Saturday, March 21, 2009

[Cerpen] Cinta yang Sia-Sia






(!) Dia duduk di tepi ranjangnya. Menatap kursi, meja, lemari baju, deretan lemari buku, sofa, akuarium, dan sebuah telepon bergagang kuning di dinding kamarnya. Menatapi setiap detilnya. Menatapi kamarnya berulang-ulang. Menatapi seluruh ruang apartemennya. Meja makan, wastafel, dan ruang tamu. Persis seorang autis.

Ada perasaan yang enggan dia kenali. Saat semua hal pada dirinya tertata rapi tapi dia tak tahu di mana dia meletakkan hatinya.

Ruang apartemen ini bukanlah ruang tempat dia dilahirkan juga dibesarkan. Bukan ruang yang menyimpan memorinya bersama kedua orangtuanya. Dan dia tahu, hatinya memang tidak berada di tempat itu.

Tapi bukan juga tertinggal kepada kedua orangtuanya di kampung halamannya. Melainkan pada laki-laki dan pisau. Pada caranya menusuk dan merobeki boneka-boneka beruang yang dibelinya. Pada laki-laki yang terus hadir dan terus menyakitinya.

Dia meneguk habis botol vodka yang dibelinya di swalayan kecil sebelum kembali ke kamar apartemennya. Sudah botol keempat dan hatinya masih merajuk tentang akal sehat.

Seseorang menyatakan cinta dan melamarnya tadi pagi. Menyematkan sebuah cincin berlian di jari manisnya. Menegaskan berulang-ulang bahwa dia sungguh-sungguh ingin menikahinya. Dia menata rapi dirinya pagi itu tapi dia sungguh tak tahu di mana dia pernah meletakkan hatinya. Dia mencari-carinya di mata pria di hadapannya, mungkinkah hatinya telah dia titipkan pada pria yang melamarnya?

“Ibu, besok saya pulang,” suaranya hampir tidak dikenali oleh Ibunya di seberang sana.

“Kamu sedang sakit, Nak?”

Dia membisu. “Saya akan menikah.”

Tut. Diakhirinya percakapan mereka.

*

(@) Dulu dia pernah bermimpi akan dinikahi oleh seorang pilot, dulu dia pernah bermimpi menjadi pramugari, tapi mimpi baginya akan selamanya menjadi masa lalu. Dia terlalu takut mewujudkan satu per satu bola mimpinya hingga akhirnya, dia tak pernah mewujudkan semua itu.

Pesawat lepas landas. Diperhatikannya sekitarnya. Seseorang yang kesulitan memasang sabuk pengaman. Seseorang yang berbisik dan menunjuk-nunjuk pemandangan di luar kaca pesawat kepada bocah kecil di sebelahnya – seolah begitu antusias untuk bisa memperlihatkan dunia yang sesungguhnya – tentang ketidakteraturan pola dari awan-awan putih di langit biru. Juga pada pramugari di hadapannya yang begitu anggun, yang sedang menjelaskan tata cara terjun dari pesawat ketika suatu saat pesawat oleng atau lepas kendali – dan entah apa istilah formalnya. Ritual khususnya menghadapi standar pelayanan itu hanyalah dengan memijiti dahinya.

*

(#) Bukan sesuatu yang berbeda, seharusnya. Dia baru saja tiba di tempat yang familiar baginya. Bandara tempat cinta pertamanya pernah mengecup dahinya sebelum dia pergi. Tempat mereka terakhir kali bertemu pandang. Masih diingatnya sosok itu. Pria berlesung pipit, bermata lebar. Pria berdada bidang. Kini – pria itu – telah pergi ke surga. Selamanya.

Dia berjalan di tengah lalu-lalang dan keriuhan orang-orang hanya dengan menggendong sebuah ransel. Dipindahkannya letak kacamata hitamnya ke rambutnya. Dia menuju ke keramaian dan lalu memesan taksi.

*

($) Adiknya spontan memeluknya ketika membukakan pintu. Dan dia spontan mengacak rambut adiknya itu. Diperhatikannya, tinggi gadis kecil itu sudah bertambah hampir tiga puluh senti setelah lama dia tinggalkan.

“Apa kabarmu? Aku sudah lama merindukanmu,” ujarnya penuh sayang.

“Tapi Kakak tidak pernah pulang.” Jawab adiknya.

Dia tak pernah pulang – bahkan ketika kakeknya meninggal karena serangan jantung. Ketika adiknya lulus sarjana dengan predikat sangat memuaskan. Ketika cinta pertamanya mengalami kecelakaan pesawat saat bertugas dan lalu dikremasi di tanah kelahirannya.

“Ibu di mana?” dialihkannya tatapannya dan lalu dia melangkah masuk.

“Di dapur, Kak.”

Ayahnya berjalan ke arahnya. Dipeluknya Ayahnya lalu disalaminya seperti biasa.

“Sudah lama sekali,” Ayahnya berujar. Begitu lama – namun Ayahnya tak pernah mengunjunginya ke tempatnya, “tiba-tiba pulang, kamu bawa berita apa?”

Dia hanya bisa tersenyum, “Pernikahan.”

“Berita bagus.”

*

(%) “Besok dia akan datang,” dia memelankan temponya mengunyah makanan di mulutnya, “bersama keluarganya juga beberapa kerabat dekatnya.”

Ayahnya tersenyum sumringah, “Kali kedua Ayah akan beradu mulut dengan pria pilihanmu.”

Ibu dan adik-adiknya tertawa. Suasana di meja makan yang sudah lama tak dialaminya.

“Aku ingat waktu Ayah menginterogasi pacar Kak Sita.. Waktu Ayah menginterogasi Kak Adit!” Nadia – adik bungsunya – angkat bicara. Sita juga ingat waktu Nadia memasukkan kecoa ke cangkir teh Adit sewaktu dia bertandang untuk melamar. Dan bagaimana seisi rumah menertawakan Adit yang langsung menjatuhkan cangkirnya di hadapan calon mertuanya.

“Jangan ulangi kenakalan yang sama,” Ayahnya berujar, “kalau kamu nggak mau Ayah jahili calon suamimu.”

“Iya Ayah, iya. Ampun, ampun.”

“Ciee.. siapa, tuh?” Sita menyahut nakal, “Jangan bawa ke Ayah. Bawa ke Kakak dulu. Nanti biar Kakak yang interogasi.. Tes ketahanan menghadapi adik Kakak yang bandel ini..”

“Ada, Kak.” Lidya menyahut, “Mario, namanya.”

Nadia melempar brokolinya ke piring Lidya, “Ssst.. Jangan bilang-bilang!”

