Monday, June 1, 2009
* Cerpen - Mimpi-mimpiku yang Selalu Jadi Mimpi-mimpimu
Ada sebuah kota warna-warni, didominasi nila dan ungu. Dua warna utama yang bersinar seperti sinar kosmis dan menyeruak berpendar memenuhi sudut-sudut jalan. Orang-orang beraneka rupa berjalan, di sudut-sudut pertokoan kecil mereka mengobrol satu sama lain kemudian saling tertawa.
Jalan setapak kota itu tersusun atas bebatuan yang rapi, membentuk bangun-bangun datar yang susunannya acak dan tak berpola. Jalannya lebar, di pinggir-pinggir jalan ada pot-pot bunga kecil dan kursi taman dengan lampu jalan warna-warni di sisi-sisinya. Ada kuning, biru, hijau, bahkan campuran beragam warna, pelangi. Cahaya-cahaya itu seperti mewakili orang-orang yang duduk di sisi lampu jalan di kursi taman.
Orang-orang yang berbeda-beda. Ada pelukis bertangan enam yang sedang memegang enam kuas di masing-masing tangannya dan melukis dunia warna-warni serta gadis-gadis kecil yang melambai pada orang tuanya di dua kanvas berbeda, ada penulis bermata delapan yang matanya selalu berputar-putar dan tangannya menulis dengan cepat, ada sepasang kekasih yang sedang memadu kasih yang dari tubuh mereka bermunculan butiran-butiran pasir ringan yang beterbangan bewarna merah jambu.
Ketika aku memutuskan untuk terus berjalan, aku lalu menemukan jembatan yang berpendar keemasan. Saat aku melewati jembatan itu, aku melihat air yang sangat jernih di bawahnya dan ketika aku memilih untuk berdiri sejenak, aku melihat logam-logam emas di dasar sungai, tanda bahwa di kota warna-warni itu ada sangat banyak orang yang percaya pada keajaiban.
Tiap lima menit, air dari sungai itu meloncat ke atas. Ada udang-udang dan ikan-ikan yang melambai, udang-udang dan ikan-ikan dengan warna-warna yang cantik. Kemudian ada yang meledak di langit. Kutolehkan kepalaku memandang ke atas, ke langit yang baru kusadari ternyata sepenuhnya berwarna hitam kelam dan apa untuk itukah kembang api diledakkan? – untuk menyemarakkan langit yang muram.
Ketika aku kembali mengamati sekitarku, seseorang telah berdiri di sisiku. Tunggu, bukan, bukan manusia, melainkan seekor anjing. Dan bukan lagi, kupikir dia ikan. Tubuhnya berwujud manusia dengan kepalanya yang diselimuti bulu anjing dan di lehernya terdapat sisik ikan. Tangannya empat, di kepalanya ada antena-antena kecil yang bergerak-gerak. Dia tersenyum dan mengulurkan satu tangannya, ketiga tangan lainnya seolah membatu.
Bahasanya tak kumengerti. Atau dia tidak berbicara meski mulutnya berkomat-kamit?
Aku menatapnya terpesona. Janggal, padahal kalimat-kalimatnya tak ada yang kumengerti, tapi senyumnya elok. Tapi bukankah memang tak ada suara yang keluar dari komat-kamit mulutnya? Dia terus berbicara, aku tetap mendengar dengan setia. Masih juga tak ada suara yang keluar. Apa aku menjadi tuli?
Dan aku tidak menyahut sampai akhirnya dia melambaikan tangannya, pergi. Perkenalan apakah itu? Aku bahkan tak tahu siapa namanya.
Aku kembali berjalan. Semakin jauh aku berjalan, kutemukan bahwa tidak ada lagi yang berkepala manusia. Di dunia warna-warni ini tak ada cermin. Semua kaca-kaca seolah transparan dan tak bisa memantulkan rupa-rupa. Baru kusadari bahwa di dunia warna-warni ini tak ada suara yang bisa kudengar. Atau apakah gelombangnya berbeda?
