bisa dia dapatkan dari hasil jualannya yang memiliki banyak cabang. Dalam sebulan, tiga ratus juta dipotong sedikit akan masuk tabungannya.

Awalnya, mungkin seperti suamiku, dia hanya berniat main-main dalam pertaruhan kursi, maka dia mencalonkan dirinya pada partai yang baru muncul. Sama seperti suamiku, mungkin dia berharap keberuntungan bisa menjadikannya orang paling bersinar fotonya di kartu suara. Tanpa memperhitungkan berapa banyak orang yang tak pernah serius belajar Kewarnegaraan yang juga diberi kartu suara.

Yang kuherankan, sebab-musabab dia bisa dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Tentu uangnya masih banyak di bank dan cabang-cabang perusahannya tentu masih memutar uang yang sangat banyak untuknya setiap harinya. Tidak seperti suamiku yang berhutang di segala macam bank, pernah ditolak di beberapa bank ketika mengajukan kartu kredit, menggadaikan akte rumah, dan menjual emas-emas istrinya.

Aneka ragam keheranan seketika menyelimutiku setiap aku memikirkan orang-orang lain, bahkan membaca-baca surat kabar, melihat banyak orang-orang penting yang menjadi gila. Mengapa kami, yang bisa disebut hampir miskin, masih juga bisa bertahan.

Aku hanya pegawai negeri biasa, golongan tiga. Gajiku sebulan hanya cukup untuk makan dua minggu ditambah biaya listrik-air-telepon (pertimbanganku jika seandainya suamiku benar-benar tidak akan menafkahiku lagi). Anak-anakku, biarpun dulu ayahnya kaya, selalu mendapatkan beasiswa di sekolahnya. Otak mereka cemerlang. Tidak ada masalah dengan mereka.

Aku memiliki cukup uang di tabunganku untuk melunasi hutang-hutang suamiku. Orangtuaku memberikannya sebagai bekal untukku saat aku memutuskan membina kehidupan baru. Mungkin kini uang itu akan kupergunakan.

“Dek, kamu jaga Papamu, ya. Mama dipanggil sama tata usaha sekolah, rapat mendadak.” Ujarku pada anakku seusai kami sarapan. Hari itu libur, akan kuhabiskan untuk segala urusan yang berhubungan dengan suamiku. Termasuk bilyet giro kosong milik toko kami.

“Tapi kalau Papa muntah lagi?”

“Katanya anak Mama ini calon dokter? Dokter nggak boleh jijik..” ujarku sambil tersenyum.

Kukecup kening mereka, “Jaga adikmu, ya, Dito.”

Dito mengangguk, Dita masih bermain-main dengan pulpen dan sketsa ayahnya.

“Cepat pulang ya, Ma.” **
Banyak urusan. Banyak tempat yang harus kudatangi. Banyak orang yang harus kuajak bicara-berunding-berdebat-berkelahi. Aku tak peduli.

“Hutang Pak Andri sebanyak lima puluh enam juta, Bu.”

“Hutangnya dua puluh juta,”

“Jaminannya bernilai tiga puluh juta,”

“Hutangnya lima belas juta,”

Kutelepon saudara-saudara kami, mereka mengaku pernah meminjamkan uang pada suamiku. Maka kudatangi mereka satu-satu.

“Cuma dua juta,”

“Cuma lima juta.”

“Tidak banyak kok, Rin. Cuma sepuluh juta.”

Ketika semua kata hutang dan semua kata cuma telah habis kudengar, aku memutuskan untuk menelepon orangtuaku, ingin meminta maaf karena telah kuhabiskan uang mereka di pertengahan perjalanan rumah tanggaku.

“Ibu, ini Rina. Ibu baik-baik saja?”

“Mbak Rina!” Suara cempreng. Kupikir tadi ibuku yang mengangkat. Ternyata Rani, adik kandungku, “Apa kabarmu, Mbak?”

“Baik, Ran. Kamu sendiri apa kabar? Oh ya, Ibu ada?”

“Baik selalu, dong, Mbak. Ibu sama Bapak lagi ke kondangan, Mbak. Ada tetangga kawinan.”

“Oh.”

“Itu, lho, Mbak. Kak Ridwan yang selalu mengejar-ngejar Mbak.”

“Oh. Nikah sama siapa dia?”

“Mbak Rina juga. Anaknya Pak Susilo. Heran kenapa dia masih juga menggebu-gebu cari jodoh yang namanya sama.”

“Kebetulan saja mungkin, Ran. Sebentar kalau Bapak sama Ibu pulang, bilang kalau Mbak telepon, ya, Ran.”

“Oke, Mbak. Jaga diri, ya.” **

Dari kejauhan, warna yang melingkupi sekeliling rumahku begitu kelam. Seperti kondisi hati orang-orang yang menempatinya.

“Mama!” Teriakan Dita menyambutku. Dia memelukku erat. Boneka barbie di tangan kirinya.

“Dita lapar, Ma.” Dia menengadah menatapku. Aku tersenyum, “Mama masak nasi goreng udang, ya, buat Dita?”

Aku mengangguk.

“Hore!” Dia berteriak.

Di ruang tamu, Dito sedang mengelap muntahan ayahnya.

“Dito, Dita.. mandi dulu. Sudah sore. Mama akan masak makan malam spesial buat kalian.”

“Asyik!” Mereka berlarian ke kamar masing-masing.

“Mandi yang bersih!”

“Okee, Maa!” teriakan mereka sama nyaringnya.

Aku melangkah ke arah suamiku. Duduk di sisinya, kugenggam tangannya.

“Semua hutang Papa sudah Mama lunasi.”

Kali pertama dia menatapku sungguh-sungguh selama seminggu ini, “Ma..”

Tidak ada kata-kata lagi keluar setelah itu.

“Papa selalu bilang, seorang seniman akan selalu berbeda dari orang-orang kebanyakan.”

Aku ingat hari ketika kami berdebat tentang itu. Apa yang membedakan seorang seniman dengan orang-orang lainnya? Apakah dandanannya?

“Mama lebih suka melihat Papa jadi berbeda, daripada menjadi sama dengan orang-orang.” Kulanjutkan. Tak kumengerti logika apa yang ada di balik kalimatku.

“Bukankah lebih menyenangkan untuk menjadi diri sendiri? Lebih nyaman untuk tidak ikut-ikutan kata orang. Mama hanya ingin Papa terus hidup. Menjadi diri Papa.”

Sudah cukup hanya setahun saja. Jangan lebih. Dua belas bulan dia pulang dan pergi tanpa nafas kehidupan yang sama seperti dulu. Membawa spanduk, stiker-stiker, menenteng laptop yang di dalamnya penuh presentasi, makalah-makalah, uraian-uraian, desain logo partai, juga foto untuk dipampang menjadi baleho.

Dia masih menatapku, seolah tak percaya.

“Setiap manusia pernah melakukan kesalahan.” Kujawab, lalu beranjak dari dudukku, “Mau bantu Mama masak nasi goreng udang seperti biasa?”

Senyumku dibalas oleh senyumnya. Dikecupnya dahiku dan kami berpelukan, “Papa mandi dulu, Ma.”

Kusadari untuk sekian kali, setiap hal membutuhkan pengorbanan.

Ketika dia berjalan menuju kamar mandi, layar ponselku berkedip-kedip.

Panggilan dari Rumah.

*

Teruntuk seseorang yang sangat spesial.

Bukan Mama di surga
Bukan Papa di dunia

(Karena Mama dan Papa selamanya spesial)

Maaf atas tempo yang dipercepat.

Di CLX7,
10/04/2009
11:07:56 pagi


Cetak Halaman Ini

Tuesday, April 7, 2009

[Cerpen] Kompilasi Tiga Kehilangan






****(())****(())****(())****(())****(())****
Author’s note:

tiga cerpen teruntuk tiga kehilangan
tentang Ty, Clara, Ar, dan Yara

inspirasi hadir dari My Immortal.

# menerima segala kritikan dan perdebatan.
# jika sempat, juga berusaha merevisi setiap koreksi.
****(())****(())****(())****(())****(())****


(I)

Jadi ceritanya dia sama sekali tidak lapar. Seharian sejak dari rumahnya hingga dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan di tengah hari, dia mengunci mulutnya untuk tidak mengatakan juga tidak memakan apapun.

Siangnya hujan turun begitu lebat. Dia berjalan tanpa payung. Arus air yang menuju ke bawah berlawanan dengan langkahnya yang menanjak ke atas. Ditendangnya aliran air itu. Berkecipratan.

Ingin sekali dia berjalan dengan memejamkan matanya atau merentangkan tangan seperti yang biasa dia imajinasikan sejak kecil.

Ada sesuatu pada hujan yang selalu merenggut orang-orang yang dia kasihi. Sesuatu tentang hujan yang selalu menyita kenangan-kenangannya. Hingga setiap hujan tiba, dia kembali teringat akan orang-orang yang dia kasihi juga kenangan-kenangan yang sekian lama disita oleh waktu. Hingga dia selalu ingin hujan tak pernah berhenti dan dia bisa terus merentangkan tangannya di sepanjang perjalanan pulang.

Sama seperti hari dimana ibunya meninggal, hujan turun begitu lebat. Sama seperti saat itu, dia menyusuri jalan dengan merentangkan tangan, sejak keluar dari kamar mayat rumah sakit hingga ke rumahnya. Seperti itulah kini dia mengulangnya.

Dia sampai di gerbang rumahnya. Tempat yang tanpa siapa-siapa karena kini hanya tinggal dia yang mengisi ruangan-ruangan itu. Rumah yang tanpa denyut, tanpa nafas. Kosong.

Dibukanya pintu rumahnya. Tidak ditutupnya lagi. Tidak dipedulikannya keadaan rumahnya yang begitu berantakan. Dia berjalan ke arah kamar mandi, menyalakan keran air. Sementara air memenuhi bathtub-nya, dia mengambil semua berkas-berkas di lemarinya. Ijazah-ijazahnya sejak SD hingga dia lulus dengan gelar magister.

Dibawanya semua berkas itu turut bersamanya ke arah dapur. Dinyalakannya kompor gas di dapurnya lalu dibuangnya satu per satu semua berkasnya ke atas api. Tidak dimatikannya kompor gasnya. Lalu dia berjalan ke arah kamar mandi. Bathtub-nya sudah dipenuhi air. Dituangnya sebotol cairan pembersih lantai kamar mandinya ke dalam bathtub.

Dia melangkah keluar lagi, menuju ke arah kamarnya. Mengambil kertas dan menuliskan sesuatu di atasnya. Setelah beberapa saat, dimasukannya kertas itu ke dalam amplop.

Teruntuk Clara.

Ditulisnya di sudut kanan atas permukaan amplop. Kemudian diletakannya amplop itu di atas meja bacanya. Setelahnya dia membuka lacinya dan lalu mengambil sebuah pisau lipat dari dalamnya, dibawanya menuju ke kamar mandi.

*

“Ty?” Seorang gadis memanggil-manggil dari arah gerbang yang tergembok. Dilihatnya pintu rumah Ty tidak terkunci. Terasa janggal karena tidak biasanya Ty lupa mengunci pintu rumah jika dia sudah menggembok pagar.

“Mungkin dia lagi tidur?” Pria di sebelahnya berpendapat. Dia menoleh dengan enggan lalu menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Ty tertidur dan lupa mengunci pintu.

“Kecurigaanmu berlebihan, Clar.” Pria itu melanjutkan.

“Kartu-kartuku nggak pernah salah, Ar,” Clara menjawab.

“Aku harap kali ini salah.”

Ditariknya nafasnya, “Aku juga.”

Tapi asap muncul dari arah belakang rumah. Bagian belakang rumah di hadapan mereka dilalap api yang mengganas.

*

Mayat Ty memerah di dalam bathtub. Cairan yang entah apa menggumpal-gumpal dan terapung di atas air. Aria memeluk Clara. Gadis itu menangis di bahu Aria.

Ketika mayat Ty diangkat, Clara berteriak. Aria refleks menghalangi penglihatan Clara dengan tangan kanannya. Sementara dia melihat tubuh Ty yang membeku. Bagian bawah tubuh jenazah Ty berwarna merah keunguan. Darahnya mengendap searah dengan arah gravitasi bumi, tanda bahwa jantung Ty sudah tidak lagi berdetak, sudah tidak lagi memompa darah.

“Itu mayat, Ar?” Clara bertanya terbata.

“Itu mayat.” Aria menarik Clara semakin erat ke dalam pelukannya, “Itu Ty.”

*

Clara,

Kamu tahu betapa lelahnya aku menjalani hidupku. Tanpa siapa-siapa menemaniku di sisiku.

Aku tahu kamu mungkin tidak akan pernah menyadari kelelahanku menyimpan jiwa seorang anak-anak di dalam diriku. Ketakutanku melewati jalan-jalan baru. Dan aku terlalu takut untuk terus hidup.

Sendiri dan tanpa arah tujuan. Bisakah kamu bayangkan rasanya hidup seperti itu, Clar?


Air matanya terjatuh di atas kertas itu. Aria membelai rambut Clara dan lalu mengecup ubun-ubunnya, “Semuanya akan baik-baik saja.”

*

Pagi itu musik mengalun di telinganya.

I'm so tired of being here

Saat lagu dimulai, di bayangannya, ada hari dimana Ty menangis di hadapan nisan ibunya dan Clara menemaninya di sisinya. Mereka terpaku bahkan hingga hujan turun dan menggenangi tempat Clara berdiri, sementara Ty tetap bersimpuh di sisi nisan. Setia menangis di sana.

Suppressed by all my childish fears


Hari dimana Ty lulus sarjana dengan cumlaude namun tak ada ibunya menemaninya. Tentang cerita Ty bahwa dia terlalu takut untuk mewujudkan mimpinya sendiri. Namun hari itu dia mengalaminya. Untuk harus merasa bahagia meski baru di hari sebelumnya dia kehilangan ibunya.

And if you have to leave, I wish that you would just leave
Cause your presence still lingers here
And it won't leave me alone

Saat-saat ketika mereka bersama. Melempar bantal dan meramal dengan kartu tarot. Berjalan-jalan di pantai, tiduran di atas bukit di dekat pantai lalu bergantian memandangi awan yang berarakan dan ombak yang berkejaran. Menunjuk-nunjuk sesuatu yang entah apa di langit dan di lingkar laut. Membayangkan persahabatan mereka selama bertahun-tahun. Sesuatu yang hilang dan membuatnya merasa sendiri.

These wounds won't seem to heal
This pain is just too real
There's just too much that time cannot erase


Luka yang tak akan tersembuhkan. Cakra di dalam kepalanya berputar-putar ketika jenazah Ty yang dibungkus kain kafan diangkat lalu disemayamkan di dalam liang kuburan. Diam-diam dia berharap jenazah itu akan bangkit. Akan bernafas dan meneriakkan namanya.

When you cried I'd wipe away all of your tears
When you'd scream I'd fight away all of your fears
And I held your hand through all of these years
But you still have all of me


Dulu ada Ty yang selalu menghapus tangisnya dan mengatakan, bahwa hidup adalah untuk dihadapi dengan berani. Bahwa ada tangan Ty yang akan selalu menggenggam tangannya. Bahwa ada seseorang yang akan terus dia miliki sampai kapanpun.

You used to captivate me by your resonating light
Now I'm bound by the life you left behind
Your face it haunts my once pleasant dreams
Your voice it chased away all the sanity in me

Dia teringat karakter Ty. Keceriaannya, semangat itu, semangat yang tak pernah hilang dari matanya. Aura yang berbeda dan bersinar. Suaranya yang berapi-api. Berdemo dan berorasi di hadapan umum. Menyuarakan semangat, menyatukan pendapat-pendapat. Seseorang yang takkan dengan mudahnya tergantikan.

These wounds won't seem to heal
This pain is just too real
There's just too much that time cannot erase


Dia mengingat segalanya, juga tentang lagu yang sedang didengarnya. Lagu yang mendekatkan dia dan Ty. Bahkan di hari ketika mereka terpisah. Hari dimana Ty dikuburkan dan dia harus menyaksikannya dengan mata kepalanya.

When you cried I'd wipe away all of your tears
When you'd scream I'd fight away all of your fears
And I held your hand through all of these years
But you still have all of me

Aria di sisinya memeluknya. Tapi seolah dia tak pernah ditemani siapapun lagi setelah hari kepergian Ty ke alam berbeda, kehampaan menamai ruang di dalam hatinya.

I tried so hard to tell myself that your gone,
But though you're still with me, I've been all alone all along


Setengah mati dia mencoba menyadari. Bahwa Ty telah mati.

*

Kartu-kartu. Ditebarnya empat-empat. Selalu tentang kematian. Bahwa tak hanya Ty yang mati. Bahwa akan ada lima orang lagi yang mati. Bahkan lebih. Disobeknya semua kartunya.

Cangkir itu. Biji kopi di dalamnya, juga tentang kematian. Dilemparnya cangkir-cangkirnya ke tembok.

Dia benci dunianya mulai bercerita tentang kematian.

Clara menangis di pojok ruang kamarnya. Kepalanya menempel di lututnya. Sudah dimatikannya semua lampu di rumahnya, termasuk di dalam kamarnya. Gelap tanpa cahaya.

Sudah dimatikannya ponselnya dan dibantingnya, kemudian dilemparnya laptopnya – yang lalu pecah tercerai berai. Dia benci kenangan-kenangan itu.

“Clara..” Seseorang berteriak-teriak memanggilnya dari arah luar rumahnya, “Clara”

“Clara..”

“Clara..”

Entah mengapa dia jadi membenci namanya sendiri.

*

Aria mendobrak pintu kamar Clara. Didapatinya busa keluar dari mulut kekasihnya itu. Di sebelahnya berdiri sebotol obat nyamuk. Dia berjalan menuju tubuh Clara yang bersandar di tembok. Bagian-bagian laptop Clara yang tercerai berai dan ponsel dengan layar yang pecah. Sepatu Aria menginjak pecahan cangkir. Kartu-kartu yang sobek. Aria yakin, Clara baru saja meramal sesuatu yang selama ini mereka takutkan.

“Clara..”

Dia mencoba memanggil seseorang yang pasti telah mati. Dia memanggil nama jenazah kekasihnya, berulang-ulang.

# Bereksperimen,
23/03/2009
13:19:52 WIB

****(())****(())****(())****(())****(())****

(II)

Tuhan menciptakan langit-langit tempat kita bisa menyimpan hal-hal yang berarti bagi kita. Hingga pada saatnya, kau akan dengan mudah menemukan masa lalu kita di bintang-bintang.

Tak ada yang akan hilang dari hidup kita, Yara.


Dia pernah berkata begitu. Sewaktu aku dengan konyol menangis di bahunya – tentang kehilangan-kehilangan yang bergantian hadir di dalam hari-hariku. Dia serius berkata begitu – dengan sorot mata yang sama cemerlangnya seperti kilat di waktu hujan.

Dulu, sewaktu kami bergenggaman tangan ketika tersesat dalam perjalanan.

Dan dini hari ini, langit-langit membiaskan kata-katanya. Memantulkannya lewat bintang-bintang ke dalam bola mataku.

Aku duduk di atas ayunan di bawah pohon beringin besar. Puluhan kompleks-kompleks berjajaran mengitariku. Rumput basah bekas hujan tadi malam. Sunyi dan gelap. Tapi sungguh aku tak tahu harus berada di tempat mana lagi selain di situ. Pada ayunan tempat kulihat dia biasa duduk terpaku.

Pada siang di suatu hari, dia berayun tanpa kesetimbangan di ayunan yang kini kududuki. Bagian bawah matanya kehitaman. Rambutnya dipelintir tak rata, sebagiannya lagi botak entah oleh sebab apa. Dia tidak berkata-kata sewaktu aku berdiri di hadapannya. Dia hanya memandangiku – lekat sampai saraf mata.

Apa yang dia bisa harapkan dariku?

*

Sewaktu kecil, dia selalu bilang bahwa dia adalah malaikat yang diutus Tuhan. Untuk menemuiku – pada satu titik di masa lalu. Untuk melindungiku – dan membuatku aman.

Tanpa dia sadari, juga untuk membuatku jatuh cinta.

Sewaktu wajahnya disiram air panas oleh Ibunya, kataku, malaikat tak selamanya rupawan. Tapi dia bilang, mungkin dia tak pernah diutus Tuhan.

Juga tak pernah diutus Tuhan untuk bisa kucintai.

Entah permainan apa yang disuguhkan sang kala – oh, dewa waktu, kepada kami. Hingga kini, aku bahkan tak berhak lagi berbicara dengannya.

Dan hanya bisa menatapinya tertidur dari lubang di kayu jendela. Menatapi tali mengikat kedua tangannya pada tiang ranjang dan borgol menahan kakinya untuk tetap diam. Mulutnya diikat. Jikapun dia bangun, yang kulihat hanya kepalanya yang mencoba menengadah dan menatap jendela kayu yang berlubang – tempatku memata-matainya. Sungguh aku ingin bertanya kepada Tuhan, benarkah malaikat perlu dibungkam mulutnya untuk tidak bercerita tentang rahasia surga?

*

Di pagi hari, kupastikan dia sudah bangun dan duduk di tepi kaki ranjangnya, mengamatinya memecahkan piring dan gelas. Padanya, pecahan kaca dengan sayuran dan nasi. Padaku, retakan hati dan cinta masa lalu.

Beberapa saat kemudian, perawat akan merapikan kamarnya. Ritus itu akan diikuti oleh teriakan-teriakannya dan segerombolan perawat kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk memberinya suntikan. Mengikat tangannya lagi, memborgol kakinya, dan membiarkannya berteriak-teriak untuk sekian waktu sampai akhirnya tertidur pulas.

Malamnya, dia akan bangun dan menatapi jendela kayu yang berlubang tempatku menontonnya sembunyi-sembunyi.

Biasanya aku akan masuk menemuinya di saat dia tertidur lelap di malam hari, duduk menemaninya di sisi ranjang. Tapi kini, aku duduk di luar ruangan. Di luar kompleks dengan sebutan tokoh-tokoh pewayangan. Dia di kompleks Bisma. Ada satu sal laki-laki dan satu sal wanita di sana, yang masing-masingnya diisi maksimal oleh lima belas orang, juga dua kamar VIP, dan satu kamar VVIP, tempatnya dipenjara.

Aku yang membayar.

Tapi setelah semuanya, akan sadarkah dia? Akan kembalikah?

*

Ada hari-hari saat dia merasa tenang dan duduk di ayunan. Seperti yang kini kulakukan. Ada saat-saat dimana aku ingin sekali memeluknya, mengecup dahinya seperti biasa. Seperti detik-detik ketika kami masih bersama. Meski aku selamanya hanya bisa menjadi sekedar sahabat.

Tapi apa dayaku, kami sudah berbeda wujud. Aku bukanlah seseorang baginya. Aku hanya ada. Menatapinya duduk di ayunan itu, berayun tanpa kesetimbangan. Tanpa kesadaran. Begitu lemah.

Kakinya memijak tanah dan kemudian mengayun di udara. Seperti langkahnya yang kadang terhenti, tertatih, namun terus mencoba bangkit. Berjalan sebagai seseorang yang tegar. Yang walau kini tidak lagi.

Dia tidak akan pernah mengerti bagaimana caranya rasa kehilangan di dalam diriku mewujudkan dirinya.

Untuk tiap hari melihat dia di hadapanku tanpa pernah menyadari bahwa aku selalu ada bersamanya. Menantinya merasakan keberadaanku. Sesuatu yang hanya ada. Tak berwujud apapun baginya.

Betapa aku baru menyadari bahwa sangat sulit untuk melindunginya dalam keberadaanku. Pada gelombang kasih yang bahkan tak kumengerti. Aku hanya ada, mengetahui bahwa dia ada di hadapanku. Bahwa aku selalu mengikutinya. Bahwa aku memang ada. Tapi tak pernah ada baginya.

Apakah aku boleh bertanya padaMu, Tuhan. Akukah yang sesungguhnya Kau utus untuk jadi malaikatnya – malaikat Aria?

*





Waktu berlalu. Dia semakin rapuh. Jatuh dalam keterpurukan.

Siapa yang akan membelamu dan mengatakanmu waras? Mempercayaimu, bahwa kamu tak pernah menjadi seseorang yang gila. Bahwa kamu baik-baik saja, kamu normal, dan kamu tidak pantas menghuni sal rumah sakit jiwa?

Apa itu yang dia tanyakan setiap melihatku berdiri di hadapannya?

Aku tak pernah ada lagi. Dia tak pernah melihatku lagi. Tak pernah melihatku ada. Seolah setelah dia menjalani shock treatment, aku tak sungguh-sungguh lagi berwujud sebagai seorang manusia. Seolah, bagi dunia, aku ada. Namun, baginya, aku tak pernah ada.

