Monday, February 16, 2009

[Cerpen] Pria Kecil, Permen Kuning dalam Toples Kaca, dan Segelas Air

It’s a tribute to My Mom. For a year of her departure to the heaven.
February 16th 2008 – February 16th 2009

*

___panah hujan & mocca_chi___

Pengantar : Ide cerita ini terlahir dari pemikiran seorang sahabat kental saya, mocca_chi. Terima kasih banyak untuk selalu menjadi sahabat terbaikku di setiap waktu. Karena aku sangat menyukai ide ceritamu ini, aku membuat kisah ini melalui versiku. Sungguh terima kasih banyak, Kak. Maaf karena jadinya hanya sebatas ini.

Untuk menikmati cerita ini, disarankan akan lebih baik sambil menikmati lagu When You Believe dari Mariah Carey ft. Whitney Houston.

***

Pria kecil,

Pagi itu, saat kamu menaruhku di dalam toples kaca sebelum berangkat sekolah, entah perasaan apa yang ada di dalam diriku. Aku tak ingin kamu meninggalkanku. Karena entah kenapa, aku tahu kamu tidak akan pernah kembali.

Tapi aku terus menanti kedatanganmu. Sampai akhirnya Ibumu mengangkat telepon dan menangis setelahnya. Katanya kamu telah meninggal.

Hari itu Sabtu. Begitu kelabu buatku. Rumahmu sepi. Semua orang pergi ke rumah sakit untuk memastikan bahwa itu memang kamu. Bahwa kamu memang telah meninggal.

Andai kamu tahu. Aku selalu suka melihatmu tertidur di sebelahku, melihatmu bernafas dan bermimpi. Aku suka memerhatikanmu tertawa. Sambil menanti saatnya kamu akan memerhatikanku. Untuk mengatakan betapa manisnya diriku.

Aku tak tahu kenapa aku bisa menjadi begitu istimewa bagimu. Kami datang berdua belas. Kami ditaruh dalam sebuah kotak. Jauh-jauh dibawa Ayahmu dari Amerika. Tapi aku heran kenapa kamu hanya memakan kesebelas saudaraku. Tidakkah aku nampak manis bagimu?

Kami berkumpul, berwarna-warni bagai pelangi. Apa karena aku berwarna kuning maka kau tak menyukaiku? Kata orang-orang warna kuning adalah warna yang dekat dengan simbolisme kematian. Tapi aku tidak percaya. Aku tahu ada alasan lain kamu enggan memakanku.

Kamu menaruhku di dalam toples. Tidak pernah kamu makan, hanya kamu pandangi lekat. Sampai pagi itu kamu mengambilku dari dalam toples, menatapku. Aku pikir kamu akan memakanku. Aku yakin kamu akan menyukaiku.

Tapi Ibumu memanggilmu untuk mengikat tali sepatumu dan mengajakmu berangkat ke sekolah. Kamu mengantongiku dan berlari ke arah Ibumu.

Ayahmu duduk di meja makan, setangkup roti bakar ada di atas piring besarnya. Aku ingat ketika dulu beliau membeli kami untuk dijadikannya oleh-oleh buatmu. Khusus buat putra tunggalnya yang baru saja memenangi olimpiade fisika nasional, katanya. Kami diboyong mengelilingi kota, ke bandara, kami diajak ke rumah makan, ke toko pakaian, ke segala tempat yang ingin dia kunjungi sebelum pulang ke rumah, sampai akhirnya kami diberikan kepadamu. Dan pagi itu, hanya aku seorang yang tersisa.

Tapi saking asyiknya aku memerhatikan Ayahmu, tak kusangka aku akan jatuh dari kantongmu. Ibumu mengambilku. Dia bilang bahwa kamu tidak boleh memakan coklat untuk sementara waktu. Katanya kamu sudah terlalu banyak memakan coklat. Beberapa gigimu berlubang karenanya. Maka dia bilang agar kamu menyimpanku kembali ke dalam toples.

Aku mendengar percakapan kalian. Aku memerhatikanmu. Perjuanganmu untuk memakanku. Ternyata ada alasan mengapa kamu memutuskan untuk memakanku paling akhir.

“Ini warna favoritku, Ibu. Coklat ini favoritku.. Aku sudah memutuskan untuk memakannya sekarang,”

“Ibu tahu kamu selalu memakan makanan yang kamu sukai paling akhir, tapi dokter gigimu bilang kamu tidak boleh makan coklat lagi untuk sementara waktu.”