Aku menemukan orang-orang baru, yang terus berjalan, terus bernyanyi. Suara-suara yang indah, tubuh-tubuh binatang berkaki empat dengan kepala-kepala berbentuk paruh burung. Mereka bernyanyi, tapi tetap saja bahasanya tak ada yang kumengerti. Namun setidaknya aku tidak lagi tuli.
Beberapa dari mereka mengikutiku berjalan di belakangku. Empat ekor anjing dengan paruh burung dan bulu warna-warni. Mereka terus bernyanyi, nada yang indah dari lagu yang entah apa.
Kulalui lagi sebuah jembatan. Keempat penuntunku tadi berhenti, seolah meratapi saja kepergianku. Seolah aku akan berjalan ke tempat berbeda yang bahkan tak boleh mereka singgahi.
Benar saja, beberapa kaki perjalananku selanjutnya, kutemui orang-orang dengan wujud rupawan. Suara-suara indah. Mereka beterbangan dari satu sisi ke sisi lain tanpa sayap. Tubuh mereka berpendar-pendar dan dari warna-warna itu timbul wangi yang semerbak. Tubuh mereka kecil-kecil. Dan aku hanya bisa diam terpaku ketika warna-warna mereka memutariku, mereka melingkariku seolah akan menyelubungiku dan mengangkatku terbang tinggi. Mereka membawaku ke angkasa.
Hingga sesuatu menabrakku, kecil dan lembut. Mereka yang kecil dan berwarna-warni hilang entah ke mana. Udara menjadi dingin dan semakin menekan-nekan permukaan tubuhku. Dadaku sesak. Sisi-sisi leherku membuka. Terkelupas. Hidungku seolah tersumbat. Kakiku menjadi satu. Tidak lagi ada rupa, tidak lagi ada warna-warni, namun tetap tak ada suara. Seluruh tubuhku diselimuti air. Air yang lalu membentuk pusaran, bergerak melingkar dengan cepat.
Aku seolah tak bertulang rusuk, tak berdiafragma, paru-paruku menghilang.
Dunia menjadi hitam putih. Tubuhku berlubang-lubang, air masuk ke celah-celahnya dan lalu keluar lagi melalui tempat yang sama. Aku saling bertabrakan dengan benda-benda kecil lain yang lembut. Beberapa saat kemudian, tubuhku membelah.
Duri-duri lepas ke permukaan tubuhku. Aku kemudian bertabrakan dengan benda-benda yang tajam berduri. Semuanya masih hitam putih. Masih tanpa suara. Seluruhnya diselimuti air yang tak berwarna. Benda-benda di sekelilingku berbentuk bulatan-bulatan lonjong, berenang-renang, bergerak-gerak. Lembut atau berduri. Lalu bertabrak-tabrakan.
Suhu menjadi semakin dingin. Beberapa tempat membeku. Permukaan di atasku membentuk kaca-kaca yang tebal. Dan aku tetap berenang-renang di bawahnya. Lalu aku menempel di dasar laut sementara benda-benda lainnya masih berenang-renang acak di sekitarku. Benda-benda yang bulat dan berduri.
Dari sudut atas tubuhku muncul tentakel lunak. Bergerak-gerak acapkali. Tapi dunia masih hitam putih. Dan aku bahkan tak bermata. Masih pula tak ada yang bicara dan bercengkerama. Dunia macam apa ini? Menjadi apakah aku?
Seolah sudah tertidur sekian lama, ketika aku kembali bangun semuanya mencair. Tidak ada lagi air mengelilingiku. Aku menjadi cacing. Mungkin berbentuk pipih, gilik, atau gelang. Ataukah ular?
Hewan-hewan besar menghentak tanah, menggemparkan duniaku. Tanah-tanah retak. Burung-burung besar terbang di atasku, berteriak keras-keras, seolah memanggil burung-burung lain yang kemudian mengikutinya terbang di belakang.
