#noprint {display: none;} // hide unwanted elements body {backgrounds:fff; color: 000;} // black text on white background a {text-decoration: underline; color:00f;} //Undeline hyperlinks in blue }
Monday, June 1, 2009
* Cerpen - Mimpi-mimpiku yang Selalu Jadi Mimpi-mimpimu


Ada sebuah kota warna-warni, didominasi nila dan ungu. Dua warna utama yang bersinar seperti sinar kosmis dan menyeruak berpendar memenuhi sudut-sudut jalan. Orang-orang beraneka rupa berjalan, di sudut-sudut pertokoan kecil mereka mengobrol satu sama lain kemudian saling tertawa.

Jalan setapak kota itu tersusun atas bebatuan yang rapi, membentuk bangun-bangun datar yang susunannya acak dan tak berpola. Jalannya lebar, di pinggir-pinggir jalan ada pot-pot bunga kecil dan kursi taman dengan lampu jalan warna-warni di sisi-sisinya. Ada kuning, biru, hijau, bahkan campuran beragam warna, pelangi. Cahaya-cahaya itu seperti mewakili orang-orang yang duduk di sisi lampu jalan di kursi taman.

Orang-orang yang berbeda-beda. Ada pelukis bertangan enam yang sedang memegang enam kuas di masing-masing tangannya dan melukis dunia warna-warni serta gadis-gadis kecil yang melambai pada orang tuanya di dua kanvas berbeda, ada penulis bermata delapan yang matanya selalu berputar-putar dan tangannya menulis dengan cepat, ada sepasang kekasih yang sedang memadu kasih yang dari tubuh mereka bermunculan butiran-butiran pasir ringan yang beterbangan bewarna merah jambu.

Ketika aku memutuskan untuk terus berjalan, aku lalu menemukan jembatan yang berpendar keemasan. Saat aku melewati jembatan itu, aku melihat air yang sangat jernih di bawahnya dan ketika aku memilih untuk berdiri sejenak, aku melihat logam-logam emas di dasar sungai, tanda bahwa di kota warna-warni itu ada sangat banyak orang yang percaya pada keajaiban.

Tiap lima menit, air dari sungai itu meloncat ke atas. Ada udang-udang dan ikan-ikan yang melambai, udang-udang dan ikan-ikan dengan warna-warna yang cantik. Kemudian ada yang meledak di langit. Kutolehkan kepalaku memandang ke atas, ke langit yang baru kusadari ternyata sepenuhnya berwarna hitam kelam dan apa untuk itukah kembang api diledakkan? – untuk menyemarakkan langit yang muram.

Ketika aku kembali mengamati sekitarku, seseorang telah berdiri di sisiku. Tunggu, bukan, bukan manusia, melainkan seekor anjing. Dan bukan lagi, kupikir dia ikan. Tubuhnya berwujud manusia dengan kepalanya yang diselimuti bulu anjing dan di lehernya terdapat sisik ikan. Tangannya empat, di kepalanya ada antena-antena kecil yang bergerak-gerak. Dia tersenyum dan mengulurkan satu tangannya, ketiga tangan lainnya seolah membatu.

Bahasanya tak kumengerti. Atau dia tidak berbicara meski mulutnya berkomat-kamit?

Aku menatapnya terpesona. Janggal, padahal kalimat-kalimatnya tak ada yang kumengerti, tapi senyumnya elok. Tapi bukankah memang tak ada suara yang keluar dari komat-kamit mulutnya? Dia terus berbicara, aku tetap mendengar dengan setia. Masih juga tak ada suara yang keluar. Apa aku menjadi tuli?

Dan aku tidak menyahut sampai akhirnya dia melambaikan tangannya, pergi. Perkenalan apakah itu? Aku bahkan tak tahu siapa namanya.

Aku kembali berjalan. Semakin jauh aku berjalan, kutemukan bahwa tidak ada lagi yang berkepala manusia. Di dunia warna-warni ini tak ada cermin. Semua kaca-kaca seolah transparan dan tak bisa memantulkan rupa-rupa. Baru kusadari bahwa di dunia warna-warni ini tak ada suara yang bisa kudengar. Atau apakah gelombangnya berbeda?

Aku menemukan orang-orang baru, yang terus berjalan, terus bernyanyi. Suara-suara yang indah, tubuh-tubuh binatang berkaki empat dengan kepala-kepala berbentuk paruh burung. Mereka bernyanyi, tapi tetap saja bahasanya tak ada yang kumengerti. Namun setidaknya aku tidak lagi tuli.

Beberapa dari mereka mengikutiku berjalan di belakangku. Empat ekor anjing dengan paruh burung dan bulu warna-warni. Mereka terus bernyanyi, nada yang indah dari lagu yang entah apa.

Kulalui lagi sebuah jembatan. Keempat penuntunku tadi berhenti, seolah meratapi saja kepergianku. Seolah aku akan berjalan ke tempat berbeda yang bahkan tak boleh mereka singgahi.

Benar saja, beberapa kaki perjalananku selanjutnya, kutemui orang-orang dengan wujud rupawan. Suara-suara indah. Mereka beterbangan dari satu sisi ke sisi lain tanpa sayap. Tubuh mereka berpendar-pendar dan dari warna-warna itu timbul wangi yang semerbak. Tubuh mereka kecil-kecil. Dan aku hanya bisa diam terpaku ketika warna-warna mereka memutariku, mereka melingkariku seolah akan menyelubungiku dan mengangkatku terbang tinggi. Mereka membawaku ke angkasa.

Hingga sesuatu menabrakku, kecil dan lembut. Mereka yang kecil dan berwarna-warni hilang entah ke mana. Udara menjadi dingin dan semakin menekan-nekan permukaan tubuhku. Dadaku sesak. Sisi-sisi leherku membuka. Terkelupas. Hidungku seolah tersumbat. Kakiku menjadi satu. Tidak lagi ada rupa, tidak lagi ada warna-warni, namun tetap tak ada suara. Seluruh tubuhku diselimuti air. Air yang lalu membentuk pusaran, bergerak melingkar dengan cepat.

Aku seolah tak bertulang rusuk, tak berdiafragma, paru-paruku menghilang.

Dunia menjadi hitam putih. Tubuhku berlubang-lubang, air masuk ke celah-celahnya dan lalu keluar lagi melalui tempat yang sama. Aku saling bertabrakan dengan benda-benda kecil lain yang lembut. Beberapa saat kemudian, tubuhku membelah.

Duri-duri lepas ke permukaan tubuhku. Aku kemudian bertabrakan dengan benda-benda yang tajam berduri. Semuanya masih hitam putih. Masih tanpa suara. Seluruhnya diselimuti air yang tak berwarna. Benda-benda di sekelilingku berbentuk bulatan-bulatan lonjong, berenang-renang, bergerak-gerak. Lembut atau berduri. Lalu bertabrak-tabrakan.

Suhu menjadi semakin dingin. Beberapa tempat membeku. Permukaan di atasku membentuk kaca-kaca yang tebal. Dan aku tetap berenang-renang di bawahnya. Lalu aku menempel di dasar laut sementara benda-benda lainnya masih berenang-renang acak di sekitarku. Benda-benda yang bulat dan berduri.

Dari sudut atas tubuhku muncul tentakel lunak. Bergerak-gerak acapkali. Tapi dunia masih hitam putih. Dan aku bahkan tak bermata. Masih pula tak ada yang bicara dan bercengkerama. Dunia macam apa ini? Menjadi apakah aku?

Seolah sudah tertidur sekian lama, ketika aku kembali bangun semuanya mencair. Tidak ada lagi air mengelilingiku. Aku menjadi cacing. Mungkin berbentuk pipih, gilik, atau gelang. Ataukah ular?

Hewan-hewan besar menghentak tanah, menggemparkan duniaku. Tanah-tanah retak. Burung-burung besar terbang di atasku, berteriak keras-keras, seolah memanggil burung-burung lain yang kemudian mengikutinya terbang di belakang.

Semut-semut besar. Pohon-pohon kering serupa kaktus-kaktus. Tajam berduri. Ular-ular, tikus-tikus yang mencicit, saling berkejaran dan kemudian memakan atau dimakan. Tanah masih begitu gersang. Tubuhku yang kepanasan kemudian bercangkang tiga lapis. Bergerak-gerak. Kemudian tumbuh sayap di sudut kanan-kiri tubuhku. Lalu sayapku hilang dan lapisan tubuhku mengeras. Tubuhku menjadi semakin ringan dan aku berlari ke sana kemari.

Siang yang sangat panas dan malam yang sangat dingin. Seperti persaingan di siang hari untuk saling memangsa dan di malam hari tidak saling bercengkerama dan lalu bersembunyi di tempat masing-masing seolah terjadi perang dingin. Kehidupan yang buas. Seolah semua benda yang bergerak adalah musuh.

Musim berganti, rumput-rumput bertumbuhan. Kaktus-kaktus mati. Hujan semakin sering. Hewan-hewan besar berganti wujud. Mereka kemudian memakan tanaman-tanaman. Aku berubah wujud lagi menjadi berbulu. Kemudian aku melihat warna-warna, kemudian aku mendengar suara-suara.

Burung-burung kecil mulai beterbangan di angkasa. Burung-burung besar mengejar di belakangnya. Matahari terbit dan tenggelam. Dunia menjadi semakin tenang. Makhluk-makhluk tidak sering lagi saling memangsa. Hingga sesuatu jatuh dari langit. Besar dan bergerak begitu cepat.

Menghantam bumi. Menghantamku.

*

Aku terbangun di tempat lain. Memiliki kepala, leher, urat-urat yang dialiri sesuatu, tulang rusuk yang dilalui nafas. Aku merasakan kepalaku bekerja. Untuk kali pertama aku benar-benar merasa kembali menjadi manusia.

Seorang pria memandangku. Kaca matanya yang besar memenuhi sebagian wajahnya. Dia tersenyum lalu tiba-tiba mengangkatku. Air mengguyuri tubuhku. Setelah dibalutnya tubuhku dengan selimut, dicubitinya tanganku keras-keras. Sakit yang tak terkendali hingga aku berteriak. Orang-orang tertawa. Tawa yang tak kumengerti apa gunanya.

Mereka lalu memasukkanku ke dalam tabung kaca. Cahaya kecil menyala. Begitu hangat.

Orang-orang mengelilingi tabung dan memandangiku dari sana.

*

Lalu aku menjadi kanak-kanak yang rajin menggambari tembok-tembok rumahku. Membentuk spiral-spiral dan garis-garis. Orang-orang tersenyum. Seisi rumah dicat ulang. Kemudian aku kembali menggambarinya dengan spiral-spiral dan garis-garis.

Tidak ada yang kumengerti ketika kulihat ada naga berpusar di perutku dan tubuhku menjadi transparan di usia lima tahun. Ketika katanya ada orang yang telah mati, tapi aku masih dapat melihat orang-orang itu dan berbicara dengan mereka. Ketika aku mampu melihat hal-hal yang tak dilihat oleh orang-orang sekitarku.

Aku bermain-main dengan mereka. Aku berkaca di depan cermin dan melakukan macam-macam. Menjadi pembicara, menjadi dokter yang mengobati pasiennya, menjadi artis yang berakting di depan kamera. Aku tertawa terpingkal melihat seseorang berbaju merah di layar kaca.

Ayah-ibuku selalu pulang malam. Nenek menemaniku dan menyanyikan lagu-lagu tentang katak. Di hari-hari tertentu Ayah ada di rumah dan bercerita tentang kerajaan-kerajaan di masa lalu. Ibu bercerita tentang kisah-kisah cinta. Kakek menggendongku dan mengajakku berjalan-jalan di sawah.

Ketika sandalku terbenam di sawah yang sedang banjir karena hujan, Kakek mengejarnya untukku kemudian memasangkannya di kakiku, dengan payung masih tergenggam erat di tangannya, memayungiku; memayunginya.

Kami memiliki banyak anjing dan hamster. Kakek memeliharanya sejak dulu. Anjing-anjing yang beranak ketika aku lahir; hamster-hamster yang terus beranak pinak. Anjing-anjing yang berkutu, yang kutu-kutunya kemudian memenuhi rambutku juga. Hingga tiap hari kerjaan Nenek bertambah satu; yaitu untuk memenceti kutu-kutu di kepalaku.

Waktu itu, aku sungguh tak mengerti tentang duniaku. Ketika kecil, ada satu masa aku berdiri terpaku di sekolahku dan menatap ke langit. Bertanya, “Siapa orang-orang ini?”

Tapi entah kenapa waktu kembali berjalan. Usiaku semakin bertambah. Lalu di usiaku kini, aku menemukan banyak kesamaanku dengan orang-orang yang juga telah beranjak menjadi tua.

Kehilangan sesuatu. Kehilangan waktu.

*

“Kemarin malam aku mimpi aneh lagi. Sebagiannya mimpi tentang masa kanak-kanakku. Kali ini ada dunia yang cuma terdiri dari warna-warna dan wujud-wujud,” lalu itu yang kubilang kepada kekasihku yang setia kudongengi tiap malam minggu, “nggak ada suara.”

Ia menatapku seperti dulu aku menatap ibuku yang bercerita tentang kisah-kisah cinta.

“Menurutmu, di dunia mana kita lahir?” Kutanya padanya. Dia diam dan tetap menyimak, seolah tahu kebiasaanku bercerita, yang selalu menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang kulontarkan.

Tapi saat itu aku tak melanjutkannya. Aku hanya menulis sesuatu di pasir pantai dan berujar sesuatu yang lain, “Kita pasti nggak akan berjodoh.”

Dia menagih penjelasan melalui tatapannya.

“Aku terlalu sering mengajakmu ke pantai.”

“Mitos lagi?” dia bertanya.

Kuanggukkan kepalaku, “Dan waktu akan membuktikannya.”

“Memang kamu nggak mau berjodoh denganku?”

“Aku mau, hanya saja kita nggak akan berjodoh. Menurutmu kenapa?”

“Kamu berselingkuh.”

Aku tertawa. Kulempar pasir pantai ke kemeja kerjanya, “Aku berani jamin, aku wanita tersetia yang pernah kamu temukan. Sekali kamu memilikiku, anggap saja kamu akan memilikiku untuk selamanya.”

“Aku juga pria tersetia yang akan pernah kamu temukan. Lalu apa yang bisa membuat kita berselingkuh?”

“Umurmu nggak panjang.”

“Umurku pendek?”

“Umurku bahkan lebih pendek dari umurmu yang nggak panjang.” Kujawab cepat. Dia pasti mengira bahwa aku sedang menjahilinya.

“Kamu akan mati lebih dulu?” aku tak menjawab, “Jangan lanjutkan. Ini konyol.” Hingga akhirnya dia menyuruhku menyudahi percakapan kami yang melantur.

“Aku akan mati sebelum kita menikah. Itu yang membuatku banyak berpikir tentang apa yang harus kulakukan secepat-cepatnya sebelum mati.”

“Ayolah, Karina.. Jangan ngelantur.”

“Kenapa, ya, kita terus melakukan hal-hal yang biasa-biasa? Mengejar apa yang orang lain kejar?”

“Maksudmu?”

“Kupikir tujuanku berbeda. Tapi entah kenapa aku nggak bisa menemukan orang-orang yang sepikiran denganku.”

“Termasuk aku?” dia bertanya spontan.

Kuanggukkan kepalaku, “Kita jauh berbeda. Kadang malah aku pikir aku berbeda dari orang-orang lain. Aku seperti menjadi alien di duniaku.”

“Kulihat kamu biasa-biasa saja. Maksudku, kamu senormal gadis-gadis lain seusiamu.”

“Tapi aku capek mencoba menjadi biasa-biasa. Mudah sekali untuk tersenyum ramah ke orang lain, menyapa orang ini, mengobrol dengan yang itu. Mudah sekali menjadi normal. Tapi hal yang mudah justru lebih melelahkan untuk dilakukan terus menerus. Sekali-kali aku ingin jadi aku yang sebenarnya.”

“Apa aku kurang mengenalimu?”

“Nope. Kamu sangat mengenaliku. Malah kupikir aku yang kurang mengenalimu. Cuma, kadang aku benar-benar ngerasa sendiri dan hanya aku yang mengerti.”

“Apa kali ini kamu nggak bisa menceritakan sedikit saja masalahmu padaku? Sepersekianyalah?”

“Kamu tahu pikiranku rumit.”

“Yep, lalu apa masalahnya?”

“Waktu aku lihat kakekku membaca koran di teras pagi hari, aku pikir, apa masih menyenangkan? Waktu aku lihat orang-orang di kantor-kantor melakukan rutinitasnya di depan layar komputer, aku tak habis pikir apa yang sebenarnya ingin mereka cari. Dan mereka membuatku berpikir, apa yang juga aku cari. Apa kita lahir hanya untuk lahir, melihat orang-orang yang lebih tua mati lebih dulu, sekolah, kuliah, kerja, saling sikut satu sama lain, jadi tua, membaca koran di teras, mati, nama terpampang di koran?”

Kutarik nafasku, “Kenapa kita mempersulit hidup kita? Kalau hidup bisa jadi begitu mudah, kenapa kita saling menghancurkan satu sama lain? Apa yang sebenarnya kita kejar? Tapi kemudian aku pikir, kenapa aku mempersulit pikiranku? Kenapa menjadikan semuanya rumit? Hal-hal kecil menjadi besar?”

“Kamu kurang tidur, ya? Kok melanturnya kejauhan?”

“Kadang aku muak sama diriku sendiri. Kadang bisa-bisanya aku berpikiran seperti filsuf, kadang aku jadi orang-orang biasa yang melakukan apa yang nggak aku suka.

Kenapa kita nggak pernah sama satu sama lain? Apa nggak ada yang ingin membongkar rahasia siapa sebenarnya kita?”

“Kenapa kamu nggak kuliah Filsafat saja, sih? Kan, jadinya nggak bakal ngelantur ke aku?” dia menyela.

“Kupikir jalan manapun boleh aku ambil dan menjadi apa kamu di dunia ini nggak menentukan apa-apa saja yang boleh ada di kepalamu. Seandainya ibuku nggak meninggal secepat ini, mungkin aku nggak akan ingin tahu ke mana perginya orang yang telah mati.”

“Alam semesta, tata surya, planet-planet, bumi.” Kuurut satu per satu.

“Nggak lagi belajar Astronomi, kan?” dia bertanya.

“Ke mana orang yang telah mati pergi? Masihkah mereka di sini? Menjadi hantukah, setankah? Atau mereka berpindah planet?

Makhluk hidup, manusia, peradabannya. Kejahatan, kriminalitas, orang-orang yang butuh hiburan. Perbedaan bahasa, perbedaan budaya. Penemuan-penemuan. Semuanya begitu menarik ketika hidup. Tapi setelah semua itu, kita mati dan..?”

“Tidak menemukan apa-apa?” dia menebak.

Aku tersenyum. Dan mengangguk, “Waktu bertabrakan. Aku tertidur dan bermimpi. Aku terbangun dan melakukan apa-apa saja yang baru beberapa saat sebelumnya aku impikan. Kalau masa depan sudah sejelas itu, kalau sudah ada sesuatu di depan, apa lagi yang bisa kita lakukan?”

“Itukah yang kamu maksud membuatmu merasa berbeda?” dia bertanya.

“Kamu bayangkan saja. Aku tertidur dan bermimpi mengerjakan soal-soal ujianku. Lalu aku menghadapi ujian dan aku mengerjakan soal-soal itu lagi. Sampai aku harus berpikir berapa kali, kapan aku pernah menemukan soal-soal itu? Aku tertidur dan memimpikan kematian seseorang. Dan lalu orang itu benar-benar mati. Untuk apa sebenarnya kita hidup, kalau semuanya sudah tertulis?

