Pak Sopir menyambutku ketika aku membuka pintu mobil, membungkuk memberi hormat. Yang kutemukan setelahnya adalah pemandangan yang cukup membuat mataku hijau oleh keasrian taman di hadapanku. Air mancur yang cukup besar dibangun di tengah-tengah halaman. Semua bunga di taman itu berwarna putih, tidak ada warna lain.
Ayah angkatku memegang bahuku. Oke, mulai detik ini, aku bersepakat pada diriku untuk memanggilnya ayah angkat. Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku, “Sekarang, ini adalah rumahmu,”
“Well girl, ayo kita masuk,” lanjutnya sambil menarik tanganku mengikutinya.
Baiklah, aku diadopsi olehnya. Maka sekarang segala perkataannya akan setingkat dengan perkataan kitab agamaku. Aku menurutinya, mengikuti ke manapun dia menuju, dan dia menggiringku ke sebuah rumah yang semegah istana. Kata pria itu, dia juga akan menyekolahkanku. Di sekolah khusus. Kupikir mungkin maksudnya, sekolah untuk kau borjuis. Entahlah.
“Istriku yang mendesain interior rumah kami,” ucapnya sambil lalu membukakan pintu, “dan itu fotonya.”
Pigura besar terpajang di sana, foto perkawinan ayah angkatku dengan mendiang istrinya, tepat lurus dengan pemandangan pertama yang kulihat ketika dia membukakan pintu.
Lampu kristal besar tergantung di langit-langit yang berasal dari tiga lantai di atasku. Banyak ornamen yang tidak perlu, tapi bagiku tetap layak dipajang dan.., cantik. Istrinya desainer amatir yang berbakat, tak peduli apapun profesi yang dia geluti sebenarnya.
“Kupikir di Indonesia tidak ada rumah semewah ini,”
Dia hanya menjawab dengan senyumnya dan memanduku untuk mengikutinya menaiki tangga. Kupikir kamarku pasti di lantai tengah. Tidak mungkin di lantai tiga. Aku benci ketinggian.
Aku melewati lorong yang panjang, seperti memasuki sebuah hotel. Kami berjalan di atas karpet merah yang disoroti sinar jingga. Di setiap lima kaki perjalanan kami, terpajang pigura-pigura minimalis. Semuanya menampilkan foto pria ini bersama dengan seorang wanita dengan latar tempat yang beragam. Sungguh tak pernah kubayangkan aku akan diadopsi oleh orang sekaya ini.
Dia berbelok, aku mengikutinya dengan nafas tertahan. Tempat pertama yang kami datangi bukan kamarku, melainkan sebuah perpustakaan besar. Perpustakaan pribadinya, katanya.
“Harta karunku,” ucapnya singkat kemudian melangkah masuk, “Jika suatu saat kiamat benar terjadi, yang aku takutkan hilang dari hidupku setelah aku kehilangan istriku, adalah jika aku kehilangan mereka. Buku-bukuku.”
Aku tersenyum. Obrolan tentang pemujaan berlebih terhadap sesuatu hal dan ketakutan-ketakutan untuk kehilangan sesuatu tidak pernah menarik minatku sama sekali.
“Kita bisa menyimpan semuanya di kepala kita, mereka akan menjadi bagian dari diri kita, dan tidak terpisahkan.” aku mengambil salah satu buku, “Buku adalah benda sekali pakai. Kubeli, kubaca, kuambil informasi di dalamnya, dan setelahnya mereka akan menjadi sekedar pajangan.”
“Rahasia pertama yang akan kau ketahui saat ini, langsung dariku, bahwa ayah angkatmu ini tidak memiliki ingatan super.” Jawabnya merendah. Bagiku, seseorang tidak akan bisa menjadi sekaya dia saat ini jika dia tidak berotak jenius.
“Ayah tidak membutuhkan ingatan super. Karena ketika Ayah membaca sebuah buku, sesedikit apapun konsentrasi Ayah saat itu, mereka semua sudah tersimpan di dalam pikiran Ayah.” Mungkin dia seperti melihatku meracau tentang sesuatu yang tak jelas karena entah kenapa matanya seketika memandangku dengan cara yang istimewa.