Semut-semut besar. Pohon-pohon kering serupa kaktus-kaktus. Tajam berduri. Ular-ular, tikus-tikus yang mencicit, saling berkejaran dan kemudian memakan atau dimakan. Tanah masih begitu gersang. Tubuhku yang kepanasan kemudian bercangkang tiga lapis. Bergerak-gerak. Kemudian tumbuh sayap di sudut kanan-kiri tubuhku. Lalu sayapku hilang dan lapisan tubuhku mengeras. Tubuhku menjadi semakin ringan dan aku berlari ke sana kemari.
Siang yang sangat panas dan malam yang sangat dingin. Seperti persaingan di siang hari untuk saling memangsa dan di malam hari tidak saling bercengkerama dan lalu bersembunyi di tempat masing-masing seolah terjadi perang dingin. Kehidupan yang buas. Seolah semua benda yang bergerak adalah musuh.
Musim berganti, rumput-rumput bertumbuhan. Kaktus-kaktus mati. Hujan semakin sering. Hewan-hewan besar berganti wujud. Mereka kemudian memakan tanaman-tanaman. Aku berubah wujud lagi menjadi berbulu. Kemudian aku melihat warna-warna, kemudian aku mendengar suara-suara.
Burung-burung kecil mulai beterbangan di angkasa. Burung-burung besar mengejar di belakangnya. Matahari terbit dan tenggelam. Dunia menjadi semakin tenang. Makhluk-makhluk tidak sering lagi saling memangsa. Hingga sesuatu jatuh dari langit. Besar dan bergerak begitu cepat.
Menghantam bumi. Menghantamku.
*
Aku terbangun di tempat lain. Memiliki kepala, leher, urat-urat yang dialiri sesuatu, tulang rusuk yang dilalui nafas. Aku merasakan kepalaku bekerja. Untuk kali pertama aku benar-benar merasa kembali menjadi manusia.
Seorang pria memandangku. Kaca matanya yang besar memenuhi sebagian wajahnya. Dia tersenyum lalu tiba-tiba mengangkatku. Air mengguyuri tubuhku. Setelah dibalutnya tubuhku dengan selimut, dicubitinya tanganku keras-keras. Sakit yang tak terkendali hingga aku berteriak. Orang-orang tertawa. Tawa yang tak kumengerti apa gunanya.
Mereka lalu memasukkanku ke dalam tabung kaca. Cahaya kecil menyala. Begitu hangat.
Orang-orang mengelilingi tabung dan memandangiku dari sana.
*
Lalu aku menjadi kanak-kanak yang rajin menggambari tembok-tembok rumahku. Membentuk spiral-spiral dan garis-garis. Orang-orang tersenyum. Seisi rumah dicat ulang. Kemudian aku kembali menggambarinya dengan spiral-spiral dan garis-garis.
Tidak ada yang kumengerti ketika kulihat ada naga berpusar di perutku dan tubuhku menjadi transparan di usia lima tahun. Ketika katanya ada orang yang telah mati, tapi aku masih dapat melihat orang-orang itu dan berbicara dengan mereka. Ketika aku mampu melihat hal-hal yang tak dilihat oleh orang-orang sekitarku.
Aku bermain-main dengan mereka. Aku berkaca di depan cermin dan melakukan macam-macam. Menjadi pembicara, menjadi dokter yang mengobati pasiennya, menjadi artis yang berakting di depan kamera. Aku tertawa terpingkal melihat seseorang berbaju merah di layar kaca.
Ayah-ibuku selalu pulang malam. Nenek menemaniku dan menyanyikan lagu-lagu tentang katak. Di hari-hari tertentu Ayah ada di rumah dan bercerita tentang kerajaan-kerajaan di masa lalu. Ibu bercerita tentang kisah-kisah cinta. Kakek menggendongku dan mengajakku berjalan-jalan di sawah.
Ketika sandalku terbenam di sawah yang sedang banjir karena hujan, Kakek mengejarnya untukku kemudian memasangkannya di kakiku, dengan payung masih tergenggam erat di tangannya, memayungiku; memayunginya.
Kami memiliki banyak anjing dan hamster. Kakek memeliharanya sejak dulu. Anjing-anjing yang beranak ketika aku lahir; hamster-hamster yang terus beranak pinak. Anjing-anjing yang berkutu, yang kutu-kutunya kemudian memenuhi rambutku juga. Hingga tiap hari kerjaan Nenek bertambah satu; yaitu untuk memenceti kutu-kutu di kepalaku.