Waktu seolah bertabrakan. Seolah terulang dua kali untukku. Tapi tidak ada acara remedial. Kenapa hidup kita begitu teratur? Siapa sebenarnya kita? Apa kita tidak akan menemukan siapa diri kita sampai akhirnya kita mati?”

“Beratkah untuk bisa melihat masa depan? Kupikir itu karunia?”

“Kalau bisa diatur, itu karunia. Tapi kalau datangnya sewaktu-waktu, siapa bisa percaya?”

“Mungkin itu cara Tuhan menunjukkan sesuatu padamu.”

“Tapi kenapa Tuhan terus bersembunyi? Kalau memang sudah ada sesuatu yang akan terjadi, kenapa kita tidak menjalankan kehidupan kita dengan biasa-biasa saja sekarang, toh hal itu tetap akan terjadi?”

“Tuhan tahu segalanya, tapi dia hanya menunggu. Seberapa sabarnya kamu.”

“Kenapa mesti menguji? Bukannya di Psikologi saja jelas ketahuan kalau ada kesadaran dalam diri seseorang yang selamanya tak bisa diubah bahkan oleh lingkungan – sesuatu yang selalu disebut-sebut sebagai karakter, kepribadian, dan kawan-kawannya? Lalu untuk apa ada tes kecerdasan emosional? Untuk apa mengukur sesuatu yang nggak akan tepat? Kenapa tidak langsung saja memberi seseorang lingkungan tertentu dan kesempatan tertentu?”

“Tuhan memberikannya, ‘kan? Apa lagi yang mesti ditanyakan? Hidup hanya tentang kemungkinan. Apa yang akan kamu pilih, apa yang akan kamu buang. Ingat slogan Gie, ‘kan? Yang kekal itu perubahan. Sejauh kamu ingin berubah, mengubah sesuatu, atau diubah.”

“Lalu apa aku tidak perlu tahu siapa sebenarnya aku? Seperti apa sebenarnya alam semesta ini?”

Dia tersenyum, “Sayangnya nggak untuk saat ini. Sebagai catatan, aku juga pernah memikirkan apa yang kamu pikirkan sekarang. Santailah sedikit.”

“Lalu kenapa kamu nggak mencari tahu? Nggak mencari orang-orang yang sepikiran denganmu dan mewujudkannya?”

“Nggak tertarik, tuh. Aku sudah menemukan yang lebih dari itu. Orang yang nggak sekedar tahu apa makanan favoritku, tapi juga mampu memasakkannya untukku. Orang yang sama sekali nggak pernah menunjukkan perhatiannya, tapi edan mampus selalu ada tiap aku ngerasa sendiri. Orang yang cinta banget sama aku, tapi nggak apa-apa meski dia tahu kami nggak akan berjodoh.” Setelah itu, dia tertawa, “Tebaklah sendiri siapa orang yang paling aku butuhkan.”

“Itu dia, kenapa kita hanya mengikat diri kita pada satu orang? Kalau benar ada kelahiran sebelumnya, apa hubungan kita? Kenapa kita berjodoh untuk bertemu? Kenapa kita tidak jatuh cinta pada banyak orang kalau cinta itu universal? Kenapa poligami dilarang?”

“Tuh, kan, ngelantur lagi.” Lalu dilemparnya butiran-butiran pasir pantai ke arahku, “Sekali-kali, santai sedikit kenapa?”

Kemudian dia bangkit dan menarik tanganku ke arah ombak. Di sana kami memerhatikan bulan dan memejamkan mata.

“Tapi.. kalau santai terus, kapan kita akan temukan siapa sebenarnya kita? Apa kita bisa menemukannya di kelahiran ini? Ataukah harus kita temukan di kelahiran yang akan datang?” celotehku, “Tapi tunggu, memang benar ada, ya, reinkarnasi itu?”

Dia menoleh dan mengacak rambutku, “Kalau di kelahiran ini kita masih juga belum berjodoh, mau coba ketemu lagi di kelahiran selanjutnya?”

*

Oleh-oleh dari percakapan
dengan Aitibi
dua hari berturut-turut,
01 Juni 2009 15:29:54

Tiap hari aku bercerita, pada diriku sendiri :) selalu dan selalu, pembicaraan yang memantul.

Cetak Halaman Ini

Labels: ,


Selengkapnya…  
Dikirim oleh Panah Hujan, inc. pada 6:08 PM | Permalink | 5 komentar
Tuesday, April 21, 2009
* Cerpen - Kehilangan Kartini Padamu

21/04/2009 12:23:31

dunia dengan dua sisi
Kau tatap Ia dari pikir-Mu
kadang nyata kadang maya
mendua pada Satu

dan pada-Nya
Kita bergenggaman
Kita berjalan berputar
pada Ia yang menyata Satu
pada bumi yang melingkar mentari

lihat perjalanan Kita kini
adakah Kita
mengiyakan tiada
mengenggankan nyata
seperti halnya Ia meloncatkan Satu ke dua

menjadi setan dan malaikat
Ia menjadi tanah dan langit
menjadi Aku dan Kamu
nyatakah pada-Mu
senyata pada-Ku
bahwa Kita Satu

bahwa Kita adalah Ia
seperti Ia adalah Kita
seperti Aku adalah Kamu

nyatakah pada-Mu
Kita adalah Satu

bahkan pada maya
bahkan pada tiada

karena Kita

: menyatu Alam Semesta


Rohnya berjalan di kegelapan. Gelap yang menjelaskan gelombang yang dulu ketika hidup tak pernah dimengertinya. Jika dulu dia pernah mempelajari eter sebagai missing-link dari penjelasan mengenai pengantar gelombang di ruang hampa, jika dulu dia pernah diberi tahu bahwa benda padat yang berikatan kuat mampu menabrak-nabrak gas yang berpencar-pencar, kini ia baru memahami semuanya.

Dia tertabrak oleh segala benda. Oleh mobil yang melintasinya, tidak ada bunyi klakson ketika mobil itu menabrak tubuhnya. Seperti halnya tidak ada orang yang meminta maaf ketika berlari melewatinya. Dia tertabrak segala. Bahkan oleh gas yang berpencaran.

Jika dulu ketika hidup dia tak pernah tahu di mana tempat tinggal jiwanya kelak ketika mati, maka seperti halnya kini dia juga tak pernah tahu ke mana ia akan menuju. Ia pikir bahwa mungkin banyak jiwa yang sama berjalan pada gelap. Pada gelombang yang entah apa. Namun mereka tak saling melihat, tak saling menyadari.

Ketika pun mereka harus berpapasan, mungkin tidak akan ada yang saling menatap. Mereka berjalan tanpa wujud. Kalaupun keberadaan mereka mampu dijelaskan oleh teori atom di Fisika atau di Kimia, meski juga pada teori kuantum yang merajalela pada otak-otak brilian, apakah mereka sungguh perlu melihat diri masing-masing melalui mata yang berkekuatan mikroskop elektron? Sedang mereka, berjalan tanpa mata. Berjalan tanpa alat indera.

Dia tak tahu dia lepas dari tubuh siapa. Dia hanya masih mengingat bahwa dia pernah bergerak-gerak cepat pada sebuah tangan. Dia pernah berada pada ujung telunjuk seseorang. Pernah digunakan sebagai sesuatu untuk mengetik. Pernah diperintah oleh elektron-elektron pada sel saraf untuk bergerak menunjuk-nunjuk. Namun dia tak tahu ke mana bagian-bagian lain darinya. Entah bagian ibu jari, kelingking, atau jari manis. Entah bagian tangan, kaki, atau kepala.

Dia hilang dari sesuatu dan menjadi bagiannya sendiri. Dia hanya masih mengingat bahwa dia dulu pernah memiliki tempat lain untuk tinggal. Dia pernah mengisi bagian tubuh seseorang dan hidup di sana. Atau terserahnya.

Seperti halnya ekor cacing yang masih bergerak-gerak bahkan ketika kepalanya diputus. Dia menjadi bagian pada jari telunjuk yang masih hidup ketika jantung orang itu berhenti. Namun akhirnya dia lepas.

Pada kesadarannya, dia bertanya-tanya, di manakah sebenarnya letak jiwa? Diakah jiwa?

*

“Mama nggak mungkin mati!” seorang gadis berteriak-teriak di depan sebuah kamar, “Apa yang bisa Callista lakuin tanpa Mama? Mama jangan mati. Karena cuma Mama satu-satunya yang Callista punya!”

Orang-orang di rumah sakit itu mengelilinginya. Setiap orang yang ada di setiap kamar di sekitarnya keluar untuk menonton gadis itu menangis, berteriak.

Di depan gadis itu, sebuah kamar telah kosong. Sebuah ranjang bersprei putih tanpa penghuni. Tidak ada tiang infus di sana. Kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang.

“Mama...” dia terus menangis, menelungkupkan kepalanya di lututnya. Tidak ada yang peduli. Mereka hanya menonton, iba.


“Mama janji untuk terus hidup. Mama janji untuk selamanya hidup. Kenapa Mama pergi?”

“Kakak kenapa nangis?” Bocah yang biasa diajaknya bermain mendekatinya.

“Mamanya Kakak ini baru saja meninggal. Ayo, Dito, jangan ganggu..” orangtuanya menarik bocah itu. Seolah pada diri seseorang yang baru saja ditinggal mati kerabatnya, masih tersisa bekas-bekas sentuhan malaikat kematian.

“Mama..” isak tangis terakhir darinya.

Awalnya dia tak percaya. Namun ketika orang-orang di sekelilingnya meyakinkan bahwa memang ada yang meninggal, bahwa orang yang meninggal itu adalah orang terpenting dalam hidupnya, dia hanya mampu terdiam. Tidak mengucap sepatah kata. Tidak menangis, tidak berteriak. Seolah ada bagian jiwanya yang lepas yang mencari jiwa dia yang telah meninggal.

Tanpa kesadaran penuh, dia berjalan. Seolah ada yang ingin mengantarnya pada suatu tempat, dia menerobos kerumunan yang sebelumnya menontoninya. Tanpa ditemani siapapun, dia menerobos kegelapan lorong, berpapasan dengan orang-orang yang berjalan. Tanpa seorangpun yang berpapasan dengannya menyadari bahwa dia adalah seorang gadis yang baru saja kehilangan seseorang. Kehilangan sesuatu dari dirinya.

Setelah melewati lorong yang panjang, dia sampai ke sebuah tempat. Ada orang-orang yang dia kenal. Ada yang ribut dan menangis. Ada yang menenangkan yang menangis. Ketika melihat dia hadir di sana, orang-orang itu hanya bisa menatap. Seolah masih ada bekas-bekas nafas malaikat kematian di sekitar orang-orang terpenting yang pernah hadir dalam hidup seseorang yang baru saja meninggal, mereka tak mendekat selangkah pun. Mereka hanya menonton.

Dia menghampiri kerumunan, semakin dekat. Untuk dipeluk, untuk ditenangkan, untuk disadarkan. Untuk dipanggil jiwanya agar berhenti mencari-cari jiwa seseorang yang baru saja mati. Agar jiwa itu kembali lagi ke tubuhnya, agar ia tak ikut mati.

“Memang sudah jalannya.” Dia dipeluk, tapi dia tak merasakan sebuah pelukan.

“Ke mana perginya Mama?” bukan pikirannya yang bertanya, tapi bagian terdalam dari dirinya, bagian yang tak digerakkan oleh kesadaran kepala.

“Beliau meninggal sejam yang lalu.”

Sejam yang lalu. Tanpa menunggu dia hadir untuk mendengar kata-kata terakhir.

Hatinya terlalu sakit untuk harus menangis. Saraf-saraf di kepalanya bekerja semakin rumit. Membantunya agar tidak menangis, untuk menghentikan kerja saraf-saraf perasa di bagian dadanya, karena seolah ada banyak hal mendesak-desak di dalamnya.

“Kenapa?” Dia tidak menginginkan penjelasan medis.

“Kankernya.”

“Kenapa?” Dia masih bertanya.

Orang di depannya memeluknya semakin erat, meraih kepala gadis itu dan meletakkannya di bahunya, “Callista masih punya tante di sini.”

*

Orang-orang berbisik. Semakin ribut. Bermain kartu. Mengobrol satu sama lain, sibuk menawarkan minuman dan makanan. Beberapa sibuk membungkus peti jenazah dengan kain panjang dan menempel hiasan-hiasan keemasan rata di sekitarnya.

Dia tidur di sebelah jenazah yang terbungkus kain. Bercerita di sana.

Ketika siang, dia membawa makanan dan minuman yang dulu ketika hidup menjadi kesukaan dari jenazah itu dan meletakkannya di sisinya. Kembali bercerita.

Dalam masa-masa itu, dupa panjang terus menyala. Tidak dibiarkan berhenti. Ketika mati, dupa itu diganti dengan yang lain. Terus hidup sampai saatnya jenazah dikremasi.

Sesungguhnya dia berharap jenazah itu akan hidup, lagi.

“Callista, jangan tidur di sini. Nanti bau formalinnya merusak kerja tubuh Callista.”

Sudah dua hari dia tidur di sana. Hidungnya jadi tidak peka lagi terhadap bau, matanya terkadang perih. Kepalanya makin sering pusing.

“Biarlah.”

*

Jenazah dimandikan. Tubuh yang telanjang. Dulu jenazah itu pernah bercerita pada Callista. Pernah bilang sesuatu di acara permandian jenazah orang lain, bahwa jenazah itu mungkin akan malu jika suatu saat tubuhnya dimandikan telanjang di depan umum.

Callista ikut memandikan. Ritus yang panjang. Termasuk akhirnya melapisi jenazah itu dengan kain beragam warna. Termasuk menutupi kemaluan jenazah dengan kain hitam. Termasuk menutupi rasa malu jenazah itu. Termasuk, ingin sekali memandikan jenazah itu secara personal, supaya tidak ada orang lain menonton jenazah itu telanjang, supaya hanya dia dan jenazah itu. Supaya hanya mereka. Seperti saat-saat mereka dulu mandi bersama. Berdua.

Orang-orang hanya menonton. Orang-orang hanya ingin menonton. Tidak ingin berakting bersamanya. Seolah dalam skenario kehidupannya, hanya ada sedikit tokoh. Bahwa tokoh utama hanya tinggal satu saja. Bahwa tidak ada lagi temannya untuk beradu peran.

*

Katanya, jiwa jenazah itu telah pindah pada sebuah simbol, pada wujud seorang wanita yang dipatungkan. Callista membawanya di atas kepala. Ibu-ibu lainnya membawa benda-benda lain sebagai simbolisme. Entah sebagai simbolisme pengantar yang telah meninggal, entah sebagai iring-iringan yang kelihatan indah.

Sebelum menuju tempat kremasi, ada sebuah ritual khusus yang harus dilakukan. Untuk memutus keterikatan, untuk tidak pernah memimpikan dia yang telah meninggal. Tali dan logam cina dan beras kuning dan beras putih dan mungkin kunyit dan rempah-rempah lainnya, dilempar ke langit, dibenturkan ke telapak tangan, dijatuhkan ke tanah. Ketika itu selesai, katanya, semua keterikatan pada yang telah meninggal seketika.. musnah.

Setelahnya, Callista memimpin di depan. Orang-orang berjalan di belakang. Jenazah diangkat di belakang di dalam sebuah wadah. Orang-orang lainnya memegangi kain putih panjang di atas kepala.

Beberapa kerabat memotret dengan kamera. Turis-turis berniat mengabadikan sebuah momen. Callista mengabadikannya dalam hatinya.

Di tempat kremasi, di tempat dulu dia dan jenazah itu pernah datang ke acara kremasi jenazah lain, dia sampai di sana. Wadah diletakkan. Jenazah dipindahkan, dia disibukkan dengan panggilan orang-orang. Beberapa orang menyibukkan diri dengan memanggil-manggil dirinya sendiri.

Beberapa orang datang untuk menghiburnya. Beberapa orang tersenyum padanya. Beberapa lagi ikut menemaninya terus di sisinya. Semua ritual khusus dilakukan. Jenazah diletakkan di dalam sebuah kotak yang dibentuk dari pelapah pisang. Selang gas dimasukkan dari celah-celah bawah. Orang-orang melempar bunga, daun, banten, uang, dan pakaian ke atas jenazah. Callista melempar sebuah buku gambar.

Di dalam buku gambar itu, ada gambar-gambar rumah. Di dalam buku gambar itu, ada kenangan-kenangan. Pernah ada seseorang yang memuji gambar-gambarnya, warna-warnanya, dan membantunya mewarnai. Dan orang itu telah mati. Dia berharap orang itu akan tinggal di rumah-rumah yang dia gambar di buku gambarnya. Dia berharap orang itu mendapatkan tempat yang layak untuknya di alam sana.

Meski gambar-gambarnya, tidak pernah sebagus pujian orang itu. Karena dia tahu, orangtua yang baik memang selalu memuji anak-anaknya. Orangtua yang baik, selalu ingin berkorban lebih untuk anak-anaknya. Seperti jenazah itu. Yang melakukan apapun untuk Callista, untuk dia bisa mewujudkan cita-citanya.

“Hanya itu saja yang mau diberikan?”

Dianggukkannya kepalanya. Dia tidak mungkin membakar semua baju milik jenazah itu, seperti dia tidak mungkin ikut membakar televisi, mobil, rumah, ijazah-ijazah, dan lainnya. Apa yang dimiliki ketika hidup, tidak mungkin dibawa seluruhnya ke alam kematian.


Dan api mulai dinyalakan. Api mulai membakar. Callista tidak ingin menjauh, tapi dia terus ditarik-tarik untuk menjauh.

Di kejauhan, dia berdoa, menyanyikan doa-doa sekeras-kerasnya. Orang-orang hanya menonton. Tidak ada yang merasa pandai berakting dan mendekatinya.

Dalam tiap baris doa, api semakin berkobar. Hingga yang tersisa hanya tinggal tengkorak dan tulang-tulang. Hingga akhirnya, seluruhnya menjadi abu dan tulang-tulang kecil. Selama itu, dua orang menggenggam tangannya di sisinya. Dua orang, sahabat kentalnya di bangku sekolah.

Beberapa orang pulang. Beberapa lainnya membantunya mengumpulkan abu-abu dan tulang-tulang, menyaring abu dan tulang-tulang. Memunguti tulang-tulang besar, memisahkannya dengan abu-abu, memisahkannya dengan kelam kehidupan.

“Sekarang kita ke laut,”

Sekarang ke laut. Membuang abu, membuang segala yang tersisa.

*

Di laut, semuanya hilang. Semuanya menyatu. Atom-atom pada tulang, atom-atom pada abu, menyatu dengan atom-atom pada air, atom-atom di udara.

Di laut itu, orang yang dia cintai berubah wujud untuk selamanya. Mungkin untuk berjuta atau bermiliar tahun ke depan, baru mereka akan bisa dipertemukan lagi dalam wujud manusia. Ketika atom-atom mereka mengisi lagi perut seorang ibu yang hamil. Ketika kesadaran mereka, dengan kemungkinan kombinasi penciptaan yang tak terhingga, bertemu pada satu titik waktu.

Mungkin kelak tidak sebagai ibu-dan-anak. Mungkin kelak sebagai kekasih.

Atau, mungkin saja mereka tidak akan pernah bertemu lagi.

Karena pada kehidupan yang sedemikian sebentarnya, entah ada misteri besar apa yang bisa dipecahkan oleh kepala.

***

21/04/2009 15:47:02
CLX7,
The last experiment.

: Selamat hari Kartini, Mama.


Cetak Halaman Ini

Labels:


Selengkapnya…  
Dikirim oleh Panah Hujan, inc. pada 2:49 AM | Permalink | 4 komentar
Friday, April 10, 2009
* Cerpen - Suami yang Kalah Pemilu
Cerita yang dibuat saat mendapat wahyu. Alias, saat liburan. Kurang kerjaan, maka menulis cerpenlah jalan keluarnya.



