“Pada si nenek sihir,” jawab putrinya, memeluk erat gulingnya dan menarik selimut.
“Kenapa tidak pada Snow White?” Ayahnya bertanya, menekan mata kaki putrinya dan memijitinya.
“Karena dia tidak mengubah takdir siapapun. Tokoh utama yang bodoh,” jawab putrinya keras.
“Memang si nenek sihir mengubah takdir siapa?”
“Kalau bukan si nenek sihir yang memberi Snow White apel, dia nggak akan mati suri dan kalau dia nggak mati suri, dia nggak mungkin ketemu si pangeran,” putrinya menjelaskan.
“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?”
“Ayolah, Ayah.., Ayah hampir menceritakan dongeng ini tiap hari, aku bisa mengubah tokoh-tokoh yang kusukai setiap harinya,”
“Kenapa nenek sihir yang menjadi akhir pilihanmu?” Ayahnya penasaran.
“Kurcaci-kurcaci itu juga,” jawab putrinya, “seperti si nenek sihir, mereka bekerja untuk membentuk cerita. Bukan cuma menerima si pangeran tak dikenal datang dan jatuh cinta.”
“Seandainya sang putri nggak ada?” pancing Ayahnya.
“Nggak penting siapa yang jadi tokoh utama. Penulisnya bisa saja membuat Pangeran jatuh cinta pada si nenek sihir,” jawab putrinya dalam tidur. Pulas, “pussy kita bisa saja jatuh cinta pada doggy tetangga sebelah, Ayah..” putrinya mengigau.
Ayahnya tersenyum, dia bangkit dan membelai rambut putrinya, “Maafkan ayahmu ini, Sayang. Ayah hanya ingin kamu bisa melihat dunia dari banyak sisi.”
Dikecupnya kening putrinya. Dia ingin putrinya mengerti, bahwa alam semesta memiliki seni kehidupan yang akan sulit dia ajarkan pada orang dewasa yang berniat bunuh diri. Seseorang harus sudah memiliki dasar semenjak kecil. Untuk terus bertahan dengan seni kehidupan, untuk mencintai dengan hati. Seperti kisah-kisah yang selalu diceritakan Ibunya.
***
Lembah dan sungai, dia mengalir menuruninya dan berjelaga. Di mataku, air mukanya selalu begitu bersahaja menyapa kesendirianku. Setiap kali dia tertawa, senyumnya semanis wangi kayu gaharu di musim hujan.
Kemarin tatapan matanya bercerita, lagi-lagi dia menyinggahi persimpangan cinta segitiga. Dia tak pernah beruntung dalam cinta, katanya. Aku hanya mampu menatapnya segan. “Aku juga, selalu. Selalu tak pernah beruntung dalam cinta,” kataku dalam hati.
Andai dia tahu betapa senyumnya selalu menari-nari di atmosferku, bagai karbon dioksida yang menyesakkan tapi membuatku hidup, membuatku bebas bermain-main dengan cinta yang pekat, membuat sel matahari di tubuhku berloncatan menarik-narik cahaya, dan aku terus bernafas, aku terus hidup, dan aku terus menantinya datang untuk bercerita.
Dia selalu bersandar di sisiku. Menatap air dan ikan-ikan. Menatap langit dan awan-awan. Lalu memejamkan mata.
Setelahnya, dia selalu bergumam tentang cinta. Dia definisikan cinta. Dia deskripsikan simbol-simbol ungkapan kasih. Tentang pelukan, tentang kecupan, juga tentang belaian. Dia membelaiku. Menorehkan tatto nama-nama gadis yang dia cintai di tubuhku. Mencakar-cakar. Membuatku mengerang mengejang. Sampai akhirnya, tubuhku penuh akan nama kekasih-kekasihnya.
Banyak betina telah diceritakannya di hadapanku. Dipamerkannya mereka bak pelangi di langit pagi. Kuberi sepenuh hatiku padanya untuk terus mendengarkan, kuberi kesejukan supaya dia betah berlama-lama duduk di sisiku dan bercerita. Tak peduli berapa cemburu berparasit pada akar-akar jiwaku.