“Tapi Ibu..,”

“Kamu bisa memakannya lain waktu.”

Biarpun wajahmu berkerut kesal, kamu tetap melakukan perintah Ibumu dengan patuh, kamu membawaku kembali ke kamarmu dan meletakkanku di dalam toples di sebelah segelas penuh air minum pada meja panjang di pinggir jendela. Setelahnya kamu membuka gorden. Aku melihat cahaya matahari masuk melalui celah-celah ventilasi di bagian atasnya. Lalu kamu menutup toples.

*

Pria kecil,

Andai kamu mengerti. Aku berharap kamu ada di sisiku saat ini. Dunia kecilku di dalam toples kaca ini begitu menakutkanku. Matahari begitu terang, aku yakin alangkah panasnya di luar sana. Segelas air di sisiku sudah menguap. Aku takut aku juga akan meleleh. Tapi ketika segelas air itu sudah hampir habis, aku belum juga meleleh. Tapi aku tetap ketakutan. Aku tetap merasa kehilanganmu. Aku menangis.

Beberapa tetes air yang tersisa di gelas itu menatapku ketika aku menangis ketakutan. Bertanya kenapa aku menangis.

Aku menjawab, karena aku telah kehilanganmu dan aku juga bertanya mengapa dia tidak menangis padahal kamu telah meninggal.

Dia menjawab bahwa seharusnya aku merasa beruntung. Karena aku diletakkan di dalam toples kaca yang terlindung dari cahaya dan debu. Tidak seperti dia yang dibiarkan terbuka tanpa penutup oleh Ibumu dan menguap karena cahaya mentari.


Tapi aku adalah milikmu. Aku seharusnya dimakan olehmu.
, kataku dalam hati. Aku tetap menangis. Semakin keras.

Beberapa tetes air yang tersisa menatapku geram namun penuh kesabaran. Sebentar lagi air itu akan habis.


Apa kamu tahu benda-benda seperti kita juga memiliki takdirnya? Pria kecil itu menyayangimu maka dia menjagamu bahkan sampai saat-saat terakhirnya. Dia tidak mengajakmu pergi pagi ini. Kamu beruntung. Dia batal memasukkanmu ke dalam kantongnya. Dia meletakkanmu di wadah yang aman di dalam toples. Sementara aku? Ibunya meletakkanku begitu saja di meja ini. Di sebelah jendela. Alangkah panasnya.
, dia menjawab.

Kamu seharusnya bersyukur., dia melanjutkan.

Aku menatapnya. Sebentar lagi dia akan habis menguap.

Caraku tersakiti dalam wujudku ini adalah dengan hilang begitu saja tanpa pernah diminum oleh siapapun., dia berkata. Tapi aku yakin dalam wujudku yang lain, aku akan menjadi apa yang kuinginkan. Aku mungkin akan menguap, aku akan pergi ke awan-awan, kemudian turun lagi sebagai hujan.


Sesungguhnya, Permen Kuning, kita tidak pernah kehilangan apapun.
Peringatan terakhirnya. Karena kita adalah zat, Pria Kecil itu adalah zat, dan kamu Permen Kuning.., juga adalah zat. Akan berubah wujud. Tubuh kita bersatu dengan alam semesta. Kita tidak terpisah, kita hanya bergerak acak.

Manusia yang kita kenal seperti Pria Kecil itu mungkin tidak pernah tahu bahwa kita memiliki kesadaran. Ketidaksadaran itulah yang membuat wujud kita terpisah-pisah. Manusia mengira kita adalah benda mati, seperti dia kira matahari juga adalah benda mati, planet-planet adalah juga benda mati. Mereka tak menyadari bahwa kita hanya berubah wujud. Tidak ada yang pergi dan tidak ada yang datang. Kita semua adalah bagian dari alam semesta. Menempati dan menyatu dengan wadah kita masing-masing.

Dan Permen Kuning, aku yakin, suatu hari nanti, pasti akan ada orang yang akan memakanmu. Bahkan bagiku, kamu begitu manis, Permen Kuning. Jangan takut. Jangan menangis lagi. Aku benci melihatmu menangis.


Kamu harus tahu, sekarang, aku tidak pergi meninggalkanmu. Aku hanya berubah wujud,

Aku menatapi kepergian tetes-tetes air itu. Dia hanya berubah wujud., katanya.

*


*






Big Mom,

How could I tell you about my fearness while you were talking without stopping – about something which I couldn’t understand – in front of me without letting me argued.