“Pikiran kita hanya seperti komputer yang belum terprogram. Bedanya, kapasitas otak kita seratus dua puluh juta kali lebih besar dibandingkan komputer tercanggih dunia saat ini,” aku melanjutkan. Tidak peduli apa tanggapannya.
“Seratus dua puluh juta terrabyte,” Dia bergumam, aku menganggukkan kepala, “Entah buku apa saja yang sudah kau baca sebelumnya.” Lanjutnya.
Aku memandang ke lebih dari sepuluh ribu buku di hadapanku, “Aku akan suka membaca semua buku-bukumu.”
*
(Pria)
Tidak salah lagi. Apa mungkin dia reinkarnasimu?
Apa yang kau ketahui, juga diketahui olehnya. Percakapan-percakapan kita. Kalau aku tak percaya dengan intuisiku, aku bisa mengira aku memang salah duga. Tapi aku merasa seperti mengobrol denganmu.
Gadis sembilan tahun ini bisa membuatku jatuh cinta.
“Kita ke kamarmu – sekarang?” kualihkan perhatianku. Jantungku berdetak kencang.
“Tunjukkan jalannya padaku,” jawabnya kaku. Pilihan katanya begitu dewasa.
Kutuntun dia menuju kamarmu. Mendekati kamarmu, aku masih membaui wangi tubuhmu di sekitarnya. Sudah sembilan tahun berlalu, tapi aku masih merasa begitu dekat denganmu, merasakan kehadiranmu di setiap tempat yang pernah kausinggahi.
“Ini kamarmu,” kubukakan pintu kamarmu untuk dilihat gadis kecil kita. Kuyakin dia akan menyukainya.
“Aku suka kuning,” ucapnya sambil berjalan memasuki kamarnya, “catnya, ornamen-ornamennya.”
“Warna kesukaanmu,” aku bingung dengan intonasi kalimat yang baru saja keluar dari mulutku sebelum kulanjutkan dengan suara pelan, “dulu sekali.”
Dia berjalan ke arah ranjangmu. Dia duduk di sana, “Aku benci diadopsi, tapi aku akan menyukai tinggal di tempat ini.”
“Kamu pasti akan betah di sini. Besok Ayah akan mengantarmu ke sekolah barumu. Dua kilometer jaraknya dari sini,” jawabku, “Pulang sekolah, Ayah harap bisa mengajakmu berdiskusi tentang mesin waktu.”
Hanya lelucon dan dia benar tertawa, “Kita bisa membicarakan hal-hal lain yang lebih penting. Bukan tentang mesin waktu. Bukan tentang reinkarnasi atau tentang anak indigo. Aku tidak percaya pada semua itu.”
“Sudah kuduga kamu akan menjawab begitu.” Aku lemah. Dikalahkan oleh perubahan ketertarikanmu. Kelahiranmu sekarang entah berapa kali lipat lebih lihai menjawab semua ucapanku, “Ayah akan pergi sebentar. Kalau kamu butuh sesuatu, ada banyak pelayan di bawah yang akan membantumu jika kamu menekan tombol di atas meja di sebelah ranjangmu.”
Dia hanya tersenyum. Tipis. Setipis bibirmu yang mengatup di saat-saat terakhirmu. Entah apa yang membuatku begitu merindukanmu.
“Terima kasih, Ayah Angkat.”
*
P.S. : Iseng ngelanjutin cerita adopsi-adopsian ini sekalian refreshing kepala yang lagi penat. Atau mungkin karena merasa ingin diadopsi seseorang? Who knows, ya.
Yang punya ide kelanjutan cerita ini, dimohonkan kesediannya untuk memberi saran plot selanjutnya.
Khusus buat Kak Irfan also known as ipenk_project, mungkin Religia bagian sebelumnya memang bisa dijadiin kelanjutan kisah trilogi Lelaki Hujan-nya kita bertiga. Setelah kupikir-pikir, kita bisa menyambungnya sampai seperti ini. Jadi, Religia bagian ini mungkin bisa dilanjutkan lagi oleh siapapun di antara kalian. Either Kak Irfan atau Sist Rara.
Mungkin ceritanya bisa dimirip-miripin sama Kuch Kuch Hota Hai? :P
Viel Glück.
Cetak Halaman Ini
0 komentar:
Post a Comment