Waktu itu, aku sungguh tak mengerti tentang duniaku. Ketika kecil, ada satu masa aku berdiri terpaku di sekolahku dan menatap ke langit. Bertanya, “Siapa orang-orang ini?”
Tapi entah kenapa waktu kembali berjalan. Usiaku semakin bertambah. Lalu di usiaku kini, aku menemukan banyak kesamaanku dengan orang-orang yang juga telah beranjak menjadi tua.
Kehilangan sesuatu. Kehilangan waktu.
*
“Kemarin malam aku mimpi aneh lagi. Sebagiannya mimpi tentang masa kanak-kanakku. Kali ini ada dunia yang cuma terdiri dari warna-warna dan wujud-wujud,” lalu itu yang kubilang kepada kekasihku yang setia kudongengi tiap malam minggu, “nggak ada suara.”
Ia menatapku seperti dulu aku menatap ibuku yang bercerita tentang kisah-kisah cinta.
“Menurutmu, di dunia mana kita lahir?” Kutanya padanya. Dia diam dan tetap menyimak, seolah tahu kebiasaanku bercerita, yang selalu menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang kulontarkan.
Tapi saat itu aku tak melanjutkannya. Aku hanya menulis sesuatu di pasir pantai dan berujar sesuatu yang lain, “Kita pasti nggak akan berjodoh.”
Dia menagih penjelasan melalui tatapannya.
“Aku terlalu sering mengajakmu ke pantai.”
“Mitos lagi?” dia bertanya.
Kuanggukkan kepalaku, “Dan waktu akan membuktikannya.”
“Memang kamu nggak mau berjodoh denganku?”
“Aku mau, hanya saja kita nggak akan berjodoh. Menurutmu kenapa?”
“Kamu berselingkuh.”
Aku tertawa. Kulempar pasir pantai ke kemeja kerjanya, “Aku berani jamin, aku wanita tersetia yang pernah kamu temukan. Sekali kamu memilikiku, anggap saja kamu akan memilikiku untuk selamanya.”
“Aku juga pria tersetia yang akan pernah kamu temukan. Lalu apa yang bisa membuat kita berselingkuh?”
“Umurmu nggak panjang.”
“Umurku pendek?”
“Umurku bahkan lebih pendek dari umurmu yang nggak panjang.” Kujawab cepat. Dia pasti mengira bahwa aku sedang menjahilinya.
“Kamu akan mati lebih dulu?” aku tak menjawab, “Jangan lanjutkan. Ini konyol.” Hingga akhirnya dia menyuruhku menyudahi percakapan kami yang melantur.
“Aku akan mati sebelum kita menikah. Itu yang membuatku banyak berpikir tentang apa yang harus kulakukan secepat-cepatnya sebelum mati.”
“Ayolah, Karina.. Jangan ngelantur.”
“Kenapa, ya, kita terus melakukan hal-hal yang biasa-biasa? Mengejar apa yang orang lain kejar?”
“Maksudmu?”
“Kupikir tujuanku berbeda. Tapi entah kenapa aku nggak bisa menemukan orang-orang yang sepikiran denganku.”
“Termasuk aku?” dia bertanya spontan.
Kuanggukkan kepalaku, “Kita jauh berbeda. Kadang malah aku pikir aku berbeda dari orang-orang lain. Aku seperti menjadi alien di duniaku.”
“Kulihat kamu biasa-biasa saja. Maksudku, kamu senormal gadis-gadis lain seusiamu.”
“Tapi aku capek mencoba menjadi biasa-biasa. Mudah sekali untuk tersenyum ramah ke orang lain, menyapa orang ini, mengobrol dengan yang itu. Mudah sekali menjadi normal. Tapi hal yang mudah justru lebih melelahkan untuk dilakukan terus menerus. Sekali-kali aku ingin jadi aku yang sebenarnya.”
“Apa aku kurang mengenalimu?”
“Nope. Kamu sangat mengenaliku. Malah kupikir aku yang kurang mengenalimu. Cuma, kadang aku benar-benar ngerasa sendiri dan hanya aku yang mengerti.”
“Apa kali ini kamu nggak bisa menceritakan sedikit saja masalahmu padaku? Sepersekianyalah?”
“Kamu tahu pikiranku rumit.”
“Yep, lalu apa masalahnya?”
“Waktu aku lihat kakekku membaca koran di teras pagi hari, aku pikir, apa masih menyenangkan? Waktu aku lihat orang-orang di kantor-kantor melakukan rutinitasnya di depan layar komputer, aku tak habis pikir apa yang sebenarnya ingin mereka cari. Dan mereka membuatku berpikir, apa yang juga aku cari. Apa kita lahir hanya untuk lahir, melihat orang-orang yang lebih tua mati lebih dulu, sekolah, kuliah, kerja, saling sikut satu sama lain, jadi tua, membaca koran di teras, mati, nama terpampang di koran?”
Kutarik nafasku, “Kenapa kita mempersulit hidup kita? Kalau hidup bisa jadi begitu mudah, kenapa kita saling menghancurkan satu sama lain? Apa yang sebenarnya kita kejar? Tapi kemudian aku pikir, kenapa aku mempersulit pikiranku? Kenapa menjadikan semuanya rumit? Hal-hal kecil menjadi besar?”
“Kamu kurang tidur, ya? Kok melanturnya kejauhan?”
“Kadang aku muak sama diriku sendiri. Kadang bisa-bisanya aku berpikiran seperti filsuf, kadang aku jadi orang-orang biasa yang melakukan apa yang nggak aku suka.
Kenapa kita nggak pernah sama satu sama lain? Apa nggak ada yang ingin membongkar rahasia siapa sebenarnya kita?”
“Kenapa kamu nggak kuliah Filsafat saja, sih? Kan, jadinya nggak bakal ngelantur ke aku?” dia menyela.
“Kupikir jalan manapun boleh aku ambil dan menjadi apa kamu di dunia ini nggak menentukan apa-apa saja yang boleh ada di kepalamu. Seandainya ibuku nggak meninggal secepat ini, mungkin aku nggak akan ingin tahu ke mana perginya orang yang telah mati.”
“Alam semesta, tata surya, planet-planet, bumi.” Kuurut satu per satu.
“Nggak lagi belajar Astronomi, kan?” dia bertanya.
“Ke mana orang yang telah mati pergi? Masihkah mereka di sini? Menjadi hantukah, setankah? Atau mereka berpindah planet?
Makhluk hidup, manusia, peradabannya. Kejahatan, kriminalitas, orang-orang yang butuh hiburan. Perbedaan bahasa, perbedaan budaya. Penemuan-penemuan. Semuanya begitu menarik ketika hidup. Tapi setelah semua itu, kita mati dan..?”
“Tidak menemukan apa-apa?” dia menebak.
Aku tersenyum. Dan mengangguk, “Waktu bertabrakan. Aku tertidur dan bermimpi. Aku terbangun dan melakukan apa-apa saja yang baru beberapa saat sebelumnya aku impikan. Kalau masa depan sudah sejelas itu, kalau sudah ada sesuatu di depan, apa lagi yang bisa kita lakukan?”
“Itukah yang kamu maksud membuatmu merasa berbeda?” dia bertanya.
“Kamu bayangkan saja. Aku tertidur dan bermimpi mengerjakan soal-soal ujianku. Lalu aku menghadapi ujian dan aku mengerjakan soal-soal itu lagi. Sampai aku harus berpikir berapa kali, kapan aku pernah menemukan soal-soal itu? Aku tertidur dan memimpikan kematian seseorang. Dan lalu orang itu benar-benar mati. Untuk apa sebenarnya kita hidup, kalau semuanya sudah tertulis?
Waktu seolah bertabrakan. Seolah terulang dua kali untukku. Tapi tidak ada acara remedial. Kenapa hidup kita begitu teratur? Siapa sebenarnya kita? Apa kita tidak akan menemukan siapa diri kita sampai akhirnya kita mati?”