Mari kita pikirkan ulang tentang apa yang katanya demokrasi. Tentang orang-orang daerah yang berhak menentukan siapa pemimpin daerah mereka bahkan tanpa mereka pernah mengenal siapa-siapa saja orang yang mencalonkan diri.

Maka mereka tidak sepenuhnya peduli tentang siapa yang akan mereka buat jadi gila – saat mereka keluar dari bilik-bilik kayu TPS, seusai mereka mencontreng ngawur calon-calon legislatif yang dipampang foto-fotonya di (kebanyakan) hampir empat lembar kertas suara yang ada.

“Papa kenapa, Ma?” Anakku selalu menanyakan itu padaku akhir-akhir ini.

Ketika dia bilang begitu, matanya hampir-hampir tak pernah lepas dari ayahnya yang duduk di sofa, yang tidak mandi selama seminggu. Ayahnya yang kalah pemilu.

Kuakui dia terlalu berambisi. Dia bahkan menjual emas-emasku, menggadaikan akte rumah kami – hanya untuk menjadikan dirinya berada di peringkat dua calon legislatif di partainya, alasannya, supaya namanya mudah dilihat dan dicontreng.

“Ma, lihat, deh.. Papa muntah.” Anakku melanjutkan. Aku bahkan hampir tidak tahu bagaimana caranya menunjukkan kepanikanku.

Dia muntah. Dia minum-minum. Ratusan batang rokok telah dia hisap. Matanya merah dan rambutnya berminyak, kulitnya hitam kekusaman. Karena demokrasi, kami telah kehilangan uang, juga pemimpin keluarga.

Kubersihkan muntahannya. Betapa beratpun cobaan yang menimpa, aku sungguh tak rela jika dia sampai harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa, sama seperti calon-calon berambisi lainnya yang juga kalah.

“Papa mau makan?” kutanyai dia, “Atau Papa tidur saja, ya?”

Dia jarang tidur. Atau kemungkinannya, dia tidur kurang dari delapan jam sehari selama jam-jam tidur aku-dan-anak-anakku yang delapan jam. Tapi kadang-kadang saat aku terbangun karena mimpi buruk, kulihat dia masih belum juga tidur. Entah apa yang dia pikirkan.

Saat aku terbangun, dia masih mencoret-coret kertas. Sketsa-sketsanya selalu indah di mataku – seberapa kelam pun cerita yang tersimpan dalam tiap goresannya. Dia lebih pantas menjadi seorang seniman ketimbang orang yang berambisi jadi pemimpin.

Apakah orang-orang kami kurang dididik untuk mencintai diri sendiri yang apa adanya? Sehingga, orang-orang yang hebat di teknik justru berniat jadi dokter, atau yang hebat di seni justru berniat masuk teknik, dan seribu atau sejuta kemungkinan niat-niat lain yang mungkin.

Kemarin sebuah ambulans sempat berhenti di depan rumah kami. Aku dan anakku menyaksikan kejadiannya, saat Pak Ahmed meronta-ronta, berteriak, dan ditarik-tarik. Tangannya diikat. Dia disuntik di hadapan kami yang menonton.

Kata istrinya, dia menjadi gila karena hasil pemilu. Ratusan juta telah dia habiskan untuk bisa menang. Melihat kenyataan, ternyata banyak dari orang yang dia beri uang justru menjadi golput atau salah contreng dalam pemilu, dia jadi hilang kewarasan.

Padahal Pak Ahmed, seperti suamiku, adalah wirausaha yang sukses. Sehari, sepuluh juta bisa dia dapatkan dari hasil jualannya yang memiliki banyak cabang. Dalam sebulan, tiga ratus juta dipotong sedikit akan masuk tabungannya.

Awalnya, mungkin seperti suamiku, dia hanya berniat main-main dalam pertaruhan kursi, maka dia mencalonkan dirinya pada partai yang baru muncul. Sama seperti suamiku, mungkin dia berharap keberuntungan bisa menjadikannya orang paling bersinar fotonya di kartu suara. Tanpa memperhitungkan berapa banyak orang yang tak pernah serius belajar Kewarnegaraan yang juga diberi kartu suara.

Yang kuherankan, sebab-musabab dia bisa dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Tentu uangnya masih banyak di bank dan cabang-cabang perusahannya tentu masih memutar uang yang sangat banyak untuknya setiap harinya. Tidak seperti suamiku yang berhutang di segala macam bank, pernah ditolak di beberapa bank ketika mengajukan kartu kredit, menggadaikan akte rumah, dan menjual emas-emas istrinya.

Aneka ragam keheranan seketika menyelimutiku setiap aku memikirkan orang-orang lain, bahkan membaca-baca surat kabar, melihat banyak orang-orang penting yang menjadi gila. Mengapa kami, yang bisa disebut hampir miskin, masih juga bisa bertahan.

Aku hanya pegawai negeri biasa, golongan tiga. Gajiku sebulan hanya cukup untuk makan dua minggu ditambah biaya listrik-air-telepon (pertimbanganku jika seandainya suamiku benar-benar tidak akan menafkahiku lagi). Anak-anakku, biarpun dulu ayahnya kaya, selalu mendapatkan beasiswa di sekolahnya. Otak mereka cemerlang. Tidak ada masalah dengan mereka.

Aku memiliki cukup uang di tabunganku untuk melunasi hutang-hutang suamiku. Orangtuaku memberikannya sebagai bekal untukku saat aku memutuskan membina kehidupan baru. Mungkin kini uang itu akan kupergunakan.

“Dek, kamu jaga Papamu, ya. Mama dipanggil sama tata usaha sekolah, rapat mendadak.” Ujarku pada anakku seusai kami sarapan. Hari itu libur, akan kuhabiskan untuk segala urusan yang berhubungan dengan suamiku. Termasuk bilyet giro kosong milik toko kami.

“Tapi kalau Papa muntah lagi?”

“Katanya anak Mama ini calon dokter? Dokter nggak boleh jijik..” ujarku sambil tersenyum.

Kukecup kening mereka, “Jaga adikmu, ya, Dito.”

Dito mengangguk, Dita masih bermain-main dengan pulpen dan sketsa ayahnya.

“Cepat pulang ya, Ma.” **
Banyak urusan. Banyak tempat yang harus kudatangi. Banyak orang yang harus kuajak bicara-berunding-berdebat-berkelahi. Aku tak peduli.

“Hutang Pak Andri sebanyak lima puluh enam juta, Bu.”

“Hutangnya dua puluh juta,”

“Jaminannya bernilai tiga puluh juta,”

“Hutangnya lima belas juta,”

Kutelepon saudara-saudara kami, mereka mengaku pernah meminjamkan uang pada suamiku. Maka kudatangi mereka satu-satu.

“Cuma dua juta,”

“Cuma lima juta.”

“Tidak banyak kok, Rin. Cuma sepuluh juta.”

Ketika semua kata hutang dan semua kata cuma telah habis kudengar, aku memutuskan untuk menelepon orangtuaku, ingin meminta maaf karena telah kuhabiskan uang mereka di pertengahan perjalanan rumah tanggaku.

“Ibu, ini Rina. Ibu baik-baik saja?”

“Mbak Rina!” Suara cempreng. Kupikir tadi ibuku yang mengangkat. Ternyata Rani, adik kandungku, “Apa kabarmu, Mbak?”

“Baik, Ran. Kamu sendiri apa kabar? Oh ya, Ibu ada?”

“Baik selalu, dong, Mbak. Ibu sama Bapak lagi ke kondangan, Mbak. Ada tetangga kawinan.”

“Oh.”

“Itu, lho, Mbak. Kak Ridwan yang selalu mengejar-ngejar Mbak.”

“Oh. Nikah sama siapa dia?”

“Mbak Rina juga. Anaknya Pak Susilo. Heran kenapa dia masih juga menggebu-gebu cari jodoh yang namanya sama.”

“Kebetulan saja mungkin, Ran. Sebentar kalau Bapak sama Ibu pulang, bilang kalau Mbak telepon, ya, Ran.”

“Oke, Mbak. Jaga diri, ya.” **

Dari kejauhan, warna yang melingkupi sekeliling rumahku begitu kelam. Seperti kondisi hati orang-orang yang menempatinya.

“Mama!” Teriakan Dita menyambutku. Dia memelukku erat. Boneka barbie di tangan kirinya.

“Dita lapar, Ma.” Dia menengadah menatapku. Aku tersenyum, “Mama masak nasi goreng udang, ya, buat Dita?”

Aku mengangguk.

“Hore!” Dia berteriak.

Di ruang tamu, Dito sedang mengelap muntahan ayahnya.

“Dito, Dita.. mandi dulu. Sudah sore. Mama akan masak makan malam spesial buat kalian.”

“Asyik!” Mereka berlarian ke kamar masing-masing.

“Mandi yang bersih!”

“Okee, Maa!” teriakan mereka sama nyaringnya.

Aku melangkah ke arah suamiku. Duduk di sisinya, kugenggam tangannya.

“Semua hutang Papa sudah Mama lunasi.”

Kali pertama dia menatapku sungguh-sungguh selama seminggu ini, “Ma..”

Tidak ada kata-kata lagi keluar setelah itu.

“Papa selalu bilang, seorang seniman akan selalu berbeda dari orang-orang kebanyakan.”

Aku ingat hari ketika kami berdebat tentang itu. Apa yang membedakan seorang seniman dengan orang-orang lainnya? Apakah dandanannya?

“Mama lebih suka melihat Papa jadi berbeda, daripada menjadi sama dengan orang-orang.” Kulanjutkan. Tak kumengerti logika apa yang ada di balik kalimatku.

“Bukankah lebih menyenangkan untuk menjadi diri sendiri? Lebih nyaman untuk tidak ikut-ikutan kata orang. Mama hanya ingin Papa terus hidup. Menjadi diri Papa.”

Sudah cukup hanya setahun saja. Jangan lebih. Dua belas bulan dia pulang dan pergi tanpa nafas kehidupan yang sama seperti dulu. Membawa spanduk, stiker-stiker, menenteng laptop yang di dalamnya penuh presentasi, makalah-makalah, uraian-uraian, desain logo partai, juga foto untuk dipampang menjadi baleho.

Dia masih menatapku, seolah tak percaya.

“Setiap manusia pernah melakukan kesalahan.” Kujawab, lalu beranjak dari dudukku, “Mau bantu Mama masak nasi goreng udang seperti biasa?”

Senyumku dibalas oleh senyumnya. Dikecupnya dahiku dan kami berpelukan, “Papa mandi dulu, Ma.”

Kusadari untuk sekian kali, setiap hal membutuhkan pengorbanan.

Ketika dia berjalan menuju kamar mandi, layar ponselku berkedip-kedip.

Panggilan dari Rumah.

*

Teruntuk seseorang yang sangat spesial.

Bukan Mama di surga
Bukan Papa di dunia

(Karena Mama dan Papa selamanya spesial)

Maaf atas tempo yang dipercepat.

Di CLX7,
10/04/2009
11:07:56 pagi


Cetak Halaman Ini

Labels: ,


Selengkapnya…  
Dikirim oleh Panah Hujan, inc. pada 12:49 AM | Permalink | 2 komentar
Thursday, April 9, 2009
* Coretan - Naskah Novel
Bingung dengan gaya bahasanya. Genre-nya sudah klop, cuma pusing sama risetnya. Ada yang mau bantu ide? :D



[Mirna]

Sungguh aku ingin lebih bersantai lagi untuk menghadapi hidup. Temanku bilang, itu mudah saja. Caranya? Bisa pilih, antara menjadi backpacker di kota sendiri, negeri sendiri, atau negeri orang.

Maksud backpacker? Dia bilang, agar aku sasarkan diriku di kerumunan. Menggendong tas yang kelihatannya kosong, yang itu artinya tentu tidak benar-benar kosong. Bagiku, jalan-jalan selalu identik dengan barang-barang bawaan yang berat-berat, yang selalu memerlukan minimal seorang doorman dan seorang officeboy untuk membantuku membawa barang-barangku ke dalam kamar-kamar hotel (aku bahkan tidak pernah pergi seorang diri).

Hell, tapi dia menantangku. Besoknya, seolah serius untuk membuatku menjadi gelandangan, pagi-pagi buta dia menggedor pintu kamar apartemenku. Tak tahu malu, dia masuk begitu saja dan mengobrak-abrik lemariku. Berceloteh tak waras tentang betapa aku ternyata tak memiliki sebijipun tas ransel, tentang merek-merek tasku yang terlalu feminin, juga stilleto, alat-alat make-up yang memenuhi tas tanganku (yang dia kutuk mereknya saat itu juga), tentang segalanya.

Maka dia bilang, “Pantas saja elu nggak bisa santai,” Kalimat tanpa emosi yang jika diberi intonasi olehnya akan mudah membuat siapa saja beremosi, “tiap detik, tiap sejuta sel muka yang berdiferensiasi, harus ditaburi bedak, diolesi perona, dilapisi pelembab. Kurang kerjaan apa lagi?” Langsung kukutuk kata-katanya dalam hati.

“Gue ke kamar dulu, gue ambil ransel gue, lebih hemat kalau elu pakai punya gue,” dia berkata dan lalu pergi. Ke kamarnya – ke sebuah tempat mirip neraka. Bagaimana tidak, space di kamarnya dipenuhi buku yang bertingkat-tingkat tingginya tersusun pada rak kayu jati yang ayahnya pesankan khusus untuk putrinya yang kutu buku itu. Sewaktu aku ikut mampir ke kampungnya pada libur semester lalu, aku sungguh tercengang melihat isi rumah turun-temurun Sembiring itu. Di setiap sudutnya berisi tumpukan buku (kalau tak boleh kusebut deretan), mungkin kecuali satu sempat saja yang dibiarkan kosong: WC, toilet, kamar mandi, you named it.

Tentang ini, sempat kutanya, entah kurang kreatif apalagi arsitek keluarga itu merancang celah-celah kosong untuk ditempati buku-buku. Namun Sembiring superjunior temanku yang baik nan setia itu bilang, buku adalah benda suci, tidak pantas ditempatkan di tempat manusia biasa buang hajat pagi-pagi. Kuanggukkan kepalaku, setuju, walau sungguh aku tak pernah peduli tetek-bengek apapun tentang buku-buku.

“Tas ini cocok,” dia memamerkan. Langsung kukenali sebagai tas laptop. Kugelengkan kepalaku tidak percaya. Modelnya kuno, mereknya bukan yang kuhafal di luar kepala, warnanya gelap, dan sudah pasti bukan tipeku, “ransel terbaik gue, jangan sampai rusak, ya.”

Tragis. Tak bisa kubayangkan aku harus menggendong ransel itu ke mana-mana. “Apa lagi?” Pasrah kutanya.

“Gue sudah buat perjanjian kontrak tertulis, sih.. Elu lihat-lihat dulu, kali, ya?” dia mengarahkan kertas-kertas bermaterai kepadaku. Gila.

“Anda setuju?” Dia bertanya.

Kontan aku berteriak ketika kubaca pasal-pasal yang dicantumkannya di dalam perjanjian.

1. Satu ransel. Tiga lapis baju tipis. Sebuah jaket. Satu celana jeans. Sebanyak apapun underwear.

Katanya, itu morfologi wajibku. Let’s count. Tiga kaos, sebiji jaket, celana jeans (yang bahkan tak kumiliki), sebanyak apapun underwear, otaknya masih logis.

2. NO ATM, NO HOTEL.

Kutarik nafasku. Kuulang lagi perjanjiannya. No ATM, no hotel.

3.Bandung – Bogor – Jogja – Solo – Surabaya – Bali - Jakarta (via bus, dan bukan pesawat) - Kalimantan (via perjalanan laut) - Sumatera (seberang laut lagi).

Kuhafal rutenya. Seolah ada peta di dalam kepalaku meski Geografiku tak pernah lebih tinggi dari 65, standar rata-rata murid-murid, dan tetap saja, rute itu masih sama gilanya seperti jikapun dia suruh aku mengambil rute jalan sutra dalam Sejarah.

“Elu nggak waras, miring.” Lirih, itu keluar dari mulutku.

“Baru sepuluh detik.., elu belum baca pasal-pasal yang lain. Lanjutin dulu, dong, Non..”

4. Perjalanan enam bulan penuh. Cuti kuliah.

Gila! Hell no!

Kulempar kontrak perjanjian itu ke atas meja. Ini jauh dari dugaanku sebelumnya.

“Oke girl, signing here.” Dia menunjuk ruang kosong di atas nama terangku.

“You sign,” kujawab, “Ini bukan santai. Ini cari mati.”

Dia tersenyum. “Santai dalam hidup, adalah dengan menghargai waktu. Dengan jalan-jalan menyenangkan seperti ini, elu akan jadi benar-benar santai.”

Dahiku berkerut. Entah perlakuan berbeda apa yang Tuhan berikan ketika menciptakan makhluk satu ini.

“Accompany me,” kujawab, “I dare you.”

Dia diam.

“So?” aku berharap dia mengalah. Dan aku menang.

“Berarti rutenya akan gue perpanjang.”

Aku melotot tak percaya. Dia tertawa dan memeluk bahuku, “Begini, Mirna, gue pikir ternyata gue juga butuh santai. Sudah hampir empat semester ini otak gue cuma dipenuhi kuliah, kuliah, dan kuliah. IP gue semester lalu cuma tiga koma tujuh empat,” dia berdeham dulu sebelum melanjutkan kalimatnya, seolah dia ingin menekankan: bayangkan-betapa-bodohnya! “masih kurang nol koma nol satu lagi untuk cumlaude. Dan gue semingguan stres karena itu. Bisa elu bayangin betapa nggak santainya gue?” dia betanya retorik (dan pasti retorik, karena orang dengan IP cuma-cuma sepertiku mana mampu mengomentari nasib mujurnya itu).

“Thus Mirna, I do really need refreshing!” dia melanjutkan, berteriak histeris, memelukku lebih erat.

Kutarik nafasku. Dalam hembusan nafasku, kuakui betapa gadis di hadapanku ini sangat maniak kuliah, juga maniak jalan-jalan, maniak dalam segala perkara hidup. Untungnya pagi buta ini, dia bertobat, yang kuharap semoga tidak sungguhan; aku belum mau diajaknya untuk bertobat.

“Jadi kita mulai dari rapi-rapi barang elu, titip laptop di Sammy, pokoknya semua barang elektronik kita harus ada yang jaga.” dia bangkit dari duduknya di ranjangku, lalu melangkah mengelilingi kamar, membuka-buka lemari, juga rak-rak, dan mengacak semua barang-barangku.

Berteriak marah-marah karena sampai akhir pun tak dia temukan juga sebiji celana jeans di dalam lemariku, “Gue nggak bisa bayangin di zaman mode seperti ini, cewek yang mengaku-ngaku modis bahkan nggak punya sebijipun celana jeans?”

Aku mendelik.

“Okelah, oke, Miss Renaisang. Untung ukuran kita sama. Pakai celana jeans gue dulu, deh. Masalah atasan, lebih baik elu pilih tiga kaos warna gelap, karena kaos kita akan jarang dicuci.”

Dia masih berceloteh bahkan ketika aku membalas satu per satu sms yang masuk ke ponselku. Niatku sekalian untuk berpamitan pada orang-orang.

“Siang ini kita naik busway, turun di Gambir. Kita naik kereta sampai ke Bandung.”

“Kereta? Kenapa bukan travel?”

“Travel beroda empat, Darling. Sama seperti mobil yang disopiri Sammy tiap hari bolak-balik apartemen ke kampus, kampus ke apartemen. Nggak variatif.”

“Kalau begitu, kenapa nggak kita suruh Sammy antar sampai ke Gambir?”