Tapi dia tak pernah bercerita lagi – tentang cinta, tentang kasih, atau tentang bereproduksi. Kini kembali seperti hari-hari awal dia datang. Wajahnya pucat, berair mata tanpa air muka. Cinta segitiga. Selalu cinta segitiga. Kenapa para pecinta bangga menjadikan bangunan imajiner di matematika sebagai lambang cintanya? Kenapa mereka tak pernah berniat jatuh cinta pada yang dengan tulus mencintainya – padaku?
Betapa inginku berjalan, berkata-kata, berlari. Bersamamu. Sadarkah kau – telah membuatku jatuh dalam cintamu. Terlalu dalam. Aku bosan terpaku di sini, membuatku terus merindu, terus menanti kehadiranmu.
Menyambut kehadiranmu dan membiarkanmu pergi. Seperti kemarin lusa. Membiarkanmu pergi, untuk selamanya.
“Ada bangkai kucing!” penduduk sekitar berteriak ketika menemukan tubuhmu yang mengembung mengambang di sungai.
Orang-orang beramai-ramai mengangkat tubuhmu. Membaringkannya di sisiku. Sungguh betapa aku merindukanmu.
“Ah, kucing sialan,” mereka menghardik jenazahmu.
“Berapa lama dia tenggelam?” mereka mengira-ngira. Ingin kujawab. Ingin kuberteriak, “Dia bunuh diri karena cinta! Ya, sehari! Ada, sehari!”
“Amis, ya,” gumam seseorang.
“Pasti dia milik orang berada,”
“Rantai di lehernya mengandung emas,”
“Mungkin dia mati karena mengejar tikus-tikus yang lari ke sungai,”
Mereka menarik paksa rantai di lehermu. Kata mereka rantai itu bisa dijual mahal. Betapa aku ingin memelukmu. Memberimu bau tubuhku. Mengucapkan selamat tinggal. Maka aku meranggaskan daun-daun jiwaku.
Ucapan-ucapan mereka menggema, dan mereka meninggalkanmu pergi, tertidur pulas di pelukan daun-daunku. Esok harinya, aku berharap penduduk sekitar akan dikejutkan oleh kematianku. Kekasih yang menemukan cintanya setelah sekian lama dan lalu kehilangannya, mati, dan aroma bangkainya memenuhi atmosferku.
Pernahkah kau membayangkan sebuah pohon beringin di sisi sungai jatuh cinta padamu, Kucing Kecil?
Aku berencana mati untukmu.
: seekor kucing jantan yang mati karena tikus betina
CLX7,
Senin, 26 Januari 2009
12:38:40 WIB
P.S.: Kenapa manusia dikodratkan hanya jatuh cinta pada manusia? Jika tumbuhan dan hewan pun memiliki jiwa yang sama seperti manusia di dalam tubuh mereka? Kenapa manusia terus mengkotak-kotakkan diri pada pemikiran-pemikirannya? Kepada kasta, kepada tingkat sosial, kepada garis keturunan? Kepada ketakutan-ketakutan untuk terus melanjutkan keturunan? Bukankah ada kebebasan untuk mencintai dari hati? Kenapa harus juga melalui proses klasifikasi?
Cerpen ketujuh belas di tahun ini - Cinta Dua Kerajaan ; Kingdom Plantae dan Kingdom Animalia, teruntuk pemesannya : seorang kakak di sisi telaga, Dimas Rafky.
Enjoy.
Cetak Halaman Ini
pernah mendengar tentang cinta seekor cacing pada pohon?
ReplyDeletenah nanti aku akan mmebuatnya wkwkwkkw
kalo cinta seekor kecoak pada seorang gadis yg takut setengah mati pada kecoa?
ReplyDeletemakanya, cinta sejati mungkin seperti kebenaran.. yang muncul ditengah-tengah kekosongan..
ReplyDelete