Mereka serempak tertawa. Pipi Nadia merona merah. Dan Sita sadari, kejadian sepuluh tahun lalu kembali terulang. Tidak ada yang benar-benar berubah.

*

(^) “Sayang, Ayahku masih di luar negeri. Mungkin kami tidak bisa datang hari ini.” calon suaminya mengabarinya, “Titip maafku ke calon mertuaku ya, Sayang.”

Dia terhenyak. Untunglah. Ada perasaan lega memenuhi dadanya. Bahwa mungkin dia tidak benar-benar siap menikah dengan seseorang – tidak benar-benar siap dilamar oleh seseorang yang sudah hampir tujuh tahun menjalin hubungan dengannya.

“Lain waktu saja kalau begitu,” jawabnya, “Biar kujadikan kepulanganku kali ini sebagai rekreasi. Kamu baik-baik di sana?”

“Nothing wrong with me, selain merindukanmu, sangat.”

“Baguslah. Jangan selingkuh, ya.” Ujarnya bercanda.

“Pasti. Pasti selingkuh,” Pria di seberangnya tertawa, “selingkuh dengan tumpukan pekerjaanku.”

“Asal jangan terlalu diforsir selingkuhnya..”

Dan mereka tertawa. “Miss you.”

Lalu mengakhiri pembicaraan.

“So?” Nadia menatapnya lekat. Tersenyum nakal.

“So, he’s not coming,” Lidya menjawab, “jadi dandanan kita?”

Sita mengamati kedua adiknya yang kecentilan itu. Full make-up. “Kita jalan-jalan.”

“Horeeeee... asyik! Ditraktir ya, Kak!” Nadia meloncat-loncat lalu memeluknya.

Dia lebih memilih untuk bisa selalu jalan-jalan di pantai sendirian ketimbang jalan-jalan di pelaminan berduaan.

*

(&) Dia dan Adit. Mengukir nama mereka di semua tempat yang mereka kunjungi. Di pasir pantai, di pepohonan, di dek-dek kayu kano yang berjajaran, di meja restoran, di semua tempat yang mungkin dicemari oleh cinta mereka di pantai Sanur.

Kedua adiknya menggerutu gemas karena dia justru mengajaknya ke pantai ini dan bukan ke Kuta. Di sini tak ada jalanan yang penuh sesak oleh turis, tak ada restoran-restoran seafood kegemaran Nadia, tak ada jajaran toko pakaian dan aksesori di sekitarnya. Tapi selalu ada ketenangan – selalu ada ketentraman bagi Sita untuk mengenang sosok seorang Adit.

Selalu ada Adit di bale itu. Di saat mereka bermain catur dan Sita selalu kalah. Kemudian yang menang akan melemparkan sekeping logam lima ratus rupiah ke dalam lautan lalu memohon sesuatu untuk dikabulkan.

Sita tidak pernah menang dan Sita tidak pernah bisa memohon. Sita tak pernah bisa memohon kepada dewa lautan agar menjaga Adit suatu saat ketika mereka terpisah – suatu saat ketika abu jenazah Adit dibenamkan di tengah laut.

Dan betapa permohonan Adit selalu dikabulkan. Permohonan yang selalu untuknya, selalu untuk Sita dan cinta mereka berdua.

“Kakak kenapa menangis?”

“Ingat Kak Adit?”

Dia mengangguk. Selalu mengingatnya.

*

(*) “Narkoba?” ujar Adit padanya saat itu, “Kamu pakai narkoba, Sit?”

Dia menelan ludahnya. “Ayahku juga. Tapi itu dulu, Dit.”

“Bagaimana bisa? Ayahmu, kan, seorang polisi?”

Sita menggeleng, “Ayah selalu membawa pulang barang sitaannya. Kadang Ayah memakainya, kadang justru dijualnya. Ayah tidak pernah tahu, kalau aku diam-diam memerhatikannya.”

“Dan mencurinya?”

Sita mengangguk, “Hidupku berantakan, Dit. Aku nggak seperti apa yang dilihat orang.”

“Tapi ini narkoba, Sita.” Adit menukas, “Sesuatu yang tidak seharusnya kamu sentuh.”

“Seks juga bukan dunia yang seharusnya aku masuki.” Sita meradang.

“Maksudmu?”

Sita terdiam seribu bahasa. Dia hanya ingin berterus terang kepada orang yang dia cintai.

“Jelaskan padaku, Sita.” Ujar Adit kala itu, “Aku tunanganmu.”

“Aku hanya ingin jujur, Dit. Kita akan menikah. Kamu harus tahu siapa aku.”

“Maksudmu kamu pemakai dan..,” Adit menarik nafasnya, “pelacur?”

Air mata mengalir di pipi Sita. Sesuatu yang sulit dia jelaskan.

“Sebelum bertemu denganmu, iya.”

Adit menggelengkan kepalanya lalu tertawa frustasi, “Pandai sekali kamu menyimpan rahasia,” Wajahnya nampak marah, “atau justru berbohong? Apa kamu tidak ingin menikah denganku sehingga kamu membuat alasan sekonyol ini?”

“Setelah bertemu denganmu, aku melepas semua itu.” dia menjawab, “Kecuali sabu-sabu. Kadang-kadang aku masih membutuhkannya.”

“Kenapa selama ini kamu tidak pernah jujur?”

“Karena aku mencintaimu, Adit. Aku tidak ingin kehilanganmu.” Dia menangis. Bagaimana caranya agar Adit tahu? Agar Adit bisa mengerti?

Adit terdiam. Hanya bisa diam dengan mata memerah.

“Adit.. aku mencintaimu. Kupikir kalau kamu mencintaiku, kamu nggak akan mempersalahkan semua ini. Kupikir kamu akan tetap mencintaiku. Kupikir tidak ada masalah antara aku pengguna ataupun aku yang seorang pelacur. Kupikir..”
“Kita batalkan saja pernikahan kita.” Sesuatu rontok dari hatinya ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut calon suaminya.

“Adit..” dia terdiam, “Kupikir kamu akan mengerti.”

“Dalam hal ini, cintaku butuh logika, Sita.” Dia terdiam sejenak, “Aku membutuhkan seorang Ibu yang baik untuk mengasuh anak-anakku.”

“Aku akan berubah, Adit. Aku janji, aku akan berubah.”

Hatinya hancur. Terlebih ketika Adit berjalan meninggalkannya.

*

Cetak Halaman Ini


(Q) Apa yang lebih dia takutkan – entah kehilangan hidupnya atau kehilangan seseorang yang sangat dia cintai. Dia belum berterus terang kepada calon suaminya yang baru – tentang dirinya yang mantan pengguna narkoba, yang pernah menjadi seorang pelacur, juga tentang dirinya yang kini mengidap AIDS.