“Mirna, gue nggak mau ada acara tangis-tangisan opera sabun. Dan gue lupa memperingatkan, tolong baca pasal-pasal selanjutnya. Perjalanan elu ini rahasia. Oh, ya, dan kalaupun gue ikut-ikutan santai jalan-jalan, pasal-pasal itu sama sekali tidak akan gue revisi.”

Sempurna. Semoga dia ingat untuk memperhitungkan jumlah kenalan yang dia miliki di tiap kota yang akan dia kunjungi. Terutama Kalimantan.

“Sudah gue pastikan gue punya kenalan di tiap tempat,”

Rupanya selain berniat menjadi asisten, dia juga merangkap menjadi pembaca pikiranku.

“Cara?”

“Seminar, lomba karya tulis ilmiah, kenalan sana-sini, olimpiade ini-itu, bicarain busuknya pemerintah.., tersering, internet. Biasa. Bi-eS-Vi-Si. Browsing, surfing, visitting, chatting.”

Aku terpaku di tempatku.

“Oke, oke.. Sip, sip? Siang ini ya, Sayang.. Siap-siap!” Lalu dia melempar ranselnya ke arahku.

Dia pergi. Kupelototi laptopku. Sangat disayangkan, yahoo messenger-ku sepi penyapa.

*

At CLX7,
09/04/2009
02:43:04 a.m. (WIB)

Cetak Halaman Ini

Labels:


Selengkapnya…  
Dikirim oleh Panah Hujan, inc. pada 2:34 AM | Permalink | 1 komentar
Monday, April 6, 2009
* Cerpen - Kompilasi Tiga Kehilangan
****(())****(())****(())****(())****(())****
Author’s note:

tiga cerpen teruntuk tiga kehilangan
tentang Ty, Clara, Ar, dan Yara

inspirasi hadir dari My Immortal.

# menerima segala kritikan dan perdebatan.
# jika sempat, juga berusaha merevisi setiap koreksi.
****(())****(())****(())****(())****(())****


(I)

Jadi ceritanya dia sama sekali tidak lapar. Seharian sejak dari rumahnya hingga dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan di tengah hari, dia mengunci mulutnya untuk tidak mengatakan juga tidak memakan apapun.

Siangnya hujan turun begitu lebat. Dia berjalan tanpa payung. Arus air yang menuju ke bawah berlawanan dengan langkahnya yang menanjak ke atas. Ditendangnya aliran air itu. Berkecipratan.

Ingin sekali dia berjalan dengan memejamkan matanya atau merentangkan tangan seperti yang biasa dia imajinasikan sejak kecil.

Ada sesuatu pada hujan yang selalu merenggut orang-orang yang dia kasihi. Sesuatu tentang hujan yang selalu menyita kenangan-kenangannya. Hingga setiap hujan tiba, dia kembali teringat akan orang-orang yang dia kasihi juga kenangan-kenangan yang sekian lama disita oleh waktu. Hingga dia selalu ingin hujan tak pernah berhenti dan dia bisa terus merentangkan tangannya di sepanjang perjalanan pulang.

Sama seperti hari dimana ibunya meninggal, hujan turun begitu lebat. Sama seperti saat itu, dia menyusuri jalan dengan merentangkan tangan, sejak keluar dari kamar mayat rumah sakit hingga ke rumahnya. Seperti itulah kini dia mengulangnya.

Dia sampai di gerbang rumahnya. Tempat yang tanpa siapa-siapa karena kini hanya tinggal dia yang mengisi ruangan-ruangan itu. Rumah yang tanpa denyut, tanpa nafas. Kosong.

Dibukanya pintu rumahnya. Tidak ditutupnya lagi. Tidak dipedulikannya keadaan rumahnya yang begitu berantakan. Dia berjalan ke arah kamar mandi, menyalakan keran air. Sementara air memenuhi bathtub-nya, dia mengambil semua berkas-berkas di lemarinya. Ijazah-ijazahnya sejak SD hingga dia lulus dengan gelar magister.

Dibawanya semua berkas itu turut bersamanya ke arah dapur. Dinyalakannya kompor gas di dapurnya lalu dibuangnya satu per satu semua berkasnya ke atas api. Tidak dimatikannya kompor gasnya. Lalu dia berjalan ke arah kamar mandi. Bathtub-nya sudah dipenuhi air. Dituangnya sebotol cairan pembersih lantai kamar mandinya ke dalam bathtub.

Dia melangkah keluar lagi, menuju ke arah kamarnya. Mengambil kertas dan menuliskan sesuatu di atasnya. Setelah beberapa saat, dimasukannya kertas itu ke dalam amplop.

Teruntuk Clara.

Ditulisnya di sudut kanan atas permukaan amplop. Kemudian diletakannya amplop itu di atas meja bacanya. Setelahnya dia membuka lacinya dan lalu mengambil sebuah pisau lipat dari dalamnya, dibawanya menuju ke kamar mandi.

*

“Ty?” Seorang gadis memanggil-manggil dari arah gerbang yang tergembok. Dilihatnya pintu rumah Ty tidak terkunci. Terasa janggal karena tidak biasanya Ty lupa mengunci pintu rumah jika dia sudah menggembok pagar.

“Mungkin dia lagi tidur?” Pria di sebelahnya berpendapat. Dia menoleh dengan enggan lalu menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Ty tertidur dan lupa mengunci pintu.

“Kecurigaanmu berlebihan, Clar.” Pria itu melanjutkan.

“Kartu-kartuku nggak pernah salah, Ar,” Clara menjawab.

“Aku harap kali ini salah.”

Ditariknya nafasnya, “Aku juga.”

Tapi asap muncul dari arah belakang rumah. Bagian belakang rumah di hadapan mereka dilalap api yang mengganas.

*

Mayat Ty memerah di dalam bathtub. Cairan yang entah apa menggumpal-gumpal dan terapung di atas air. Aria memeluk Clara. Gadis itu menangis di bahu Aria.

Ketika mayat Ty diangkat, Clara berteriak. Aria refleks menghalangi penglihatan Clara dengan tangan kanannya. Sementara dia melihat tubuh Ty yang membeku. Bagian bawah tubuh jenazah Ty berwarna merah keunguan. Darahnya mengendap searah dengan arah gravitasi bumi, tanda bahwa jantung Ty sudah tidak lagi berdetak, sudah tidak lagi memompa darah.

“Itu mayat, Ar?” Clara bertanya terbata.

“Itu mayat.” Aria menarik Clara semakin erat ke dalam pelukannya, “Itu Ty.”

*

Clara,

Kamu tahu betapa lelahnya aku menjalani hidupku. Tanpa siapa-siapa menemaniku di sisiku.

Aku tahu kamu mungkin tidak akan pernah menyadari kelelahanku menyimpan jiwa seorang anak-anak di dalam diriku. Ketakutanku melewati jalan-jalan baru. Dan aku terlalu takut untuk terus hidup.

Sendiri dan tanpa arah tujuan. Bisakah kamu bayangkan rasanya hidup seperti itu, Clar?


Air matanya terjatuh di atas kertas itu. Aria membelai rambut Clara dan lalu mengecup ubun-ubunnya, “Semuanya akan baik-baik saja.”

*

Pagi itu musik mengalun di telinganya.

I'm so tired of being here

Saat lagu dimulai, di bayangannya, ada hari dimana Ty menangis di hadapan nisan ibunya dan Clara menemaninya di sisinya. Mereka terpaku bahkan hingga hujan turun dan menggenangi tempat Clara berdiri, sementara Ty tetap bersimpuh di sisi nisan. Setia menangis di sana.

Suppressed by all my childish fears


Hari dimana Ty lulus sarjana dengan cumlaude namun tak ada ibunya menemaninya. Tentang cerita Ty bahwa dia terlalu takut untuk mewujudkan mimpinya sendiri. Namun hari itu dia mengalaminya. Untuk harus merasa bahagia meski baru di hari sebelumnya dia kehilangan ibunya.

And if you have to leave, I wish that you would just leave
Cause your presence still lingers here
And it won't leave me alone

Saat-saat ketika mereka bersama. Melempar bantal dan meramal dengan kartu tarot. Berjalan-jalan di pantai, tiduran di atas bukit di dekat pantai lalu bergantian memandangi awan yang berarakan dan ombak yang berkejaran. Menunjuk-nunjuk sesuatu yang entah apa di langit dan di lingkar laut. Membayangkan persahabatan mereka selama bertahun-tahun. Sesuatu yang hilang dan membuatnya merasa sendiri.

These wounds won't seem to heal
This pain is just too real
There's just too much that time cannot erase


Luka yang tak akan tersembuhkan. Cakra di dalam kepalanya berputar-putar ketika jenazah Ty yang dibungkus kain kafan diangkat lalu disemayamkan di dalam liang kuburan. Diam-diam dia berharap jenazah itu akan bangkit. Akan bernafas dan meneriakkan namanya.

When you cried I'd wipe away all of your tears
When you'd scream I'd fight away all of your fears
And I held your hand through all of these years
But you still have all of me


Dulu ada Ty yang selalu menghapus tangisnya dan mengatakan, bahwa hidup adalah untuk dihadapi dengan berani. Bahwa ada tangan Ty yang akan selalu menggenggam tangannya. Bahwa ada seseorang yang akan terus dia miliki sampai kapanpun.

You used to captivate me by your resonating light
Now I'm bound by the life you left behind
Your face it haunts my once pleasant dreams
Your voice it chased away all the sanity in me

Dia teringat karakter Ty. Keceriaannya, semangat itu, semangat yang tak pernah hilang dari matanya. Aura yang berbeda dan bersinar. Suaranya yang berapi-api. Berdemo dan berorasi di hadapan umum. Menyuarakan semangat, menyatukan pendapat-pendapat. Seseorang yang takkan dengan mudahnya tergantikan.

These wounds won't seem to heal
This pain is just too real
There's just too much that time cannot erase


Dia mengingat segalanya, juga tentang lagu yang sedang didengarnya. Lagu yang mendekatkan dia dan Ty. Bahkan di hari ketika mereka terpisah. Hari dimana Ty dikuburkan dan dia harus menyaksikannya dengan mata kepalanya.

When you cried I'd wipe away all of your tears
When you'd scream I'd fight away all of your fears
And I held your hand through all of these years
But you still have all of me

Aria di sisinya memeluknya. Tapi seolah dia tak pernah ditemani siapapun lagi setelah hari kepergian Ty ke alam berbeda, kehampaan menamai ruang di dalam hatinya.

I tried so hard to tell myself that your gone,
But though you're still with me, I've been all alone all along


Setengah mati dia mencoba menyadari. Bahwa Ty telah mati.

*

Kartu-kartu. Ditebarnya empat-empat. Selalu tentang kematian. Bahwa tak hanya Ty yang mati. Bahwa akan ada lima orang lagi yang mati. Bahkan lebih. Disobeknya semua kartunya.

Cangkir itu. Biji kopi di dalamnya, juga tentang kematian. Dilemparnya cangkir-cangkirnya ke tembok.

Dia benci dunianya mulai bercerita tentang kematian.

Clara menangis di pojok ruang kamarnya. Kepalanya menempel di lututnya. Sudah dimatikannya semua lampu di rumahnya, termasuk di dalam kamarnya. Gelap tanpa cahaya.

Sudah dimatikannya ponselnya dan dibantingnya, kemudian dilemparnya laptopnya – yang lalu pecah tercerai berai. Dia benci kenangan-kenangan itu.

“Clara..” Seseorang berteriak-teriak memanggilnya dari arah luar rumahnya, “Clara”

“Clara..”

“Clara..”

Entah mengapa dia jadi membenci namanya sendiri.

*

Aria mendobrak pintu kamar Clara. Didapatinya busa keluar dari mulut kekasihnya itu. Di sebelahnya berdiri sebotol obat nyamuk. Dia berjalan menuju tubuh Clara yang bersandar di tembok. Bagian-bagian laptop Clara yang tercerai berai dan ponsel dengan layar yang pecah. Sepatu Aria menginjak pecahan cangkir. Kartu-kartu yang sobek. Aria yakin, Clara baru saja meramal sesuatu yang selama ini mereka takutkan.

“Clara..”

Dia mencoba memanggil seseorang yang pasti telah mati. Dia memanggil nama jenazah kekasihnya, berulang-ulang.

# Bereksperimen,
23/03/2009
13:19:52 WIB

****(())****(())****(())****(())****(())****

(II)

Tuhan menciptakan langit-langit tempat kita bisa menyimpan hal-hal yang berarti bagi kita. Hingga pada saatnya, kau akan dengan mudah menemukan masa lalu kita di bintang-bintang.

Tak ada yang akan hilang dari hidup kita, Yara.


Dia pernah berkata begitu. Sewaktu aku dengan konyol menangis di bahunya – tentang kehilangan-kehilangan yang bergantian hadir di dalam hari-hariku. Dia serius berkata begitu – dengan sorot mata yang sama cemerlangnya seperti kilat di waktu hujan.

Dulu, sewaktu kami bergenggaman tangan ketika tersesat dalam perjalanan.

Dan dini hari ini, langit-langit membiaskan kata-katanya. Memantulkannya lewat bintang-bintang ke dalam bola mataku.

Aku duduk di atas ayunan di bawah pohon beringin besar. Puluhan kompleks-kompleks berjajaran mengitariku. Rumput basah bekas hujan tadi malam. Sunyi dan gelap. Tapi sungguh aku tak tahu harus berada di tempat mana lagi selain di situ. Pada ayunan tempat kulihat dia biasa duduk terpaku.

Pada siang di suatu hari, dia berayun tanpa kesetimbangan di ayunan yang kini kududuki. Bagian bawah matanya kehitaman. Rambutnya dipelintir tak rata, sebagiannya lagi botak entah oleh sebab apa. Dia tidak berkata-kata sewaktu aku berdiri di hadapannya. Dia hanya memandangiku – lekat sampai saraf mata.

Apa yang dia bisa harapkan dariku?

*

Sewaktu kecil, dia selalu bilang bahwa dia adalah malaikat yang diutus Tuhan. Untuk menemuiku – pada satu titik di masa lalu. Untuk melindungiku – dan membuatku aman.

Tanpa dia sadari, juga untuk membuatku jatuh cinta.

Sewaktu wajahnya disiram air panas oleh Ibunya, kataku, malaikat tak selamanya rupawan. Tapi dia bilang, mungkin dia tak pernah diutus Tuhan.

Juga tak pernah diutus Tuhan untuk bisa kucintai.

Entah permainan apa yang disuguhkan sang kala – oh, dewa waktu, kepada kami. Hingga kini, aku bahkan tak berhak lagi berbicara dengannya.

Dan hanya bisa menatapinya tertidur dari lubang di kayu jendela. Menatapi tali mengikat kedua tangannya pada tiang ranjang dan borgol menahan kakinya untuk tetap diam. Mulutnya diikat. Jikapun dia bangun, yang kulihat hanya kepalanya yang mencoba menengadah dan menatap jendela kayu yang berlubang – tempatku memata-matainya. Sungguh aku ingin bertanya kepada Tuhan, benarkah malaikat perlu dibungkam mulutnya untuk tidak bercerita tentang rahasia surga?

*

Di pagi hari, kupastikan dia sudah bangun dan duduk di tepi kaki ranjangnya, mengamatinya memecahkan piring dan gelas. Padanya, pecahan kaca dengan sayuran dan nasi. Padaku, retakan hati dan cinta masa lalu.

Beberapa saat kemudian, perawat akan merapikan kamarnya. Ritus itu akan diikuti oleh teriakan-teriakannya dan segerombolan perawat kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk memberinya suntikan. Mengikat tangannya lagi, memborgol kakinya, dan membiarkannya berteriak-teriak untuk sekian waktu sampai akhirnya tertidur pulas.

Malamnya, dia akan bangun dan menatapi jendela kayu yang berlubang tempatku menontonnya sembunyi-sembunyi.

Biasanya aku akan masuk menemuinya di saat dia tertidur lelap di malam hari, duduk menemaninya di sisi ranjang. Tapi kini, aku duduk di luar ruangan. Di luar kompleks dengan sebutan tokoh-tokoh pewayangan. Dia di kompleks Bisma. Ada satu sal laki-laki dan satu sal wanita di sana, yang masing-masingnya diisi maksimal oleh lima belas orang, juga dua kamar VIP, dan satu kamar VVIP, tempatnya dipenjara.

Aku yang membayar.

Tapi setelah semuanya, akan sadarkah dia? Akan kembalikah?

*

Ada hari-hari saat dia merasa tenang dan duduk di ayunan. Seperti yang kini kulakukan. Ada saat-saat dimana aku ingin sekali memeluknya, mengecup dahinya seperti biasa. Seperti detik-detik ketika kami masih bersama. Meski aku selamanya hanya bisa menjadi sekedar sahabat.

Tapi apa dayaku, kami sudah berbeda wujud. Aku bukanlah seseorang baginya. Aku hanya ada. Menatapinya duduk di ayunan itu, berayun tanpa kesetimbangan. Tanpa kesadaran. Begitu lemah.

Kakinya memijak tanah dan kemudian mengayun di udara. Seperti langkahnya yang kadang terhenti, tertatih, namun terus mencoba bangkit. Berjalan sebagai seseorang yang tegar. Yang walau kini tidak lagi.

Dia tidak akan pernah mengerti bagaimana caranya rasa kehilangan di dalam diriku mewujudkan dirinya.

Untuk tiap hari melihat dia di hadapanku tanpa pernah menyadari bahwa aku selalu ada bersamanya. Menantinya merasakan keberadaanku. Sesuatu yang hanya ada. Tak berwujud apapun baginya.

Betapa aku baru menyadari bahwa sangat sulit untuk melindunginya dalam keberadaanku. Pada gelombang kasih yang bahkan tak kumengerti. Aku hanya ada, mengetahui bahwa dia ada di hadapanku. Bahwa aku selalu mengikutinya. Bahwa aku memang ada. Tapi tak pernah ada baginya.

Apakah aku boleh bertanya padaMu, Tuhan. Akukah yang sesungguhnya Kau utus untuk jadi malaikatnya – malaikat Aria?

*





Waktu berlalu. Dia semakin rapuh. Jatuh dalam keterpurukan.

Siapa yang akan membelamu dan mengatakanmu waras? Mempercayaimu, bahwa kamu tak pernah menjadi seseorang yang gila. Bahwa kamu baik-baik saja, kamu normal, dan kamu tidak pantas menghuni sal rumah sakit jiwa?

Apa itu yang dia tanyakan setiap melihatku berdiri di hadapannya?

Aku tak pernah ada lagi. Dia tak pernah melihatku lagi. Tak pernah melihatku ada. Seolah setelah dia menjalani shock treatment, aku tak sungguh-sungguh lagi berwujud sebagai seorang manusia. Seolah, bagi dunia, aku ada. Namun, baginya, aku tak pernah ada.

Seperti apakah sesungguhnya pengertian esensi dan eksistensi? Dari manakah aku seharusnya memandang dunia jika aku ingin memandang dengan cara yang sama sepertinya?

Perlukah aku mendaki tebing yang terjal untuk berdiri di puncak yang sama dengannya? Seperti dulu ketika dia menjadi anak keluarga kaya raya yang tak kurang sesuatu apa. Perlukah aku melihat dunia seperti caranya supaya aku bisa cukup layak mencintainya – supaya dia cukup bangga mencintaiku?

Supaya aku bisa bilang pada orang-orang bahwa dia, cinta pertamaku, tak mungkin gila. Bahwa dia hanya terobsesi mengejar cinta pertamanya. Bahwa dia memang sejak dulu selalu mendapatkan apa yang dia inginkan – termasuk cinta dan gadis pujaan tercantik di kampus? Bahwa dia terobsesi pada apa yang Maslow bilang sebagai puncak. Pada eksistensi – aktualisasi. Pada penghargaan.

Perlukah dia memeroleh semua itu untuk membuatnya bisa, sedikitnya, mencintai dirinya sendiri?

