Wednesday, March 4, 2009

[Cerpen] Hanya Sebuah Kematian

Disclaimer : Ini bukan kisah nyata dan karena itu, karya ini hanyalah fiktif belaka.

*

Pantai Kuta, sejujurnya, tidak pernah terlihat cantik di mataku. Hingga aku heran mengapa aku selalu menyukainya. Atau justru karena memang aku terlalu sering menyambangi tempat ini sehingga aku lupa hal apa yang selalu membuatku menyukainya – menyukai Kuta?

Ketika kecil, setiap hari aku duduk di pasirnya yang tidak rata – yang membuatku menyangka ada rayap yang tinggal di dalamnya – untuk sekedar duduk. Abu ibuku dibuang di pantai ini, abu ayahku juga, abu kakekku, abu nenekku, semua abu dari keluarga besarku dibuang di pantai ini. Mungkin hanya itu alasanku untuk merasa nyaman berada di sini, walau aku sama sekali tak menikmati panorama pantai yang terhampar di hadapanku.

Di masa-masa setelah ibuku meninggal, aku hanya berada di sini, duduk dengan jiwa yang kosong. Karena jiwaku berlarian ke masa lalu. Karena jiwaku tak pernah utuh lagi. Persis retakan kecil yang menjelma lubang besar.

Ketika itu, pantai selalu mengingatkanku pada masa kecilku, bermain kano dan berenang sampai ke tengah laut. Sampai air garam memenuhi selangkanganku dan membuatku tidak bisa berjalan normal setelahnya.

Aku ingat sekali waktu paling lama aku berenang di pantai ini, hampir satu jam lebih. Dulu ketika kami selesai menyembahyangi abu ibuku, aku ikut bersama para pemuda banjarku untuk berenang ke tengah laut, kata mereka lebih baik kalau aku berenang semakin jauh, karena mungkin dewa lautan ada di tempat terjauh di dekat mentari yang terbenam.

Aku melakukannya, ketika para pemuda berhenti di tengah, aku terus berenang, semua kulakukan untuk menitipkan jiwa ibuku di tempat yang aman. Kepada dewa lautan. Maka aku berenang sejauh yang aku bisa, memeluk wadah yang berisikan abu ibuku di dalamnya.

Setelahnya, pantai selalu menjadi tempat yang aman untukku bisa menangis. Untuk kegagalan-kegagalan yang menghampiriku, selalu ada pantai-pantai yang kujadikan sahabat untuk bercerita.

Pantai Sanur, Pantai Matahari Terbit, Pantai Sindhu, Dreamland, semuanya menjadi tempat yang selalu kukunjungi, termasuk Kuta. Karena tempat yang paling banyak menyimpan kenangan-kenangan tentang orang yang kita cintai, akan menjadi tempat utama yang selalu kita ingin kunjungi.

*

Hari ini, Kuta menjadi tempat pertama yang kukunjungi di Bali.

Sudah lama sekali aku pergi. Sehingga kehadiranku di sini menjadi berbeda. Seolah aku datang ke sini untuk pertama kali. Pantainya tetap sama, yang berbeda hanyalah beton setinggi enam puluh senti yang membatasi areal sekitar pantai.

Pemandangan yang tak pernah aku sukai berada di mana-mana. Wanita berambut pirang berbikini dengan pria kekar berkaca mata hitam yang bertelanjang dada. Kadang aku jumpai wajah oriental dengan mata sipit dan pipi merona merah berciuman dengan turis lokal berkulit coklat yang hanya sedikit tampan – tidak kekar.

Dulu pemandangan seperti itu selalu membuatku terkekeh, namun kini tak ada lagi yang bisa ditertawakan. Tak ada yang lucu dari kebersamaan. Setelah tiga puluh tahun hidup melajang, segala sikap belia membuatku merapuh.

Cinta monyet memang bukan hal yang kupandang indah di masa mudaku, namun kini lebih daripada itu, aku sangat membutuhkan seseorang yang bisa menemaniku menangis. Hingga aku iri dengan orang-orang yang bisa dengan bebasnya berciuman di tengah umum seperti itu. Sesuatu yang sangat riskan untuk kulakukan.

Aneh rasanya berada sendiri di pantai ini. Tidak seperti sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Ketika selalu ada seseorang yang menemaniku – walau hanya sekedar duduk-duduk menyaksikan layang-layang yang beraduan di langit biru berawan.

Menghilangkan kesepianku, aku mengambil kayu di dekatku, lalu aku menulis di pasir pantai. Dengan huruf besar-besar.

Aku ingat sekali ketika lima belas tahun yang lalu aku menuliskan cita-citaku di pasir pantai. Bukan pantai yang sama. Seperti yang setelahnya kulakukan, seperti ketika aku membuang ratusan keping logam dengan beragam jenis mata uang yang kumiliki di ratusan air mancur berbeda. Karenanya, kubiarkan orang-orang dengan bebasnya mengataiku kekanakan.

