Tuesday, January 27, 2009

[Cerpen] Cinta Dua Kerajaan

Jadi, kamu jatuh cinta pada siapa?” seorang ayah menanyakan itu kepada putrinya sehabis membacakan dongeng-dongeng di buku tipis yang dipegangnya.

Pada si nenek sihir,” jawab putrinya, memeluk erat gulingnya dan menarik selimut.

Kenapa tidak pada Snow White?” Ayahnya bertanya, menekan mata kaki putrinya dan memijitinya.

Karena dia tidak mengubah takdir siapapun. Tokoh utama yang bodoh,” jawab putrinya keras.

Memang si nenek sihir mengubah takdir siapa?

Kalau bukan si nenek sihir yang memberi Snow White apel, dia nggak akan mati suri dan kalau dia nggak mati suri, dia nggak mungkin ketemu si pangeran,” putrinya menjelaskan.

Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?

Ayolah, Ayah.., Ayah hampir menceritakan dongeng ini tiap hari, aku bisa mengubah tokoh-tokoh yang kusukai setiap harinya,

Kenapa nenek sihir yang menjadi akhir pilihanmu?” Ayahnya penasaran.

Kurcaci-kurcaci itu juga,” jawab putrinya, “seperti si nenek sihir, mereka bekerja untuk membentuk cerita. Bukan cuma menerima si pangeran tak dikenal datang dan jatuh cinta.

Seandainya sang putri nggak ada?” pancing Ayahnya.

Nggak penting siapa yang jadi tokoh utama. Penulisnya bisa saja membuat Pangeran jatuh cinta pada si nenek sihir,” jawab putrinya dalam tidur. Pulas, “pussy kita bisa saja jatuh cinta pada doggy tetangga sebelah, Ayah..” putrinya mengigau.

Ayahnya tersenyum, dia bangkit dan membelai rambut putrinya, “Maafkan ayahmu ini, Sayang. Ayah hanya ingin kamu bisa melihat dunia dari banyak sisi.

Dikecupnya kening putrinya. Dia ingin putrinya mengerti, bahwa alam semesta memiliki seni kehidupan yang akan sulit dia ajarkan pada orang dewasa yang berniat bunuh diri. Seseorang harus sudah memiliki dasar semenjak kecil. Untuk terus bertahan dengan seni kehidupan, untuk mencintai dengan hati. Seperti kisah-kisah yang selalu diceritakan Ibunya.

***

Lembah dan sungai, dia mengalir menuruninya dan berjelaga. Di mataku, air mukanya selalu begitu bersahaja menyapa kesendirianku. Setiap kali dia tertawa, senyumnya semanis wangi kayu gaharu di musim hujan.

Kemarin tatapan matanya bercerita, lagi-lagi dia menyinggahi persimpangan cinta segitiga. Dia tak pernah beruntung dalam cinta, katanya. Aku hanya mampu menatapnya segan. “Aku juga, selalu. Selalu tak pernah beruntung dalam cinta,” kataku dalam hati.

Andai dia tahu betapa senyumnya selalu menari-nari di atmosferku, bagai karbon dioksida yang menyesakkan tapi membuatku hidup, membuatku bebas bermain-main dengan cinta yang pekat, membuat sel matahari di tubuhku berloncatan menarik-narik cahaya, dan aku terus bernafas, aku terus hidup, dan aku terus menantinya datang untuk bercerita.

Dia selalu bersandar di sisiku. Menatap air dan ikan-ikan. Menatap langit dan awan-awan. Lalu memejamkan mata.

Setelahnya, dia selalu bergumam tentang cinta. Dia definisikan cinta. Dia deskripsikan simbol-simbol ungkapan kasih. Tentang pelukan, tentang kecupan, juga tentang belaian. Dia membelaiku. Menorehkan tatto nama-nama gadis yang dia cintai di tubuhku. Mencakar-cakar. Membuatku mengerang mengejang. Sampai akhirnya, tubuhku penuh akan nama kekasih-kekasihnya.

Banyak betina telah diceritakannya di hadapanku. Dipamerkannya mereka bak pelangi di langit pagi. Kuberi sepenuh hatiku padanya untuk terus mendengarkan, kuberi kesejukan supaya dia betah berlama-lama duduk di sisiku dan bercerita. Tak peduli berapa cemburu berparasit pada akar-akar jiwaku.

Tapi dia tak pernah bercerita lagi – tentang cinta, tentang kasih, atau tentang bereproduksi. Kini kembali seperti hari-hari awal dia datang. Wajahnya pucat, berair mata tanpa air muka. Cinta segitiga. Selalu cinta segitiga. Kenapa para pecinta bangga menjadikan bangunan imajiner di matematika sebagai lambang cintanya? Kenapa mereka tak pernah berniat jatuh cinta pada yang dengan tulus mencintainya – padaku?

Betapa inginku berjalan, berkata-kata, berlari. Bersamamu. Sadarkah kau – telah membuatku jatuh dalam cintamu. Terlalu dalam. Aku bosan terpaku di sini, membuatku terus merindu, terus menanti kehadiranmu.