Dia tidak berani berterus terang. Dia tidak berani menolak lamaran Dion – ketika pria itu dengan sungguh-sungguh mengalungkan kalung berliontinkan sepasang angsa untuknya, ketika pria itu juga menyematkan cincin berlian yang indah di jari manisnya.

Dia tidak berani kehilangan cintanya lagi.

“Kak, kita pulang saja, ya?” Nadia meringis.

Lidya memandangi matahari yang terbenam. Sementara Sita terus menangis.

Seperti halnya matahari yang membutuhkan waktu untuk bersembunyi, dia sungguh membutuhkan alasan untuk mati.

*

(W) “Sayang?” dia mengangkat telepon dari Dion, “aku sedang di rumahmu.”

Sita menghapus air matanya lalu menggelengkan kepalanya, “Katamu kamu tidak akan datang, Sayang? Katamu Ayahmu masih di luar negeri?”

“Kejutan untukmu, Darling. Aku tidak tahu kalau kamu akan memutuskan untuk pergi jalan-jalan.”

“Dari mana – bagaimana bisa.. siapa yang memberitahumu alamat rumahku, Dion?” dia bertanya terbata.

“Aku memegang diarimu, Sayang.” Ujar Dion di telepon.

Dia menarik nafasnya. Sungguh dia ingin berteriak. Diari itu. Lima belas diari. Semoga Dion tidak membaca sesuatu mengenai narkoba, atau seks, atau AIDS. Semoga Dion tidak membacanya. Tapi tunggu dulu, diari yang mana yang dipegang Dion?

“Dari mana kamu mendapatkan diariku?” akhirnya itulah yang dia tanyakan.

“Di kamar apartemenmu, Sita..”

“Di mana kamu dapatkan..?”

“Bukannya aku memang memegang duplikat kunci apartemenmu, Sayang?” Dion memotongnya, “Bukannya kita sama-sama memegang kunci kita?”

“Dion.., tapi, diariku tidak kuletakkan di meja sembarangan. Diariku ada di dalam lemari. Kamu membongkar barang-barangku..?”

Dion tertawa, “Aku bercanda, Sayang.” Terdengar suara tarikan nafasnya, “Aku tahu kamarmu adalah privasimu. Alamatmu kudapatkan dari Regina, teman sekantormu.”

Sita memejamkan matanya. Oh, Tuhan, candaan Dion benar-benar hampir membunuhnya.

“Dion!” dia berteriak, “Terus kamu serius lagi ada di rumahku?”

Dion tertawa, “Ini lagi memperhatikan Ayahku ngobrol sama calon besannya. Sementara aku disuruh jalan-jalan dulu di taman belakang. Tempat kamu biasa melamun, katanya.”

“Ayunan itu?”

“Iya, Darling. Sini, pulang. Temani aku duduk di sini.”

“Oke, oke, wait. Tunggu aku.”

Tut.

“Jadi kita pulang?” raut wajah Nadia berbinar ceria.

Sita mengangguk, “As you wish.”

*

(E) “Ayah menyetujuinya?” Sita terpana, “Jadi artinya?”

“Kita menikah.” Dion yang menjawab.

Mereka tertawa bersama. Akhirnya.

Sesuatu yang sejak dulu dia cita-citakan. Tidak bisa menikah dengan seorang pilot, paling tidak dia akan menikah dengan anak seorang pengusaha maskapai penerbangan.

“Bersama dalam suka maupun duka.” Dion mengecup dahinya.

Dalam suka maupun duka.

*

(R) Resepsi yang dia nanti-nantikan. Resepsi yang seharusnya terselenggara sebelum dia mengidap AIDS. Seharusnya bukan Dion yang berdiri di sana. Tapi Adit. Selalu ada Adit di dalam ingatannya.

“Mimpi kita selama tujuh tahun,” ujar Dion di sisinya, “akhirnya terwujud.”

Mimpinya.. mimpi menikah dengan Adit dan berdiri di pelaminan bersama Adit.

*

(S) “Adit, kumohon, kamu harus mengerti.” Dia menarik tangan Adit ketika mereka bertemu di acara reuni SMP mereka.

“Jadi kamu ingin memaksaku untuk mencintaimu?”

“Adit.. sebelum kamu tahu ini, kamu mencintaiku, kan? Kenapa secepat itu berubah?”

“Aku ingin istri yang baik, Sita.”

“Aku kurang baik-baik apa di matamu, Adit? Apa katamu dulu tentang cinta? Cinta yang tanpa alasan, cinta yang memang cinta?”

“Sita, kamu harus logis. Seandainya aku pemakai narkoba, seandainya aku seorang pria sewaan, dan aku bahkan mengidap AIDS.., dan kamu adalah seorang wanita baik-baik yang tidak pernah mengenal semua itu, apa kamu masih mau menikah denganku?”

“Jadi kamu pria baik-baik dan aku bukan wanita baik-baik?”

“Kamu sudah mengerti.” Adit melepaskan tangannya. Pergi.

Dia mengejarnya sekuat tenaga, “Adit!”

“Pergilah dari hidupku, Sita.”

“Kamu picik.” Sepenuh daya upayanya dia berusaha mengatakan itu, “Aku mencintaimu. Tulus dari dalam hatiku. Dan kamu menolaknya? Di mana perasaanmu?”

“Kamu bilang begitu, karena kamulah penderitanya. Seandainya kamu berada di posisiku, kamu pasti akan mengambil keputusan yang sama denganku.”

“Dari mana kamu tahu?” hatinya benar-benar hancur mendengar semua keputusan Adit.

“Hatiku yang mengatakannya.” Jawabnya, “Kamu tidak mungkin mencintaiku jika kamu tahu aku bukan orang baik-baik. Karena mencintai seperti itu adalah hal yang sia-sia.”

*

(T) Mencintai bayangan juga adalah hal yang sia-sia. Mencintai Adit di dalam diri Dion akan selamanya sia-sia. Wajah yang sama, senyum berlesung pipit yang sama, cara memandang yang sama. Pelukan yang sama, kecupan yang sama. Tiada sedikitpun berbeda.

“Dion, aku butuh bicara.”

“Bicara apa, Sita?”

“Sesuatu yang hanya bisa dibicarakan pelan-pelan.”

“Apa itu?”

“Bagaimana seandainya aku adalah mantan pemakai narkoba?” dia berbisik.

“Bukan masalah.” Bagus.

“Pelacur?”

“Asal nanti tidak lagi. Apa kamu percaya aku juga tidak mungkin perjaka?”

Dia tersenyum, “Pengidap AIDS?”

Mata bertemu mata. Dia tahu apa yang akan dijawab oleh Dion.

*

(U) Malam itu dia kembali duduk di bale yang sama. Pernikahannya dibatalkan sepihak. Ayahnya marah. Ibunya juga. Adik-adiknya menggerutu. Keluarga besarnya dibuat terheran-heran. Tapi Dion tidak memberikan alasan pembatalan itu kepada kedua orangtuanya. Bagaimanapun, Dion masih mencintai Sita, walau kini dengan cara yang berbeda.

“Kupikir, setelah aku bilang begitu, kita tidak bisa duduk berdua seperti ini lagi.”

Dion menggali dan lalu menggenggam penuh bebutiran pasir pantai di tangannya, “Aku hanya butuh waktu. Kupikir aku masih mencintaimu.”

“Tapi kamu tidak mungkin bisa melamarku lagi,” Ujar Sita, “setelah apa yang barusan kamu lakukan.”

“Tapi aku bisa mengajakmu kawin lari,” lalu Dion tertawa dan menambahkan, “bercanda.”

“Kamu tidak akan percaya bahwa hari ini aku begitu bahagia.” Setelah berkata begitu, dia lalu menemani Dion duduk di pasir pantai, kemudian dia memejamkan matanya. Angin laut menyapu poninya. Wajahnya berbinar bahagia.

“Karena batal menikah denganku?” Dion terdiam sejenak, “Sejujurnya, aku tidak menyangka harus kehilangan seseorang sesempurna dirimu.”

“Aku pernah kehilangan seseorang yang sempurna. Bahkan hingga kini, dia masih begitu sempurna.”

Dion menatap mantan kekasihnya itu lekat. Dia tidak tahu kekecewaan apa saja yang pernah menghiasi mata Sita sebelum masa delapan tahun perkenalan mereka.

“Aku pernah memiliki kekasih. Begitu mirip denganmu. Kalian seperti pinang dibelah dua.” Sita lalu mengambil sebuah foto dari dompetnya, “Namanya Adit.”

“Kami saling mencintai dan kami telah bertunangan. Beberapa saat sebelum pernikahan kami, aku mencoba jujur padanya,” Sita terdiam sejenak, “seperti apa yang kukatakan padamu tadi, bedanya, saat itu aku belum menderita HIV ataupun AIDS.”

“Lalu?”

“Dia bilang, karena itu, dia tidak bisa mencintaiku.”

Sita terdiam. Dion merasakan perasaan itu. Sesungguhnya berat baginya untuk memutuskan hubungannya dengan Sita karena dia tahu dia masih mencintai Sita. Mungkin hal yang sama dirasakan entah oleh Adit atau Sita. Atau mereka berdua. Hingga saat ini pada dimensi berbeda. Dimensi jiwa dan dimensi raga.

“Padahal bukan itu alasan sebenarnya,” Sita mengambil jeda, “tadi adiknya datang dan menceritakan hal ini padaku. Tentang perpisahan kami dan kecupan Adit di bandara. Adit masih menyimpan cintanya untukku.”

“Lalu apa masalahnya? Bukannya waktu itu kamu belum menderita AIDS?”

“Di saat yang sama, sebenarnya dia ingin jujur tentang sesuatu. Waktu yang tidak tepat.”

“Tentang apa?”

“Adit steril. Sindrom klinefelter. Dia mengecek itu sebelum memastikan untuk menikah denganku. Itu satu-satunya alasannya.”

Dion menggelengkan kepalanya tidak percaya.

“Seharusnya kami sudah menikah dan hidup bahagia.” Sita berangan-angan, “Kita tidak mungkin mencintai seseorang jika dia ternyata bukan orang yang tepat untuk kita. Karena mencintai seperti itu adalah hal yang sia-sia. Dia pernah bilang begitu padaku. Ternyata itu ditujukannya untuk dirinya sendiri. Bisa kamu bayangkan perasaanku sekarang?” Air mata Sita membasahi pipinya.

Dion memejamkan matanya. Membaui wangi lautan. Membaui kisah cinta Adit dan Sita, “Menurutmu apa kita akan selalu memeroleh apa yang kita inginkan di dalam hidup kita?”

Sita menggeleng, “Justru itu. Aku merasa tidak pernah memeroleh apa yang sesungguhnya aku inginkan.”

“Kamu salah, Sita.” Dion menggumam, “Kamu menginginkannya maka sesuatu itu terjadi. Semua berjalan sesuai keinginanmu. Keinginan tiap sel dalam tubuhmu.

Mungkin konyol. Tapi aku selalu mempelajari setiap kegagalan dalam hidupku. Ketakutan-ketakutanku. Hal-hal yang aku sia-siakan. Dan aku menemukan pola. Itulah polanya. Bermimpilah dan gapailah sekuat tenagamu.” Dion lalu menengadahkan kepalanya ke arah langit. Memandangi gugusan bintang yang entah bermuara di sebelah mana.

“Apa semua otak manusia menemukan pola rahasia? Tanpa mereka sadari, pemikiran mereka sebenarnya sama?”

“Kamu merasa begitu?” Dion terkesiap. Pemikiran mereka memang hampir selalu mirip-mirip.

“Apa jika besok aku mati, akulah yang menginginkan kematian esok hari itu?”

Dion mengangguk, “Kamu yang menginginkannya.”

“Jadi aku tidak perlu takut mati?”

“Kamu bahkan tidak perlu takut terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi.”

Mereka terdiam dan lalu menuliskan sesuatu di pasir pantai.

*

Di pagi yang buta.
Menunggu seorang teman membawa makanan.
20 Mar. 09 - 21 Mar. 09
21:00 - 01:59:33 WIB

: Sadarkah kau, pada kenyataannya, aku menjelaskan semua ini karena setiap rincian kisah ini berhubungan dengan kesulitanku. – (page 50) My Name is Red, Orhan Pamuk.