Tanpa mereka ketahui, ada ribuan hal lain yang membuatku masih suka disebut seperti kanak-kanak. Mereka tak pernah tahu bahwa hanya seorang gadis kecil yang masih bisa mengumpet di bawah ranjang di apartemennya ketika pria-pria datang untuk mengajaknya berkencan. Hanya gadis kecil yang bisa membedakan es krim vanilla dengan es krim mocca hanya dengan sekali melihat warnanya. Bahwa jiwaku memang telah mati ketika ibuku mati.

Aku telah kembali, lalu apa Ibu akan kembali?

Hanya itu yang kutulis berulang-ulang. Dengan huruf besar-besar.

*

Rumah yang kosong. Tingkat tiga. Ketika kumasukkan kunci dan kuputar, pintu seketika terbuka. Sudah begitu lama aku pergi, namun masih kunci yang sama yang bisa kugunakan untuk membuka pintu ini. Tidak ada yang berbeda. Kecuali akuarium yang kosong. Kecuali pigura-pigura pajangan dengan foto orang-orang yang telah mati.

Aku bergegas menuju lantai paling atas. Tempat kami biasanya menyantap ikan bakar sambil menatap bintang di langit malam.

Gelap. Bintang-bintang kecil berwarna putih berjejer, bersesak-sesakkan memenuhi langit yang kelam.

Aku duduk di gazebo yang sama, yang sudah semakin merapuh digigiti rayap, dan kusadari bahwa aku sudah tak bisa lagi mengayunkan kakiku seperti dulu. Kakiku tidak pendek lagi. Kakiku sudah memanjang dan memijak di tanah dengan sempurna. Pertambahan panjang yang entah mengapa selama ini tak pernah kuperhatikan.

Angin malam mengantarkan gelak tawa yang terjadi puluhan tahun lalu. Betapa hal ini menyempurnakan teori dilasi waktu atau entah apa yang akhirnya kukenal sebagai teori dunia empat dimensi – bahwa waktu tak pernah menempel dengan ruang.

Terlebih ketika aku menatapi ayunan di hadapanku. Ketika aku mengingat kekonyolan apa yang pernah kujanjikan pada ayahku. Bahwa aku, suatu hari nanti, akan memenangkan nobel. Bahwa aku, akan membanggakannya dengan menciptakan sebuah mesin waktu. Untuk kami bisa gunakan kembali ke masa lalu menemui ibuku yang telah meninggal.




Ketika itu, kupikir aku akan mempermudah kerja Tuhan, karena aku akan menggambari kertas gambarku sendiri dan setelahnya aku bisa seenaknya membuat sebuah maket untuk perwujudan nyata dari apa yang telah kugambar. Aku pikir merancang masa depan adalah semudah melupakan masa lalu. Hingga pada akhirnya, kutemukan bahwa kedua hal itu sama sulitnya untuk dilakukan.

Dulu aku pernah berbincang dengan ayahku sampai larut malam. Membicarakan macam-macam. Paling banyak tentang teori asal-usul alam semesta, kapan saatnya sebuah bintang akan mati, dan makna di balik Pancasila. Tentang asal usul namaku, sebab musabab ayah bisa jatuh cinta dengan ibu, hingga cerita Dewa-Dewi di India.

Aku suka ketika sebelum aku tidur, ayahku menceritakan kisah Ramayana yang dihafalnya di dalam kepalanya. Ketika dia bercerita tentang pasukan dari Hanoman yang merebut kembali Dewi Sita dari tangan Rahwana. Caranya bercerita sama seperti ketika ibuku mengisahkan tentang Sampek dan Eng Tay yang terpana melihat sepasang angsa berkasih-kasihan – saling melilitkan lehernya di tengah sungai.

Itu sebabnya aku selalu memintanya bercerita tentang kisah Ramayana setiap malamnya. Juga kisah Mahabratha dan Perang Barathayudha. Beliau kadang membacakan banyak kalimat indah dari Bhagavad Gita, pesan dari Rsi Bisma kepada Arjuna. Favoritku, adalah ketika para Pandawa hanya bisa menontoni jasad Rsi Bisma yang dipenuhi oleh ratusan anak panah. Mereka hanya memandangi jasad kakeknya itu di Lapangan Kurusetra, menunggui ajal benar-benar menjemputnya esok hari ketika matahari sudah terbenam.

Betapa ketika aku harus kehilangan orang-orang yang aku cintai dalam hidupku, aku ingin menjadi setegar orang-orang hebat di dalam mitos atau dongeng, yang selalu diceritakan oleh mereka berdua setiap malam sebelum aku tidur. Namun kenyataannya, jiwaku merapuh, tak dapat kupahami. Dan kusadari aku tak bisa menjadi seseorang yang berbeda. Kemampuan manusia memang ternyata ada batasnya.

Sehingga hari ini, di malam dengan langit yang berwarna hitam kepekatan, aku memilih untuk menjatuhkan diriku dari lantai tiga.**

: “Siapa pun tak akan menyembunyikan sesuatu yang berharga di dalam barang berharga, tetapi sering kali orang menyembunyikan ribuan, tak terhitung barang berharga, dalam sebuah benda yang nilainya bahkan tak sampai sepeser. Begitu juga dengan jiwa. Jiwa adalah harta yang sangat berharga, tapi jiwa tersembunyi dalam tubuh yang hina.” – A Father’s Affair.



Cetak Halaman Ini

0 komentar: