
Mari kita pikirkan ulang tentang apa yang katanya demokrasi. Tentang orang-orang daerah yang berhak menentukan siapa pemimpin daerah mereka bahkan tanpa mereka pernah mengenal siapa-siapa saja orang yang mencalonkan diri.
Maka mereka tidak sepenuhnya peduli tentang siapa yang akan mereka buat jadi gila – saat mereka keluar dari bilik-bilik kayu TPS, seusai mereka mencontreng ngawur calon-calon legislatif yang dipampang foto-fotonya di (kebanyakan) hampir empat lembar kertas suara yang ada.
“Papa kenapa, Ma?” Anakku selalu menanyakan itu padaku akhir-akhir ini.
Ketika dia bilang begitu, matanya hampir-hampir tak pernah lepas dari ayahnya yang duduk di sofa, yang tidak mandi selama seminggu. Ayahnya yang kalah pemilu.
Kuakui dia terlalu berambisi. Dia bahkan menjual emas-emasku, menggadaikan akte rumah kami – hanya untuk menjadikan dirinya berada di peringkat dua calon legislatif di partainya, alasannya, supaya namanya mudah dilihat dan dicontreng.
“Ma, lihat, deh.. Papa muntah.” Anakku melanjutkan. Aku bahkan hampir tidak tahu bagaimana caranya menunjukkan kepanikanku.
Dia muntah. Dia minum-minum. Ratusan batang rokok telah dia hisap. Matanya merah dan rambutnya berminyak, kulitnya hitam kekusaman. Karena demokrasi, kami telah kehilangan uang, juga pemimpin keluarga.
Kubersihkan muntahannya. Betapa beratpun cobaan yang menimpa, aku sungguh tak rela jika dia sampai harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa, sama seperti calon-calon berambisi lainnya yang juga kalah.
“Papa mau makan?” kutanyai dia, “Atau Papa tidur saja, ya?”
Dia jarang tidur. Atau kemungkinannya, dia tidur kurang dari delapan jam sehari selama jam-jam tidur aku-dan-anak-anakku yang delapan jam. Tapi kadang-kadang saat aku terbangun karena mimpi buruk, kulihat dia masih belum juga tidur. Entah apa yang dia pikirkan.
Saat aku terbangun, dia masih mencoret-coret kertas. Sketsa-sketsanya selalu indah di mataku – seberapa kelam pun cerita yang tersimpan dalam tiap goresannya. Dia lebih pantas menjadi seorang seniman ketimbang orang yang berambisi jadi pemimpin.
Apakah orang-orang kami kurang dididik untuk mencintai diri sendiri yang apa adanya? Sehingga, orang-orang yang hebat di teknik justru berniat jadi dokter, atau yang hebat di seni justru berniat masuk teknik, dan seribu atau sejuta kemungkinan niat-niat lain yang mungkin.
Kemarin sebuah ambulans sempat berhenti di depan rumah kami. Aku dan anakku menyaksikan kejadiannya, saat Pak Ahmed meronta-ronta, berteriak, dan ditarik-tarik. Tangannya diikat. Dia disuntik di hadapan kami yang menonton.
Kata istrinya, dia menjadi gila karena hasil pemilu. Ratusan juta telah dia habiskan untuk bisa menang. Melihat kenyataan, ternyata banyak dari orang yang dia beri uang justru menjadi golput atau salah contreng dalam pemilu, dia jadi hilang kewarasan.
Padahal Pak Ahmed, seperti suamiku, adalah wirausaha yang sukses. Sehari, sepuluh juta bisa dia dapatkan dari hasil jualannya yang memiliki banyak cabang. Dalam sebulan, tiga ratus juta dipotong sedikit akan masuk tabungannya.
Awalnya, mungkin seperti suamiku, dia hanya berniat main-main dalam pertaruhan kursi, maka dia mencalonkan dirinya pada partai yang baru muncul. Sama seperti suamiku, mungkin dia berharap keberuntungan bisa menjadikannya orang paling bersinar fotonya di kartu suara. Tanpa memperhitungkan berapa banyak orang yang tak pernah serius belajar Kewarnegaraan yang juga diberi kartu suara.