[Cerpen] Aksara Kehidupan

#

Wednesday, March 11, 2009

[Daily's] Lagu Terfavorit Seumur Hidup

I am a child, a child of creation
Feeling just like a wandering star
And like a bird who's flying in motion
Trying to see so clear, so far

Far in the sky, I fill there with dancing
Far in the sky, I hear the birds sing
Out in the storm, I play with the Winter
Shout to the winds and wait for Spring

Spring that awakes with eyes full of loving
Giving the world a phase that is new
Sending us all the rains and the flowers
Showering us with love that's true

True as the dawn that wakes up the sunshine
True as the look I see in your eyes
You gave to me the day of my lifetime
Taught me to love, taught me to fly

Bird on the wing, sing for me, sing
Take me up high, show me your sky

I am a child, a child of creation
Wanting to meet the world face to face
Moving the clouds and letting the light through
Making the world a sunny place

Place for a song and place for a poem
Light up my life the way you can do
There's so much hope that's shining around us
Hope for the child, for me and you

I am a child, a child of creation
Feeling like I'm a wandering star
And like a bird who's flying in motion
Trying to see so clear, so far

Bird on the wing, sing for me, sing
Take me up high, show me your sky

Bird on the wing, sing for me, sing
Take me up high, lend me your sky

Friday, March 6, 2009

[Cerpen] Kinnara

**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
* * : * * * * * * : * * * * * : *
: * * : * : : * : * * * * * *
: : : * * : * : : * : * ::::::: * * * * * ::::::: *
: * * : * : : * : * * * * * *
* * : * * * * * * * * * * *
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**

“Pernah tahu mitos yang mengatakan kalau bumi ini disangga oleh empat ekor kura-kura? Seperti bintang-bintang yang berjejer di sana,” Dia menggerakkan telunjuknya dari satu sudut ke sudut lainnya, “konstelasi kura-kura.”

Hari itu seperti biasanya dia memulai malam kami dengan cerita yang asing, juga seperti biasanya, aku menggeleng, tak menyimak apa yang dia bicarakan.

Pasti terlihat bodoh. Selalu bodoh di matanya.

Lain waktu, tiap kali kami menatapi langit seperti saat itu, dia pasti akan selalu bilang (aku tahu niatnya hanya untuk mengomentari minimnya ketertarikanku pada langit): percuma membuat orang-orang tertarik memahami langit, sementara mereka sudah lebih dulu terpana dengan bintang-bintang yang bertebaran di layar kaca. Bintang-bintang yang redup atau terangnya hanya tergantung seberapa besar sensasi yang dibuatnya.

Dia memang sangat menyukai langit. Semua istilah yang dipakainya kait-mengait dengan bintang, meteor, atau istilah-istilah asing di fisika, semacam black body radiation yang kalau aku salah dengar bisa kuartikan sebagai out body experience.

Dia adalah seseorang yang lebih mudah memahami ilmu astronomi ketimbang ilmu anatomi namun kuliah di jurusan kedokteran.

Beberapa saat kemudian dia tertawa, “Tiap kali memerhatikan bintang bersamaku, tidakkah kamu juga tertarik untuk ikut menghafal nama-nama rasi bintang?”

Aku mengernyitkan dahi.

Seolah paham, dia menjelaskan, “Tidak pernah ada yang namanya rasi kura-kura.” Lalu dia kembali tertawa.

“Aku, kan, nggak kuliah astronomi,” begitu caraku membela diri.

“Aku juga nggak kuliah astronomi.”

Saat itu, aku kembali kalah telak darinya.

*

“Seandainya aku lahir sebagai laki-laki, Ayahku bilang akan menamaiku Andromeda. Nama seorang putri raja yang terkesan maskulin,” kali kedua kami bertemu, dia memulainya dengan menjelaskan perihal asal-usul namanya, “juga sebagai nama rasi seluas tujuh ratus dua puluh dua (722) derajat persegi. Kebalikan tanggal lahirku, dua puluh dua Juli (227).”

Aku kagum akan rumitnya cara orang tuanya memilihkan nama untuknya. Bahkan namanya sekarang, Kinnara, terdengar tidak kalah istimewanya dengan nama Andromeda yang batal disematkan di belakang gelar dokternya. Karena dia terlahir sebagai seorang perempuan, selamanya perempuan. Tapi, apalah arti sebuah nama.

Saat itu dia berceloteh macam-macam di kamarnya. Dia termasuk gadis yang lincah, juga tipikal seorang pembicara yang tak sekalipun membiarkan pendengarnya memotong kalimatnya.

“Gaun ini cantik?” dia menunjukkannya padaku. Berpose layaknya peragawati. Berputar seratus delapan puluh derajat, seperti pedansa.

“Kurang cerah. Gelap,” kujawab.

Dia lalu melepas gaun itu di hadapanku. Dia tidak mengenakan bra. Hanya celana dalam tipis transparan berwarna hitam. Sensual.

“Ibuku selalu bilang, aku lebih cocok mengenakan gaun warna hitam,” dia menjawab, tapi dia mengambil gaun berwarna putih. Sementara gaun hitamnya masih tergeletak di kakinya.

“Kalau ini?” dia bertanya. Kuurungkan niatku untuk menggelengkan kepala, seberapa buruk pun gaun yang dia tunjukkan. Aku benar-benar tak betah melihatnya telanjang di hadapanku. Terlebih, kami baru bertemu dua kali. Di aula kampus dan langsung di dalam kamarnya.

“Ini hadiahnya untukku,” Dia menjelaskan lalu mengenakan gaun itu, tekanan kalimatnya barusan menyadarkanku tentang betapa istimewanya gaun putih berenda keemasan itu baginya, “hadiah dari cinta pertamaku.”

Saat itu, tak pernah kusadari bahwa yang dia maksud sebagai cinta pertamanya, adalah seorang wanita. Adalah seseorang yang berjenis kelamin sama dengannya.

Kini, katanya, aku akan menjadi cinta terakhirnya. Aku. Seseorang yang berjenis kelamin sama dengannya.

*

Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Bedanya, aku menunjuk-nunjuk rasi-rasi bintang dengan telunjukku. Mengaitkan mereka. Lalu mengambil catatanku. Menggambar rasi-rasi yang kutemukan. Kemudian membaca data di wikipedia tentang rasi-rasi itu. Lalu mencatatnya di bawah rasi yang kugambar. Tingkahku persis orang gila yang menemukan tempat nyaman di pojok salnya di rumah sakit jiwa.

Setelah melewati beberapa rasi bintang, kubaca lagi data di internet karena ada sesuatu yang masih membingungkanku, seharusnya rasi bintang yang bulat itu pasti bertanduk. Berbentuk mirip seperti kambing laut. Namanya, capricornus. Karena di dekatnyalah terletak rasi bintangku, sagittarius. Rasi bintang pemanah. Hm. Sebutlah ini keberuntungan sebagai seorang pemula. Untuk tidak tahu bahwa dirinya mungkin saja salah.

Perfect knowledge of such things cannot be acquired without divine inspiration,” aku terngiang pujian Kinnara pada para ahli bintang yang dengan teliti menemukan rasi-rasi bintang itu. Didapatnya dari kata pengantar Catatan Nostradamus, katanya. Kini aku memahami pemikiran Kinnara.