*

Ar,

Aku mencintaimu sewaktu kamu menjadi dirimu yang sederhana. Yang tak perlu kulukiskan dengan kosa kata mewah dan hanya bisa kumengerti jika aku memiliki sebuah kamus.

Aku mencintaimu saat kamu tak menyadarinya. Saat kamu tertidur di sisiku, menemaniku sampai pagi di lantai kamarmu. Saat kamu berdiri di belakangku, tanpa menatapku menangis kehilanganmu yang mengaku telah mencintai orang lain dan melihat matahari terbenam. Saat kamu berjalan tanpa payung di hadapanku di bawah hujan, bersiul dan menyanyikan laguku.

Aku mencintai persahabatan kita.

Aku mencintaimu saat kamu menyanyikan lagu dan bukan memainkan gitar.

Aku mencintaimu saat kamu bercerita tentang dirimu dan bukan tentang Newton atau Einstein. Atau Clara atau Ty.

Aku mencintaimu saat kamu menemaniku berjalan kaki dan bukan berjalan dengan mobil.

Aku mencintaimu saat kamu menontonku mendongeng diam-diam.

Aku sudah puas dengan hanya mencintaimu yang hanya akan tersenyum. Yang hanya akan bilang, bahwa kita akan berjalan bersisian bersama.

Di saat bumi berotasi dan berevolusi semakin cepat, kita tetap berpegangan. Di saat tak seorang pun kita kenal, di saat tak satu tempat pun kita ketahui, aku akan menyasarkan diriku bersamamu. Sejauh apapun kamu membawaku, aku akan tetap mencintaimu.

Aku hanya ingin mendengar darimu, seberapa buruknya aku serta masa laluku dan seberapa buruknya kamu serta masa depanmu, tidak perlu kita melihat orang lain untuk bisa mengerti satu sama lain. Aku hanya ingin aman di dalam selimut kata-katamu.

Tidak perlu kita takut atas apa kata orang tentang diri kita. Di saat aku benar-benar sendiri, aku hanya membutuhkan seseorang berkata begitu padaku. Bisakah kamu melakukannya seperti saat-saat sebelumnya?

Karena aku hanya mencintaimu. Aku hanya ingin mencintaimu. Dan aku memang hanya bisa mencintaimu.

Ar,

Bisakah kamu kembali seperti dulu lagi? Bisakah aku tak menggenggam tangan orang lain supaya aku merasa aman?

Meski aku harus melihat tanganmu tak kunjung melepas genggamanmu di tangan Clara. Bahkan hingga kematiannya.


*

# Kehilangan seseorang yang mengganti nomor ponselnya.
Masihkah dia menunggu – mewujudkan bola-bola mimpinya?
Akan menjadi orang lainkah dia?

Lunes, 06 de Abril de 2009
10:54:57 p.m.
****(())****(())****(())****(())****(())****


(III)

Sudah lama dia tak pernah punya doa lagi pada Tuhan. Dan ketika gadis yang baru semalam dikenalnya – dan membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama – mengajaknya pergi ke Pura tempat umat mereka biasa bersembahyang, dia sungguh lupa bagaimana cara untuk menyapa Tuhannya.

Hampir lima belas tahun dia tak pernah lagi duduk bersila seperti saat itu. Tak pernah mendampingi seorang gadis duduk bersimpuh di sebelahnya. Melupakan cara memanggil dan tata krama berbicara dengan seorang pria berjanggut putih yang berpakaian serba putih dan menggunakan aksesoris persembahyangan suci seorang Brahmana di sekujur tubuhnya. Pria itu membawa lonceng berwarna keemasan di tangannya dan membunyikannya. Beberapa wanita berkebaya menyanyikan tembang-tembang asing di sekelilingnya.

Dia lupa nama-nama bunga yang digunakan sebagai banten, dia lupa nama tarian yang ditarikan gadis-gadis remaja sebelum acara persembahyangan dilangsungkan. Namun ketika gadis di sisinya tersenyum padanya dan meremas tangannya, dia melupakan semua kealpaannya selama ini.

“Bagaimana caranya berdoa? Mantram apa yang harus kusebut?” Dia sungguh ingin bertanya begitu pada gadisnya ketika mata mereka bertemu pandang di satu kesempatan, tapi diurungkannya. Malu.

Maka dia hanya bisa mengamati gamelan dimainkan oleh para pemuda, mengamati liak-liuk pinggang para penari, juga menikmati gerak mata gadis-gadis itu. Maka baginya bertandang ke Pura pagi itu, adalah semata-mata untuk memeroleh hiburan.

*

Lima belas tahun dia pergi dari kampung halamannya dan kini kembali lagi berkat dipengaruhi bujuk rayu kekasih barunya. Betapa sudah hampir lima belas tahun juga dia hanya mengenal gadis-gadis bermulut manis yang tidak religius.

Dan kini, semuanya berubah. Pertanyaan-pertanyaan baru melingkupi ruang pikirnya.

Mengenai orang-orang sepertinya – yang kehilangan doa untuk dipanjatkan, yang kehilangan permintaan untuk dikabulkan, apakah lebih cukup bernilai untuk bertandang menemuiNya dibanding orang-orang yang senantiasa datang namun selalu berdoa untuk kekayaan dan untuk kehancuran hidup orang lain – atau untuk cinta yang semu, atau untuk jabatan dan nama baik yang tak pernah abadi? Apa yang sebenarnya mereka minta? Yang mereka harapkan dari hal-hal yang mereka minta? Sadarkah mereka untuk menjadi diri sendiri akan lebih nyaman ketimbang menjadi orang lain. Sadarkah mereka, bahwa meski alam semesta terlihat tak beraturan, Tuhan dengan kasat mata memiliki aturan-aturan? Masih perlukah mereka meminta?

Apakah sebenarnya arti dari doa? Apakah sebenarnya arti dari takdir – nasib, hari baik, dan hari kelahiran? Rantai-rantai yang berpisahan namun sesungguhnya bersatuan, sambung-sambungan membentuk hidupnya yang seperti saat ini. Apakah hal-hal itu saling melingkupi atau sesungguhnya berlepasan namun berkaitan oleh banyak sebab?

Apakah sebenarnya arti dari doa? Pertemuan yang khusyuk antara dia dan Tuhannya? Jika Tuhan maha tahu – maha segala, maka tidakkah dengan mudahnya Tuhan menyadari ketulusan dari umatNya ini tanpa perlu dia bertandang datang mengucap mantra?

Di mana Tuhan selama empat puluh tahun perjalanan hidupnya? Selama dia kehilangan Clara, juga Yara, juga masa lalu, juga kebersamaan. Selama dia kehilangan kekasihnya dan menjadi gila.

Apa yang dimaksud dengan Tuhan tidak bermain dadu? Bahwa Ia tidak pernah bermain peluang di Matematika? Bermain apakah Dia? Apakah monopoli atau catur? Ataukah bermain-main dengan jalan hidup ciptaanNya?

Benarkah Tuhan mengetahui segalanya namun Dia hanya menunggu – di satu titik entah di mana. Ataukah?

*

# Mencari keping jiwa yang hilang,
Akankah tertemukan?
Atau entah sudah tertemukan?
Oleh orang lain dan bukan aku?

Lunes, 06 de Abril de 2009
11:04:57 p.m.


Cetak Halaman Ini

Labels: , , , , , , , ,


Selengkapnya…  
Dikirim oleh Panah Hujan, inc. pada 9:28 PM | Permalink | 0 komentar
Friday, March 20, 2009
* Cerpen - Cinta yang Sia-Sia


(!) Dia duduk di tepi ranjangnya. Menatap kursi, meja, lemari baju, deretan lemari buku, sofa, akuarium, dan sebuah telepon bergagang kuning di dinding kamarnya. Menatapi setiap detilnya. Menatapi kamarnya berulang-ulang. Menatapi seluruh ruang apartemennya. Meja makan, wastafel, dan ruang tamu. Persis seorang autis.

Ada perasaan yang enggan dia kenali. Saat semua hal pada dirinya tertata rapi tapi dia tak tahu di mana dia meletakkan hatinya.

Ruang apartemen ini bukanlah ruang tempat dia dilahirkan juga dibesarkan. Bukan ruang yang menyimpan memorinya bersama kedua orangtuanya. Dan dia tahu, hatinya memang tidak berada di tempat itu.

Tapi bukan juga tertinggal kepada kedua orangtuanya di kampung halamannya. Melainkan pada laki-laki dan pisau. Pada caranya menusuk dan merobeki boneka-boneka beruang yang dibelinya. Pada laki-laki yang terus hadir dan terus menyakitinya.

Dia meneguk habis botol vodka yang dibelinya di swalayan kecil sebelum kembali ke kamar apartemennya. Sudah botol keempat dan hatinya masih merajuk tentang akal sehat.

Seseorang menyatakan cinta dan melamarnya tadi pagi. Menyematkan sebuah cincin berlian di jari manisnya. Menegaskan berulang-ulang bahwa dia sungguh-sungguh ingin menikahinya. Dia menata rapi dirinya pagi itu tapi dia sungguh tak tahu di mana dia pernah meletakkan hatinya. Dia mencari-carinya di mata pria di hadapannya, mungkinkah hatinya telah dia titipkan pada pria yang melamarnya?

“Ibu, besok saya pulang,” suaranya hampir tidak dikenali oleh Ibunya di seberang sana.

“Kamu sedang sakit, Nak?”

Dia membisu. “Saya akan menikah.”

Tut. Diakhirinya percakapan mereka.

*

(@) Dulu dia pernah bermimpi akan dinikahi oleh seorang pilot, dulu dia pernah bermimpi menjadi pramugari, tapi mimpi baginya akan selamanya menjadi masa lalu. Dia terlalu takut mewujudkan satu per satu bola mimpinya hingga akhirnya, dia tak pernah mewujudkan semua itu.

Pesawat lepas landas. Diperhatikannya sekitarnya. Seseorang yang kesulitan memasang sabuk pengaman. Seseorang yang berbisik dan menunjuk-nunjuk pemandangan di luar kaca pesawat kepada bocah kecil di sebelahnya – seolah begitu antusias untuk bisa memperlihatkan dunia yang sesungguhnya – tentang ketidakteraturan pola dari awan-awan putih di langit biru. Juga pada pramugari di hadapannya yang begitu anggun, yang sedang menjelaskan tata cara terjun dari pesawat ketika suatu saat pesawat oleng atau lepas kendali – dan entah apa istilah formalnya. Ritual khususnya menghadapi standar pelayanan itu hanyalah dengan memijiti dahinya.

*

(#) Bukan sesuatu yang berbeda, seharusnya. Dia baru saja tiba di tempat yang familiar baginya. Bandara tempat cinta pertamanya pernah mengecup dahinya sebelum dia pergi. Tempat mereka terakhir kali bertemu pandang. Masih diingatnya sosok itu. Pria berlesung pipit, bermata lebar. Pria berdada bidang. Kini – pria itu – telah pergi ke surga. Selamanya.

Dia berjalan di tengah lalu-lalang dan keriuhan orang-orang hanya dengan menggendong sebuah ransel. Dipindahkannya letak kacamata hitamnya ke rambutnya. Dia menuju ke keramaian dan lalu memesan taksi.

*

($) Adiknya spontan memeluknya ketika membukakan pintu. Dan dia spontan mengacak rambut adiknya itu. Diperhatikannya, tinggi gadis kecil itu sudah bertambah hampir tiga puluh senti setelah lama dia tinggalkan.

“Apa kabarmu? Aku sudah lama merindukanmu,” ujarnya penuh sayang.

“Tapi Kakak tidak pernah pulang.” Jawab adiknya.

Dia tak pernah pulang – bahkan ketika kakeknya meninggal karena serangan jantung. Ketika adiknya lulus sarjana dengan predikat sangat memuaskan. Ketika cinta pertamanya mengalami kecelakaan pesawat saat bertugas dan lalu dikremasi di tanah kelahirannya.

“Ibu di mana?” dialihkannya tatapannya dan lalu dia melangkah masuk.

“Di dapur, Kak.”

Ayahnya berjalan ke arahnya. Dipeluknya Ayahnya lalu disalaminya seperti biasa.

“Sudah lama sekali,” Ayahnya berujar. Begitu lama – namun Ayahnya tak pernah mengunjunginya ke tempatnya, “tiba-tiba pulang, kamu bawa berita apa?”

Dia hanya bisa tersenyum, “Pernikahan.”

“Berita bagus.”

*

(%) “Besok dia akan datang,” dia memelankan temponya mengunyah makanan di mulutnya, “bersama keluarganya juga beberapa kerabat dekatnya.”

Ayahnya tersenyum sumringah, “Kali kedua Ayah akan beradu mulut dengan pria pilihanmu.”

Ibu dan adik-adiknya tertawa. Suasana di meja makan yang sudah lama tak dialaminya.

“Aku ingat waktu Ayah menginterogasi pacar Kak Sita.. Waktu Ayah menginterogasi Kak Adit!” Nadia – adik bungsunya – angkat bicara. Sita juga ingat waktu Nadia memasukkan kecoa ke cangkir teh Adit sewaktu dia bertandang untuk melamar. Dan bagaimana seisi rumah menertawakan Adit yang langsung menjatuhkan cangkirnya di hadapan calon mertuanya.

“Jangan ulangi kenakalan yang sama,” Ayahnya berujar, “kalau kamu nggak mau Ayah jahili calon suamimu.”

“Iya Ayah, iya. Ampun, ampun.”

“Ciee.. siapa, tuh?” Sita menyahut nakal, “Jangan bawa ke Ayah. Bawa ke Kakak dulu. Nanti biar Kakak yang interogasi.. Tes ketahanan menghadapi adik Kakak yang bandel ini..”

“Ada, Kak.” Lidya menyahut, “Mario, namanya.”

Nadia melempar brokolinya ke piring Lidya, “Ssst.. Jangan bilang-bilang!”

Mereka serempak tertawa. Pipi Nadia merona merah. Dan Sita sadari, kejadian sepuluh tahun lalu kembali terulang. Tidak ada yang benar-benar berubah.

*

(^) “Sayang, Ayahku masih di luar negeri. Mungkin kami tidak bisa datang hari ini.” calon suaminya mengabarinya, “Titip maafku ke calon mertuaku ya, Sayang.”

Dia terhenyak. Untunglah. Ada perasaan lega memenuhi dadanya. Bahwa mungkin dia tidak benar-benar siap menikah dengan seseorang – tidak benar-benar siap dilamar oleh seseorang yang sudah hampir tujuh tahun menjalin hubungan dengannya.

“Lain waktu saja kalau begitu,” jawabnya, “Biar kujadikan kepulanganku kali ini sebagai rekreasi. Kamu baik-baik di sana?”

“Nothing wrong with me, selain merindukanmu, sangat.”

“Baguslah. Jangan selingkuh, ya.” Ujarnya bercanda.

“Pasti. Pasti selingkuh,” Pria di seberangnya tertawa, “selingkuh dengan tumpukan pekerjaanku.”

“Asal jangan terlalu diforsir selingkuhnya..”

Dan mereka tertawa. “Miss you.”

Lalu mengakhiri pembicaraan.

“So?” Nadia menatapnya lekat. Tersenyum nakal.

“So, he’s not coming,” Lidya menjawab, “jadi dandanan kita?”

Sita mengamati kedua adiknya yang kecentilan itu. Full make-up. “Kita jalan-jalan.”

“Horeeeee... asyik! Ditraktir ya, Kak!” Nadia meloncat-loncat lalu memeluknya.

Dia lebih memilih untuk bisa selalu jalan-jalan di pantai sendirian ketimbang jalan-jalan di pelaminan berduaan.

*

(&) Dia dan Adit. Mengukir nama mereka di semua tempat yang mereka kunjungi. Di pasir pantai, di pepohonan, di dek-dek kayu kano yang berjajaran, di meja restoran, di semua tempat yang mungkin dicemari oleh cinta mereka di pantai Sanur.

Kedua adiknya menggerutu gemas karena dia justru mengajaknya ke pantai ini dan bukan ke Kuta. Di sini tak ada jalanan yang penuh sesak oleh turis, tak ada restoran-restoran seafood kegemaran Nadia, tak ada jajaran toko pakaian dan aksesori di sekitarnya. Tapi selalu ada ketenangan – selalu ada ketentraman bagi Sita untuk mengenang sosok seorang Adit.

Selalu ada Adit di bale itu. Di saat mereka bermain catur dan Sita selalu kalah. Kemudian yang menang akan melemparkan sekeping logam lima ratus rupiah ke dalam lautan lalu memohon sesuatu untuk dikabulkan.

Sita tidak pernah menang dan Sita tidak pernah bisa memohon. Sita tak pernah bisa memohon kepada dewa lautan agar menjaga Adit suatu saat ketika mereka terpisah – suatu saat ketika abu jenazah Adit dibenamkan di tengah laut.

Dan betapa permohonan Adit selalu dikabulkan. Permohonan yang selalu untuknya, selalu untuk Sita dan cinta mereka berdua.

“Kakak kenapa menangis?”

“Ingat Kak Adit?”

Dia mengangguk. Selalu mengingatnya.

*

(*) “Narkoba?” ujar Adit padanya saat itu, “Kamu pakai narkoba, Sit?”

Dia menelan ludahnya. “Ayahku juga. Tapi itu dulu, Dit.”

“Bagaimana bisa? Ayahmu, kan, seorang polisi?”

Sita menggeleng, “Ayah selalu membawa pulang barang sitaannya. Kadang Ayah memakainya, kadang justru dijualnya. Ayah tidak pernah tahu, kalau aku diam-diam memerhatikannya.”

“Dan mencurinya?”

Sita mengangguk, “Hidupku berantakan, Dit. Aku nggak seperti apa yang dilihat orang.”

“Tapi ini narkoba, Sita.” Adit menukas, “Sesuatu yang tidak seharusnya kamu sentuh.”

“Seks juga bukan dunia yang seharusnya aku masuki.” Sita meradang.

“Maksudmu?”

Sita terdiam seribu bahasa. Dia hanya ingin berterus terang kepada orang yang dia cintai.

“Jelaskan padaku, Sita.” Ujar Adit kala itu, “Aku tunanganmu.”

“Aku hanya ingin jujur, Dit. Kita akan menikah. Kamu harus tahu siapa aku.”

“Maksudmu kamu pemakai dan..,” Adit menarik nafasnya, “pelacur?”

Air mata mengalir di pipi Sita. Sesuatu yang sulit dia jelaskan.

“Sebelum bertemu denganmu, iya.”

Adit menggelengkan kepalanya lalu tertawa frustasi, “Pandai sekali kamu menyimpan rahasia,” Wajahnya nampak marah, “atau justru berbohong? Apa kamu tidak ingin menikah denganku sehingga kamu membuat alasan sekonyol ini?”

“Setelah bertemu denganmu, aku melepas semua itu.” dia menjawab, “Kecuali sabu-sabu. Kadang-kadang aku masih membutuhkannya.”

“Kenapa selama ini kamu tidak pernah jujur?”

“Karena aku mencintaimu, Adit. Aku tidak ingin kehilanganmu.” Dia menangis. Bagaimana caranya agar Adit tahu? Agar Adit bisa mengerti?

Adit terdiam. Hanya bisa diam dengan mata memerah.

“Adit.. aku mencintaimu. Kupikir kalau kamu mencintaiku, kamu nggak akan mempersalahkan semua ini. Kupikir kamu akan tetap mencintaiku. Kupikir tidak ada masalah antara aku pengguna ataupun aku yang seorang pelacur. Kupikir..”
“Kita batalkan saja pernikahan kita.” Sesuatu rontok dari hatinya ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut calon suaminya.

“Adit..” dia terdiam, “Kupikir kamu akan mengerti.”

“Dalam hal ini, cintaku butuh logika, Sita.” Dia terdiam sejenak, “Aku membutuhkan seorang Ibu yang baik untuk mengasuh anak-anakku.”