Menyambut kehadiranmu dan membiarkanmu pergi. Seperti kemarin lusa. Membiarkanmu pergi, untuk selamanya.






Ada bangkai kucing!” penduduk sekitar berteriak ketika menemukan tubuhmu yang mengembung mengambang di sungai.

Orang-orang beramai-ramai mengangkat tubuhmu. Membaringkannya di sisiku. Sungguh betapa aku merindukanmu.

Ah, kucing sialan,” mereka menghardik jenazahmu.

Berapa lama dia tenggelam?” mereka mengira-ngira. Ingin kujawab. Ingin kuberteriak, “Dia bunuh diri karena cinta! Ya, sehari! Ada, sehari!

Amis, ya,” gumam seseorang.

Pasti dia milik orang berada,

Rantai di lehernya mengandung emas,

Mungkin dia mati karena mengejar tikus-tikus yang lari ke sungai,

Mereka menarik paksa rantai di lehermu. Kata mereka rantai itu bisa dijual mahal. Betapa aku ingin memelukmu. Memberimu bau tubuhku. Mengucapkan selamat tinggal. Maka aku meranggaskan daun-daun jiwaku.

Ucapan-ucapan mereka menggema, dan mereka meninggalkanmu pergi, tertidur pulas di pelukan daun-daunku. Esok harinya, aku berharap penduduk sekitar akan dikejutkan oleh kematianku. Kekasih yang menemukan cintanya setelah sekian lama dan lalu kehilangannya, mati, dan aroma bangkainya memenuhi atmosferku.

Pernahkah kau membayangkan sebuah pohon beringin di sisi sungai jatuh cinta padamu, Kucing Kecil?

Aku berencana mati untukmu.

: seekor kucing jantan yang mati karena tikus betina

CLX7,
Senin, 26 Januari 2009
12:38:40 WIB

P.S.: Kenapa manusia dikodratkan hanya jatuh cinta pada manusia? Jika tumbuhan dan hewan pun memiliki jiwa yang sama seperti manusia di dalam tubuh mereka? Kenapa manusia terus mengkotak-kotakkan diri pada pemikiran-pemikirannya? Kepada kasta, kepada tingkat sosial, kepada garis keturunan? Kepada ketakutan-ketakutan untuk terus melanjutkan keturunan? Bukankah ada kebebasan untuk mencintai dari hati? Kenapa harus juga melalui proses klasifikasi?

Cerpen ketujuh belas di tahun ini - Cinta Dua Kerajaan ; Kingdom Plantae dan Kingdom Animalia, teruntuk pemesannya : seorang kakak di sisi telaga, Dimas Rafky.

Enjoy.

Cetak Halaman Ini

Thursday, January 1, 2009

[Cerpen] Hadiah Tahun Baru untuk Para Selebritis

Harga apa yang harus kubayar untuk membuatmu percaya diri, dua setengah juta untuk menghilangkan noda flek dan jerawatmu? Delapan juta untuk mempertahankan tubuhmu agar tetap langsing laiknya model? Lima ratus ribu untuk waxing bulu kakimu? Itu semua cukup? Mengapa kau selalu ingin tampil cantik menyerupai bidadari jika aku sudah menerimamu sepenuh hati?

Berapa kartu kredit perlu kuberi untukmu supaya kau puas membelanjakannya untuk tetek-bengek yang kau pamerkan di malam hari di ranjang kita? Berapa babysitter yang harus kita sewa untuk anak kita agar kau bisa berleha-leha di mana saja yang kaumau: mal, hotel mewah, restoran komplit, salon kecantikan, spa?

“Pa, Mama di mana?” akan kaujawab apa pertanyaan anak kita jika kau yang ditanya, “Ma, Papa di mana?”

Maka aku benci pulang ke rumah saat kau tak ada. Benci harus merasa menjadi banci ketika ditanyai soal bini. Kupaksa semua karyawanku untuk menemaniku kerja lembur, kantorku tidak pernah tutup. Makin hari makin sukses, dan kita berdua makin jarang pulang ke rumah, dengan alasan yang berbeda.

Tapi bisakah seseorang hidup tanpa rumah? Tanpa tempat untuk pulang? Berhari-hari aku memikirkan solusi yang harus kucermati lagi, dan akhirnya kuiyakan dalam hati.

Tahukah kau? Tak banyak harga yang harus kubayar untuk tubuh molek yang bisa tiap hari menggantikanmu di ranjang, aku bisa membayar pelacur lebih murah dari harga yang harus kubayar padamu tiap bulannya. Tak banyak uang yang harus kubuang untuk perawatan tubuh mereka, mereka mengerti cara menarik simpatiku: mengambil setengahnya uang cash di dompetku setiap mereka hendak pulang.

Tak perlu kuberi mereka kartu kredit: karena suami-suami mereka di rumah sudah memberi segenap gaji mereka pada pelacur-pelacur itu untuk bayaran pemuas nafsu setiap bulannya. Mereka bahkan tak merengek meminta babysitter.