How could I find the way to make you understood. That I was really afraid to be alone; when you gave me the warmth embrace. How could I know the way to make you felt the same. I lost you; when you grasped my hands and kissed me.

Today a year ago, I saw you slept on your bed, and without calling my name as usual, without asking me to be closer with you.

I came to you, and you kept on silence. Without saying the same things as tomorrow or the day before; about cancer at your breast had made you were feeling uncomfort for days.

I saw your corpse, frozen. I myself had entered you to the freezer. I didn’t cry anymore. I believe you were still there beside me.

“She died, at six,” told the nurse.

I nodded without saying something. I just knew that you had been very strong for years.

Did you know? I felt this way. I felt my sixteen years with you were not enough.

During sixteen years, we seldom saying we did love each other. We seldom hang out together or embracing each other on the bed, as what each Mom did to her sons at night. For me and for you, love and affections should never be that cliche.

When we had to loose each other, the feeling of this heart told that we didn’t want it happens. Sixteen years were a very short time ‘cause we throught it with much of beautiful moments.

Our days we throught were very perfect. There was no maimed. You in my heart, will never replace by anyone else.

I remember each of your stories you told me.

I remember the first time you told me that you had have cancer at your breast, seven years ago. That time I was still studying at junior high school. I knew nothing about it, I knew nothing about your fearness to loose your left bosom. I just accompanied you cried beside me while I was playing chess.

I never knew that I will loose you the day at the year. I thought you were still strong to struggle for surviving. In theory, I thought if you could trough the highest stadium of cancer at years before, why now you can’t? But in fact, you died. Still, without saying anything.

The day you struggled to take care of me. Made me laughed, accompanied beside me when I was crying.

Other days which revealed beautiful stories.

Days which for other people would been felt very bitter, but for me they were our sweet bittersweet.

Our remembrances would never been owned by anyone else. Our remembrances will never been owned by anyone else other than us.

Big Mom,

Things which made me afraid when I knew I’ve lost you, were about awareness that I won’t meet you again. In your physic as a mother.

I’ll be alone.

I’ll never be able to touch your hands again. I’ll never feel your kissing at my forehead. I can’t embrace you anymore, can’t see you smile, laugh, or saying words.

Truthly, I can’t believe I’ll be able to defend till this time.

Thank you for the stoppered bottle which you gave to protect me. For a glass of water which made me defend. For other forms of you which always accompany me.

How I do very love you, Mom. You must know, how each parts of my soul do missing you this much. A year of your departure to the heaven, revealed a new me.

How, indeed, there will never be any closing words to end up my thankful to you. There will never be other people whom accompany my lonesome at night since you went away from my life. For you, there will never be a good bye.

: “How do you say good bye to someone you can’t imagine living without? I didn’t say good bye. I didn’t say anything. I just walked away.”

Elizabeth ~ My Blueberry Nights


In a room at CLX7,
Lunes, 16 de Febrero de 2009
8:20:32 a.m.
No P.S.

Cetak Halaman Ini

Thursday, February 12, 2009

[Cerpen] Relgia Part 2

II(Gadis Kecil)

Pak Sopir menyambutku ketika aku membuka pintu mobil, membungkuk memberi hormat. Yang kutemukan setelahnya adalah pemandangan yang cukup membuat mataku hijau oleh keasrian taman di hadapanku. Air mancur yang cukup besar dibangun di tengah-tengah halaman. Semua bunga di taman itu berwarna putih, tidak ada warna lain.

Ayah angkatku memegang bahuku. Oke, mulai detik ini, aku bersepakat pada diriku untuk memanggilnya ayah angkat. Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku, “Sekarang, ini adalah rumahmu,”

“Well girl, ayo kita masuk,” lanjutnya sambil menarik tanganku mengikutinya.

Baiklah, aku diadopsi olehnya. Maka sekarang segala perkataannya akan setingkat dengan perkataan kitab agamaku. Aku menurutinya, mengikuti ke manapun dia menuju, dan dia menggiringku ke sebuah rumah yang semegah istana. Kata pria itu, dia juga akan menyekolahkanku. Di sekolah khusus. Kupikir mungkin maksudnya, sekolah untuk kau borjuis. Entahlah.

“Istriku yang mendesain interior rumah kami,” ucapnya sambil lalu membukakan pintu, “dan itu fotonya.”

Pigura besar terpajang di sana, foto perkawinan ayah angkatku dengan mendiang istrinya, tepat lurus dengan pemandangan pertama yang kulihat ketika dia membukakan pintu.