Seperti apakah sesungguhnya pengertian esensi dan eksistensi? Dari manakah aku seharusnya memandang dunia jika aku ingin memandang dengan cara yang sama sepertinya?

Perlukah aku mendaki tebing yang terjal untuk berdiri di puncak yang sama dengannya? Seperti dulu ketika dia menjadi anak keluarga kaya raya yang tak kurang sesuatu apa. Perlukah aku melihat dunia seperti caranya supaya aku bisa cukup layak mencintainya – supaya dia cukup bangga mencintaiku?

Supaya aku bisa bilang pada orang-orang bahwa dia, cinta pertamaku, tak mungkin gila. Bahwa dia hanya terobsesi mengejar cinta pertamanya. Bahwa dia memang sejak dulu selalu mendapatkan apa yang dia inginkan – termasuk cinta dan gadis pujaan tercantik di kampus? Bahwa dia terobsesi pada apa yang Maslow bilang sebagai puncak. Pada eksistensi – aktualisasi. Pada penghargaan.

Perlukah dia memeroleh semua itu untuk membuatnya bisa, sedikitnya, mencintai dirinya sendiri?

*

Ar,

Aku mencintaimu sewaktu kamu menjadi dirimu yang sederhana. Yang tak perlu kulukiskan dengan kosa kata mewah dan hanya bisa kumengerti jika aku memiliki sebuah kamus.

Aku mencintaimu saat kamu tak menyadarinya. Saat kamu tertidur di sisiku, menemaniku sampai pagi di lantai kamarmu. Saat kamu berdiri di belakangku, tanpa menatapku menangis kehilanganmu yang mengaku telah mencintai orang lain dan melihat matahari terbenam. Saat kamu berjalan tanpa payung di hadapanku di bawah hujan, bersiul dan menyanyikan laguku.

Aku mencintai persahabatan kita.

Aku mencintaimu saat kamu menyanyikan lagu dan bukan memainkan gitar.

Aku mencintaimu saat kamu bercerita tentang dirimu dan bukan tentang Newton atau Einstein. Atau Clara atau Ty.

Aku mencintaimu saat kamu menemaniku berjalan kaki dan bukan berjalan dengan mobil.

Aku mencintaimu saat kamu menontonku mendongeng diam-diam.

Aku sudah puas dengan hanya mencintaimu yang hanya akan tersenyum. Yang hanya akan bilang, bahwa kita akan berjalan bersisian bersama.

Di saat bumi berotasi dan berevolusi semakin cepat, kita tetap berpegangan. Di saat tak seorang pun kita kenal, di saat tak satu tempat pun kita ketahui, aku akan menyasarkan diriku bersamamu. Sejauh apapun kamu membawaku, aku akan tetap mencintaimu.

Aku hanya ingin mendengar darimu, seberapa buruknya aku serta masa laluku dan seberapa buruknya kamu serta masa depanmu, tidak perlu kita melihat orang lain untuk bisa mengerti satu sama lain. Aku hanya ingin aman di dalam selimut kata-katamu.

Tidak perlu kita takut atas apa kata orang tentang diri kita. Di saat aku benar-benar sendiri, aku hanya membutuhkan seseorang berkata begitu padaku. Bisakah kamu melakukannya seperti saat-saat sebelumnya?

Karena aku hanya mencintaimu. Aku hanya ingin mencintaimu. Dan aku memang hanya bisa mencintaimu.

Ar,

Bisakah kamu kembali seperti dulu lagi? Bisakah aku tak menggenggam tangan orang lain supaya aku merasa aman?

Meski aku harus melihat tanganmu tak kunjung melepas genggamanmu di tangan Clara. Bahkan hingga kematiannya.


*

# Kehilangan seseorang yang mengganti nomor ponselnya.
Masihkah dia menunggu – mewujudkan bola-bola mimpinya?
Akan menjadi orang lainkah dia?

Lunes, 06 de Abril de 2009
10:54:57 p.m.
****(())****(())****(())****(())****(())****


(III)

Sudah lama dia tak pernah punya doa lagi pada Tuhan. Dan ketika gadis yang baru semalam dikenalnya – dan membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama – mengajaknya pergi ke Pura tempat umat mereka biasa bersembahyang, dia sungguh lupa bagaimana cara untuk menyapa Tuhannya.