Yang kuherankan, sebab-musabab dia bisa dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Tentu uangnya masih banyak di bank dan cabang-cabang perusahannya tentu masih memutar uang yang sangat banyak untuknya setiap harinya. Tidak seperti suamiku yang berhutang di segala macam bank, pernah ditolak di beberapa bank ketika mengajukan kartu kredit, menggadaikan akte rumah, dan menjual emas-emas istrinya.
Aneka ragam keheranan seketika menyelimutiku setiap aku memikirkan orang-orang lain, bahkan membaca-baca surat kabar, melihat banyak orang-orang penting yang menjadi gila. Mengapa kami, yang bisa disebut hampir miskin, masih juga bisa bertahan.
Aku hanya pegawai negeri biasa, golongan tiga. Gajiku sebulan hanya cukup untuk makan dua minggu ditambah biaya listrik-air-telepon (pertimbanganku jika seandainya suamiku benar-benar tidak akan menafkahiku lagi). Anak-anakku, biarpun dulu ayahnya kaya, selalu mendapatkan beasiswa di sekolahnya. Otak mereka cemerlang. Tidak ada masalah dengan mereka.
Aku memiliki cukup uang di tabunganku untuk melunasi hutang-hutang suamiku. Orangtuaku memberikannya sebagai bekal untukku saat aku memutuskan membina kehidupan baru. Mungkin kini uang itu akan kupergunakan.
“Dek, kamu jaga Papamu, ya. Mama dipanggil sama tata usaha sekolah, rapat mendadak.” Ujarku pada anakku seusai kami sarapan. Hari itu libur, akan kuhabiskan untuk segala urusan yang berhubungan dengan suamiku. Termasuk bilyet giro kosong milik toko kami.
“Tapi kalau Papa muntah lagi?”
“Katanya anak Mama ini calon dokter? Dokter nggak boleh jijik..” ujarku sambil tersenyum.
Kukecup kening mereka, “Jaga adikmu, ya, Dito.”
Dito mengangguk, Dita masih bermain-main dengan pulpen dan sketsa ayahnya.
“Cepat pulang ya, Ma.” **
Banyak urusan. Banyak tempat yang harus kudatangi. Banyak orang yang harus kuajak bicara-berunding-berdebat-berkelahi. Aku tak peduli.
“Hutang Pak Andri sebanyak lima puluh enam juta, Bu.”
“Hutangnya dua puluh juta,”
“Jaminannya bernilai tiga puluh juta,”
“Hutangnya lima belas juta,”
Kutelepon saudara-saudara kami, mereka mengaku pernah meminjamkan uang pada suamiku. Maka kudatangi mereka satu-satu.
“Cuma dua juta,”
“Cuma lima juta.”
“Tidak banyak kok, Rin. Cuma sepuluh juta.”
Ketika semua kata hutang dan semua kata cuma telah habis kudengar, aku memutuskan untuk menelepon orangtuaku, ingin meminta maaf karena telah kuhabiskan uang mereka di pertengahan perjalanan rumah tanggaku.
“Ibu, ini Rina. Ibu baik-baik saja?”
“Mbak Rina!” Suara cempreng. Kupikir tadi ibuku yang mengangkat. Ternyata Rani, adik kandungku, “Apa kabarmu, Mbak?”
“Baik, Ran. Kamu sendiri apa kabar? Oh ya, Ibu ada?”
“Baik selalu, dong, Mbak. Ibu sama Bapak lagi ke kondangan, Mbak. Ada tetangga kawinan.”
“Oh.”
“Itu, lho, Mbak. Kak Ridwan yang selalu mengejar-ngejar Mbak.”
“Oh. Nikah sama siapa dia?”
“Mbak Rina juga. Anaknya Pak Susilo. Heran kenapa dia masih juga menggebu-gebu cari jodoh yang namanya sama.”