Lampu kristal besar tergantung di langit-langit yang berasal dari tiga lantai di atasku. Banyak ornamen yang tidak perlu, tapi bagiku tetap layak dipajang dan.., cantik. Istrinya desainer amatir yang berbakat, tak peduli apapun profesi yang dia geluti sebenarnya.

“Kupikir di Indonesia tidak ada rumah semewah ini,”

Dia hanya menjawab dengan senyumnya dan memanduku untuk mengikutinya menaiki tangga. Kupikir kamarku pasti di lantai tengah. Tidak mungkin di lantai tiga. Aku benci ketinggian.

Aku melewati lorong yang panjang, seperti memasuki sebuah hotel. Kami berjalan di atas karpet merah yang disoroti sinar jingga. Di setiap lima kaki perjalanan kami, terpajang pigura-pigura minimalis. Semuanya menampilkan foto pria ini bersama dengan seorang wanita dengan latar tempat yang beragam. Sungguh tak pernah kubayangkan aku akan diadopsi oleh orang sekaya ini.

Dia berbelok, aku mengikutinya dengan nafas tertahan. Tempat pertama yang kami datangi bukan kamarku, melainkan sebuah perpustakaan besar. Perpustakaan pribadinya, katanya.

“Harta karunku,” ucapnya singkat kemudian melangkah masuk, “Jika suatu saat kiamat benar terjadi, yang aku takutkan hilang dari hidupku setelah aku kehilangan istriku, adalah jika aku kehilangan mereka. Buku-bukuku.”
Aku tersenyum. Obrolan tentang pemujaan berlebih terhadap sesuatu hal dan ketakutan-ketakutan untuk kehilangan sesuatu tidak pernah menarik minatku sama sekali.

“Kita bisa menyimpan semuanya di kepala kita, mereka akan menjadi bagian dari diri kita, dan tidak terpisahkan.” aku mengambil salah satu buku, “Buku adalah benda sekali pakai. Kubeli, kubaca, kuambil informasi di dalamnya, dan setelahnya mereka akan menjadi sekedar pajangan.”

“Rahasia pertama yang akan kau ketahui saat ini, langsung dariku, bahwa ayah angkatmu ini tidak memiliki ingatan super.” Jawabnya merendah. Bagiku, seseorang tidak akan bisa menjadi sekaya dia saat ini jika dia tidak berotak jenius.

“Ayah tidak membutuhkan ingatan super. Karena ketika Ayah membaca sebuah buku, sesedikit apapun konsentrasi Ayah saat itu, mereka semua sudah tersimpan di dalam pikiran Ayah.” Mungkin dia seperti melihatku meracau tentang sesuatu yang tak jelas karena entah kenapa matanya seketika memandangku dengan cara yang istimewa.

“Pikiran kita hanya seperti komputer yang belum terprogram. Bedanya, kapasitas otak kita seratus dua puluh juta kali lebih besar dibandingkan komputer tercanggih dunia saat ini,” aku melanjutkan. Tidak peduli apa tanggapannya.

“Seratus dua puluh juta terrabyte,” Dia bergumam, aku menganggukkan kepala, “Entah buku apa saja yang sudah kau baca sebelumnya.” Lanjutnya.

Aku memandang ke lebih dari sepuluh ribu buku di hadapanku, “Aku akan suka membaca semua buku-bukumu.”

*





(Pria)

Tidak salah lagi. Apa mungkin dia reinkarnasimu?

Apa yang kau ketahui, juga diketahui olehnya. Percakapan-percakapan kita. Kalau aku tak percaya dengan intuisiku, aku bisa mengira aku memang salah duga. Tapi aku merasa seperti mengobrol denganmu.

Gadis sembilan tahun ini bisa membuatku jatuh cinta.

“Kita ke kamarmu – sekarang?” kualihkan perhatianku. Jantungku berdetak kencang.

“Tunjukkan jalannya padaku,” jawabnya kaku. Pilihan katanya begitu dewasa.

Kutuntun dia menuju kamarmu. Mendekati kamarmu, aku masih membaui wangi tubuhmu di sekitarnya. Sudah sembilan tahun berlalu, tapi aku masih merasa begitu dekat denganmu, merasakan kehadiranmu di setiap tempat yang pernah kausinggahi.

“Ini kamarmu,” kubukakan pintu kamarmu untuk dilihat gadis kecil kita. Kuyakin dia akan menyukainya.

“Aku suka kuning,” ucapnya sambil berjalan memasuki kamarnya, “catnya, ornamen-ornamennya.”