Yang paling kusuka, anak-anak kita tidak mungkin bertanya, “Pa, pelacur yang kemarin Papa bawa itu di mana?”

Maka setelahnya selama kau tak ada, kujinjing pelacur itu pulang ke rumah. Sementara anak kita merdeka didekap para babysitter yang kausewa.

**


Ingat sewaktu anak kita menang lomba futsal antar sekolah, ketika dia menggondol piala di tangannya, tersenyum bangga – di televisi? Kukirimi kau pesan singkat, dan kau hanya membalas jengkel, “aku lagi di salon.” Apa arti seorang Ibu di matamu?

Ingat sewaktu dia dimasukkan ke sal rehabilitasi ketika dia ketahuan bermain-main dengan sabu-sabu, melihat potret ketika dia digiring – di surat kabar? Kutelepon kau secepat kilat, dan kau hanya mengelak, menyalahkanku, “kau juga jarang pulang ke rumah.” Apa arti seorang suami di matamu?

Apa katamu saat itu? “Ada harga yang harus kaubayar untuk segala sesuatu.” Begitu kau bilang ketika kau sampai di rumah dengan arak-arakan kereta kencanamu, sopir yang akan dengan sigap membukakan pintu, memberi hormat ketika kakimu menjejak di atas tanah.

Dengan enteng kau langkahkan kakimu masuk ke dalam istana kita tanpa rasa bersalah sedikitpun. Terbayang hari ketika kau dan aku bukan siapa-siapa, namun kini kau bisa melanjutkan perkataan, “Bayar cecunguk-cecunguk itu. Pasti mereka bakal lepas Aryo. Lalu kaubayar juga kuli tinta yang menulis berita tentangnya, atau kau cari temanmu yang kepala redaksi surat kabar itu. Suruh mereka bilang semua itu hanya fitnah. Selesai, kan?”

“Berapa harga yang mesti kubayar supaya kita bisa berhenti bersandiwara?” tubuhku gemetar. Kau terkekeh di sofa yang tak pernah menjadi sofa kesayanganmu. Kau tak pernah nyaman berada di rumah kita, walau sebentar.

“Kau tahu, Sayang? Karirku dan karirmu akan hancur kalau kau berani main-main.” Begitu kau berujar, kulihat riasan di wajahmu memucat. Kau tak pernah memiliki air muka; wajahmu bagai patung es yang membeku.

“Karir katamu? Selama ini aku sudah memberikanmu semua yang kauminta. Apa pedulimu pada pekerjaan?” tanyaku garang. Main-main jika kau bilang kau kuras dua puluh juta dari kantungku tiap bulan tanpa bertanya-tanya dari mana aku mendapatkannya.

“Jangan main-main dengan kata-katamu, Sayang. Kau tak akan pernah menjadi siapa-siapa tanpaku.” Bangga sekali kedengarannya.

Kalau kau tahu kenapa kau tak pernah mengerti?

“Aku banyak urusan. Mulai bulan depan aku yang akan mentransfer gajiku padamu.” Kau berlalu, dengan bunyi ktepak-ktepak dari stilleto yang kaukenakan, serta gemerincing gelang emas yang memenuhi pergelangan tanganmu.

**

Lucu ketika kucek sebulan kemudian kau benar-benar mengirimkan gajimu padaku. Lebih besar dari jumlah yang selama ini kuberikan tiap bulannya. Lalu kenapa selama ini kau selalu meminta?

Saat itu kutelepon kau, tak kau angkat, dan kau justru mengirimiku pesan singkat sedetik kemudian. “Kita tidak pernah saling membutuhkan.”

Apa artinya perkawinan kita? Sebuah sandiwara ketika kau bilang kau butuh uang dariku, sedang kau menghasilkan lebih. Sandiwara ketika kau bilang kau benci bau tubuhku sementara kau menikmati bau tubuh pria lain yang menggendongmu ke kamar hotel sewaktu kau tipsy.

Iya, sayang. Kucek semua tentangmu. Kau sama seperti para wanita yang kusewa tiap malam, kau memang pelacur yang siap sedia menemani siapa saja pria yang tak kau cinta yang mampu membayarmu mahal.

Entah apa yang membuatmu bisa dibayar lebih: selain karena mashyurnya namamu di ibukota sebagai artis papan atas, suara emasmu yang bisa menyanyi dan merintih sekaligus, atau karena kau memang secantik bidadari – seperti yang selalu kauperjuangkan untuk bisa kaupertahankan.

Baiklah, Sayang. Aku tak akan pernah menjadi siapa-siapa tanpamu. Tapi untuk tetap bertahan denganmu, sama dengan kubiarkan diriku tidak pernah menjadi siapa-siapa di matamu.

Maka kuputuskan menceraimu malam ini.





Kamis, 01 Januari 2009
00:29:32

P.S.: teruntuk siapapun yang berniat cerai (dengan jalur damai) di tahun dua ribu sembilan.

Cetak Halaman Ini