“Beratkah untuk bisa melihat masa depan? Kupikir itu karunia?”
“Kalau bisa diatur, itu karunia. Tapi kalau datangnya sewaktu-waktu, siapa bisa percaya?”
“Mungkin itu cara Tuhan menunjukkan sesuatu padamu.”
“Tapi kenapa Tuhan terus bersembunyi? Kalau memang sudah ada sesuatu yang akan terjadi, kenapa kita tidak menjalankan kehidupan kita dengan biasa-biasa saja sekarang, toh hal itu tetap akan terjadi?”
“Tuhan tahu segalanya, tapi dia hanya menunggu. Seberapa sabarnya kamu.”
“Kenapa mesti menguji? Bukannya di Psikologi saja jelas ketahuan kalau ada kesadaran dalam diri seseorang yang selamanya tak bisa diubah bahkan oleh lingkungan – sesuatu yang selalu disebut-sebut sebagai karakter, kepribadian, dan kawan-kawannya? Lalu untuk apa ada tes kecerdasan emosional? Untuk apa mengukur sesuatu yang nggak akan tepat? Kenapa tidak langsung saja memberi seseorang lingkungan tertentu dan kesempatan tertentu?”
“Tuhan memberikannya, ‘kan? Apa lagi yang mesti ditanyakan? Hidup hanya tentang kemungkinan. Apa yang akan kamu pilih, apa yang akan kamu buang. Ingat slogan Gie, ‘kan? Yang kekal itu perubahan. Sejauh kamu ingin berubah, mengubah sesuatu, atau diubah.”
“Lalu apa aku tidak perlu tahu siapa sebenarnya aku? Seperti apa sebenarnya alam semesta ini?”
Dia tersenyum, “Sayangnya nggak untuk saat ini. Sebagai catatan, aku juga pernah memikirkan apa yang kamu pikirkan sekarang. Santailah sedikit.”
“Lalu kenapa kamu nggak mencari tahu? Nggak mencari orang-orang yang sepikiran denganmu dan mewujudkannya?”
“Nggak tertarik, tuh. Aku sudah menemukan yang lebih dari itu. Orang yang nggak sekedar tahu apa makanan favoritku, tapi juga mampu memasakkannya untukku. Orang yang sama sekali nggak pernah menunjukkan perhatiannya, tapi edan mampus selalu ada tiap aku ngerasa sendiri. Orang yang cinta banget sama aku, tapi nggak apa-apa meski dia tahu kami nggak akan berjodoh.” Setelah itu, dia tertawa, “Tebaklah sendiri siapa orang yang paling aku butuhkan.”
“Itu dia, kenapa kita hanya mengikat diri kita pada satu orang? Kalau benar ada kelahiran sebelumnya, apa hubungan kita? Kenapa kita berjodoh untuk bertemu? Kenapa kita tidak jatuh cinta pada banyak orang kalau cinta itu universal? Kenapa poligami dilarang?”
“Tuh, kan, ngelantur lagi.” Lalu dilemparnya butiran-butiran pasir pantai ke arahku, “Sekali-kali, santai sedikit kenapa?”
Kemudian dia bangkit dan menarik tanganku ke arah ombak. Di sana kami memerhatikan bulan dan memejamkan mata.
“Tapi.. kalau santai terus, kapan kita akan temukan siapa sebenarnya kita? Apa kita bisa menemukannya di kelahiran ini? Ataukah harus kita temukan di kelahiran yang akan datang?” celotehku, “Tapi tunggu, memang benar ada, ya, reinkarnasi itu?”
Dia menoleh dan mengacak rambutku, “Kalau di kelahiran ini kita masih juga belum berjodoh, mau coba ketemu lagi di kelahiran selanjutnya?”
*
Oleh-oleh dari percakapan
dengan Aitibi
dua hari berturut-turut,
01 Juni 2009 15:29:54
Tiap hari aku bercerita, pada diriku sendiri :) selalu dan selalu, pembicaraan yang memantul.
Cetak Halaman Ini
Selengkapnya…