Mirip novel Seribu Tahun Kesunyian yang ditulis oleh Garcia Marquéz, pemahaman bahwa entah mengapa kami beruntung terlahir di abad ini. Saat ketika bilangan phi; 3,142 – dengan berderet digit angka lain di belakangnya – sudah ditemukan untuk menyempurnakan perhitungan bangun lingkaran, saat yang dibutuhkan hanya tinggal pembuktian dari teori-teori yang berjubel banyaknya.

Terpenting, saat aku tidak perlu kesulitan memberi nama baru – yang alangkah rumitnya – pada konstelasi yang baru kutemukan (dan akhirnya kusukai) di atas sana.

Ah, dunia. Entah apa kunamai bumi ini. Entah beruntung. Entah membuat bingung, untuk mengenal tentang aturan-aturan yang harus ditaati, juga hukum-hukum yang wajib dipatuhi. Dari semua planet di tata surya, planet mana lagi yang aturannya serumit di bumi?

Bahkan aturan terkecil yang akan tiap anak muda temukan di unit terkecil dalam kehidupannya, tentang ketika seorang gadis mencintai seorang pemuda, grafik membuktikan bahwa kebanyakan dari orang tuanya akan merasa berhak bertanya apa sebab para gadis itu mencintai pria ini dan kenapa tidak pria yang itu yang tinggal di wilayah mewah dan ke mana-mana naik jet pribadi itu?

Bagaimana dengan Kinnara? Bisakah dia mencintai orang lain? Mengapa dia harus menjadi seorang lesbian? Mengapa Tuhan menggariskan seperti itu untuknya?

Bahwa aku takkan pernah membalas cintanya. Karena aku bukan lesbian. Lalu, mengapa Tuhan menggariskanku untuk tidak menjadi sepertinya – seperti Kinnara yang selalu nampak ceria namun sesungguhnya rapuh? Penggaris apa yang Tuhan gunakan?

*




Ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku bergegas membukakannya. Siapa lagi kalau bukan Kinnara.

“Lagi apa?” dia bertanya.

“Tesis,” jawabku.

“Hm. Boleh kulihat?” dia menengok ke dalam kamarku. Berantakan.

Aku membukakan pintu kamarku lebih lebar, “Minum apa?” tanyaku ketika dia melangkah masuk dan duduk di ranjangku.

“Kopi hitam, tanpa susu, tanpa gula, tanpa pemanis apapun,” dari jawabannya kuyakin dia ingin bergadang semalaman bersamaku di balkon apartemen. Kubuatkan seperti yang dia minta. Dua gelas. Untuknya, juga untukku.

“Hukum perdata?” dia mengangkat kertas-kertasku, kertas-kertas yang ketika itu dia pegang di tangannya, seraya lalu menyalakan televisi dengan remote di tangan kirinya. Saluran TV kabel. Tidak pernah disetelnya channel lain selain national geographic.

“Masih belum kutentukan,” jawabku sambil membawakan dua mug besar untuk kami berdua.

“Bawa ke balkon saja,” ujarnya sambil membawa kertas-kertasku. Aku tak yakin dia akan rela menghabiskan waktunya untuk mengobrol perihal hukum di Indonesia. Sepengetahuanku, dia membenci hukum, politik, dan segala kebijaksanaan-kebijaksanaan Pemerintah Indonesia. Selamanya benci, katanya saat itu.

Tetap kubawa kedua mug kami ke arah balkon. Dia mengikutiku dari arah belakang. “Menurutmu, kenapa semua hal harus ada aturannya?” pertanyaannya kelihatan berkaitan dengan apa yang kupelajari. Dengan isi dari lembaran kertas yang dipegangnya – tentang hukum perdata, tentang common law, tentang sejarah sistem Anglo Sakson – tapi sesungguhnya aku yakin dia menanyakan sesuatu di luar segala teori hukum yang kuketahui.

“Kenapa orang-orang mengikuti tes IQ?” aku balik bertanya, “lalu percaya pada hasilnya?”

Dia terdiam. Dia yang selalu punya jawaban atas setiap pertanyaanku, menungguku menjawab pertanyaannya. Kuputuskan tidak menuruti keinginannya untuk saat ini.

“Menurutku, ketertarikan ini sudah faktor genetis – kalau kamu pernah belajar biologi. Gen superior dan inferior memang sudah ada di alel-alel dalam kromosom manusia, itu sebabnya akan selalu ada yang kelihatan benar dan kelihatan salah. Cara pandang gen-gen itu berbeda. Bahwa yang dominan akan berkata bahwa aku mencintaimu dan yang resesif akan menentangnya,” akhirnya dia menjawab.

Kuyakin dia kembali meracau seperti dulu. Baginya, menyatakan cinta akan sama mudahnya seperti membawakan peran sebagai moderator dalam sebuah seminar genetika.

“Masyarakat selalu tertarik untuk mengenali jati dirinya dan mengenali diri orang lain – juga mengenali lingkungan di sekitarnya. Maka mereka membuat pandangan-pandangan khusus dari posisi mereka yang kemudian mereka jadikan pandangan umum. Orang-orang menemukan pola. Mereka jadikan patokan. Kemudian, mereka akan mengejar kesamaan pola,” dia melanjutkan, “sehingga di akhir, tidak akan ada sesuatu yang berbeda. Semua manusia, mungkin saja, akan menjadi sama satu dengan lainnya. Karena aturan-aturan. Sebut saja, eugenetika sistem modern.”

Aku diam. Benar-benar diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Tidak tahu harus menjadi apa di matanya. Kadang kata-kata lisan yang diucap oleh Kinnara bisa lebih tidak kumengerti dibandingkan saat-saat ketika aku harus dengan serius membaca sejarah Corpus Juris Civilis.

“Apa sulitnya mencintaiku?” dia bertanya, “apa arti gambar-gambar konstelasi ini?” dia mengangkat buku gambarku. Lembar terakhir yang kugambar, konstelasi sagittarius.

“Aku mulai menyukai langit,” jawabku jujur. Aku tahu dia hanya membutuhkan kejujuran di saat seperti ini.

“Lalu kapan kamu akan mulai menyukaiku?”

“Saat kamu berhenti menyukaiku. Saat kamu hanya menganggapku sebagai sekedar sahabat,” kujawab, sekali lagi, dengan jujur.

“Apa karena kamu ingin punya keturunan? Atau karena kamu ingin dianggap normal oleh orang-orang?” dia bertanya.

Aku tidak tahu harus menjawab apa lagi. Paling tidak, aku masih merasakan debar ketika melihat pria tampan. Aku masih bisa salah tingkah saat harus jalan berduaan dengan seniorku di profesi kenotariatan.

“Aku memang normal, Kinnara.” Entah apa sebabnya dia mendugaku sama tidak normalnya seperti dirinya, “kamu juga, kalau kamu menginginkannya.”