“Warna kesukaanmu,” aku bingung dengan intonasi kalimat yang baru saja keluar dari mulutku sebelum kulanjutkan dengan suara pelan, “dulu sekali.”

Dia berjalan ke arah ranjangmu. Dia duduk di sana, “Aku benci diadopsi, tapi aku akan menyukai tinggal di tempat ini.”

“Kamu pasti akan betah di sini. Besok Ayah akan mengantarmu ke sekolah barumu. Dua kilometer jaraknya dari sini,” jawabku, “Pulang sekolah, Ayah harap bisa mengajakmu berdiskusi tentang mesin waktu.”

Hanya lelucon dan dia benar tertawa, “Kita bisa membicarakan hal-hal lain yang lebih penting. Bukan tentang mesin waktu. Bukan tentang reinkarnasi atau tentang anak indigo. Aku tidak percaya pada semua itu.”

“Sudah kuduga kamu akan menjawab begitu.” Aku lemah. Dikalahkan oleh perubahan ketertarikanmu. Kelahiranmu sekarang entah berapa kali lipat lebih lihai menjawab semua ucapanku, “Ayah akan pergi sebentar. Kalau kamu butuh sesuatu, ada banyak pelayan di bawah yang akan membantumu jika kamu menekan tombol di atas meja di sebelah ranjangmu.”

Dia hanya tersenyum. Tipis. Setipis bibirmu yang mengatup di saat-saat terakhirmu. Entah apa yang membuatku begitu merindukanmu.

“Terima kasih, Ayah Angkat.”

*

P.S. : Iseng ngelanjutin cerita adopsi-adopsian ini sekalian refreshing kepala yang lagi penat. Atau mungkin karena merasa ingin diadopsi seseorang? Who knows, ya.

Yang punya ide kelanjutan cerita ini, dimohonkan kesediannya untuk memberi saran plot selanjutnya.

Khusus buat Kak Irfan also known as ipenk_project, mungkin Religia bagian sebelumnya memang bisa dijadiin kelanjutan kisah trilogi Lelaki Hujan-nya kita bertiga. Setelah kupikir-pikir, kita bisa menyambungnya sampai seperti ini. Jadi, Religia bagian ini mungkin bisa dilanjutkan lagi oleh siapapun di antara kalian. Either Kak Irfan atau Sist Rara.

Mungkin ceritanya bisa dimirip-miripin sama Kuch Kuch Hota Hai? :P

Viel Glück.


Cetak Halaman Ini

Saturday, February 7, 2009

[Cerpen] Religia

(Gadis)

Hujan selalu membuatku berjarak dengannya.
Karena aku tak bisa melihat tangis yang dia sembunyikan.

Hujan selalu membuatku berjarak dengannya.
Mengamatinya merentangkan tangan di kejauhan,
Sementara aku memegangi payungku di pagar rumahku.

Aku sering berkata padanya, bahwa aku tak punya siapa-siapa dalam hidupku.
Tanpa kusadari: bahwa aku selalu memilikinya untuk mendengarkanku bercerita.

Andai dia tahu, dia membuatku banyak berpikir.
Seperti yang sering dia dengar setiap kali aku meracau;
Bahwa aku benci keterikatan.
Dan dia selalu membuatku berpikir
Bagaimana seandainya jika aku kehilangannya?


*

(Pria)

Sore itu hujan, aku mendorong kursi rodanya – entah menuju ke mana. Dia bersikeras memintaku meninggalkannya sendirian di kamarnya yang pengap oleh bau obat-obatan atau membiarkan suster jaga mengajaknya jalan-jalan berkeliling. Kubilang aku tak cukup nyali untuk harus kehilangannya tanpa sepengetahuanku.

“Aku ingin makan bubur,” ujarnya. Sementara dia membiarkan senampan makanan dari rumah sakit di meja di sebelah ranjangnya, tak tersentuh.

Sepanjang perjalanan menuju kafetaria, kami melihat banyak burung gereja beterbangan di langit, “Besok aku akan menjadi salah satunya,” dia berkata lirih.

Dia selalu percaya bahwa sebuah entitas ketika meninggalkan fisiknya yang telah mati kemudian akan bermanifestasi terlebih dulu menjadi hewan tertentu sebelum terlahir kembali. Dia satu-satunya gadis yang kukenal telah mendalami kepercayaan timur tentang reinkarnasi bahkan semenjak usia sembilan tahun.

“Kamu tahu, aku sudah kehilangan Ibuku di hari dia melahirkanku,” ujarnya.