“Aku akan berubah, Adit. Aku janji, aku akan berubah.”

Hatinya hancur. Terlebih ketika Adit berjalan meninggalkannya.

*

Cetak Halaman Ini


(Q) Apa yang lebih dia takutkan – entah kehilangan hidupnya atau kehilangan seseorang yang sangat dia cintai. Dia belum berterus terang kepada calon suaminya yang baru – tentang dirinya yang mantan pengguna narkoba, yang pernah menjadi seorang pelacur, juga tentang dirinya yang kini mengidap AIDS.

Dia tidak berani berterus terang. Dia tidak berani menolak lamaran Dion – ketika pria itu dengan sungguh-sungguh mengalungkan kalung berliontinkan sepasang angsa untuknya, ketika pria itu juga menyematkan cincin berlian yang indah di jari manisnya.

Dia tidak berani kehilangan cintanya lagi.

“Kak, kita pulang saja, ya?” Nadia meringis.

Lidya memandangi matahari yang terbenam. Sementara Sita terus menangis.

Seperti halnya matahari yang membutuhkan waktu untuk bersembunyi, dia sungguh membutuhkan alasan untuk mati.

*

(W) “Sayang?” dia mengangkat telepon dari Dion, “aku sedang di rumahmu.”

Sita menghapus air matanya lalu menggelengkan kepalanya, “Katamu kamu tidak akan datang, Sayang? Katamu Ayahmu masih di luar negeri?”

“Kejutan untukmu, Darling. Aku tidak tahu kalau kamu akan memutuskan untuk pergi jalan-jalan.”

“Dari mana – bagaimana bisa.. siapa yang memberitahumu alamat rumahku, Dion?” dia bertanya terbata.

“Aku memegang diarimu, Sayang.” Ujar Dion di telepon.

Dia menarik nafasnya. Sungguh dia ingin berteriak. Diari itu. Lima belas diari. Semoga Dion tidak membaca sesuatu mengenai narkoba, atau seks, atau AIDS. Semoga Dion tidak membacanya. Tapi tunggu dulu, diari yang mana yang dipegang Dion?

“Dari mana kamu mendapatkan diariku?” akhirnya itulah yang dia tanyakan.

“Di kamar apartemenmu, Sita..”

“Di mana kamu dapatkan..?”

“Bukannya aku memang memegang duplikat kunci apartemenmu, Sayang?” Dion memotongnya, “Bukannya kita sama-sama memegang kunci kita?”

“Dion.., tapi, diariku tidak kuletakkan di meja sembarangan. Diariku ada di dalam lemari. Kamu membongkar barang-barangku..?”

Dion tertawa, “Aku bercanda, Sayang.” Terdengar suara tarikan nafasnya, “Aku tahu kamarmu adalah privasimu. Alamatmu kudapatkan dari Regina, teman sekantormu.”

Sita memejamkan matanya. Oh, Tuhan, candaan Dion benar-benar hampir membunuhnya.

“Dion!” dia berteriak, “Terus kamu serius lagi ada di rumahku?”

Dion tertawa, “Ini lagi memperhatikan Ayahku ngobrol sama calon besannya. Sementara aku disuruh jalan-jalan dulu di taman belakang. Tempat kamu biasa melamun, katanya.”

“Ayunan itu?”

“Iya, Darling. Sini, pulang. Temani aku duduk di sini.”

“Oke, oke, wait. Tunggu aku.”

Tut.

“Jadi kita pulang?” raut wajah Nadia berbinar ceria.

Sita mengangguk, “As you wish.”

*

(E) “Ayah menyetujuinya?” Sita terpana, “Jadi artinya?”

“Kita menikah.” Dion yang menjawab.

Mereka tertawa bersama. Akhirnya.

Sesuatu yang sejak dulu dia cita-citakan. Tidak bisa menikah dengan seorang pilot, paling tidak dia akan menikah dengan anak seorang pengusaha maskapai penerbangan.

“Bersama dalam suka maupun duka.” Dion mengecup dahinya.

Dalam suka maupun duka.

*

(R) Resepsi yang dia nanti-nantikan. Resepsi yang seharusnya terselenggara sebelum dia mengidap AIDS. Seharusnya bukan Dion yang berdiri di sana. Tapi Adit. Selalu ada Adit di dalam ingatannya.

“Mimpi kita selama tujuh tahun,” ujar Dion di sisinya, “akhirnya terwujud.”

Mimpinya.. mimpi menikah dengan Adit dan berdiri di pelaminan bersama Adit.

*

(S) “Adit, kumohon, kamu harus mengerti.” Dia menarik tangan Adit ketika mereka bertemu di acara reuni SMP mereka.

“Jadi kamu ingin memaksaku untuk mencintaimu?”

“Adit.. sebelum kamu tahu ini, kamu mencintaiku, kan? Kenapa secepat itu berubah?”

“Aku ingin istri yang baik, Sita.”

“Aku kurang baik-baik apa di matamu, Adit? Apa katamu dulu tentang cinta? Cinta yang tanpa alasan, cinta yang memang cinta?”

“Sita, kamu harus logis. Seandainya aku pemakai narkoba, seandainya aku seorang pria sewaan, dan aku bahkan mengidap AIDS.., dan kamu adalah seorang wanita baik-baik yang tidak pernah mengenal semua itu, apa kamu masih mau menikah denganku?”

“Jadi kamu pria baik-baik dan aku bukan wanita baik-baik?”

“Kamu sudah mengerti.” Adit melepaskan tangannya. Pergi.

Dia mengejarnya sekuat tenaga, “Adit!”

“Pergilah dari hidupku, Sita.”

“Kamu picik.” Sepenuh daya upayanya dia berusaha mengatakan itu, “Aku mencintaimu. Tulus dari dalam hatiku. Dan kamu menolaknya? Di mana perasaanmu?”

“Kamu bilang begitu, karena kamulah penderitanya. Seandainya kamu berada di posisiku, kamu pasti akan mengambil keputusan yang sama denganku.”

“Dari mana kamu tahu?” hatinya benar-benar hancur mendengar semua keputusan Adit.

“Hatiku yang mengatakannya.” Jawabnya, “Kamu tidak mungkin mencintaiku jika kamu tahu aku bukan orang baik-baik. Karena mencintai seperti itu adalah hal yang sia-sia.”

*

(T) Mencintai bayangan juga adalah hal yang sia-sia. Mencintai Adit di dalam diri Dion akan selamanya sia-sia. Wajah yang sama, senyum berlesung pipit yang sama, cara memandang yang sama. Pelukan yang sama, kecupan yang sama. Tiada sedikitpun berbeda.

“Dion, aku butuh bicara.”

“Bicara apa, Sita?”

“Sesuatu yang hanya bisa dibicarakan pelan-pelan.”

“Apa itu?”

“Bagaimana seandainya aku adalah mantan pemakai narkoba?” dia berbisik.

“Bukan masalah.” Bagus.

“Pelacur?”

“Asal nanti tidak lagi. Apa kamu percaya aku juga tidak mungkin perjaka?”

Dia tersenyum, “Pengidap AIDS?”

Mata bertemu mata. Dia tahu apa yang akan dijawab oleh Dion.

*

(U) Malam itu dia kembali duduk di bale yang sama. Pernikahannya dibatalkan sepihak. Ayahnya marah. Ibunya juga. Adik-adiknya menggerutu. Keluarga besarnya dibuat terheran-heran. Tapi Dion tidak memberikan alasan pembatalan itu kepada kedua orangtuanya. Bagaimanapun, Dion masih mencintai Sita, walau kini dengan cara yang berbeda.

“Kupikir, setelah aku bilang begitu, kita tidak bisa duduk berdua seperti ini lagi.”

Dion menggali dan lalu menggenggam penuh bebutiran pasir pantai di tangannya, “Aku hanya butuh waktu. Kupikir aku masih mencintaimu.”

“Tapi kamu tidak mungkin bisa melamarku lagi,” Ujar Sita, “setelah apa yang barusan kamu lakukan.”

“Tapi aku bisa mengajakmu kawin lari,” lalu Dion tertawa dan menambahkan, “bercanda.”

“Kamu tidak akan percaya bahwa hari ini aku begitu bahagia.” Setelah berkata begitu, dia lalu menemani Dion duduk di pasir pantai, kemudian dia memejamkan matanya. Angin laut menyapu poninya. Wajahnya berbinar bahagia.

“Karena batal menikah denganku?” Dion terdiam sejenak, “Sejujurnya, aku tidak menyangka harus kehilangan seseorang sesempurna dirimu.”

“Aku pernah kehilangan seseorang yang sempurna. Bahkan hingga kini, dia masih begitu sempurna.”

Dion menatap mantan kekasihnya itu lekat. Dia tidak tahu kekecewaan apa saja yang pernah menghiasi mata Sita sebelum masa delapan tahun perkenalan mereka.

“Aku pernah memiliki kekasih. Begitu mirip denganmu. Kalian seperti pinang dibelah dua.” Sita lalu mengambil sebuah foto dari dompetnya, “Namanya Adit.”

“Kami saling mencintai dan kami telah bertunangan. Beberapa saat sebelum pernikahan kami, aku mencoba jujur padanya,” Sita terdiam sejenak, “seperti apa yang kukatakan padamu tadi, bedanya, saat itu aku belum menderita HIV ataupun AIDS.”

“Lalu?”

“Dia bilang, karena itu, dia tidak bisa mencintaiku.”

Sita terdiam. Dion merasakan perasaan itu. Sesungguhnya berat baginya untuk memutuskan hubungannya dengan Sita karena dia tahu dia masih mencintai Sita. Mungkin hal yang sama dirasakan entah oleh Adit atau Sita. Atau mereka berdua. Hingga saat ini pada dimensi berbeda. Dimensi jiwa dan dimensi raga.

“Padahal bukan itu alasan sebenarnya,” Sita mengambil jeda, “tadi adiknya datang dan menceritakan hal ini padaku. Tentang perpisahan kami dan kecupan Adit di bandara. Adit masih menyimpan cintanya untukku.”

“Lalu apa masalahnya? Bukannya waktu itu kamu belum menderita AIDS?”

“Di saat yang sama, sebenarnya dia ingin jujur tentang sesuatu. Waktu yang tidak tepat.”

“Tentang apa?”

“Adit steril. Sindrom klinefelter. Dia mengecek itu sebelum memastikan untuk menikah denganku. Itu satu-satunya alasannya.”

Dion menggelengkan kepalanya tidak percaya.

“Seharusnya kami sudah menikah dan hidup bahagia.” Sita berangan-angan, “Kita tidak mungkin mencintai seseorang jika dia ternyata bukan orang yang tepat untuk kita. Karena mencintai seperti itu adalah hal yang sia-sia. Dia pernah bilang begitu padaku. Ternyata itu ditujukannya untuk dirinya sendiri. Bisa kamu bayangkan perasaanku sekarang?” Air mata Sita membasahi pipinya.

Dion memejamkan matanya. Membaui wangi lautan. Membaui kisah cinta Adit dan Sita, “Menurutmu apa kita akan selalu memeroleh apa yang kita inginkan di dalam hidup kita?”

Sita menggeleng, “Justru itu. Aku merasa tidak pernah memeroleh apa yang sesungguhnya aku inginkan.”

“Kamu salah, Sita.” Dion menggumam, “Kamu menginginkannya maka sesuatu itu terjadi. Semua berjalan sesuai keinginanmu. Keinginan tiap sel dalam tubuhmu.

Mungkin konyol. Tapi aku selalu mempelajari setiap kegagalan dalam hidupku. Ketakutan-ketakutanku. Hal-hal yang aku sia-siakan. Dan aku menemukan pola. Itulah polanya. Bermimpilah dan gapailah sekuat tenagamu.” Dion lalu menengadahkan kepalanya ke arah langit. Memandangi gugusan bintang yang entah bermuara di sebelah mana.

“Apa semua otak manusia menemukan pola rahasia? Tanpa mereka sadari, pemikiran mereka sebenarnya sama?”

“Kamu merasa begitu?” Dion terkesiap. Pemikiran mereka memang hampir selalu mirip-mirip.

“Apa jika besok aku mati, akulah yang menginginkan kematian esok hari itu?”

Dion mengangguk, “Kamu yang menginginkannya.”

“Jadi aku tidak perlu takut mati?”

“Kamu bahkan tidak perlu takut terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi.”

Mereka terdiam dan lalu menuliskan sesuatu di pasir pantai.

*

Di pagi yang buta.
Menunggu seorang teman membawa makanan.
20 Mar. 09 - 21 Mar. 09
21:00 - 01:59:33 WIB

: Sadarkah kau, pada kenyataannya, aku menjelaskan semua ini karena setiap rincian kisah ini berhubungan dengan kesulitanku. – (page 50) My Name is Red, Orhan Pamuk.


Labels: , , , ,


Selengkapnya…  
Dikirim oleh Panah Hujan, inc. pada 8:06 PM | Permalink | 2 komentar
* Cerpen - Aksara Kehidupan
Pagi itu aku duduk di atas bale di sudut sebelah timur belakang sebuah restoran, tempat yang selalu menjadi favoritku setiap mampir ke Bali karena panoramanya yang tidak biasa.

Gedungnya bernuansa seperti gedung-gedung di zaman kolonial dengan penataan bunga warna-warni yang indah di dalam lubang-lubang temboknya dan juga pada vas bunga di sudut-sudut ruangan di dalam restoran.

Juga ada pohon yang dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan, Pachira aquatica nama Latinnya, hari itu dia tetap terpajang di dalam vas di tiap meja di atas gazebo, seperti yang dulu pernah kusarankan kepada manajer restoran itu melalui e-mail, sekembalinya aku ke Jakarta.

Aku masih tetap menyukai ornamen-ornamen yang mereka tampilkan. Pajangan-pajangan yang beraroma kerajaan. Mungkin saja tentang kerajaan Majapahit juga Astina Pura – seperti yang kubaca dalam sejarah, tapi entahlah, aku tak pernah begitu memahami sejarah.

Pajangan-pajangan itu – mereka bilang mereka membuatnya sendiri dan kadang-kadang mereka menjadikannya sebagai cendera mata untuk para tamu yang mampir dan membayar mahal. Aku memiliki beberapa di rumah. Pahatan dari bebatuan juga kekayuan.

Pahatannya rumit dan bernilai magis. Kata para pelayan restoran itu, itu disebabkan karena bos mereka mengenal dekat pemahat terbaik yang dimiliki Ubud – yang dimiliki Bali, yang berspesialisasi memahat kisah-kisah Mahabratha dan Perang Bharatayuddha.

Aku juga menyukai pemandangan di belakang restoran. Menyukai gunung yang diselimuti awan putih. Betapa hawanya tak jauh berbeda seperti Bandung di daerah perbukitan. Ditambah lagi, saat itu turun hujan yang begitu lebat. Hingga suasana menjadi semakin meriah karena para pelancong yang sebelumnya asyik mengambil foto berlatar gunung berselimut awan putih, dengan gesit berlarian ke arahku juga ke arah gazebo-gazebo lainnya. Dan begitulah, mereka seketika memadati daerah kekuasaanku.

Sampai beberapa saat kemudian perhatianku teralihkan oleh sesuatu yang janggal. Oleh seorang gadis kecil berambut blonde dengan pita merah yang menggendong seekor anjing ras Kintamani di pelukannya. Dia meletakkan anjing itu di atas gazebo di tengah kolam ikan. Gazebo yang tidak dipilih oleh siapapun – saking terlihat begitu istimewanya. Beberapa saat kemudian gadis itu ikut naik, menemani anjingnya.

Aku terpaku di posisiku, lebih dari sejam. Seolah tersihir oleh sesuatu yang entah apa. Aku menyadari ada sesuatu yang mistis dari caranya berjongkok di hadapan anjing itu. Sedari tadi, kulihat mereka asyik bercakap-cakap. Dan kuperhatikan, dia – gadis kecil itu – begitu mahir mengonggong. Caranya mengonggong manja layaknya anjing kecil, seperti cara orang dengan latar belakang Ilmu Hubungan Internasional berbahasa Inggris. Tidak ada kecanggungan sama sekali.

Dan sejak tadi, aku hanya berani memandanginya – tanpa mencoba mendekat selangkah pun. Aku hanya duduk dengan secangkir kopi di hadapanku – tidak mencoba pergi. Bahkan aku memesan bercangkir-cangkir kopi lagi untuk menunggui gadis itu pergi.

Waktu berlalu dan kusadari bahwa sudah hampir berjam-jam mereka sama-sama berjongkok. Perawakan gadis kecil itu tinggi seperti umumnya kelahiran blasteran dan caranya mengambilkan sosis dari pinggan pelayan yang lewat untuk diberikan kepada anjingnya – yang sedari tadi dia ajak berbincang dengan gonggongan – menunjukkan bahwa dia adalah orang penting di restoran itu. Gerak mata dan air mukanya mencirikan bahwa kemampuannya juga bukan seperti gadis biasa. Dia istimewa.

Betapa akhirnya kusadari banyak orang juga ikut memerhatikan tingkah gadis itu. Bukan hanya aku. Masing-masing dari kami memesan berulang kali kepada pelayan yang lewat – memesan apapun yang bahkan tidak kami pedulikan harganya. Gadis itu seperti tontonan musik di restoran itu. Seperti pemandangan yang menyihir – seolah kami menunggu sesuatu terjadi.

Tapi tidak ada sihir yang terjadi – tidak sampai sore itu berakhir. Tidak sampai dia dijemput oleh seseorang bersetelan serba hitam dan digendong menuju pelataran parkir lalu dimasukkan ke kursi belakang mobil dengan beringas. Dia, sampai hari itu berakhir, memang seperti boneka tontonan yang mendekati sempurna.

*

Karena penasaran, hari ini aku mengunjungi rumah pemilik restoran itu. Tak ada yang berbeda dari tata bangunan rumahnya jika dibandingkan dengan restoran yang kemarin kusinggahi sampai larut malam. Kupikir, adalah hal yang wajar jika seorang tuan tanah menjalin ikatan terus-menerus dengan seorang arsitek brilian.

Aku menekan bel dan menunggu seseorang membukakan pintu gerbang. Awalnya aku berharap pelayannyalah yang membukakan pintu, tak kusangka, gadis blonde itu langsung yang membukakannya, “Hai!” dia menyapa. Logatnya khas Bali.

“Hai..” kujawab dengan canggung.

“Aku sudah menunggumu cukup lama.” ujarnya, memegang tanganku dan memerhatikan telapak tanganku dengan seksama. Matanya terpaku pada dua titik hitam di kedua kelingkingku, “Memang kamu.”

“Memang aku?” aku bertanya dengan raut wajah lugu. Dengan kebodohan yang tersisa dari seorang perjaka.

“Kamu yang akan membunuh kedua orangtuaku.” Jawabnya enteng. Kalau aku tak memerhatikan intonasi suaranya, pasti kuduga dia bercanda.

Tak berani kulanjutkan pembicaraan kami. Namun dia membukakan pintu gerbang lebih lebar lagi seolah mempersilakanku untuk masuk. Mempersilakan orang yang akan membunuh kedua orangtuanya – untuk masuk.

*

“Jadi, bagaimana caramu membunuh kedua orangtuaku?” tanpa basa-basi dia bertanya begitu ketika aku sudah duduk di salah satu sofa di ruang tamunya.

Ini konyol karena aku bahkan tak mengenal siapa orangtuanya.

“Aku tahu akan ada seorang pria lajang yang membunuh kedua orangtuaku. Itu kamu. Aku hanya tidak tahu bagaimana caramu melakukannya.” dia melanjutkan. Seolah belum jelas, dia kembali membuka mulut, “Seorang pria yang suka berkelana dan sekali dia membunuh, dia tidak akan terhentikan. Orangtuaku akan menjadi korban pertamamu.”