Hampir lima belas tahun dia tak pernah lagi duduk bersila seperti saat itu. Tak pernah mendampingi seorang gadis duduk bersimpuh di sebelahnya. Melupakan cara memanggil dan tata krama berbicara dengan seorang pria berjanggut putih yang berpakaian serba putih dan menggunakan aksesoris persembahyangan suci seorang Brahmana di sekujur tubuhnya. Pria itu membawa lonceng berwarna keemasan di tangannya dan membunyikannya. Beberapa wanita berkebaya menyanyikan tembang-tembang asing di sekelilingnya.

Dia lupa nama-nama bunga yang digunakan sebagai banten, dia lupa nama tarian yang ditarikan gadis-gadis remaja sebelum acara persembahyangan dilangsungkan. Namun ketika gadis di sisinya tersenyum padanya dan meremas tangannya, dia melupakan semua kealpaannya selama ini.

“Bagaimana caranya berdoa? Mantram apa yang harus kusebut?” Dia sungguh ingin bertanya begitu pada gadisnya ketika mata mereka bertemu pandang di satu kesempatan, tapi diurungkannya. Malu.

Maka dia hanya bisa mengamati gamelan dimainkan oleh para pemuda, mengamati liak-liuk pinggang para penari, juga menikmati gerak mata gadis-gadis itu. Maka baginya bertandang ke Pura pagi itu, adalah semata-mata untuk memeroleh hiburan.

*

Lima belas tahun dia pergi dari kampung halamannya dan kini kembali lagi berkat dipengaruhi bujuk rayu kekasih barunya. Betapa sudah hampir lima belas tahun juga dia hanya mengenal gadis-gadis bermulut manis yang tidak religius.

Dan kini, semuanya berubah. Pertanyaan-pertanyaan baru melingkupi ruang pikirnya.

Mengenai orang-orang sepertinya – yang kehilangan doa untuk dipanjatkan, yang kehilangan permintaan untuk dikabulkan, apakah lebih cukup bernilai untuk bertandang menemuiNya dibanding orang-orang yang senantiasa datang namun selalu berdoa untuk kekayaan dan untuk kehancuran hidup orang lain – atau untuk cinta yang semu, atau untuk jabatan dan nama baik yang tak pernah abadi? Apa yang sebenarnya mereka minta? Yang mereka harapkan dari hal-hal yang mereka minta? Sadarkah mereka untuk menjadi diri sendiri akan lebih nyaman ketimbang menjadi orang lain. Sadarkah mereka, bahwa meski alam semesta terlihat tak beraturan, Tuhan dengan kasat mata memiliki aturan-aturan? Masih perlukah mereka meminta?

Apakah sebenarnya arti dari doa? Apakah sebenarnya arti dari takdir – nasib, hari baik, dan hari kelahiran? Rantai-rantai yang berpisahan namun sesungguhnya bersatuan, sambung-sambungan membentuk hidupnya yang seperti saat ini. Apakah hal-hal itu saling melingkupi atau sesungguhnya berlepasan namun berkaitan oleh banyak sebab?

Apakah sebenarnya arti dari doa? Pertemuan yang khusyuk antara dia dan Tuhannya? Jika Tuhan maha tahu – maha segala, maka tidakkah dengan mudahnya Tuhan menyadari ketulusan dari umatNya ini tanpa perlu dia bertandang datang mengucap mantra?

Di mana Tuhan selama empat puluh tahun perjalanan hidupnya? Selama dia kehilangan Clara, juga Yara, juga masa lalu, juga kebersamaan. Selama dia kehilangan kekasihnya dan menjadi gila.

Apa yang dimaksud dengan Tuhan tidak bermain dadu? Bahwa Ia tidak pernah bermain peluang di Matematika? Bermain apakah Dia? Apakah monopoli atau catur? Ataukah bermain-main dengan jalan hidup ciptaanNya?

Benarkah Tuhan mengetahui segalanya namun Dia hanya menunggu – di satu titik entah di mana. Ataukah?

*

# Mencari keping jiwa yang hilang,
Akankah tertemukan?
Atau entah sudah tertemukan?
Oleh orang lain dan bukan aku?

Lunes, 06 de Abril de 2009
11:04:57 p.m.


Cetak Halaman Ini