Entah apa yang ada di pikirannya. Yang jelas di pikiranku, semua kenangan tentang kebersamaan kami berputar-putar di dalam orbitalnya, tereksitasi satu per satu di dalam tempurung kepalaku, semakin kehilangan energi tiap kali kusadari bahwa aku akan kehilangannya sebentar lagi.

“Itu membuatku berpikir, mungkin waktu itu malaikat surga bertanya padanya, antara dia memilih untuk terus hidup dan membiarkanku mati atau dia mati untuk membiarkanku bisa terus hidup,” lanjutnya.

Mendorong kursi rodanya saat dia sedang merasa hampir mati, membuatku kehilangan daya gerakku sama sekali.

“Dan nyatanya dia memilih mati,” dia mengakhiri ceritanya.

Beratnya sudah turun sebanyak dua puluh kilogram selama setahun dia menjalani kemoterapi. Usianya baru dua puluh satu tahun, dan dia menderita kanker otak. Tumor di otaknya tidak membuatnya kehilangan daya pikirnya atau menurunkan kecerdasannya, bahkan setiap hari semenjak dia dirawat inap di rumah sakit, dengan banyak jenis buku yang dia baca, membuatku takut dia akan mengalahkanku setiap kali kami berdebat tentang sesuatu.

Sebelumnya dia selalu kalah pada diskusi tentang apapun yang kusukai, dan aku selalu seimbang tiap kali diajaknya berdebat tentang hal-hal yang dia sukai. Kami membicarakan tentang kecerdasan artifisial, kemungkinan penyebab kiamat, kadang aku membicarakan tentang ilmuwan matematika, dan dia membahas mengenai kesamaan mereka dengan tokoh-tokoh psikologi. Sejujurnya, dia tidak akan tergantikan.

“Dia memberimu hidup selama dua puluh tahun,” ujarku kemudian, “Yang dia tidak yakin apakah dia akan membutuhkan seperempat dari waktunya itu untuk terus menantikan seorang putri sepertimu.”

Ibunya melahirkannya di usia empat puluh tahun, dan sebagaimana umumnya wanita pra-menopause, mereka akan kehilangan kesuburannya menjelang usia empat puluh lima. Aku yakin, Ibunya berprinsip bahwa natalitas seimbang dengan mortalitas di usianya yang empat puluh itu. Dia pasti tidak mau membuang-buang waktunya untuk menunggu titipan Tuhan di tahun-tahun setelah dia kehilangan putrinya dalam operasi caesar.

“Seandainya dia tahu, bahwa putrinya tidak akan berumur panjang,” dia menjawab, “Apa mungkin dia mau mengorbankan nyawanya?”

“Sayangnya manusia tidak pernah tahu,” sejenak aku terdiam, merangkai kata-kata di kepalaku, “Keajaiban apa yang akan Tuhan beri di sepanjang perjalanan hidupnya. Dia mengambil resiko untuk menerima keajaiban Tuhan, seorang putri sepertimu.”

Dia menarik nafasnya dan di sepanjang perjalanan kami membeku dalam diam.

“Aku pernah membayangkan tentang masa depan, di mana kita bisa kembali masa lalu dengan mesin waktu,” ujarnya, “Aku ingin kembali ke hari kelahiranku, memperingatkan Ibuku bahwa aku tak perlu lahir.”

”Semua anak lima tahun memikirkan itu setiap menonton film berjenis fiksi sains masa depan, dan terutama mereka yang tak pernah merasa memiliki masa lalunya sepenuhnya,” jawabku. Aku tak menyalahkannya dengan pikirannya itu. Sayangnya, melihat gelar sarjananya, aku tak yakin dia akan menyukai pembicaraan lebih jauh tentang kemungkinan keterkaitan antara teori dilatasi waktu dan rangkaian mesin-mesin yang akan membutuhkan biaya minimal sebesar satu miliar dolar. Dia tidak pernah menyukai materi dimensi tiga, dan jika dia ingin membicarakan tentang dunia, sayangnya dia harus mengerti ruang berdimensi empat. Sayangnya lagi, aku bahkan juga tidak mengerti.

Kami sampai di kafetaria rumah sakit. Aku memesan dua mangkuk bubur ayam hangat dan dengan sigap mengambil dua botol air mineral ukuran 600 ml. Kupinggirkan kedua kursi plastik yang menghalangi kursi rodanya. Lalu kami duduk di pinggir taman, di ujung timur kafetaria.