“Tapi kamu tidak pernah memiliki pacar,” dia menudingku, “kamu tidak pernah berkencan dengan pria. Kamu tidak pernah.. dan aku juga.. aku tidak pernah..” dia terhenti. Menangis.

Aku berdiri di hadapannya, sangsi dengan kelemahannya yang dia perlihatkan malam itu. Dia mendekatiku, menangis di pundakku. Kubelai rambutnya.

“Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku, Kinna?” pertama kalinya kucoba untuk mengetahui alasannya. Alasan dari sesuatu yang membuatku merinding ketika mengetahuinya.

Dia memelukku lebih erat. Air matanya semakin deras. “Aku hanya merasa aman saat berada di dekatmu,”

“Kenapa padaku?” harus ada alasannya. Karena cinta yang beralasan, adalah cinta yang akan dengan mudah berubah. Akan mudah kuubah.

“Kamu selalu mendengarkan apa yang kukatakan, kamu selalu mengiyakannya, kamu selalu..” dia menjawab. Kubelai rambutnya dan aku tersenyum.

“Seorang gadis mencintai seorang pria, bukanlah sistem. Bukan aturan yang harus kamu takuti,” kujawab, “bukan seperti IQ yang kamu harus ragukan atau percayai keberadaannya. Cinta memang ada. Selalu ada.”

Dia mengangkat kepalanya, memandangku.

“Bagaimana caraku tahu?” dia bertanya, matanya penuh keraguan.

“Kamu hanya akan tahu. Suatu saat ketika cinta itu hadir.”

“Bagaimana dengan poligami? Apa cinta itu hanya satu?” dia kembali bertanya, keingintahuan yang sama seperti milik seorang anak kecil.

“Aku tidak pernah percaya perselingkuhan dalam perkawinan itu indah,” kuambil jeda sebentar, “aku tidak pernah memberikan penjelasan untuk sesuatu yang tidak kupercayai. Perselingkuhan terindah mungkin hanya seperti hubungan kita dengan kedua orangtua kita.”

“Apa aku akan menemukannya?” dia bertanya lagi, “Apa aku akan menemukan seorang pria yang memang untukku?”

“Pertanyaan itu hanya bisa kamu jawab, kalau kamu percaya.”

“Kenapa aku tidak boleh mencintaimu?”

Kali ini giliranku untuk tertawa. “Cinta tak pernah beralasan, Kinna. Cintamu padaku, sangat beralasan.”

Dia membisu. Berhenti menangis.

Kali ini, aku yang menang telak darinya.

**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * : * * *
* * * * * * * * * * * * *
* * * * * * * * * * * * ::::::: * ***
* * * * * * * * * * * * *
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**

torsdag den 5 mars 2009
23:51:03 W.I.B.

: Mutiara yang dilempar ke lumpur/Tak akan berkurang nilainya/Dan nilainya tidak akan bertambah ketika digosok minyak kesturi/Di hadapan pemiliknya, nilainya tetap terjaga. - Penginjil Filipus (Injil Apokrif)




Cetak Halaman Ini

Wednesday, March 4, 2009

[Cerpen] Hanya Sebuah Kematian

Disclaimer : Ini bukan kisah nyata dan karena itu, karya ini hanyalah fiktif belaka.

*

Pantai Kuta, sejujurnya, tidak pernah terlihat cantik di mataku. Hingga aku heran mengapa aku selalu menyukainya. Atau justru karena memang aku terlalu sering menyambangi tempat ini sehingga aku lupa hal apa yang selalu membuatku menyukainya – menyukai Kuta?

Ketika kecil, setiap hari aku duduk di pasirnya yang tidak rata – yang membuatku menyangka ada rayap yang tinggal di dalamnya – untuk sekedar duduk. Abu ibuku dibuang di pantai ini, abu ayahku juga, abu kakekku, abu nenekku, semua abu dari keluarga besarku dibuang di pantai ini. Mungkin hanya itu alasanku untuk merasa nyaman berada di sini, walau aku sama sekali tak menikmati panorama pantai yang terhampar di hadapanku.

Di masa-masa setelah ibuku meninggal, aku hanya berada di sini, duduk dengan jiwa yang kosong. Karena jiwaku berlarian ke masa lalu. Karena jiwaku tak pernah utuh lagi. Persis retakan kecil yang menjelma lubang besar.

Ketika itu, pantai selalu mengingatkanku pada masa kecilku, bermain kano dan berenang sampai ke tengah laut. Sampai air garam memenuhi selangkanganku dan membuatku tidak bisa berjalan normal setelahnya.

Aku ingat sekali waktu paling lama aku berenang di pantai ini, hampir satu jam lebih. Dulu ketika kami selesai menyembahyangi abu ibuku, aku ikut bersama para pemuda banjarku untuk berenang ke tengah laut, kata mereka lebih baik kalau aku berenang semakin jauh, karena mungkin dewa lautan ada di tempat terjauh di dekat mentari yang terbenam.

Aku melakukannya, ketika para pemuda berhenti di tengah, aku terus berenang, semua kulakukan untuk menitipkan jiwa ibuku di tempat yang aman. Kepada dewa lautan. Maka aku berenang sejauh yang aku bisa, memeluk wadah yang berisikan abu ibuku di dalamnya.

Setelahnya, pantai selalu menjadi tempat yang aman untukku bisa menangis. Untuk kegagalan-kegagalan yang menghampiriku, selalu ada pantai-pantai yang kujadikan sahabat untuk bercerita.

Pantai Sanur, Pantai Matahari Terbit, Pantai Sindhu, Dreamland, semuanya menjadi tempat yang selalu kukunjungi, termasuk Kuta. Karena tempat yang paling banyak menyimpan kenangan-kenangan tentang orang yang kita cintai, akan menjadi tempat utama yang selalu kita ingin kunjungi.

*

Hari ini, Kuta menjadi tempat pertama yang kukunjungi di Bali.

Sudah lama sekali aku pergi. Sehingga kehadiranku di sini menjadi berbeda. Seolah aku datang ke sini untuk pertama kali. Pantainya tetap sama, yang berbeda hanyalah beton setinggi enam puluh senti yang membatasi areal sekitar pantai.

Pemandangan yang tak pernah aku sukai berada di mana-mana. Wanita berambut pirang berbikini dengan pria kekar berkaca mata hitam yang bertelanjang dada. Kadang aku jumpai wajah oriental dengan mata sipit dan pipi merona merah berciuman dengan turis lokal berkulit coklat yang hanya sedikit tampan – tidak kekar.