“Kebetulan saja mungkin, Ran. Sebentar kalau Bapak sama Ibu pulang, bilang kalau Mbak telepon, ya, Ran.”
“Oke, Mbak. Jaga diri, ya.” **
Dari kejauhan, warna yang melingkupi sekeliling rumahku begitu kelam. Seperti kondisi hati orang-orang yang menempatinya.
“Mama!” Teriakan Dita menyambutku. Dia memelukku erat. Boneka barbie di tangan kirinya.
“Dita lapar, Ma.” Dia menengadah menatapku. Aku tersenyum, “Mama masak nasi goreng udang, ya, buat Dita?”
Aku mengangguk.
“Hore!” Dia berteriak.
Di ruang tamu, Dito sedang mengelap muntahan ayahnya.
“Dito, Dita.. mandi dulu. Sudah sore. Mama akan masak makan malam spesial buat kalian.”
“Asyik!” Mereka berlarian ke kamar masing-masing.
“Mandi yang bersih!”
“Okee, Maa!” teriakan mereka sama nyaringnya.
Aku melangkah ke arah suamiku. Duduk di sisinya, kugenggam tangannya.
“Semua hutang Papa sudah Mama lunasi.”
Kali pertama dia menatapku sungguh-sungguh selama seminggu ini, “Ma..”
Tidak ada kata-kata lagi keluar setelah itu.
“Papa selalu bilang, seorang seniman akan selalu berbeda dari orang-orang kebanyakan.”
Aku ingat hari ketika kami berdebat tentang itu. Apa yang membedakan seorang seniman dengan orang-orang lainnya? Apakah dandanannya?
“Mama lebih suka melihat Papa jadi berbeda, daripada menjadi sama dengan orang-orang.” Kulanjutkan. Tak kumengerti logika apa yang ada di balik kalimatku.
“Bukankah lebih menyenangkan untuk menjadi diri sendiri? Lebih nyaman untuk tidak ikut-ikutan kata orang. Mama hanya ingin Papa terus hidup. Menjadi diri Papa.”
Sudah cukup hanya setahun saja. Jangan lebih. Dua belas bulan dia pulang dan pergi tanpa nafas kehidupan yang sama seperti dulu. Membawa spanduk, stiker-stiker, menenteng laptop yang di dalamnya penuh presentasi, makalah-makalah, uraian-uraian, desain logo partai, juga foto untuk dipampang menjadi baleho.
Dia masih menatapku, seolah tak percaya.
“Setiap manusia pernah melakukan kesalahan.” Kujawab, lalu beranjak dari dudukku, “Mau bantu Mama masak nasi goreng udang seperti biasa?”
Senyumku dibalas oleh senyumnya. Dikecupnya dahiku dan kami berpelukan, “Papa mandi dulu, Ma.”
Kusadari untuk sekian kali, setiap hal membutuhkan pengorbanan.
Ketika dia berjalan menuju kamar mandi, layar ponselku berkedip-kedip.
Panggilan dari Rumah.
*
Teruntuk seseorang yang sangat spesial.
Bukan Mama di surga
Bukan Papa di dunia
(Karena Mama dan Papa selamanya spesial)
Maaf atas tempo yang dipercepat.
Di CLX7,
10/04/2009
11:07:56 pagi
Cetak Halaman Ini
Neng, bagian yang menggambarkan si "aku" mulai bergerak, membayar hutang dan lain-lain kok terasa cepat sekali, ya? Kalau niatnya meminta bantuan orang tua kok jadi ngobrolin tentang Ridwan ya? Kirain plotnya mau diarahkan ke selingkuh gitu...hehehe. Kalaupun tidak, kenapa nggak ada reaksi perang batin yang berarti dalam diri si "aku"? Adegan telepon jadi berasa pointless.
ReplyDeleteCerpen yang bagus, neng. Sepertinya sedang eksperimen dengan tema?
jadi pengen punya cerpen tentang politik!! :D mantav lah inspirasinya
ReplyDelete