Darah mengucur dari hidungnya. Tangannya tidak bisa dia gerakkan untuk menghapusnya, dia mengalami kelumpuhan kedua tangan dua minggu yang lalu. Kuambil tisu dari tas ranselku. Tas ranselku selalu penuh akan segala sesuatu kebutuhannya.

“Seandainya kita tidak pernah bertemu,” ujarnya ketika aku menghapus darah yang keluar dari kedua rongga hidungnya. Darah itu terus mengucur dan tak berhenti. Kuambil daun tumbukkan di wadah plastik di dalam ranselku – obat herbal untuk menghentikan mimisan – kuletakkan di lubang hidungnya.

Beberapa saat, darahnya berhenti.

“Seandainya kita tidak saling jatuh cinta dan juga tidak menikah..”

Aku terpaku karena kalimat terakhir darinya. Kutatap matanya, tubuhnya tidak bisa bergerak, yang dia miliki hanya wajahnya, ekspresi mata dan kata-kata yang timbul tenggelam dari bibir tipis itu.

“Kita bahkan belum dikaruniai keturunan,” lanjutnya. Dia bahkan tidak menangis ketika mengucapkan itu. Dia tidak pernah menangis di hadapanku, padahal dia seorang wanita, “Aku belum sempat berkorban untuk anakku.”

Aku mengerti perasaannya. Dilahirkan oleh seorang Ibu yang dari cerita orang-orang di sekelilingnya – lebih memilih mati untuk melihat putrinya lahir, pasti akan menimbulkan trauma yang besar baginya, juga menyebabkan kewajiban untuk melakukan hal yang sama, yang bahkan tak dia ketahui diberikan oleh siapa dan semenjak kapan perasaan bersalah itu menempel di pundaknya bagai parasit.

“Seandainya lelaki boleh hamil,” aku berkata. Dia tertawa, tapi tawanya tidak bisa selincah dulu. Ketika dia menggerakkan tangannya memukul bahuku setiap kali aku melempar lelucon, ketika bahkan setelah itu aku selalu menerima kecupan mesra darinya di keningku.

“Aku akan membiarkanmu mencari wanita lain, setelah aku meninggal,” ujarnya, “Sejujurnya, aku merasa bersalah atas semua hal buruk yang terjadi di hidupmu setelah kamu menikah denganku. Maaf.”

Sungguh aku tidak dapat berkata-kata atas pemintaan maafnya. Dia adalah segala-segalanya bagiku, dan ketika segala-galanya itu merelakanku, aku bahkan berpikir aku tak perlu hidup.

“Aku akan adopsi seorang putri,” jawabku, “Bukan seorang istri.”

Dia tersenyum, air matanya mengalir di wajahnya. Sungguh sangat jarang aku melihatnya menangis.

“Aku mencintaimu.” Kata-kata terakhirnya, sebelum akhirnya dia menutup matanya, untuk selamanya.

*




(Gadis Kecil)

Aku melihat seorang pria gagah datang. Teman-temanku berlarian mengerubunginya, para pria berseragam hitam di belakangnya membawa puluhan parsel cantik untuk dibagikan. Kulihat teman-temanku berteriak tentang permen, coklat, dan semuanya berwarna-warni. Kulihat dari kejauhan, alangkah cantiknya parsel-parsel itu.

Aku menutup bukuku dan berlari ke kamar, bersembunyi supaya tidak ditemukan. Aku tidak mau diadopsi oleh siapapun. Dan tiap kali orang datang untuk mengadopsi anak, aku meringkuk di dalam kegelapan kamarku.

Namun seseorang membuka pintu kamarku, menyalakan lampu. Dia menemukanku. Dia berjalan ke arahku.

“Boneka itu lucu,” pria gagah itu berkata, tersenyum. Aku tahu arti dari sinar mata itu, dan betapa aku merasa tidak aman disorot dengan mata elang itu.

“Apa kamu mau mengadopsiku?” aku bertanya.

Dia tertawa lalu menggelengkan kepalanya, “Tidak jika kamu tidak mau.”

“Kenapa kamu memilih menemuiku?” tanyaku, bingung.

“Karena kamu katanya adalah gadis yang paling cerdas di panti asuhan ini,” aku tak yakin apa dia menjawab jujur. Tapi aku tidak pernah bersekolah, aku tidak mungkin terlihat cerdas, “Tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman.”

“Maksudmu?” Aku tidak mengerti dengan kalimat terakhirnya.