Apa reaksimu saat seorang anak kecil mengatakan bahwa kamu akan membunuh orangtuanya – sesuatu yang bahkan tidak pernah kamu rencanakan?

Kutarik nafasku dan kubuka mulutku, “Umurmu berapa?”

“Di kelahiranku sebagai manusia, umurku genap seribu tahun.”

Kontan aku tertawa. Gadis kecil yang gila.

“Aku sering berbicara dengan alam.” Ujarnya sambil lalu bersiul. Nada yang indah.

Beberapa saat kemudian, seekor anjing berlarian menuju ke arahnya, lalu melompat ke pelukannya. Dibelainya bulu lebat anjing itu – anjing Kintamani kemarin.

“Anjingku bisa melihat masa depan. Dia melihatmu menghunus pedang di tanganmu. Begitulah caramu selanjutnya membunuh korban-korbanmu. Pedang dengan dua sisi bagiannya yang sama-sama tajam.”

“Aku bisa berbahasa binatang.” Sesuatu yang luput dari benakku, dijelaskannya lebih awal sebelum kutanya. Rupanya, dia memang benar gila dengan sempurna.

“Kenapa kamu tidak menghalangiku?”

“Seperti kelahiran-kelahiranku sebelumnya, akulah yang membantumu melakukan pembunuhan-pembunuhan itu. Aku memiliki kucing yang bisa melihat masa lalu.”

Sejujurnya aku tak ingin bereaksi atas kegilaannya namun yang terkumpul di kepalaku justru kegilaan-kegilaan baru yang sama dengannya – bahkan yang lebih kompleks lagi. Sesuatu tentang reinkarnasi – yang dulu pernah kuketahui entah di mana. Sesuatu tentang malaikat kematian, tentang aneka pedang bermata ganda, tentang penjualan jiwa-jiwa manusia.

“Lengkung di langit tidak selamanya berwarna pelangi. Seperti hidup, kamu tidak akan tahu bagaimana sesungguhnya cara seekor binatang memandang dunia.” Dia berkata.

“Aku pulang dulu.” Aku berpamitan padanya. Beranjak dari kursiku.

“Kamu meninggalkan separuh jiwamu padaku.”

“Suatu saat akan kuambil.” Caraku meladeni kata-katanya.

“Jangan salahkan aku kalau karena hal itu, di perjalananmu pulang, kamu akan menemukan banyak kejadian aneh." Ucapan selamat tinggal darinya. Kuharap bukan ucapan sampai jumpa.

*





Aku tidak pernah menyangka kunjungan terakhirku ke Bali sebelum aku mempersunting tunanganku akan menjadi sebegini menyesatkannya.

Kupikir aku hanya akan memesankan sesuatu yang istimewa – pada para pekerja di toko pernak-pernik khas Bali – untuk kuberikan kepada Tania di hari aku bertandang ke rumahnya untuk melamar. Tapi kini, seorang gadis kecil yang tak kuketahui namanya mengubah segalanya. Hanya dengan mengatakan bahwa aku adalah seorang calon pembunuh, dia seolah mengubah jalan hidupku untuk selamanya.

Aku tidak pernah menyangka untuk sekedar penasaran dengan seorang gadis kecil, akan menghadirkan invers yang hebat dalam grafik hidupku. Mudah saja melupakan kata-katanya, kupesan saja tiket pulang ke Jakarta, menikah dengan Tania, memiliki keturunan, tidak kembali lagi ke Bali.

Namun semuanya telah berubah. Harapan-harapan menjadi menyakitkan. Ketika tadi di tengah jalan, aku menabrak motor sepasang muda-mudi yang melintas di depan mobilku. Keduanya luka parah dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Aku menemani mereka. Lalu menemani polisi yang setia menginterogasiku. Menyerahkan semua kartu pengenal yang kumiliki di dalam dompetku. Lalu dipenjara. Selanjutnya, mereka mengabari bahwa kedua muda-mudi itu telah meninggal.

Dan ketika mereka menanyakan orang yang bisa mereka hubungi untuk menjelaskan mengenai keberadaanku, aku meminta mereka menghubungi Tania. Benar-benar hanya Tania yang kubutuhkan di saat seperti ini. Dan bukan Ayahku yang selalu sibuk dengan urusan kantornya.

“Tan, aku dipenjara.” Ujarku di telepon.

Dia tertawa, “Dipenjara oleh Bali dan tidak ingin pulang?”

Dari mana dia tahu kalau aku sedang berada di Bali?

“Ayahmu bilang padaku, kamu ada urusan di sana. Jadi, apa kamu sudah menemukan gadis Bali tambatan hati sehingga tak ingin pulang lagi? Kamu dipenjara oleh cinta gadis itu?” lanjutnya seolah memahami kebingunganku. Caranya meledekku, caranya mempermainkan perasaanku, caranya untuk terus berada di dalam hatiku.

Dan aku maklum jika dia mengiraku bercanda, “Banyak hal terjadi, Tan. Datang saja. Aku akan ceritakan langsung. Dan kumohon, jangan cerita pada siapapun.”

“Kamu bercanda, kan, Sayang?” kudengar nada khawatir dari getar suaranya.

“Benar-benar ada sesuatu yang akan mengubah jalan hidupku, jalan hidup kita, kalau kamu tidak segera datang. Pesanlah penerbangan terakhir hari ini.” aku memohon.

“Kalau full-booked?” dia bertanya.

“Datanglah secepatnya.”

*

Di penghujung hari, dia datang. Dengan payung basah yang terlipat di genggaman tangannya.

“Apa yang terjadi, Sayang?”

Aku tidak tahu harus menjelaskannya dari mana. Jika kujelaskan dari awal, aku takut tak akan bisa menemukan titik temunya, titik pertemuanku dengan gadis kecil itu.

Aku hanya bisa diam mematung melihat kehadirannya.

“Kamu kenapa, Sayang?”

Ragu-ragu kugenggam pergelangan tangannya yang dingin, “Hentikan aku sampai di sini.”

“Kamu kenapa?” Dia melepas tanganku lalu memegang pipiku, “Ceritakan padaku.”

Aku sudah lupa bagaimana caranya mengawali sebuah cerita. Yang kutahu, aku hanya ingin mengakhiri cerita ini. Aku ingin mengakhiri hidupku supaya kata-kata gadis kecil itu tak menjadi kenyataan.

Tidak semua cerita sulit akan pernah kusukai, dan untuk mengisahkannya kepada belahan hatiku, itu bukan hal biasa. Tapi aku menceritakan setiap detilnya kepada Tania.

Dia membekap mulutnya dengan tangannya, menggelengkan kepalanya tidak percaya. Aku menceritakan semuanya dengan kilas balik yang cukup berantakan, diawali oleh seekor kucing hitam yang melintas di tengah perjalananku pulang sehingga aku memutar haluan karena ketakutan, lalu aku menabrak motor sepasang muda-mudi. Pertemuanku dengan gadis kecil berambut blonde di restoran favoritku, tentang gadis itu yang bisa berbahasa binatang dan tentang binatang-binatangnya yang bisa melihat masa lalu juga masa depan. Tentang dia bilang bahwa aku adalah seorang calon pembunuh.

Tania menangis, “Siapa gadis kecil itu?”

Itulah yang juga tak kuketahui hingga detik ini. Aku bahkan tak sempat menanyakan siapa namanya.

Aku menggeleng.

“Apa yang bisa kulakukan sekarang?” dia bertanya.

Aku kembali menggeleng. Yang kutahu, sudah tak ada yang bisa kulakukan lagi.

“Menyogok para polisi itu?” dia menawarkan idenya. Sejak kapan kata-kata Tania menjelma menjadi kata-kata gadis yang frustasi?

“Jangan,” Kujawab, “aku akan menyelesaikan apa yang telah kumulai. Aku akan menyelesaikan semuanya sendiri. Aku lebih aman berada di dalam sini, Sayang.”

“Aku akan menemanimu di sini malam ini.”

Kukecup keningnya. “Jangan, menginaplah di hotel. Selamat tidur.”

***

Malam itu aku terjaga setelah bermimpi aneh. Aku memutar mataku melihat ke sekeliling, namun aku tidak sedang berada di dalam sal penjara. Aku sedang berada di dalam sebuah ruangan bercat putih. Mungkin saja aku berada di sebuah kamar rumah sakit, karena di pergelangan tangan kananku terpasang infus glukosa.

Kucoba mengangkat tubuhku, tidak ada siapapun menemaniku.

“Sudah kubilang separuh jiwamu tertinggal padaku,” Seseorang berkata dari arah pintu. Aku menoleh. Gadis kecil berambut blonde berjalan ke arahku. Pitanya hari itu berwarna hijau, “sudah kubilang bahwa kau tertinggal di sini, tapi dia tidak memedulikannya. Dia pergi.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Siapa sebenarnya kamu?” aku bertanya, “Apa maksudmu?”

“Beruntunglah jiwamu sudah kupindahkan ke dalam tubuh sopirku. Karena kalau tidak, ada banyak malaikat kematian yang akan berusaha memilikimu.”

Di sebelah kiriku, di dekat wastafel, ada sebuah cermin. Kuputuskan jarum infusku, lalu aku berlari ke arah cermin. Dan kulihat yang berdiri di sana bukanlah aku. Tapi seorang pria berperawakan besar tinggi dan berkulit legam.

“Siapa kamu?” aku menatapnya. Bertanya sungguh-sungguh.

“Dari semua kelahiran penjemput nyawa, akulah yang paling berkuasa. Aku atasanmu. Dan dari semua kelahiran malaikat kematian, kamulah yang paling tangguh.”

“Setan!” aku berteriak, “Kenapa harus aku?”

“Karena kamu begitu berharga, kamu adalah setannya. Aku tanpa setanku, tidak akan bisa menjaring manusia untuk kubawa ke neraka.” Dia menjawab, “Kamu tidak akan ingat semua itu. Ingatanmu cukup kepada caramu membunuh. Pedang-pedang bermata ganda. Kusimpan di ruang bawah tanah di rumahku.”

Aku berlari keluar kamar, menabrak tubuh gadis kecil itu. Ke mana orangtua gadis kecil itu? Ke mana orang-orang – mengapa gadis ini dibiarkan gila sendiri?

Tawanya membahana. Kami sedang berada di lantai tiga rumahnya dengan langit-langit berbentuk oval, “Kau sudah membunuh kedua orangtuaku malam kemarin.”

Aku berlari ke arahnya, mendorong tubuhnya hingga terjengkang.

“Setan sialan!” aku berteriak, “Apa sebenarnya maumu dariku?”

Dia kembali tertawa lalu bersiul, “Aku mau kau menemaniku melakukan pembunuhan. Seperti yang kamu lakukan kepada dua kepala itu tadi malam.”

Seekor anjing dan seekor kucing. Masing-masing menyeret sebuah kepala di mulutnya. Kepala seorang lelaki Bali dan kepala seorang wanita bermata sipit berambut dicat kemerahan, kepala seorang wanita Jepang.

“Menarik, kan?” dia menengahi.

Aku ingin muntah ketika melihat wajah tanpa darah itu. Rongga kepala kedua orang itu berlubang. Otaknya hilang dari tengkoraknya.

“Kita menghisap darah mereka dan lalu memakan otak mereka mentah-mentah. Lucu sekali untuk harus memakan isi kepala orang-orang yang selalu menyiksaku. Sekarang mereka sudah tidak bisa mengaturku lagi.”

Aku berlari menuruni anak tangga. Berlari keluar. Berlari mencari seseorang yang kukenali. Mencari Tania. Atau Ayahku, yang bahkan tak pernah memedulikan apa yang sedang aku lakukan. Aku mencari hidupku.

“Pergilah dan kalian akan saling membunuh,” Dia berteriak, “kodrat jiwa yang terpisah.”

Aku tetap berlari. Tak memedulikan apapun. Mengejar aksara kehidupanku.

*

Sabtu-Minggu. Di bulan Maret.
Dalam ruang entah-berentah, C7.
00:41:09 WIB

: Tidak ada manusia yang bisa menyimpan rahasia.
Bila bibirnya diam;
Ia akan berceloteh dengan ujung jarinya;
Rahasia terbersit dari seluruh pori-pori kulitnya. – Sigmund Freud

Cetak Halaman Ini

Labels: , , ,


Selengkapnya…  
Dikirim oleh Panah Hujan, inc. pada 8:02 PM | Permalink | 1 komentar
Tuesday, March 10, 2009
* Coretan - Lagu Terfavorit Seumur Hidup
I am a child, a child of creation
Feeling just like a wandering star
And like a bird who's flying in motion
Trying to see so clear, so far

Far in the sky, I fill there with dancing
Far in the sky, I hear the birds sing
Out in the storm, I play with the Winter
Shout to the winds and wait for Spring

Spring that awakes with eyes full of loving
Giving the world a phase that is new
Sending us all the rains and the flowers
Showering us with love that's true

True as the dawn that wakes up the sunshine
True as the look I see in your eyes
You gave to me the day of my lifetime
Taught me to love, taught me to fly

Bird on the wing, sing for me, sing
Take me up high, show me your sky

I am a child, a child of creation
Wanting to meet the world face to face
Moving the clouds and letting the light through
Making the world a sunny place

Place for a song and place for a poem
Light up my life the way you can do
There's so much hope that's shining around us
Hope for the child, for me and you

I am a child, a child of creation
Feeling like I'm a wandering star
And like a bird who's flying in motion
Trying to see so clear, so far

Bird on the wing, sing for me, sing
Take me up high, show me your sky

Bird on the wing, sing for me, sing
Take me up high, lend me your sky

Labels: , , ,


Selengkapnya…  
Dikirim oleh Panah Hujan, inc. pada 9:53 PM | Permalink | 2 komentar
Thursday, March 5, 2009
* cerpen - Kinnara
**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
* * : * * * * * * : * * * * * : *
: * * : * : : * : * * * * * *
: : : * * : * : : * : * ::::::: * * * * * ::::::: *
: * * : * : : * : * * * * * *
* * : * * * * * * * * * * *
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**

“Pernah tahu mitos yang mengatakan kalau bumi ini disangga oleh empat ekor kura-kura? Seperti bintang-bintang yang berjejer di sana,” Dia menggerakkan telunjuknya dari satu sudut ke sudut lainnya, “konstelasi kura-kura.”

Hari itu seperti biasanya dia memulai malam kami dengan cerita yang asing, juga seperti biasanya, aku menggeleng, tak menyimak apa yang dia bicarakan.

Pasti terlihat bodoh. Selalu bodoh di matanya.

Lain waktu, tiap kali kami menatapi langit seperti saat itu, dia pasti akan selalu bilang (aku tahu niatnya hanya untuk mengomentari minimnya ketertarikanku pada langit): percuma membuat orang-orang tertarik memahami langit, sementara mereka sudah lebih dulu terpana dengan bintang-bintang yang bertebaran di layar kaca. Bintang-bintang yang redup atau terangnya hanya tergantung seberapa besar sensasi yang dibuatnya.

Dia memang sangat menyukai langit. Semua istilah yang dipakainya kait-mengait dengan bintang, meteor, atau istilah-istilah asing di fisika, semacam black body radiation yang kalau aku salah dengar bisa kuartikan sebagai out body experience.

Dia adalah seseorang yang lebih mudah memahami ilmu astronomi ketimbang ilmu anatomi namun kuliah di jurusan kedokteran.

Beberapa saat kemudian dia tertawa, “Tiap kali memerhatikan bintang bersamaku, tidakkah kamu juga tertarik untuk ikut menghafal nama-nama rasi bintang?”

Aku mengernyitkan dahi.

Seolah paham, dia menjelaskan, “Tidak pernah ada yang namanya rasi kura-kura.” Lalu dia kembali tertawa.

“Aku, kan, nggak kuliah astronomi,” begitu caraku membela diri.

“Aku juga nggak kuliah astronomi.”

Saat itu, aku kembali kalah telak darinya.

*

“Seandainya aku lahir sebagai laki-laki, Ayahku bilang akan menamaiku Andromeda. Nama seorang putri raja yang terkesan maskulin,” kali kedua kami bertemu, dia memulainya dengan menjelaskan perihal asal-usul namanya, “juga sebagai nama rasi seluas tujuh ratus dua puluh dua (722) derajat persegi. Kebalikan tanggal lahirku, dua puluh dua Juli (227).”

Aku kagum akan rumitnya cara orang tuanya memilihkan nama untuknya. Bahkan namanya sekarang, Kinnara, terdengar tidak kalah istimewanya dengan nama Andromeda yang batal disematkan di belakang gelar dokternya. Karena dia terlahir sebagai seorang perempuan, selamanya perempuan. Tapi, apalah arti sebuah nama.

Saat itu dia berceloteh macam-macam di kamarnya. Dia termasuk gadis yang lincah, juga tipikal seorang pembicara yang tak sekalipun membiarkan pendengarnya memotong kalimatnya.

“Gaun ini cantik?” dia menunjukkannya padaku. Berpose layaknya peragawati. Berputar seratus delapan puluh derajat, seperti pedansa.

“Kurang cerah. Gelap,” kujawab.

Dia lalu melepas gaun itu di hadapanku. Dia tidak mengenakan bra. Hanya celana dalam tipis transparan berwarna hitam. Sensual.

“Ibuku selalu bilang, aku lebih cocok mengenakan gaun warna hitam,” dia menjawab, tapi dia mengambil gaun berwarna putih. Sementara gaun hitamnya masih tergeletak di kakinya.

“Kalau ini?” dia bertanya. Kuurungkan niatku untuk menggelengkan kepala, seberapa buruk pun gaun yang dia tunjukkan. Aku benar-benar tak betah melihatnya telanjang di hadapanku. Terlebih, kami baru bertemu dua kali. Di aula kampus dan langsung di dalam kamarnya.

“Ini hadiahnya untukku,” Dia menjelaskan lalu mengenakan gaun itu, tekanan kalimatnya barusan menyadarkanku tentang betapa istimewanya gaun putih berenda keemasan itu baginya, “hadiah dari cinta pertamaku.”

Saat itu, tak pernah kusadari bahwa yang dia maksud sebagai cinta pertamanya, adalah seorang wanita. Adalah seseorang yang berjenis kelamin sama dengannya.

Kini, katanya, aku akan menjadi cinta terakhirnya. Aku. Seseorang yang berjenis kelamin sama dengannya.

*

Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Bedanya, aku menunjuk-nunjuk rasi-rasi bintang dengan telunjukku. Mengaitkan mereka. Lalu mengambil catatanku. Menggambar rasi-rasi yang kutemukan. Kemudian membaca data di wikipedia tentang rasi-rasi itu. Lalu mencatatnya di bawah rasi yang kugambar. Tingkahku persis orang gila yang menemukan tempat nyaman di pojok salnya di rumah sakit jiwa.

Setelah melewati beberapa rasi bintang, kubaca lagi data di internet karena ada sesuatu yang masih membingungkanku, seharusnya rasi bintang yang bulat itu pasti bertanduk. Berbentuk mirip seperti kambing laut. Namanya, capricornus. Karena di dekatnyalah terletak rasi bintangku, sagittarius. Rasi bintang pemanah. Hm. Sebutlah ini keberuntungan sebagai seorang pemula. Untuk tidak tahu bahwa dirinya mungkin saja salah.

Perfect knowledge of such things cannot be acquired without divine inspiration,” aku terngiang pujian Kinnara pada para ahli bintang yang dengan teliti menemukan rasi-rasi bintang itu. Didapatnya dari kata pengantar Catatan Nostradamus, katanya. Kini aku memahami pemikiran Kinnara.

Mirip novel Seribu Tahun Kesunyian yang ditulis oleh Garcia Marquéz, pemahaman bahwa entah mengapa kami beruntung terlahir di abad ini. Saat ketika bilangan phi; 3,142 – dengan berderet digit angka lain di belakangnya – sudah ditemukan untuk menyempurnakan perhitungan bangun lingkaran, saat yang dibutuhkan hanya tinggal pembuktian dari teori-teori yang berjubel banyaknya.