Dulu pemandangan seperti itu selalu membuatku terkekeh, namun kini tak ada lagi yang bisa ditertawakan. Tak ada yang lucu dari kebersamaan. Setelah tiga puluh tahun hidup melajang, segala sikap belia membuatku merapuh.

Cinta monyet memang bukan hal yang kupandang indah di masa mudaku, namun kini lebih daripada itu, aku sangat membutuhkan seseorang yang bisa menemaniku menangis. Hingga aku iri dengan orang-orang yang bisa dengan bebasnya berciuman di tengah umum seperti itu. Sesuatu yang sangat riskan untuk kulakukan.

Aneh rasanya berada sendiri di pantai ini. Tidak seperti sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Ketika selalu ada seseorang yang menemaniku – walau hanya sekedar duduk-duduk menyaksikan layang-layang yang beraduan di langit biru berawan.

Menghilangkan kesepianku, aku mengambil kayu di dekatku, lalu aku menulis di pasir pantai. Dengan huruf besar-besar.

Aku ingat sekali ketika lima belas tahun yang lalu aku menuliskan cita-citaku di pasir pantai. Bukan pantai yang sama. Seperti yang setelahnya kulakukan, seperti ketika aku membuang ratusan keping logam dengan beragam jenis mata uang yang kumiliki di ratusan air mancur berbeda. Karenanya, kubiarkan orang-orang dengan bebasnya mengataiku kekanakan.

Tanpa mereka ketahui, ada ribuan hal lain yang membuatku masih suka disebut seperti kanak-kanak. Mereka tak pernah tahu bahwa hanya seorang gadis kecil yang masih bisa mengumpet di bawah ranjang di apartemennya ketika pria-pria datang untuk mengajaknya berkencan. Hanya gadis kecil yang bisa membedakan es krim vanilla dengan es krim mocca hanya dengan sekali melihat warnanya. Bahwa jiwaku memang telah mati ketika ibuku mati.

Aku telah kembali, lalu apa Ibu akan kembali?

Hanya itu yang kutulis berulang-ulang. Dengan huruf besar-besar.

*

Rumah yang kosong. Tingkat tiga. Ketika kumasukkan kunci dan kuputar, pintu seketika terbuka. Sudah begitu lama aku pergi, namun masih kunci yang sama yang bisa kugunakan untuk membuka pintu ini. Tidak ada yang berbeda. Kecuali akuarium yang kosong. Kecuali pigura-pigura pajangan dengan foto orang-orang yang telah mati.

Aku bergegas menuju lantai paling atas. Tempat kami biasanya menyantap ikan bakar sambil menatap bintang di langit malam.

Gelap. Bintang-bintang kecil berwarna putih berjejer, bersesak-sesakkan memenuhi langit yang kelam.

Aku duduk di gazebo yang sama, yang sudah semakin merapuh digigiti rayap, dan kusadari bahwa aku sudah tak bisa lagi mengayunkan kakiku seperti dulu. Kakiku tidak pendek lagi. Kakiku sudah memanjang dan memijak di tanah dengan sempurna. Pertambahan panjang yang entah mengapa selama ini tak pernah kuperhatikan.

Angin malam mengantarkan gelak tawa yang terjadi puluhan tahun lalu. Betapa hal ini menyempurnakan teori dilasi waktu atau entah apa yang akhirnya kukenal sebagai teori dunia empat dimensi – bahwa waktu tak pernah menempel dengan ruang.

Terlebih ketika aku menatapi ayunan di hadapanku. Ketika aku mengingat kekonyolan apa yang pernah kujanjikan pada ayahku. Bahwa aku, suatu hari nanti, akan memenangkan nobel. Bahwa aku, akan membanggakannya dengan menciptakan sebuah mesin waktu. Untuk kami bisa gunakan kembali ke masa lalu menemui ibuku yang telah meninggal.




Ketika itu, kupikir aku akan mempermudah kerja Tuhan, karena aku akan menggambari kertas gambarku sendiri dan setelahnya aku bisa seenaknya membuat sebuah maket untuk perwujudan nyata dari apa yang telah kugambar. Aku pikir merancang masa depan adalah semudah melupakan masa lalu. Hingga pada akhirnya, kutemukan bahwa kedua hal itu sama sulitnya untuk dilakukan.

Dulu aku pernah berbincang dengan ayahku sampai larut malam. Membicarakan macam-macam. Paling banyak tentang teori asal-usul alam semesta, kapan saatnya sebuah bintang akan mati, dan makna di balik Pancasila. Tentang asal usul namaku, sebab musabab ayah bisa jatuh cinta dengan ibu, hingga cerita Dewa-Dewi di India.

Aku suka ketika sebelum aku tidur, ayahku menceritakan kisah Ramayana yang dihafalnya di dalam kepalanya. Ketika dia bercerita tentang pasukan dari Hanoman yang merebut kembali Dewi Sita dari tangan Rahwana. Caranya bercerita sama seperti ketika ibuku mengisahkan tentang Sampek dan Eng Tay yang terpana melihat sepasang angsa berkasih-kasihan – saling melilitkan lehernya di tengah sungai.

Itu sebabnya aku selalu memintanya bercerita tentang kisah Ramayana setiap malamnya. Juga kisah Mahabratha dan Perang Barathayudha. Beliau kadang membacakan banyak kalimat indah dari Bhagavad Gita, pesan dari Rsi Bisma kepada Arjuna. Favoritku, adalah ketika para Pandawa hanya bisa menontoni jasad Rsi Bisma yang dipenuhi oleh ratusan anak panah. Mereka hanya memandangi jasad kakeknya itu di Lapangan Kurusetra, menunggui ajal benar-benar menjemputnya esok hari ketika matahari sudah terbenam.

Betapa ketika aku harus kehilangan orang-orang yang aku cintai dalam hidupku, aku ingin menjadi setegar orang-orang hebat di dalam mitos atau dongeng, yang selalu diceritakan oleh mereka berdua setiap malam sebelum aku tidur. Namun kenyataannya, jiwaku merapuh, tak dapat kupahami. Dan kusadari aku tak bisa menjadi seseorang yang berbeda. Kemampuan manusia memang ternyata ada batasnya.

Sehingga hari ini, di malam dengan langit yang berwarna hitam kepekatan, aku memilih untuk menjatuhkan diriku dari lantai tiga.**

: “Siapa pun tak akan menyembunyikan sesuatu yang berharga di dalam barang berharga, tetapi sering kali orang menyembunyikan ribuan, tak terhitung barang berharga, dalam sebuah benda yang nilainya bahkan tak sampai sepeser. Begitu juga dengan jiwa. Jiwa adalah harta yang sangat berharga, tapi jiwa tersembunyi dalam tubuh yang hina.” – A Father’s Affair.



Cetak Halaman Ini