“Berbahaya bagiku untuk menemukan seorang putri yang akan kuadopsi di luar sana,” dia menunjuk keluar, kudengar suara tawa teman-teman seusiaku, “Aku tahu, juga berbahaya bagiku untuk mengobrol denganmu sekarang. Kamu pasti mencurigaiku.”

Aku menatapnya. Pria gagah itu cerdas. Seperti sosok Ayah yang kubaca di buku-buku.
“Sejujurnya aku memilihmu, karena namamu persis seperti nama yang kami pilih untuk anak kami,” dia duduk di sisiku. Aku yakin dia butuh bercerita. Dia merangkul bahuku.

“Aku dan mendiang istriku sudah membuat sebuah nama panggilan untuk anak kami kelak. Namanya sesuai dengan milikmu,” dia melanjutkan, “Bonusnya, aku menemukan gadis kecil yang juga cerdas.”

“Kenapa istrimu meninggal?” tanyaku.

Dia tersenyum, “Aku tidak pernah membayangkan akan mengobrol seperti ini dengan anak berusia sembilan tahun.”

Aku menatap kesal ke arahnya. Aku tahu sejak tadi dia berusaha merayuku untuk bisa dia adopsi, “Aku bukan gadis sembilan tahun jika kamu melihat buku-buku yang aku baca.”

“Oh, ya?” Senyumnya makin kentara, “Buku-buku apa yang kamu baca?”

“Buku-buku yang ingin kubaca.” Semoga jawabanku tepat sasaran.

“Berarti di usia semuda ini, kamu sudah memiliki selera,” dia menjawab sopan, “Apa kamu sering membaca buku-buku kriminal? Sejak tadi, kuperhatikan, kamu sangat takut kalau aku mengadopsimu.”

“Aku membaca buku-buku spriritual,” jawabku.

Aku tahu dia tidak yakin dengan jawabanku. Karena setelahnya dia hanya mengangguk, mengangkat kedua alisnya, dan terdiam.

“Jadi kenapa istrimu meninggal?” tanyaku.

“Karena dia brilian,” jawabnya. Aku tidak mengerti, tapi dia melanjutkan, “Dia menderita tumor otak stadium akhir. Teknologi di dunia belum bisa mendeteksi tumor otak dalam tingkat kuantum, dan orang-orang yang menderita tumor otak, hanya akan mengetahui kanker itu ketika dia sudah pada stadium akhir.”

Aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan.

“Omong-omong, pertanyaanmu tentang istriku tadi bagiku terdengar kurang sopan,” ujarnya, “Bagaimana kalau memberimu penawaran?”

Aku menatapnya. Lekat, “Apa?”

“Aku ingin mendidikmu sebagai anakku.” Akhirnya dia menyampaikan maksudnya.

“Alasannya?” aku bertanya.

“Istriku yang memintanya. Aku yakin dia sedang duduk di sebelahmu sekarang.” Dia tersenyum dan membelai rambutku.

Kemudian dia melangkah keluar.

*

(Pria)

Aku yakin dengan pertanda-pertanda yang dia berikan. Dengan simbol-simbol dalam mimpiku. Gadis kecil ini secerdas dia ketika berusia sembilan tahun.

Dia duduk di sisiku, membaca buku berbahasa Prancis. Aku heran anak seusia dia yang dibesarkan di panti asuhan bisa menguasai empat bahasa dunia. Inggris, Prancis, Jerman, dan Arab.

Kata para suster penjaga panti asuhan, mereka bahkan tidak pernah mengajarinya membaca.

Kubiarkan aku kagum oleh kecerdasannya. Seperti kubiarkan dia tidak pernah tahu alasan sesungguhnya aku mengadopsinya.

Mobil kami melaju cepat.

Kuharap aku bisa membesarkan dia seperti putri kandungku sendiri.

*

Sabtu, 07 Februari 2009
08:02:26 - 10:23:19

P.S.: Cerpen ini berasal dari pemikiran: “Kadang dunia memang membutuhkan diktator untuk mengatur ketidakteraturan yang terjadi. Bukan tentang menjadikan dunia persis dengan konsep eugenetika seperti zaman Hitler di Jerman atau Stalin di Rusia. Tapi lebih mendekati kediktatoran Mahatma Gandhi di India.”

Eniwei, definisi diktator bagiku adalah pemimpin yang bisa menggerakkan dunia sesuai dengan kepribadiannya. (seenaknya sendiri)

Entah kenapa jadinya justru tidak sesuai dengan tema utama. 

Enjoy.

Cetak Halaman Ini