Terpenting, saat aku tidak perlu kesulitan memberi nama baru – yang alangkah rumitnya – pada konstelasi yang baru kutemukan (dan akhirnya kusukai) di atas sana.

Ah, dunia. Entah apa kunamai bumi ini. Entah beruntung. Entah membuat bingung, untuk mengenal tentang aturan-aturan yang harus ditaati, juga hukum-hukum yang wajib dipatuhi. Dari semua planet di tata surya, planet mana lagi yang aturannya serumit di bumi?

Bahkan aturan terkecil yang akan tiap anak muda temukan di unit terkecil dalam kehidupannya, tentang ketika seorang gadis mencintai seorang pemuda, grafik membuktikan bahwa kebanyakan dari orang tuanya akan merasa berhak bertanya apa sebab para gadis itu mencintai pria ini dan kenapa tidak pria yang itu yang tinggal di wilayah mewah dan ke mana-mana naik jet pribadi itu?

Bagaimana dengan Kinnara? Bisakah dia mencintai orang lain? Mengapa dia harus menjadi seorang lesbian? Mengapa Tuhan menggariskan seperti itu untuknya?

Bahwa aku takkan pernah membalas cintanya. Karena aku bukan lesbian. Lalu, mengapa Tuhan menggariskanku untuk tidak menjadi sepertinya – seperti Kinnara yang selalu nampak ceria namun sesungguhnya rapuh? Penggaris apa yang Tuhan gunakan?

*




Ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku bergegas membukakannya. Siapa lagi kalau bukan Kinnara.

“Lagi apa?” dia bertanya.

“Tesis,” jawabku.

“Hm. Boleh kulihat?” dia menengok ke dalam kamarku. Berantakan.

Aku membukakan pintu kamarku lebih lebar, “Minum apa?” tanyaku ketika dia melangkah masuk dan duduk di ranjangku.

“Kopi hitam, tanpa susu, tanpa gula, tanpa pemanis apapun,” dari jawabannya kuyakin dia ingin bergadang semalaman bersamaku di balkon apartemen. Kubuatkan seperti yang dia minta. Dua gelas. Untuknya, juga untukku.

“Hukum perdata?” dia mengangkat kertas-kertasku, kertas-kertas yang ketika itu dia pegang di tangannya, seraya lalu menyalakan televisi dengan remote di tangan kirinya. Saluran TV kabel. Tidak pernah disetelnya channel lain selain national geographic.

“Masih belum kutentukan,” jawabku sambil membawakan dua mug besar untuk kami berdua.

“Bawa ke balkon saja,” ujarnya sambil membawa kertas-kertasku. Aku tak yakin dia akan rela menghabiskan waktunya untuk mengobrol perihal hukum di Indonesia. Sepengetahuanku, dia membenci hukum, politik, dan segala kebijaksanaan-kebijaksanaan Pemerintah Indonesia. Selamanya benci, katanya saat itu.

Tetap kubawa kedua mug kami ke arah balkon. Dia mengikutiku dari arah belakang. “Menurutmu, kenapa semua hal harus ada aturannya?” pertanyaannya kelihatan berkaitan dengan apa yang kupelajari. Dengan isi dari lembaran kertas yang dipegangnya – tentang hukum perdata, tentang common law, tentang sejarah sistem Anglo Sakson – tapi sesungguhnya aku yakin dia menanyakan sesuatu di luar segala teori hukum yang kuketahui.

“Kenapa orang-orang mengikuti tes IQ?” aku balik bertanya, “lalu percaya pada hasilnya?”

Dia terdiam. Dia yang selalu punya jawaban atas setiap pertanyaanku, menungguku menjawab pertanyaannya. Kuputuskan tidak menuruti keinginannya untuk saat ini.

“Menurutku, ketertarikan ini sudah faktor genetis – kalau kamu pernah belajar biologi. Gen superior dan inferior memang sudah ada di alel-alel dalam kromosom manusia, itu sebabnya akan selalu ada yang kelihatan benar dan kelihatan salah. Cara pandang gen-gen itu berbeda. Bahwa yang dominan akan berkata bahwa aku mencintaimu dan yang resesif akan menentangnya,” akhirnya dia menjawab.

Kuyakin dia kembali meracau seperti dulu. Baginya, menyatakan cinta akan sama mudahnya seperti membawakan peran sebagai moderator dalam sebuah seminar genetika.

“Masyarakat selalu tertarik untuk mengenali jati dirinya dan mengenali diri orang lain – juga mengenali lingkungan di sekitarnya. Maka mereka membuat pandangan-pandangan khusus dari posisi mereka yang kemudian mereka jadikan pandangan umum. Orang-orang menemukan pola. Mereka jadikan patokan. Kemudian, mereka akan mengejar kesamaan pola,” dia melanjutkan, “sehingga di akhir, tidak akan ada sesuatu yang berbeda. Semua manusia, mungkin saja, akan menjadi sama satu dengan lainnya. Karena aturan-aturan. Sebut saja, eugenetika sistem modern.”

Aku diam. Benar-benar diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Tidak tahu harus menjadi apa di matanya. Kadang kata-kata lisan yang diucap oleh Kinnara bisa lebih tidak kumengerti dibandingkan saat-saat ketika aku harus dengan serius membaca sejarah Corpus Juris Civilis.

“Apa sulitnya mencintaiku?” dia bertanya, “apa arti gambar-gambar konstelasi ini?” dia mengangkat buku gambarku. Lembar terakhir yang kugambar, konstelasi sagittarius.

“Aku mulai menyukai langit,” jawabku jujur. Aku tahu dia hanya membutuhkan kejujuran di saat seperti ini.

“Lalu kapan kamu akan mulai menyukaiku?”

“Saat kamu berhenti menyukaiku. Saat kamu hanya menganggapku sebagai sekedar sahabat,” kujawab, sekali lagi, dengan jujur.

“Apa karena kamu ingin punya keturunan? Atau karena kamu ingin dianggap normal oleh orang-orang?” dia bertanya.

Aku tidak tahu harus menjawab apa lagi. Paling tidak, aku masih merasakan debar ketika melihat pria tampan. Aku masih bisa salah tingkah saat harus jalan berduaan dengan seniorku di profesi kenotariatan.

“Aku memang normal, Kinnara.” Entah apa sebabnya dia mendugaku sama tidak normalnya seperti dirinya, “kamu juga, kalau kamu menginginkannya.”

“Tapi kamu tidak pernah memiliki pacar,” dia menudingku, “kamu tidak pernah berkencan dengan pria. Kamu tidak pernah.. dan aku juga.. aku tidak pernah..” dia terhenti. Menangis.

Aku berdiri di hadapannya, sangsi dengan kelemahannya yang dia perlihatkan malam itu. Dia mendekatiku, menangis di pundakku. Kubelai rambutnya.

“Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku, Kinna?” pertama kalinya kucoba untuk mengetahui alasannya. Alasan dari sesuatu yang membuatku merinding ketika mengetahuinya.

Dia memelukku lebih erat. Air matanya semakin deras. “Aku hanya merasa aman saat berada di dekatmu,”

“Kenapa padaku?” harus ada alasannya. Karena cinta yang beralasan, adalah cinta yang akan dengan mudah berubah. Akan mudah kuubah.

“Kamu selalu mendengarkan apa yang kukatakan, kamu selalu mengiyakannya, kamu selalu..” dia menjawab. Kubelai rambutnya dan aku tersenyum.

“Seorang gadis mencintai seorang pria, bukanlah sistem. Bukan aturan yang harus kamu takuti,” kujawab, “bukan seperti IQ yang kamu harus ragukan atau percayai keberadaannya. Cinta memang ada. Selalu ada.”

Dia mengangkat kepalanya, memandangku.

“Bagaimana caraku tahu?” dia bertanya, matanya penuh keraguan.

“Kamu hanya akan tahu. Suatu saat ketika cinta itu hadir.”

“Bagaimana dengan poligami? Apa cinta itu hanya satu?” dia kembali bertanya, keingintahuan yang sama seperti milik seorang anak kecil.

“Aku tidak pernah percaya perselingkuhan dalam perkawinan itu indah,” kuambil jeda sebentar, “aku tidak pernah memberikan penjelasan untuk sesuatu yang tidak kupercayai. Perselingkuhan terindah mungkin hanya seperti hubungan kita dengan kedua orangtua kita.”

“Apa aku akan menemukannya?” dia bertanya lagi, “Apa aku akan menemukan seorang pria yang memang untukku?”

“Pertanyaan itu hanya bisa kamu jawab, kalau kamu percaya.”

“Kenapa aku tidak boleh mencintaimu?”

Kali ini giliranku untuk tertawa. “Cinta tak pernah beralasan, Kinna. Cintamu padaku, sangat beralasan.”

Dia membisu. Berhenti menangis.

Kali ini, aku yang menang telak darinya.

**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * : * * *
* * * * * * * * * * * * *
* * * * * * * * * * * * ::::::: * ***
* * * * * * * * * * * * *
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-
**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**--**

torsdag den 5 mars 2009
23:51:03 W.I.B.

: Mutiara yang dilempar ke lumpur/Tak akan berkurang nilainya/Dan nilainya tidak akan bertambah ketika digosok minyak kesturi/Di hadapan pemiliknya, nilainya tetap terjaga. - Penginjil Filipus (Injil Apokrif)




Cetak Halaman Ini

Labels: , , , ,


Selengkapnya…  
Dikirim oleh Panah Hujan, inc. pada 9:49 PM | Permalink | 4 komentar
Tuesday, March 3, 2009
* Cerpen - Hanya Sebuah Kematian (II)
Disclaimer : Ini bukan kisah nyata dan karena itu, karya ini hanyalah fiktif belaka.

*

Pantai Kuta, sejujurnya, tidak pernah terlihat cantik di mataku. Hingga aku heran mengapa aku selalu menyukainya. Atau justru karena memang aku terlalu sering menyambangi tempat ini sehingga aku lupa hal apa yang selalu membuatku menyukainya – menyukai Kuta?

Ketika kecil, setiap hari aku duduk di pasirnya yang tidak rata – yang membuatku menyangka ada rayap yang tinggal di dalamnya – untuk sekedar duduk. Abu ibuku dibuang di pantai ini, abu ayahku juga, abu kakekku, abu nenekku, semua abu dari keluarga besarku dibuang di pantai ini. Mungkin hanya itu alasanku untuk merasa nyaman berada di sini, walau aku sama sekali tak menikmati panorama pantai yang terhampar di hadapanku.

Di masa-masa setelah ibuku meninggal, aku hanya berada di sini, duduk dengan jiwa yang kosong. Karena jiwaku berlarian ke masa lalu. Karena jiwaku tak pernah utuh lagi. Persis retakan kecil yang menjelma lubang besar.

Ketika itu, pantai selalu mengingatkanku pada masa kecilku, bermain kano dan berenang sampai ke tengah laut. Sampai air garam memenuhi selangkanganku dan membuatku tidak bisa berjalan normal setelahnya.

Aku ingat sekali waktu paling lama aku berenang di pantai ini, hampir satu jam lebih. Dulu ketika kami selesai menyembahyangi abu ibuku, aku ikut bersama para pemuda banjarku untuk berenang ke tengah laut, kata mereka lebih baik kalau aku berenang semakin jauh, karena mungkin dewa lautan ada di tempat terjauh di dekat mentari yang terbenam.

Aku melakukannya, ketika para pemuda berhenti di tengah, aku terus berenang, semua kulakukan untuk menitipkan jiwa ibuku di tempat yang aman. Kepada dewa lautan. Maka aku berenang sejauh yang aku bisa, memeluk wadah yang berisikan abu ibuku di dalamnya.

Setelahnya, pantai selalu menjadi tempat yang aman untukku bisa menangis. Untuk kegagalan-kegagalan yang menghampiriku, selalu ada pantai-pantai yang kujadikan sahabat untuk bercerita.

Pantai Sanur, Pantai Matahari Terbit, Pantai Sindhu, Dreamland, semuanya menjadi tempat yang selalu kukunjungi, termasuk Kuta. Karena tempat yang paling banyak menyimpan kenangan-kenangan tentang orang yang kita cintai, akan menjadi tempat utama yang selalu kita ingin kunjungi.

*

Hari ini, Kuta menjadi tempat pertama yang kukunjungi di Bali.

Sudah lama sekali aku pergi. Sehingga kehadiranku di sini menjadi berbeda. Seolah aku datang ke sini untuk pertama kali. Pantainya tetap sama, yang berbeda hanyalah beton setinggi enam puluh senti yang membatasi areal sekitar pantai.

Pemandangan yang tak pernah aku sukai berada di mana-mana. Wanita berambut pirang berbikini dengan pria kekar berkaca mata hitam yang bertelanjang dada. Kadang aku jumpai wajah oriental dengan mata sipit dan pipi merona merah berciuman dengan turis lokal berkulit coklat yang hanya sedikit tampan – tidak kekar.

Dulu pemandangan seperti itu selalu membuatku terkekeh, namun kini tak ada lagi yang bisa ditertawakan. Tak ada yang lucu dari kebersamaan. Setelah tiga puluh tahun hidup melajang, segala sikap belia membuatku merapuh.

Cinta monyet memang bukan hal yang kupandang indah di masa mudaku, namun kini lebih daripada itu, aku sangat membutuhkan seseorang yang bisa menemaniku menangis. Hingga aku iri dengan orang-orang yang bisa dengan bebasnya berciuman di tengah umum seperti itu. Sesuatu yang sangat riskan untuk kulakukan.

Aneh rasanya berada sendiri di pantai ini. Tidak seperti sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Ketika selalu ada seseorang yang menemaniku – walau hanya sekedar duduk-duduk menyaksikan layang-layang yang beraduan di langit biru berawan.

Menghilangkan kesepianku, aku mengambil kayu di dekatku, lalu aku menulis di pasir pantai. Dengan huruf besar-besar.

Aku ingat sekali ketika lima belas tahun yang lalu aku menuliskan cita-citaku di pasir pantai. Bukan pantai yang sama. Seperti yang setelahnya kulakukan, seperti ketika aku membuang ratusan keping logam dengan beragam jenis mata uang yang kumiliki di ratusan air mancur berbeda. Karenanya, kubiarkan orang-orang dengan bebasnya mengataiku kekanakan.

Tanpa mereka ketahui, ada ribuan hal lain yang membuatku masih suka disebut seperti kanak-kanak. Mereka tak pernah tahu bahwa hanya seorang gadis kecil yang masih bisa mengumpet di bawah ranjang di apartemennya ketika pria-pria datang untuk mengajaknya berkencan. Hanya gadis kecil yang bisa membedakan es krim vanilla dengan es krim mocca hanya dengan sekali melihat warnanya. Bahwa jiwaku memang telah mati ketika ibuku mati.

Aku telah kembali, lalu apa Ibu akan kembali?

Hanya itu yang kutulis berulang-ulang. Dengan huruf besar-besar.

*

Rumah yang kosong. Tingkat tiga. Ketika kumasukkan kunci dan kuputar, pintu seketika terbuka. Sudah begitu lama aku pergi, namun masih kunci yang sama yang bisa kugunakan untuk membuka pintu ini. Tidak ada yang berbeda. Kecuali akuarium yang kosong. Kecuali pigura-pigura pajangan dengan foto orang-orang yang telah mati.

Aku bergegas menuju lantai paling atas. Tempat kami biasanya menyantap ikan bakar sambil menatap bintang di langit malam.

Gelap. Bintang-bintang kecil berwarna putih berjejer, bersesak-sesakkan memenuhi langit yang kelam.

Aku duduk di gazebo yang sama, yang sudah semakin merapuh digigiti rayap, dan kusadari bahwa aku sudah tak bisa lagi mengayunkan kakiku seperti dulu. Kakiku tidak pendek lagi. Kakiku sudah memanjang dan memijak di tanah dengan sempurna. Pertambahan panjang yang entah mengapa selama ini tak pernah kuperhatikan.

Angin malam mengantarkan gelak tawa yang terjadi puluhan tahun lalu. Betapa hal ini menyempurnakan teori dilasi waktu atau entah apa yang akhirnya kukenal sebagai teori dunia empat dimensi – bahwa waktu tak pernah menempel dengan ruang.

Terlebih ketika aku menatapi ayunan di hadapanku. Ketika aku mengingat kekonyolan apa yang pernah kujanjikan pada ayahku. Bahwa aku, suatu hari nanti, akan memenangkan nobel. Bahwa aku, akan membanggakannya dengan menciptakan sebuah mesin waktu. Untuk kami bisa gunakan kembali ke masa lalu menemui ibuku yang telah meninggal.




Ketika itu, kupikir aku akan mempermudah kerja Tuhan, karena aku akan menggambari kertas gambarku sendiri dan setelahnya aku bisa seenaknya membuat sebuah maket untuk perwujudan nyata dari apa yang telah kugambar. Aku pikir merancang masa depan adalah semudah melupakan masa lalu. Hingga pada akhirnya, kutemukan bahwa kedua hal itu sama sulitnya untuk dilakukan.

Dulu aku pernah berbincang dengan ayahku sampai larut malam. Membicarakan macam-macam. Paling banyak tentang teori asal-usul alam semesta, kapan saatnya sebuah bintang akan mati, dan makna di balik Pancasila. Tentang asal usul namaku, sebab musabab ayah bisa jatuh cinta dengan ibu, hingga cerita Dewa-Dewi di India.

Aku suka ketika sebelum aku tidur, ayahku menceritakan kisah Ramayana yang dihafalnya di dalam kepalanya. Ketika dia bercerita tentang pasukan dari Hanoman yang merebut kembali Dewi Sita dari tangan Rahwana. Caranya bercerita sama seperti ketika ibuku mengisahkan tentang Sampek dan Eng Tay yang terpana melihat sepasang angsa berkasih-kasihan – saling melilitkan lehernya di tengah sungai.

Itu sebabnya aku selalu memintanya bercerita tentang kisah Ramayana setiap malamnya. Juga kisah Mahabratha dan Perang Barathayudha. Beliau kadang membacakan banyak kalimat indah dari Bhagavad Gita, pesan dari Rsi Bisma kepada Arjuna. Favoritku, adalah ketika para Pandawa hanya bisa menontoni jasad Rsi Bisma yang dipenuhi oleh ratusan anak panah. Mereka hanya memandangi jasad kakeknya itu di Lapangan Kurusetra, menunggui ajal benar-benar menjemputnya esok hari ketika matahari sudah terbenam.

Betapa ketika aku harus kehilangan orang-orang yang aku cintai dalam hidupku, aku ingin menjadi setegar orang-orang hebat di dalam mitos atau dongeng, yang selalu diceritakan oleh mereka berdua setiap malam sebelum aku tidur. Namun kenyataannya, jiwaku merapuh, tak dapat kupahami. Dan kusadari aku tak bisa menjadi seseorang yang berbeda. Kemampuan manusia memang ternyata ada batasnya.

Sehingga hari ini, di malam dengan langit yang berwarna hitam kepekatan, aku memilih untuk menjatuhkan diriku dari lantai tiga.**

: “Siapa pun tak akan menyembunyikan sesuatu yang berharga di dalam barang berharga, tetapi sering kali orang menyembunyikan ribuan, tak terhitung barang berharga, dalam sebuah benda yang nilainya bahkan tak sampai sepeser. Begitu juga dengan jiwa. Jiwa adalah harta yang sangat berharga, tapi jiwa tersembunyi dalam tubuh yang hina.” – A Father’s Affair.



Cetak Halaman Ini

Labels: , , ,


Selengkapnya…  
Dikirim oleh Panah Hujan, inc. pada 11:03 PM | Permalink | 0 komentar